
Tak ada yang tahu kapan rasa itu datang dan pergi, bahkan sang pemilik hati tak pernah menyadari, rasa yang datang menghampiri dianggap hanya ilusi.
Sampai menjelang dini hari, mata Hafiz belum bisa terpejam, di pandang lekat wajah damai sang buah hati yang terlelap disampingnya kini.
" Kamu sangat cantik nak, semoga hatimu juga secantik Bunda" Gumam Hafiz sembari membelai rambut lembut Zahra.
Beberapa kali Hafiz merubah posisi tidurnya, mencari posisi ternyaman, namun matanya masih saja terus terjaga.
Bayangan akan wajah Khadija selalu mengenang dipelupuk matanya.
" Aaarrrggghhh....Kenapa sih gw ini!" Hafiz membangunkan badanya, sambil mengacak kasar rambutnya.
Diturunkan tubuhnya dari kasur kapuk Khadija. Hafiz berniat untuk pergi kedapur mengambil air minum, terasa tenggorokanya mengering.
Terdengar sayup suara seseorang tengah mengaji di waktu dini hari. Alunan suaranya sangat menyejukan hati.
Sejenak Hafiz berhenti, menikmati rangkaian indah ayat_ayat suci.
" Kok berhenti?" Gumam Hafiz lirih saat suara merdu itu terhenti.
" Mas, ngapain kamu disini?" Khadija muncul dari tirai kain yang menutupi kamar sang Ibu, masih lengkap dengan mukenahnya. dilihatnya Hafiz tengah berdiri di depan kamar sang Ibu membawa segelas air.
" ii..iya tadi habis dari dapur, ngambil air minum." Jawab Hafiz tergagap melihat kemunculan tiba_tiba wajah yang mengganggu tidurnya semalam tadi.
Khadija tersenyum, lalu pergi kebelakang entah kemana.
Kenapa pake senyum segala sih?
" Kok kamu masih di sini?" Ulang Khadija bertanya, setelah kembali, melihat Hafiz yang masih berdiri di depan kamarnya.
" Aku gak bisa tidur Ja?" Jawab Hafiz beranjak menuju kursi yang ada diruang tengah rumah orang tua Khadija.
Khadija pun mengikuti langkah Hafiz, dan ikut duduk bersebrangan di depan Hafiz." Maaf Mas, kasurnya yang bikin kamu ndak nyaman ya?"
" Enggak kok Ja, tapi~..." Wajah ayumu yang bikin tidurku gak nyaman. Lanjut Hafiz dalam hati.
" Tapi.. kenapa Mas?" Tanya Khadija penasaran dengan kalimat Hafiz yang terjeda.
" Gak papa kok!" Hafiz berkilah." Oh ya, kamu ngapain tadi, kamu belum tidur?" Lanjut Hafiz bertanya mengalihkan topik pembicaraanya.
" Tadi aku kebangun, terus gak bisa tidur lagi, ya udah tak buat ngaji sambil nunggu waktu subuh."Jelas Khadija.
" Ja, apa boleh aku~..."
"Allohuakbar...Allohuakbar..." Suara Adzan subuh berkumandang dari Surau yang berjarak Tiga ratus meter dari rumah Khadija
" Sssttt...Diam dulu Mas, ada suara Adzan." Jari telunjuk Khadija mengarah pada bibir ranumya.
Sesaat setelah Adzan selesai berkumandang...
" Iya, Mas tadi kamu mau bilang apa?" Tanya Khadija yang sempat memotong pembicaraan Hafiz.
" Ya udah lain kali saja, kamu mau pergi berjamaah kan?" Tanya Hafiz yang dibalas anggukan oleh Khadija.
" Tunggu sebentar, aku ikut." Ucap Hafiz kemudian beranjak ke kamar untuk bersiap_siap.
Setelah beberapa menit, Hafiz keluar dengan setelan kemeja dan sarung dengan sajadah yang tersampir di bahu kanan Hafiz.
Khadija menatap lekat sajadah warna coklat itu.
__ADS_1
" Aku masih ingat pesan kamu, untuk tidak meninggalkan Sholat kan? Makanya ini selalu aku bawa kemanapun aku pergi." Rupanya Hafiz tau arah tatapan Khadija.
" Kamu tau Mas?"
" Pasti aku tahu, siapa orang yang memberi ini, meskipun kamu waktu itu tidak menampakan diri kamu."
Masih ingat wanita bercadar yang datang ke pernikahan Hafiz waktu itu? Ya dia adalah Khadija yang ingin sekali melihat mantan suaminya berbahagia untuk yang terakhir kalinya.
" Ya sudah, ayo kita berangkat." Ajak Khadija.
" Yang lain gak ikut?"
" Bapak sama Ibu udah jalan duluan waktu kamu ganti baju, Aisyah dan Mas Aslan mungkin mereka masih kecapean, biar mereka di rumah aja sekalian jagain Zahra."
" Ya sudah kalau begitu."
Hafiz dan Khadija pun segera pergi ke Surau, sebelum suara Iqamah di kumandangkan.
Skip
Setelah kembali ke rumah, suasana tampak masih sepi. Aslan dan Aisyah pun ternyata belum bangun begitu juga dengan si kecil Zahra yang begitu awet dengan tidurnya.
Kemudian Khadija masuk ke kamarnya berusaha membangunkan Putri kecilnya untuk menunaikan Sholat Subuhnya.
Setelah selesai dengan kegiatanya membimbing Putri kecilnya untuk Sholat, Khadija membawa Zahra menuju ruang tengah dimana Hafiz berada, duduk sambil menikmati kopi di pagi hari yang sebelumnya di buatkan oleh Khadija.
Tampak Aisyah keluar dari kamarnya, lalu menuju kamar mandi, dan di susul oleh Aslan dibelakangnya yang hanya memakai Boxer pendek dan kaus dalam berwarna putih.
Khadija yang melihatnya buru_buru pergi dari Hadapan Aslan dan Hafiz dengan menggendong Zahra, karena merasa malu melihat tampilan Aslan.
" Mau kemana Ja?" Tanya Aslan, saat Khadija melewatinya, namun Khadija tidak menjawabnya.
" Gara_gara penampilan lo tuh, bidadari gw pergi!" Cibir Hafiz saat lewat di depan Aslan.
" Hah~...Sejak kapan?"
" ...Sejak dia ada di hati gw."
" Kesambet lo Rel?" Celetuk Aslan yang tak dihiraukan oleh Hafiz yang sudah berlalu dari hadapanya.
Aslan masih tidak percaya dengan ucapan Hafiz yang menyebut Khadija kini sudah ada dihatinya(Hafiz), Padahal baru beberapa hari yang lalu Hafiz mengatakan bahwa Hafiz belum mengerti akan perasaanya terhadap Khadija.
" Dasar aki_aki labil!" Gerutu Aslan sambil berlalu menyusul Istrinya ke kamar mandi yang ada di belakang rumah mertuanya.
***
" Eh, cucu kakek sudah bangun ya?" Sapa Ayah Khadija pada Zahra yang masih berada digendongan Khadija.
" Salim dulu sama kakek sayang?" Titah Khadija pada Putri kecilnya. Zahra pun mengikuti ucapan sang Bunda.
" Sini Zahra main sama Kakek, kita kasih makan Ayam." Ayah Khadija mengambil alih Zahra dari gendongan Khadija.
" Iya Kakek, Zahla mau." Jawab Zahra tersenyum riang. Sang kakek pun membawa cucunya pergi ke kandang Ayam yang berada di samping rumahnya.
Hafiz ikut tersenyum melihat Khadija yang kembali akrab dengan Ayahnya.
" Kayanya beneran kesambet lo Rel?" Celetuk Aslan tiba_tiba yang sudah di sebelah Hafiz dengan membawa secangkir kopinya.
Hafiz tak bergeming, matanya fokus ke arah Khadija yang sedang menyapu halaman rumahnya setelah menyerahkan Putri kecilnya pada sang Ayah.
__ADS_1
" Rel!" Panggil Aslan yang menatap ke arah Hafiz dengan melambaikan tanganya di depan mata sahabatnya.
" Jangan ganggu gw!" Sahut Hafiz tanpa mengalihkan pandanganya.
" Udah mulai sadar lo ya?"
" Hhhmmm...Sepertinya."
" Kenapa gak langsung ngomong aja?"
" Takut di tolak."
" Hahaha...Kaya Anak SMP aja lo, takut ditolak!"
" Biarin kaya gini aja dulu, sambil gw menata hati gw kembali."
" Jangan lama_lama, keduluan orang tahu rasa lo!"
" Gw rasa sih, sejauh ini belum ada yang ngedeketin dia."
" Ketemu Khadija belum lama, udah bilang sejauh ini!"
" Karena Feeling gw yang mengatakan seperti itu."
"Yakin lo?"
" Seratus persen yakin!"
" Terserah lo, gw harap lo gak akan nyesel untuk ke dua kalinya."
" Mas Aslan, Mas Hafiz, Mbak Dija...Ayo masuk dulu, kita sarapan udah disiapin sama Ibu!" Seru Aisyah diambang pintu utama rumahnya.
"Iya, sebentar Dek?" Sahut Khadija dari halaman rumahnya.
" Oh ya, liat Bapak ndak Mas?" Tanya Aisyah pada Dua orang yang sama_sama di panggilnya Mas.
" Ada di samping rumah kayanya, tadi beliau bersama Zahra." Jawab Hafiz.
" Ya sudah kalian masuk dulu, aku mau susulin Bapak dulu.
Aslan dan Hafiz pun kemudian masuk dan di ikuti Khadija yang sudah selesai acara menyapunya.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Maaf untuk kali ini, Author cuma Up satu kali, soalnya ada yang harus dikerjakan.
Jangan lupa Like dan Komenya...
__ADS_1
Di kasih Vote juga author ikhlas... hehehe*...