Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Perang dingin


__ADS_3

"Kak Dion," pekik Zahra terkejut mendapati Dion tengah duduk di bangku besi yang ada di depan kelas. Menunggunya.


Dion menoleh, "Udah?" tanyanya, lalu berdiri.


Zahra mengangguk, masih tidak percaya dengan apa yang dilihat di hadapanya saat ini. Jika biasanya mereka akan bertemu dan berpisah di parkiran atau bertemu di kantin--itupun kebetulan. Tapi untuk hari ini--istimewa.


"Lo mau pulang, atau berdiri sampe besok di situ?" ucap Dion datar, menyadarkan Zahra yang masih terbengong.


Sedetik kemudian Dion berbalik, mengambil langkah panjang, berjalan terlebih dahulu.


"Kak ... tunggu!" panggil Zahra, mengambil langkah cepat berusaha mensejajarkan diri berjalan beriringan dengan pemuda itu.


Seperti biasa, Dion tak banyak bicara, pandangan lurus ke depan--menyusuri koridor.


Zahra sedikit mendongakkan wajah, melirik sekilas ke arah pria yang lebih tinggi darinya.


Tenang dan cool.


Kedua sudut bibir gadis itu terangkat, manakala melihat sosok tampan yang banyak di gilai para kaum Hawa yang ada di kampusnya, saat ini tengah berjalan beriringan denganya.


Berbagai macam tatapan, mulai dari yang memandang aneh, sinis, iri bahkan cemburu di layangkan para mahasiswi yang kebetulan berpapasan, ada juga yang sedang bergerombol sambil berkasak-kusuk, dengan pikiran entah menyorot ke arah Zahra. Sepertinya mereka tergabung fans garis keras Dion lovers.


Namun, Gadis itu cuek menanggapi. Dalam hati Zahra terkekeh, ingin rasanya ia mengatakan pada gadis-gadis itu, 'Kalau memang dia di lahirkan untuk saya, kamu jungkir balik, SAYA YANG DAPAT'. Mengutip quotes bapak **. Habibie yang sedang viral.


Masa bodoh!


Yang terpenting baginya saat ini hatinya sedang berbunga-bunga. Meski bukan perlakuan spesial yang ia dapat, tetapi untuk pertama kalinya Zahra mendapat perlakuan yang tak biasa dari seorang Dion.


Di tunggu di depan kelas lalu berjalan beriringan, itu saja.


.


Dari kejauhan, Dion menangkap sosok Alvaro, pemuda yang tadi siang berduel denganya. Duduk di atas kap mobil sedan sport dengan segerombol mahasiswa lain, di area parkir.


Dengan cepat, Dion menyambar tangan sebelah kiri Zahra. Menggenggamnya posesif.


Zahra kembali tersentak akan perlakuan tiba-tiba dari pemuda di sampingnya. Gadis itu menoleh,


Dion juga menoleh, "Ada Varo," ucapnya berkata lirih--saat Zahra hendak membuka suara. Ternyata Zahra tidak menyadari keberadaan sang mantan.


Sambil terus berjalan menuju parkiran, Dion terus menggenggam tangan Zahra, sesekali memberikan senyuman ke arah gadis itu.


Zahra tau, senyum itu palsu. Tapi, entah kenapa kali ini Zahra melihat ada setitik ketulusan dari lengkungan bibir itu.


Semakin dekat, Zahra pun melihat Alvaro turun dari tempat duduknya, berjalan mendekat ke arahnya.


Alvaro menghadang langkah Dion dan Zahra.


"Aku nggak nyangka, ternyata selera kamu rendah juga," sindir Alvaro menatap Zahra, kumudian berganti menatap Dion. Tersenyum remeh sembari berkacak pinggang.


Zahra merasakan Dion mempererat genggamanya, jika saja tangan itu tidak menggenggam tanganya saat ini, sudah bisa di pastikan Dion kembali mendaratkan pukulan.


Zahra tidak bisa membayangkan--memar di sekitar wajah dan sedikit luka sobek di sudut bibir Alvaro saat ini saja masih belum sembuh, apa jadinya jika satu bogeman kembali melayang ke wajah bonyok itu.


Marahnya seorang pendiam, ternyata cukup mengerikan. Batin Zahra, bergidik ngeri.


"Udah yuk Kak, kita pulang." ajak Zahra tidak ingin menghiraukan ucapan Alvaro sambil mengusap lengan Dion dengan tangan sebelah kanan, menenangkan--agar tidak terpancing.


"Eits!" Alvaro menahan bahu Dion dengan jari telunjuk, saat pemuda itu hendak melangkah, berusaha mengabaikan, "Jangan pikir lo bisa ngerebut Zahra dari gue," Tatapan sinis kedua pemuda itu pun beradu.

__ADS_1


"Kita buktikan nanti," balas Dion dingin, menghempas tangan Alvaro, kasar.


Mendengar ucapan Dion, terdengar sorak beberapa pemuda yang berada di belakang Alvaro ikut mengolok Dion. Berani sekali menantang Alvaro si anak sultan.


"Woi! Punya kaca nggak sih lo di rumah,"


"Ke kampus naek angkot aja belagu!"


"Lo sama Varo tuh beda jauh Man, kayak langit sama kerak bumi tau nggak," sahut yang lain, disambut gelak tawa merendahkan.


Alvaro menengok sekilas ke belakang, lalu kembali menatap Dion, mengangkat kedua bahu, menyeringai sinis. Seolah membenarkan ejekan teman-temanya tersebut.


Wajah Dion memanas, darahnya seakan mendidih mendengar hinaan demi hinaan yang di tujukan untuknya. Jika saja situasinya berada di luar lingkungan kampus, sudah pasti Dion akan menghajar satu-satu dari mereka yang sudah berani merendahkan harga dirinya, walau yang mereka katakan itu semua benar adanya.


Tapi, Dion masih bisa berpikir waras. Dampak masalah dengan Alvaro tadi siang saja, ia belum tahu bagaimana kelanjutan nasibnya, kalau sampai Alvaro memperpanjang urusanya melapor ke pihak kampus, atau ke pihak yang berwajib. Sebagai tindak kriminal--penganiayaan. Entahlah.


Berusaha tenang dan hanya bisa memendam dalam diam.


Zahra terperangah dengan perang dingin yang sedang terjadi antara kedua pemuda di hadapanya--memperebutkan dirinya. Tidak pernah menyangka urasanya akan serumit ini.


Bahkan, sekarang Alvaro mengajak teman-temanya turut serta memojokkan Dion.


Tidak adil.


Main keroyokan.


Kenapa di saat seperti ini Nio dan Nando tidak ada. Kemana mereka? batin Zahra mendumal. Sangat tidak setia kawan--salah diantara mereka sedang di hina, tapi yang lain menghilang, entah kemana.


"Gila kamu Varo!" umpat Zahra tidak kalah sengit. Gadis itu tidak terima dijadikan ajang perebutan tidak sehat yang dilakukan Alvaro, seorang pemuda yang telah sah di miliki wanita lain.


Alvaro tergelak, "Iya ... Aku gila. Aku tergila-gila sama kamu Sayang," Alvaro dengan lancang mencolek dagu Zahra.


"Berani lo sentuh Zahra sekali lagi, gue patahin tangan lo!" hardik Dion memberi peringatan, membusungkan dada, hampir hilang kesabaran.


Benar-benar tidak bisa di biarkan. Kelakuan Alvaro sudah kurang ajar.


Sebelum kembali terjadi kekacauan seperti tadi siang, Zahra menarik tangan Dion, menjauh. Merasakan hawa panas dari kedua pemuda yang tengah berseteru.


Akan lebih baik baginya serta Dion segera pergi dari tempat itu. Meladeni kelakuan Alvaro hanya akan membuat amarahnya naik ke ubun-ubun.


.


"Nih minum dulu," Dion menyodorkan sebotol air mineral ke arah gadis yang duduk di hadapanya dalam keadaan melamun.


Setelah meninggalkan kampus, tidak seperti biasa saat dalam perjalan, Zahra yang biasa terdengar cerewet dengan topik obrolan yang tidak penting menurut Dion, tiba-tiba berubah diam. Dion merasa ada yang tidak beres dengan gadis yang sedang ia bonceng itu.


Dion pun membelokkan motor yang di tumpanginya menuju minimarket--berlogo lebah memegang keranjang belanja.


Mereka berdua turun. Dion menyuruh Zahra untuk duduk di kursi yang sudah di sediakan di teras toko. Sementara Dion masuk, berniat membeli air minum.


"Ra, lo kenapa?" tanya Dion setelah menenggak minumanya. Melihat Zahra masih diam tak bergeming. Bahkan minuman di depanya belum disentuh, di biarkan merana.


Hening.


Zahra menunduk, bukan takut, melainkan sedang memikirkan sesuatu.


Dion membiarkan--masih menunggu, mendapat jawaban.


"Kak," Zahra menjeda ucapanya--saat baru membuka suara, "Lebih baik kita akhiri hubungan ini," lanjutnya, berkata ragu.

__ADS_1


Dion tersedak saat meneguk minumanya untuk kedua kali. Beruntung tidak sampai muncrat.


"Kenapa?" tanya Dion setelah cairan yang ia teguk dengan susah payah lolos melewati kerongkongan.


"Aku gak mau, gara-gara aku Kak Dion terkena masalah." Zahra merasa khawatir akan ancaman Alvaro untuk Dion tadi siang. 'Tunggu pembalasan dari gue!' Itulah kalimat yang terus terngiang di telinga Zahra. Takut terjadi sesuatu pada pemuda itu.


"Nggak!" tegas Dion, "Jika itu alasanya, sampe kapan pun gue nggak bakal ngelepasin lo. Gue bukan laki-laki pengecut!" Pantang bagi Dion menyerah. Lagi pula semua sudah terlanjur. Apapun resikonya, ia akan bertanggung jawab, sekalipun harus masuk ke dalam penjara.


"Tapi, Kak ..."


" ... gak ada tapi-tapian." Dion tidak ingin mendengar alasan apapun. tekadnya sudah bulat.


Ada rasa senang di hati Zahra. Seberharga itukah kini ia di hati Dion? Tanpa sadar senyum tipis terbit dari bibir mungil itu.


Dion memicingkan mata--benar-benar aneh gadis di hadapanya ini. Sebentar murung, sebentar tersenyum.


"Kenapa lo senyum-senyum?" tanya Dion lagi, memastikan gadis itu tidak mendadak gila.


"Apa Kak Dion, udah ..." Zahra kembali menjeda kalimatnya, saat Dion perlahan mencondongkan kepala mendekat ke arahnya.


Zahra gugup, salah tingkah.


Apa yang akan di lakukan laki-laki itu ditempat umum seperti ini? racau Zahra dalam hati.


Perlahan Zahra memejamkan mata, setelah bola matanya memutar melirik kesekeliling, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka, jika tiba-tiba Dion memberinya ...


" ... iya, gue udah kebelet pipis dari tadi," lanjut Dion saat wajahnya berjarak satu jengkal tepat di depan wajah Zahra.


Pletak!


Seketika Zahra membuka mata, mengaduh sakit mendapat sentilan di keningnya.


"Sakit tau," ringisnya sambil mengusap kening yang terasa panas.


"Lagian ngapain lo merem-merem? Lo pikir gue mau ngapain?" Dion sudah berada di posisi semula, sambil menghabiskan minuman yang masih tersisa.


"Ya kirain ..."


"Dasar cewek omes," Dion bangkit dari tempat duduknya menuju tempat sampah--membuang kaleng kosong, bekas. Kemudian berlalu menuju area parkir.


Dengan bibir mengerucut, Zahra berlari saat Dion membelokkan motornya. Kapan laki-laki itu berhenti bersikap menyebalkan.


Entahlah. Semakin pemuda itu menyebalkan, semakin membuat Zahra bertambah sayang.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya ...🙏😊😘*

__ADS_1


__ADS_2