
Di pagi yang cerah, matahari mulai menampakan sinarnya seirama dengan semburat merah yang menghiasi pipi Khadija.
Rambutnya yang basah menjuntai indah di punggungnya yang datar.
Seusai menunaikan Shalat Subuh berjamaah berdua dengan suaminya, Khadija tidak beranjak dari tempat duduk yang berada didepan meja riasnya.
Khadija tampak seperti orang gelisah, berbeda dengan Khadija seperti biasanya, yang tidak pernah berlama-lama jika berada di depan cermin.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Hafiz melihat istrinya yang sesekali tampak memikirkan sesuatu.
Hafiz berjalan menghampiri Khadija, setelah selesai memasang sepatunya.
Hafiz berjongkok dan memutar tubuh sang istri agar menghadapnya.
"Kenapa, heum?" Hafiz mengulang pertanyaanya karena tidak mendapat jawaban sebelumnya.
"Kapan kita kerumah orang tua kamu Mas?Pernikahan kita sudah berjalan Dua bulan, dan kita belum meminta restu kepada mereka." Ungkap Khadija ragu.
Hafiz menarik nafas pendeknya, "Apa kamu sudah siap?"
"Insyaalloh Mas." Jawab Khadija mantap.
"Aku takut jika nanti kamu sakit hati sayang?" Hafiz membelai pipi Khadija.
Khadija meraih tangan Hafiz, dan menggenggamnya. "Apapun itu Mas, kita harus tetap husnudzon selama niat kita baik." Ujar Khadija sembari tersenyum hangat ke arah suaminya.
Masih dengan posisinya, Hafiz kemudian memeluk Istrinya."Aku berjanji, apapun yang terjadi aku akan selalu berada di samping kamu, Aku sangat mencintai dan menyayangimu Bunda." Pelukan pun semakin erat.
Khadija tersenyum mendengar ungkapan hati sang suami untuk kesekian kalinya."Aku juga sayang sama kamu Mas."
Hafiz reflek melepas rengkuhanya, matanya manatap tak percaya, "Apa kamu bilang barusan?" Hafiz masih tidak percaya dengan apa yang baru ia dengar.
Khadija mengangguk, "Iya, aku sayang sama kamu Mas." Khadija akhirnya mengakui perasaanya, entah sejak kapan rasa itu hadir kembali dihatinya dan Khadija merasa lega.
Hafiz berdiri dan membimbing istrinya untuk ikut berdiri. "Terima kasih Bunda, aku tidak menyangka akan mendapat kado terindah dihari ulang tahunku kali ini." Raut kebahagiaan jelas terpancar dari wajah tampanya.
"Bisa kita ulangi lagi yang semalam sayang?" Ucap Hafiz mengedipkan satu matanya.
"Hah~..." Biji mata Khadija seketika membulat. "Tega kamu Mas, ini saja masih sakit." Cibir Khadija.
"Masa sih Bund, masih sakit? Padahal aku kan mainya cuma Em~..." Khadija buru-buru membekap mulut suaminya.
"Udah jangan diterusin, malu aku dengernya. Sudah sana cepet berangkat bahaya kalo kamu kelamaan dirumah." Usir Khadija pada suaminya, karena ia mencium hawa negatif, takut yang diucapkan suaminya barusan akan terjadi lagi.
"Sekarang kamu boleh lolos sayang, tapi nanti malam dan malam-malam selanjutnya kamu tidak akan pernah lolos lagi." Ucap Hafiz, menyeringai mesum, membuat Khadija bergidik ngeri.
Sepertinya Hafiz tidak akan pernah lagi menyia-nyiakan kesempatan, adegan dewasa boleh saja tidak terjadi lagi di pagi ini, tapi ciuman panasnya tidak bisa terelakan oleh Khadija.
"Papaaa...Bundaaa..." Teriak Zahra yang baru akan masuk kedalam kamar.
Seketika pagutan Hafiz dan Khadija terlepas. Hafiz berlalu dari hadapan Khadija yang masih tampak mengatur nafas.
"Princesnya Papa udah cantik aja." Puji Hafiz pada Zahra yang sudah berada di atas gendonganya. Ciuman gemas selalu Hafiz layangkan pada wajah lucu Putri kecilnya.
"Putri Bunda mau sarapan apa ni?" Tawar Khadija yang sudah berdiri disamping Hafiz, suaminya.
__ADS_1
"Naci goleng bunda." Khadija mengacungkan jempolnya.
"Jadi anaknya aja yang ditawarin? Papanya enggak?" Sindir Hafiz melirik ke arah orang yang berada disebelahnya.
"Kan Papahnya udah, barusan." Jawab Khadija setengah menggoda suaminya.
"Pinter banget jawabnya." Ucap Hafiz sambil menarik pelan hidung Khadija.
Setelah selesai melakukan sarapan pagi bersama dengan menu nasi goreng permintaan Zahra, Hafiz segera barangkat ke Rumah Sakit miliknya. Tidak lupa mengecup kening sang istri dan buah hatinya bergantian.
***
"Huuuueeekkk....Huuueeekkk...."
"Kamu kenapa sayang?" Tanya Aslan sambil memijit-mijit tengkuk istrinya.
"Gak tahu Mas, Mungkin aku masuk angin."
"Kita periksa aja yuk ke Rumah Sakit? Sekalian Mas mau pamit sama Carel dan Dio, kan kita lusa udah berangkat lahi ke Luar Negeri."
"Ya sudah kalau begitu, nanti pulangnya mampir ke Apartemenya Mbak Dija." Aslan mengangguk setuju dengan rencana istrinya.
Mobil Aslan pun segera meluncur ke Rumah Sakit mendatangi kedua sahabatnya, yang menurut perkiraan Aslan sudah stand by diruanganya masing-masing.
Langkah kaki Aslan dan Aisyah berjalan beriringan menuju ke Ruangan Hafiz terlebih dahulu, setelah itu pergi ke Ruangan Dio secara bergantian.
"Tumben pagi-pagi udah pada kesini?" Tanya Hafiz saat Aslan dan Aisyah sudah duduk di sofa Ruanganya. "Kamu kenapa syah, kok lemes gitu?" Sambung Hafiz, bertanya lagi melihat adik iparnya menyandarkan kepalanya pada bahu Aslan.
"Kayanya dia lagi masuk~..."
Kembali Aslan mengikuti istrinya dari belakang.
Sepuluh menit kemudian Aslan dan Aisyah pun kembali. Kali ini Aisyah benar-benar merasa lemas tak berdaya.
Hafiz yang tidak tega melihat kondisi Aisyah, segera mempersilahkan kembali pada Aslan untuk membawanya ke kamar pribadi milik Hafiz yang juga berada dalam ruangan tersebut.
Sebagai Pemilik sekaligus Direktur utama tentunya Hafiz memiliki fasilitas yang luar biasa, dari mulai kamar pribadi yang lengkap dengan segala propertinya hingga Ruang perawatan yang di khususkan untuknya dan keluarganya.
Hafiz tersenyum menghampiri Aslan yang tampak panik akan kondisi istrinya.
"Udah jangan panik. Minggir sana, gw mau priksa istri lo dulu." Hafiz menggeser tubuh Aslan yang berada di samping Aisyah.
"Terakhir Menstruasi kapan Syah?" Tanya Hafiz sebelum memeriksa Aisyah. Aslan mengerutkan keningnya tidak mengerti akan maksud Hafiz.
"Harusnya Seminggu yang lalu udah tanggalnya."Jawab Aisyah dengan suara lemah, sembari mengingat-ingat pertanyaan yang di ajukan sang Kakak ipar.
"Permisi ya Syah?" Aisyah mengangguk.
Plak...
Aslan menepis tangan Hafiz yang akan mengarahkan stetoskop di dada Aisyah.
"Jangan modus lo ya?" Ucap Aslan mengintimidasi.
"Terus caranya gw meriksa Aisyah gimana coba?" Hafiz menoleh ke arah Aslan.
__ADS_1
"Gak papa kok Mas, lagian mana mungkin sih Mas Hafiz macem-macem?" Ucap Aisyah membela Hafiz.
Akhirnya Aslan pun pasrah, meski hatinya tidak rela jika istrinya harus disentuh orang lain walau itu sahabatnya sendiri yang berprofesi sebagai Dokter. Dan yang dilakukan Hafiz adalah bagian dari prosedur pemeriksaan.
Hafiz mulai memeriksa Aisyah tanpa mempedulikan Aslan yang tengah menatapnya tajam.
Hafiz tersenyum kembali setelah menurunkan stetoskop dari telinganya."Selamat,habis ini gw bakalan punya keponakan." Hafiz menjabat tangan Aslan dengan ucapan yang membingungkan.
Bigitu juga dengan Aisyah yang ikut bingung dengan pernyataan sang kakak ipar.
"Maksud lo apa'an sih?" Ucap Aslan meminta penjelasan.
"Iya...Gw bakalan punya keponakan dari lo."Hafiz mengulang ucapanya sambil menunjuk ke dada Aslan.
Aslan tampak berfikir keras mencerna perkataan Hafiz. Sepersekian detik, tatapan tajam Aslan berubah menjadi binar kebahagiaan.
"Lo serius Rel?" Tanya Aslan menyakinkan. Hafiz mengangguk mantap.
Aslan yang tampak bahagia langsung memeluk Hafiz yang ada di hadapanya. Sambil berjingkrak layaknya Zahra yang mendapat hadiah boneka Barby.
"Salah alamat lo meluk gw!" Hafiz melepas pelukan Aslan. Aslan yang tersadar langsung bergidik ngeri karena telah memeluk Hafiz tanpa sadar.
Aslan pun segera mendekat ke arah sang Istri yang masih terkulai lemas, dengan wajah pucatnya.
"Sayang, kita akan segera punya Baby?" Ucap Aslan lembut sambil mengusap puncuk rambut Aisyah lalu mengecup keningnya.
"Aku Hamil Mas?" Tanya Aisyah memastikan. Aslan mengangguk dengan senyum bahagia yang tak pudar dari bibirnya.
Aisyah bangkit dari tidurnya, dan langsung memeluk suaminya dengan erat."Akhirnya setelah Tiga tahun menunggu, Alloh memberi kepercayaanya kepada kita Mas...Hiks...Hiks..." Ujar Aisyah disela isakanya yang masih berada dipelukan suaminya.
Aslan melepas pelukanya, menyadari istrinya yang tengah menangis."Kamu kenapa nangis? Harusnya kamu seneng?" Aslan menghapus air mata yang mengalir di pipi Aisyah.
"Ini tangis bahagia Mas, aku terharu akhirnya pertempuran kita tiap malam tidak sia-sia." Ucap Aisyah. Aslan lega mendengar alasan istrinya menangis.
Berbeda dengan Hafiz yang berusaha menahan tawanya, ia tidak menyangka jika adik dari istrinya ini agak sedikit bar-bar tidak jauh kelakuanya dengan sang suami, Aslan.
Dan berbeda dengan Khadija, istrinya yang polos dan kalem.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Sorry Up nya telat, soalnya authornya ketiduran, maklum menjelang Lebaran jadi Author LELAH...😊😁😅
Minal aidzin wal Faidzin untuk semua para readersku...😍😘
Jangan lupa Like dan Komenya...di sumbang Vote, Alhamdulillah...🙏🙏🙏*
__ADS_1