
Semakin hari, kondisi Zahra berangsur membaik, namun belum di perkenankan pulang, bukan dari anjuran sang Dokter yang menangani Zahra, melainkan perintah dari Hafiz yang membuat Zahra harus bertahan di Rumah sakit, Hafiz ingin Putrinya mendapat pengobatan terbaik sampai kondisinya benar_benar kembali pulih.
Sedangkan Ummi Aminah sudah di perkenankan pulang, karena memang kondisinya yang sudah membaik dan tentunya semua biaya di bebaskan oleh sang pemilik Rumah sakit, siapa lagi kalau bukan dr. Hafiz.
Saat Khadija asik menyuapi Zahra yang berada di pangkuan Hafiz, datang segerombolan orang masuk keruang perawatan Zahra.
Tak lupa segerombolan orang_orang itu mengucapkan salamnya terlebih dahulu.
" Tante cantik!" Pekik seorang bocah kecil yang rindu terhadap Khadija.
Tubuh kecil itu langsung berlari ke arah Khadija dan lsngsung memeluknya. Khadija pun menyambut pelukan hangat itu.
Zahra yang melihat sang Bunda tengah dipeluk anak kecil selain dirinya, hanya bisa mengerucutkan bibirnya dan melipat kedua tanganya di depan dadanya.
" Tante cantik, Nio kangen sama Tante?" Rengek Nio yang masih berada di dekapan Khadija.
" Iya, Tante juga kangen sama Nio." Balas Khadija sambil mencium pipi gembul Nio.
Dio dan Clara, serta Aslan dan Aisyah sudah mengambil posisi duduknya masing_masing.
" Udah kaya mau demo aja kesini?" Celetuk Hafiz yang melihat para sahabatnya yang membawa asisten pribadi mereka masing_masing.
"Tadi kebetulan ketemu Aslan di depan, ya udah sekalian bareng kesininya." Jelas Dio.
" Makasih Mas Dio dan Mbak Clara udah jengukin anak saya." Ucap ramah Khadija.
" Aku yang harusnya minta maaf Ja, telat kesininya." Jawab Clara.
" Ndak papa Mbak." Ucap Khadija dengan senyuman ramahnya.
" Jadi, sama Dio dan Clara aja nih makasihnya? Sama Aku dan Aisyah enggak?" Sindir Aslan pada Khadija.
" Perhitungan amat sih lo, timbang jengukin ponakan sendiri!" Timpal Hafiz, melempar bantal sofa ke arah Aslan. Begitu juga dengan Aslan yang tidak mau kalah, kembali Aslan melempar bantal itu kembali tepat ke wajah Hafiz.
Semua Orang yang melihat aksi mereka berdua, hanya menggelengkan kepalanya masing_masing.
" Ck! Om Alan sama Om Elel, kaya anak TK aja main lempar_lemparan!" Protes Nio yang duduk di pangkuan Khadija.
" Dengerin tuh anak gw bilang apa?" Cibir Dio.
" Tau nih, aki_aki kelakuan masih kaya bocah." Celetuk Clara.
" Wah, si Clara sekalinya ngomong suka bener." Sahut Aslan.
Aisyah yang belum terlalu mengenal para sahabat dari suaminya hanya diam menyimak, sesekali ikut tersenyum menanggapi.
" Papa, kakak ini ciapa ci, kok peluk_peluk Bunda Plinces?" Tanya Zahra pada sang Ayah dengan bibir manyunya.
" Oh, ini namanya Kak Nio." Jawab Hafiz.
__ADS_1
" Nio, kenalin ini Zahra anak Tante." Lanjut Khadija memberitahu Nio.
" Plinces Bunda!" Protes Zahra yang membuat semua orang tertawa dengan tingkah lucunya.
Nio turun dari pangkuan Khadija lalu mengulurkan tanganya ke arah Zahra. Nio sekarang sudah berusia Sembilan tahun.
" Princes main sama kakak yuk?" Ajak Nio pada Zahra. Zahra yang semula menatap kesal pada Nio karena cemburu langsung luluh dengan sikap ramah Nio.
Zahra pun turun dari pangkuan sang Ayah, menyambut ajakan Nio dengan senyum imutnya.
Mereka berdua berjalan menuju brankar yang sudah berserakan dengan mainan Zahra yang di belikan Hafiz dan Aslan.
Para orang dewasa menatap gemas pada Nio dan Zahra yang begitu mudah akrab.
" Kayanya, bakal ada yang besanan nih?" Celetuk Aslan tiba_tiba.
Hafiz dan Dio menatap tajam ke arah Aslan.
" Setuju gak Yo, kalo nih orang Satu kita lelepin aja ke kolam!" Cibir Hafiz sambil melirik Dio.
" Setuju banget gw, tunggu apa lagi cepatan aja di exsekusi!" Balas Dio.
Aslan yang sudah menangkap aura negatif dari Hafiz dan Dio, berusaha menghindar namun dengan cepat Dio menarik lengan Aslan.
" Ayo, lo ikut kita!" Ucap Dio dengan nada mengancam yang di ikuti oleh Hafiz dari belakang.
" Udah, kamu duduk manis di situ aja, paling nanti Aslan balik tinggal celananya." Jawab Hafiz asal, membuat Aisyah bingung maksud dari mantan suami kakaknya itu.
" Sayang, tolongin Mas?" Teriak Aslan balik ke istrinya sebelum menghilang dari balik pintu.
Aisyah pun merasa khawatir, pada saat akan beranjak, Clara mencegahnya.
" Gak usah khawatir sama suami kamu, mereka sudah biasa seperti itu jika sedang berkumpul." Jelas Clara yang sudah hafal dengan tingkah ketiga sahabat tersebut.
" Iya, Dek mereka hanya sedang bercanda aja." Imbuh Khadija, Aisyah pun duduk kembali dengan tenang.
***
Diruangan Hafiz, mereka bertiga saat ini.
" Ngapain sih ngajakin gw kesini?" Aslan berdecak sebal.
" Udah kita bapak_bapak disini aja!" Sahut Dio.
" Lo berdua yang bapak_bapak, gw mah belum." Jawab Aslan tak terima.
Seperti biasa Hafiz memesan Tiga cangkir kopi untuk menjamu kedua sahabatnya, pada OB melalui sambungan telfonya.
" Jadi, gimana hubungan lo sekarang sama Khadija?" Tanya Dio membuka suara.
__ADS_1
" Alhamdulillah baik_baik aja, gw udah minta maaf ke dia, dan Khadija udah maafin gw jg." Jawab Hafiz.
" Kenapa lo gak balikan aja sih sama Dija, demi Zahra." Ucap Aslan.
" Gw masih bingung dengan perasaan gw Lan, gw takut nyakitin Khadija lagi!" Jawaban ragu dari mulut Hafiz.
Terlalu dini untuk menyimpulkan bagaimana perasaan Hafiz terhadap Khadija setelah pertemuan mereka kembali. Secara seumur hidupnya, Hafiz hanya sekali merasakan jatuh cinta, itupun terhadap mantan Istrinya Alina. Jadi wajar dihatinya masih ada kebimbangan.
Rasa rindu yang pernah mendera Hafiz pada sosok Khadija tidak bisa dijadikan patokan munculnya perasaan. Hafiz mungkin hanya rindu akan perhatian Khadija terhadapnya yang tidak pernah di berikan Alina pada waktu itu.
" Terus yang lo rasain selama ini terhadap khadija itu apa?" Tanya Dio lagi.
" Kagum, gw mengagumi semua yang ada pada diri Khadija, bukan hanya fisiknya namun juga hatinya, tapi rasa kagum itu menjurus kemana, gw juga belum tahu!" Jawab Hafiz jujur.
" Dan gw harap lo segera menyadari perasaan lo, sebelum lo menyesal untuk yang kedua kalinya." Imbuh Aslan mengingatkan. Hafiz tampak diam mencerna kalimat yang terlontar dari mulut Aslan.
" Gw juga berharap seperti itu Lan?"Jawab Hafiz.
Ditengah obrolan mereka, sang OB masuk membawa nampan yang berisikan tiga cangkir kopi, sang OB mempersilahkan sebelum ia kembali keluar.
Mereka bertiga pun melanjutkan kembali obrolanya sembari menikmati kopi yang disuguhkan.
" Oh ya Lan, apa lo bakal balik ke Luar Negeri lagi?" Tanya Hafiz.
" Rencana sih gitu, kontrak kerja sama gw belum Habis, gw cuma di kasih cuti Tiga bulan disini." Jawab Aslan.
" Terus, Istri lo gimana?" Lanjut Dio
" Ya gw bawalah, bisa kejang gw disana tanpa Aisyah."
Seorang Aslan tidak bisa hidup tanpa seorang wanita di sampingnya, berbeda dengan Hafiz yang bertahan dengan status dudanya meski kesempatan itu sudah ada di depan matanya.
.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komenya ya...🙏🙏🙏*
__ADS_1