Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Membuatnya Cemburu


__ADS_3

Hari ini hanya ada Satu mata kuliah. Tapi, Zahra tidak ingin terburu-buru untuk pulang--ada seseorang yang membuatnya selalu betah setiap saat berlama-lama di kampus. Setelah jam mata kuliah berakhir, Zahra segera begegas keluar tanpa menghiraukan Ayu yang menyuruhnya untuk menunggu.


Tidak menemukan Dion yang seperti kemarin menunggunya di depan kelas, Zahra memutuskan menghampiri kekasihnya itu--anggap saja gantian. Secara kebetulan mereka berdua bertemu di koridor dari arah berlawanan.


Sedikit berbasa-basi, tentu saja Zahra yang mengawalinya. Kemudian gadis itu mengajak kekasihnya menuju ke area taman--ada sesuatu yang ingin ia tanyakan.


Apalagi kalau bukan perihal pekerjaan yang di lakoni pemuda yang hari ini memakai kemeja kotak-kotak berwarna Hitam-Abu dengan kancing dibiarkan terbuka dan di lapisi kaos berwarna putih di dalamnya.


Hampir semalaman Zahra merasa gelisah. Entah kenapa ada sesuatu hal yang mengganjal di hatinya.


Sambil duduk lesehan di atas rerumputan, Zahra pun membuka suara, untuk menjawab rasa penasaranya.


Setelah mendapat jawaban yang cukup membuatnya terkejut, Zahra pun menanyakan alasan kenapa Dion memilih pekerjaan itu.


Bahkan dengan polosnya, Zahra menentang pekerjaan yang sudah lama digeluti Dion--lantas menyuruh pemuda itu untuk berhenti. Apa lagi di mata Zahra, Dion pemuda yang religius tidak sepantasnya berada di tempat seperti itu.


Dion tertawa sumbang menanggapi pernyataan yang begitu mudah di ucapkan oleh orang yang tidak berada di posisi seperti dirinya.


Menurut Dion, Shalat memanglah kewajiban sebagai seorang muslim, terlepas baik buruk perilaku seseorang, derajat status sosial, bahkan tingkatan ilmu yang dimiliki. Jadi bukan jaminan seseorang yang rajin shalatnya akan terhindar dari perberbuatan dosa, termasuk dirinya. Terlebih dia hanyalah orang awam yang dangkal akan pendidikan agama, itupun ia peroleh saat masih duduk


di Sekolah Dasar (MI) sampai Sekolah Menengah Pertama (MTS).


Namun, Dion juga tidak memungkiri, dengan ia rajin menjalankan kewajiban Lima waktu, setidaknya dia masih di jaga untuk tidak berbuat dosa yang lebih. Mencicipi minuman yang ia racik, misalnya. Sama sekali Dion belum pernah merasakanya. Toh ditempatnya bekerja bukan hanya minuman beralkohol yang di sajikan, tetapi minuman ringan seperti soft drink dan minuman bersoda non alkohol juga tersedia di sana.


"Gue tahu, banyak sisi negatif dari pekerjaan yang gue jalani saat ini," ucap Dion datar, setelah sesaat tercenung, "Tapi, lo juga nggak tahu bagaimana beratnya kehidupan gue." Dion menoleh sekilas pada gadis yang sedari tadi sudah menatap lekat ke arahnya.


Berat? Kehidupan seperti apa? Pertanyaan yang membayang di benak Zahra. Hendak ingin bertanya, tetapi gadis itu harus mengurungkan niatnya, melihat ada sesuatu yang akan kembali di sampaikan oleh dion, saat bibir pemuda itu terbuka secelah.


"Andai hidup gue seperti lo, Nio dan Nando mungkin gue nggak akan memilih jalan seperti ini. Tapi, gue nggak menyesal sama sekali. Justru semua ini membuat gue kuat ngejalani kehidupan yang gak orang lain tahu."


Dion tertawa sengak. Pemuda itu merasa lucu dengan fase kehidupan yang ia jalani. Kenapa proses pendewasaanya harus dengan cara seperti ini? Tidak sedikit yang memandangnya sebelah mata, termasuk gadis yang ada di sampingnya saat ini, mungkin?


"Maafin aku Kak," ucap Zahra tertunduk, menyesal. Tidak sepatutnya ia membatasi apa yang di lakukan Dion, apalagi tanpa memberinya solusi, setelah tahu alasan di balik semua itu. Meski masih belum semua ia ketahui.


"Lo gak perlu minta maaf, dan gue pun gak akan minta maaf ke lo. Karena memang gak ada yang salah. Setiap orang punya jalan hidupnya masing-masing." Dion merubah posisi duduknya, tanganya terulur meraih dagu Zahra yang sedang menundukkan wajah, lalu perlahan mengangkat wajah itu kembali tegak.


Dion tersenyum. Walau ia belum bisa memenuhi keinginan gadis itu, tapi paling tidak Dion tahu akan ketulusan cinta Zahra untuknya. Melihat dari kepedulian yang di tunjukkan gadis berhijab warna jingga yang ada di hadapanya saat ini.


Zahra pun membalas senyuman itu. Senyuman yang benar-benar tulus, sontak membuat jantung Zahra berdegub semakin menggila.


Luar biasa!

__ADS_1


Menangkap dari semua pernyataan yang di sampaikan Dion barusan, membuat Zahra semakin penasaran. Bagaimana kehidupan keluarga Dion? Tetapi, kali ini gadis itu memutuskan untuk tidak banyak bertanya, tidak ingin merusak suasana romantis yang baru saja tercipta, meski hanya dengan saling melempar senyuman seraya bertatapan mata.


Di dalam hati, Zahra bertekad ingin selalu berada di samping Dion, menemani dan menerima pemuda itu dalam kondisi apapun. Namun, bukan berarti pula Zahra mendukung pekerjaan Dion, kekasihnya.


***


Semakin hari, hubungan Dion dan Zahra sudah mulai menunjukkan kemajuan. Meski tidak terlalu mencolok seperti sepasang kekasih kebanyakan, yang setiap saat umbar kemesraan dan bergandengan tangan kesana-kemari, seperti halnya Nio dan Melisha, tetapi tidak dengan Dion dan Zahra.


Cukup dengan saling memberikan perhatian lewat pesan dan menelpon di waktu senggang.


Tapi, jangan lupakan sikap Dion yang cuek dan minim ekspresi--terkadang membuat Zahra merasa gemas sendiri. Tidak jarang gadis itu mendapat ledekan dari Nio, Melisha dan Nando bahkan Dipta, saat pemuda itu ikut bergabung.


"Makanya Ra, cari cowok tuh yang romantis kek gue nih," ledek Melisha.


Zahra cemberut sambil mengaduk jus Alpukat kesukaanya. Kedua bola mata lentiknya memandang sepasang kekasih yang ada di hadapanya saling suap-suapan.


Nio dan Melisha sengaja memanas-manasi Zahra. Sesekali Nio tersenyum mengejek ke arah gadis yang sudah di anggapnya seperti adiknya sendiri.


Bibir mungil Zahra semakin mengerucut, kesal. Ingin sekali rasanya gadis itu menjambak pria yang sedari tadi hanya peduli pada benda ceper di tanganya.


"Lagian lo sih, mau-maunya pacaran ama kanebo kering," timpal Nando, menyindir. Melirik ke arah Dion yang sama sekali tidak menghiraukan cibiran-cibiran yang di lontarkan orang-orang di sekelilingnya.


Seperti biasa, Dion hanya bergeming. Telinganya sudah kebal mendapat ledekan seperti itu. Tidak masalah, ia tahu teman-temanya itu hanya bercanda.


Setelah itu, Dipta berpamitan pulang terlebih dahulu, ada janji dengan Memey, katanya.


"Makasih Kak," ucap Zahra, menengadahkan kapala, melihat Dipta yang berdiri di belakangnya.


"Ya udah habisin," balas Dipta sambil mengacak puncak kepala Zahra yang tertutup hijab. Lalu pemuda itu pun berlalu, melambaikan tangan, berpamitan.


Baru akan meraih sendok yang bertengger di atas piring, sesaat Zahra tersenyum penuh arti, tiba-tiba muncul ide dari otaknya yang mendadak cerdas, jika sedang ingin mengerjai seseorang. Tatapan matanya tertuju pada pemuda yang duduk di sebelahnya. Posisinya kini berada diantara Dion dan Nando.


"Kak Nando, suapin Zahra dong?" pinta Zahra dengan nada manja, mengerling mata sebelah mengajak pria di sampingnya itu berkompromi.


Nando yang mengerti maksud Zahra, langsung mengiyakan.


"Uluh, uluh, kasihan banget pacar siapa sih ini, di sia-sia'in? Ya udah sini Kak Nando suapin, siapa tahu habis ini, kamu berpaling ke lain hati," seloroh Nando, tanganya langsung menyambar sendok yang masih tertelungkup, belum tersentuh.


"Wah, parah lo Ndo! Masa lo mau nikung temen sendiri?" sindir Nio, sok membela.


Sontak, Dion menatap tajam ke arah Zahra dan Nando yang duduk di sebelahnya.

__ADS_1


Semua yang menyadari perubahan sikap Dion, berlagak cuek--pura-pura tidak melihat. Terkecuali Zahra yang memang tidak tahu, karena gadis itu sengaja menengok ke arah Nando dengan melipat kedua tangan bertumpu di atas meja sembari menunggu ... bukan menunggu Nando menyuapinya, melainkan menunggu reaksi Dion selanjutnya.


Tiba-tiba lengan besar terulur di depan wajah Zahra.


"Sini biar gue yang suapin," ucap Dion, mengambil alih sendok dari tangan Nando.


Zahra meringis girang, sebelum akhirnya mengalihkan pandanganya.


"Baru di gituin aja, udah takut. Makanya jadi cowok, peka dikit dong lo," cibir Nando.


Dion memutar bola mata, menanggapi cibiran sahabatnya itu.


Nio dan Melisha, seperti biasa mereka hanya geleng-geleng kepala dengan pikiran entah.


"Sini gantian," Zahra merebut sendok dari tangan Dion, setelah ia mendapat beberapa kali suapan.


Meski ada rasa sedikit malu, karena tidak terbiasa berlaku seperti itu di tempat umum--seperti anak kecil saja, pikir Dion. Tapi, apa boleh buat, Dion tidak ingin membuat kekasihnya itu kecewa.


"Aaaaa ..." perintah Zahra, bersiap mendaratkan suapan pertama.


Dion menurut, membuka mulutnya.


Sambutan cie-cie pun di dapat dari ketiga penonton yang ikut senang dengan kemajuan hubungan Dion dan Zahra.


Dari arah pintu masuk kantin, tampak seorang pemuda dengan tangan terkepal, wajahnya berubah merah padam, menahan geram. Tatapan tajam mengarah pada sepasang kekasih yang berada di tengah ruangan sana--membuat dada pemuda itu terasa sesak.


"Tunggu, kejutan dari gue!" ucapnya dengan rahang mengetat.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Maaf ya, Up-nya lama. Gak tau kenapa, akhir-akhir ini ide sering kali mampet. Jadi harap di maklumi.


Mohon dukungannya ya. Jangan bosan kasih like, komen, dan Votenya ya ...🙏😊😘


__ADS_2