
Malu ... Malu ... Malu!!!
Aku segera lari dari hadapan Varo. Tapi percuma juga, laki-laki itu sudah melihat pipi tomatku. Sumpah, ini nggak keren sama sekali.
Kenapa harus ada adegan tas kechantol segala sih? Bikin malu, parah!
Yang lebih bikin aku gondok, dia bilang katanya masih sayang, tapi apa? Malah kasih undangan. Sakit? Sangat! Mimpi apa aku semalam? Harus nerima kenyataan seperti ini.
Ya, malu dan sakit hati bercampur jadi Satu.
Apa jangan-jangan semua ini karena aku kualat sama Shakila yang ku kerjain tadi pagi? Ah, masa iya? Bisa jadi. Dia kan anak kecil yang hati dan pikiranya masih suci. Tapi mana ada kualat sama adek, yang ada itu kualat sama Bunda atau Papa.
Oke, lupakan! Karena kejahilanku hanya untuk seru-seruan bukan karena masih ada kebencian.
Segera ku rogoh Hp yang ada di dalam tas, lalu ku cari nomor kontak Kak Dipta dan nomor kontak Kak Nio sebagai opsi cadangan.
Untuk apa lagi aku menghubungi mereka, kalo bukan cari tumpangan pulang sekaligus tempat menumpahkan tangisan.
Kebetulan hari ini cuma ada Satu mata kuliah. Ingin rasanya aku segera pergi dari kampus, karena berlama-lama di tempat ini hanya buat dadaku terasa begah.
"Ra," Ku sebar pandangan mencari orang yang memanggil.
Hadueh, kenapa selalu ada Kak Nando sih? Udah kayak anak jin aja itu orang. Selalu nongol dimana-mana.
Ku lihat Kak Nando sedang duduk-duduk santai berdua di bawah pohon tidak jauh dari area parkir sambil melambaikan tangan dengan senyum yang mengembang.
Berdua? Ya, siapa lagi kalo bukan dengan si es balok tampan. Tapi seperti biasa itu cowok hanya diam dengan ekspresi datar, ciri khasnya.
"Kak Nio mana?" tanyaku saat sudah di hadapan Dua laki-laki tampan, beda kepribadian.
"Ngapain sih, nyari yang nggak ada? Mending juga nyari gue yang selalu siap siaga,"
Aku memutar bola mata. Udah bisa nebakkan siapa yang ngomong kaya gini.
Si es balok udah jangan di tanya. Dia malah membuang muka. Ngeselin banget kan? Nggak bisa membayangkan kalo jadi pacarnya kak Dion, pasti ...
Ku menangiiiiiissss membayangkan ... Sudah bisa di pastikan menderita tekanan batin tiap hari karena di cuekin.
Tapi anehnya, aku penasaran?
"iihh Kak Nando, di tanya serius juga?" dengusku kesal.
"Ya dikekepin sama si Melisha lah," Oh ya, aku lupa mereka kan dua pasangan bucin.
"Kalo Kak Dipta liat gak?" tanyaku lagi.
"Kalo si Dipta baru aja pergi," jawab Kak Nando.
Kulirik jam di ponsel yang masih ku genggam, 12.30 Wib. Masa iya, Kak Dipta jemput si Memey. Kayaknya punya profesi baru itu si Om kecik.
Emang dasar ya Kak Nio sama Kak Dipta nggak bisa di ajak kompromi, nggak ngerti apa, adeknya ini butuh bahu untuk bersandar ...
Jiaaaahhh ... Ngenes banget kesanya.
Kalo aja gak di butuhin udah pada ngerubung kek laler.
"Nyari tumpangan? Dasar manja," Omegot, akhirnya si es balok buka suara, dari tadi kek? Kan adem aku dengernya.
Tapi, itu kata-kata gak enak banget ya di denger. Kayak ada nyelekit-nyelekitnya! Emang ya selain jelmaan es balok ternyata kak Dion ini titisan si bon cabe level 30, sekali ngomong pedes.
Dia bilang aku manja? Enak aja! Aku itu gak manja, cuma aku itu trauma aja kalau pulang harus naik angkutan umum.
Pernah dulu waktu SMA, pulang sekolah rencana mau ke toko buku naik angkutan umum. Eh, pas di tengah perjalanan si sopir berhentiin mobilnya di tempat yang agak sepi, kebetulan waktu itu di dalam angkot ada penumpang berjumlah Lima orang termasuk aku. Dua pelajar SMP cowok-cewek dan Dua lagi ibu-ibu yang mau pergi pengajian, mungkin. Kalo di lihat dari penampilanya sih iya. Memakai seragam busana muslim.
__ADS_1
Waktu itu ku kira ada penumpang yang mau naik, eh, ternyata ...
"Serahin barang-barang kalian!" todong seseorang yang berpakaian ala-ala preman, tapi mukanya gak ada garang-garangnya sama sekali, lebih pas jadi tukang jual cangcimen yang ada di terminal.
Tapi, berhubung dia bawa pisau ya kami semua takut. Dan anehnya itu si supir cuma diem aja. Udah sekongkol kayaknya.
Tanpa pikir panjang, aku kasiin ponsel hadiah ulang tahun dari opa waktu itu, ada rasa sayang, tapi biarlah dari pada nyawaku melayang, hiiii ...
Dan ke Empat penumpang lain, aku lihat ada yang ngasih dompet, perhiasan dan sebuah laptop milik cewek berseragam SMP.
Aku terkejut untuk kedua kali, gak aku sangka si anak cowok SMP, dia buka baju seragamnya lalu di kasih kan sama si preman. Aku gak tau apa yang ada di pikiran anak itu, apa mungkin saking takutnya, atau gak ada yang ia berikan selain seragam itu, ntah. Walhasil anak itu cuma pake daleman singlet putih, untung aja di pake boxer, coba kalo gak?
Dan lucunya lagi, di terima sama si preman muka abal-abal, buat apa coba?
Setelah itu kami di turunkan di tengah jalan, lalu si preman masuk ke dalam angkot, pergi bersama supir itu tadi. Benar dugaanku.
Mereka kong kali kong.
Nasib kita berlima jangan di tanya, terlantung-lantung dijalan sambil meratapi nasib. Mana jalanan sepi, dan kita semua nggak tahu ada di daerah mana waktu itu.
"Aduh jeng, gimana ini? Mana itu di dalam dompet ada uang Ibu-ibu arisan," keluh si Ibu yang dandananya terlihat cetar dengan blus on di bawah mata ala-ala si penyanyi Ya Assyiqol Mustofa.
"Iya jeng saya juga takut. Mana itu gelang saya pinjem sama mertua lagi," Nah loh, sahut si ibu yang satunya lagi. keliatan dari gayanya yang kelihatan glamour tapi maksa. Pake tas Hermes KW, ntah urutan ke berapa.
"Huhuhuhu ... Aku takut di marahin mama Fin," Gadis SMP itu duduk ngelesot di atas trotoar sambil nangis, menutup wajahnya. Kasian juga liatnya.
"Ntar aku bantu ngomong deh sama mama kamu," si temen cowok berusaha nenangin, "Tapi, ntar kamu bantu ngomong juga ke Ibu aku," lanjut anak cowok itu sambil bantu temenya berdiri.
"Iya nanti aku bilang, kalo kamu habis di perkosa rampok,"
"Tuh kan, kamu punya mulut lemes banget sih Din, bilang aja di rampok, gak usah di tambahin di perkosa segala!" omel anak cowok itu, raut wajahnya berubah dari iba menjadi kesal.
Bar-bar juga ini bocah.
Sumpah ya ini yang di namakan dibalik musibah ada tawa. Hampir tawaku tersembur, tapi buru-buru aku menutup mulut dengan sebelah tangan. Ku lihat sekilas ibu-ibu rempong di sebelahku juga ikut nahan tawa.
Aku pun berjalan maju, sambil melambaikan tangan. Saat sudah mendekat mobil itu pun menepi.
"Zahra, kamu ngapain disini Sayang?" tanya Opa heran setelah turun dari kursi penumpang bagian belakang melihat cucunya terlantar dijalan.
"Kami habis di rampok opa," aduku dengan memasang wajah melas.
Setelah mendengar ceritaku, akhirnya opa pun berbaik hati mengantar satu-persatu ke empat penumpang lain yang bernasib sama denganku waktu itu.
"Udah, gak usah dengerin si Dion. Mau diantar nggak?" tawar si pemilik senyum manis, sayang itu kak Nando.
Aku pun mengangguk terpaksa. Gak ada pilihan lain.
"Yes," Euforia kak Nando dengan senyum sumringah sambil berjingkrak seperti bayi kanguru.
Elah, kagak usah lebay kali Bang, timbang nganter aku doang.
Aku dan kak Dion kompak memutar bola mata, malas.
"Jangan ngiri ya Bro," lanjut Kak Nando, nepuk bahu kak Dion pelan.
"Apa'an sih, udah sono lho pergi," sewot banget kayanya kak Dion, jangan-jangan dia cemburu lagi? Eh,--
Helloooo, Zahra ... Inget sapa lo, pacar juga kagak, ngarep si Dion cemburu!
Aku sekilas menggeleng, mengusir angan- angan yang tidak mungkin, melihat sikap dari laki-laki itu, seperti nggak punya ketertarikan sama sekali dengan lawan jenis.
"Woy, ayo naik, malah bengong," Kaget! Gara-gara pikiran semerawut, gak sadar, udah nangkring aja kak Nando di atas motor gedenya.
__ADS_1
Tanpa menjawab, aku pun berjalan memutar ke arah sebelah kiri motor kak Nando.
"Zahra," Aku nengok ke asal suara ketika akan naik ke boncengan kak Nando.
Ternyata Abi Haikal, berjalan mendekat.
"Kamu mau pulang?" tanyanya, aku pun mengangguk. "Ayo Abi antar,"
Aku tersenyum sambil mengembalikan helm ke tangan kak Nando.
"Yaelah Pak ... Biar saya aja yang antar Zahra," desah kak Nando, kecewa kayanya.
"Saya nggak percaya sama kamu," ucap Pak Dosen datar sambil berlalu.
"Hahahah ..."
Wiets ... Gak asing banget itu suara. Kali ini aku dan kak Nando kompak melihat siapa gerangan yang sedang tertawa, ternyata oh ternyata ... Si es balok sedang tertawa bahagia.
Lagi-lagi kami berdua kompak mengerutkan kening. Kesambet apa'an itu es balok?
Aneh! Perasaan nggak ada yang lucu.
"Udah, ayok mending lo anterin gue," Tiba-tiba kak Dion menyambar helm dari tangan Kak Nando yang aku kasihkan tadi. Lalu ambil posisi duduk di belakang sahabatnya itu.
Diantara ketiga sahabat ini, dari cara penampilan dan gaya hidup, aku lihat kak Dion yang paling sederhana. Pulang pergi kuliah dia sering nebeng kak Nando kadang juga aku sering liat dia naik angkot.
Dan katanya juga dia disini kos. Ntah dari mana asalnya aku juga nggak tau pasti. Mungkin nanti kalo aku jadi pacarnya akan ku introgasi.
Ngarep!
Bodo amat. Dari pada mikirin Varo yang bikin sakit hati, mending mikirin Dion jadi The next tambatan hati.
"Baru juga mau usaha," gerutu kak Nando masih nggak terima karena gagal mengantarku. Ckck, segitunya.
Jadi tersanjung.
"Ya udah, lain kali ya kak, anterin Zahra," ucapku, kasihan lihat wajah ganteng kak Nando yang di tekuk kecewa.
Aku pun segera berlari mengejar Abi Haikal yang sudah masuk ke dalam mobil sambil melambaikan tangan ke arah kak Nando dan kak Dion. Jangan lupakan, hanya kak Nando yang membalas lambaian tanganku sambil memberi bonus sun jauh dari kejauhan.
iiihhh ... Geli!
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Nando di cowok lebay menurut Zahra.
Dion si es balok
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya ... 🙏😊😘