Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Kakak, Adik bertemu


__ADS_3

Tiga tahun berlalu, bukan waktu yang singkat. Tentunya banyak perubahan yang terjadi, mulai dari roda kehidupan, perekonomian dan bertambahnya usia, sudah pasti.


Lalu bagaimana dengan kadar keimanan dan ketaqwaan terhadap Sang Maha Pencipta? apakah bertambah atau malah justru berkurang? Entahlah karena itu urusan Nafsi_nafsi setiap orang, hanya dirinya sendiri dan Tuhan yang tahu.


Di usianya yang sudah menginjak Tiga puluh Lima, namun tidak sedikitpun berkurang kadar ketampananya, tak menjadikan kisah hidup seorang dr.Carel Hafiz Edsel seganteng parasnya.


Duduk sendiri termangu di kursi sebuah taman, yang menjadi hoby barunya semenjak Satu bulan terakhir. Entah apa yang ia lakukan.


Rutinitas barunya itu, ia lakukan setiap pagi sebelum memulai aktifitasnya di Rumah Sakit.


Netra Coklat Hafiz memandang lepas ke semua penjuru. Sesekali senyum kecil terbit dari bibirnya, melihat beberapa anak balita berlarian kesana kemari yang di ikuti para orang tua mereka.


Tingkah lucu nan menggemaskan dari para balita itu menambah kerinduan Hafiz akan sosok anak yang ia idam_idamkan selama ini untuk mengisi hari_harinya.


Kapan aku bisa seperti mereka yang dibuat lelah dengan tingkah para malaikat kecil?


Tampaknya Hafiz merindukan kehadiran seorang Anak dalam hidupnya. Mungkin itulah yang menjadi alasan Hafiz untuk menyempatkan diri singgah sejenak di taman yang setiap pagi di penuhi beberapa balita yang diajak para orang tuanya untuk berolah raga atau sekedar menghirup udara segar sembari bermain.


" Ayo kejal aku nek..."


Dug...


Hafiz seketika berlari mendapati seorang gadis kecil jatuh tersungkur.


Segera Hafiz mengangkat tubuh kecil itu kedalam gendonganya.


" Makasih Nak, sudah menolong cucu saya." Ucap seorang Wanita paruh baya pada Hafiz.


" Iya sama_sama Bu!"


" Kaki Plinces pelih Nek?" Rintih gadis kecil, yang berada digendongan Hafiz.


Sang Nenek dan Hafiz pun mengalihkan pandanganya ke kaki gadis kecil yang menyebut dirinya Princes.


Ada luka goresan di lututnya, lalu Hafiz mendudukanya di bangku yang tak jauh dari posisinya berdiri saat ini.


" Tunggu sebentar disini ya? Om akan mengambilkan obat dulu?" Pamit Hafiz lembut. Kemudian Hafiz beranjak pergi menuju mobilnya yang selalu tersedia kotak P3K.


Gadis kecil itu pun meringis menahan sakit.


" Cakit Nek?"


" Tunggu sebentar ya sayang, itu masih diambilkan obat." Ucap sang Nenek menenangkan.


Tak lama, Hafiz kembali dengan membawa kotak P3K yang selalu ia bawa kemana_mana, untuk selalu berjaga_jaga jika terjadi hal yang darurat seperti saat ini.


Dengan hati_hati tangan Hafiz membersihkan sisa_sisa debu yang menempel pada luka gadis kecil itu dengan menggunakan kapas yang dibasahi cairan antiseptik berwarna kuning.


" Pelih Nek?" Keluhnya lagi pada sang Nenek.


Sang Nenek pun memeluk cucunya yang tengah di obati kakinya.


" Sebentar lagi udah selesai kok!" Ucap Hafiz.


Terakhir, kemudian Hafiz mengoleskan obat merah sebelum menutupnya dengan plaster.


Kegiatanya kali ini mengingatkan Hafiz pada Seseorang beberapa tahun silam, ketika ia mengobati siku Khadija yang terluka.


Kenapa selalu Khadija yang ada di ingatanya? Apakah Hafiz masih dihantui rasa bersalahnya?


" Nah, sudah selesai sekarang." Ucap Hafiz sambil tersenyum.


" Bilang apa sama Om_nya?" Ucap Sang Nenek pada cucunya.


" Makacih Om?"


" Iya sama_sama sayang?" Jawab Hafiz mengusap puncak kepala gadis kecil itu.


" Makasih ya Nak?"


" Iya, sama_sama Bu.


" Kalau Om boleh tahu, nama kamu siapa?"


" Panggil aku Plinces Om." Sang Nenek hanya tersenyum mendengar jawaban lucu cucunya.

__ADS_1


" Waahh...Nama yang cantik secantik Princes." Puji Hafiz tulus.


"Kalau tidak keberatan mari saya antar Bu?"


" Tidak usah Nak. Terima kasih, Ibu bawa motor." Tolak sang Nenek sopan.


" Ya sudah kalau begitu." Jawab Hafiz dengan senyum ramahnya. " Oh ya, boleh gak besok Om ketemu Princes lagi di sini?" Pinta Hafiz. Tidak tahu kenapa, Hafiz merasakan sesuatu hal yang berbeda pada gadis kecil yang ada di depanya saat ini.


Mungkin kerinduanya ingin memiliki anak sendiri, menjadikan Hafiz sedikit terobsesi.


" Boleh kan Nek?" Ucap Princes meminta izin pada sang Nenek.


" Boleh, tapi besok kesininya sama Bunda saja, besok nenek ada pengajian." Jawab sangb Nenek mengizinkan.


" Yeay...Iya kata Nenek boleh Om." Princes tersenyum lebar, membuat matanya menyipit lucu.


" Makasih ya? Kalau begitu Om sekarang mau berangkat kerja dulu." Pamit Hafiz sambil berdiri.


" Om..." .Panggil Princes mendongakan wajahnya ke tubuh tinggi Hafiz. Tangan kecil itu terulur meraih tangan besar Hafiz lalu menciumnya.


Hafiz terbengong dibuatnya, ini kali kedua ada yang mencium tanganya setelah Khadija.


Meskipun yang mencium tanganya adalah seorang anak kecil namun Hafiz merasakan ada getaran yang berbeda dari dalam hatinya. Sulit menggambarkan apa yang ia rasakan, yang jelas bukan perasaan cinta.


" Om, kok bengong!" Princes menarik lengan kemeja Hafiz, membuat Hafiz tersadar dari lamunanya.


" Eh, enggak kok... Ya sudah sampai ketemu besok ya?"


Cup


Hafiz mencium pucuk kepala Princes sebelum berlalu pergi.


" Dadah Om..." Teriak Princes sambil melambaikan tanganya. Hafiz pun membalas dengan lambaian tangan yang sama.


***


Setelah Tiga tahun, akhirnya Aslan dan Istrinya kembali ke Tanah air dari Tiga Hari yang lalu.


Namun Aslan belum memberi tahu pada kedua sahabatnya akan kedatanganya. Mungkin nanti jika semua urusanya sudah selesai Aslan akan mendatanginya Satu_persatu sebagai kejutan.


" Gimana sudah siap semuanya Sayang?" Tanya Aslan saat sudah berada di dalam mobil kesayanganya yang sudah lama ditinggalkan.


Istri Aslan mengangguk."Sudah Mas, aku sudah ndak tahan pengen cepet_cepet nyampe kampung!"


" Yang sabar dong, belum juga jalan mobilnya?"


" Makanya cepatan, ayo itu di puter setirnya?"


Aslan terkekeh mendengar celotehan Istrinya." Kamu itu ya, Tiga tahun lho di Luar Negeri, tapi medoknya gak hilang_hilang."


" Ya ndak bisa hilang toh Mas, orang aku sudah mulai kecil hidupnya di kampung ya wajar kalo ngomongnya medok, biar medok tapi tetep cantik toh?" Istri Aslan mencibir panjang Lebar.


" Iyalah, Istri Mas Aslan emang selalu cantik." Puji Aslan, membuat Istrinya tersipu.


Muka boleh korea, tapi tetep ngomongnya medok.


" Kok ndak jalan_jalan mobilnya Mas?"


" Di cium dulu dong suaminya, baru Mas Jalanin mobilnya." Jawab Aslan dengan tersenyum nakal.


Cup...


Tanpa basa_basi Sang Istri kemudian mencium pipi sebelah kiri Aslan.


" Kok, cuma pipi sih Yank?" Protes Aslan manja.


" Ntar tak kasih lebih, kalo udah nyampe kampung!" Sahut sang Istri.


Tak ingin berlama_lama di dalam mobil, Aslan kemudian menjalankan mobilnya. Mereka akan menempuh jarak waktu sekitar Enam jam perjalanan, baru Aslan akan menagih janji sang Istri.


Sekitar Tiga puluh menit Aslan melajukan mobilnya.


" Mas, aku haus?"


" Mau minum?"

__ADS_1


" Ndak mau mandi ! Ya mau minum lah Mas?"


" Hahaha...Kamu itu lucu banget sih? Okey, kita cari Mini Market dulu."


Mata Aslan mengedar di setiap tepi jalan, mencari Mini Market yang biasanya berdiri berdampingan. Namun kali ini Mini Market yang ditemukan Aslan hanya berdiri sendiri.


Aslan membelokan Mobilnya di area parkir yang tidak begitu luas.


" Kamu beli sendiri gak Papa kan, Mas tunggu di sini aja." Ujar Aslan pada Istrinya.


" Iya ndak apa_apa Mas." Jawab sang Istri sambil melepas seat beltnya. " Oh ya, Mas mau nitip apa?" Sambungnya saat satu kakinya sudah turun dari mobil dengan menengok ke arah Aslan.


" Beliin Mas obat kuat aja." Sahut Aslan dengan menaik turunkan alisnya yang tebal.


Sang Istri hanya mencebikan bibirnya, tanpa mengiyakan permintaan sang Suami, karena ia tahu jika suaminya hanya sedang menggodanya.


Istri Aslan pun turun dari mobil, berjalan menuju Mini Market.


" Selamat berbelanja?" Sambut salah seorang pegawai dengan tersenyum ramah saat pengunjung baru masuk ke dalam Mini Marketnya.


Istri Aslan pun berjalan mencari_cari rak yang menyediakan air mineral.


Matanya tertuju pada rak yang berada di sudut, namun terhalang oleh seorang perempuan yang tengah sibuk mencatat sesuatu.


" Maaf, permisi?" Ucap Istri Aslan pada orang yang tengah membelakanginya.


Seseorang itu pun menegakan kepalanya kemudian berbalik ke arah Istri Aslan yang berdiri dibelakangnya.


Kedua pasang mata saling bertemu, sama_sama terbelalak menatap satu sama lain.


" Aisyah."


" Mbak Dija."


Tanpa aba_aba, keduanya saling berpelukan mencurahkan kerinduan yang bertahun_tahun di pendam. Air mata pun jatuh tak tertahankan, Isak tangisnya terdengar bersahutan.


Semakin lama, semakin erat pelukan mereka berdua, namun masih tidak ada yang bersuara.


Sampai akhirnya ada suara yang menyadarkan Kakak_baradik ini melepaskan rengkuhanya.


" Sayang, kok lam~..." Kalimat yang terlontar pun terjeda.


Pemilik suara bariton itu terkejut melihat pemandangan yang ada di depan matanya.


" Khadija?"


" Mas Aslan?"


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung lagi...


Buat yang pinisirin, Author bela_belain nih habis sahur gak tidur buat ngetik, takut para Readersnya pada jerawatan karena penasaran...Hehehe...Just Kidding...🙏


Sudah bisa menebak kan siapa istrinya Aslan?


Untuk Hafiz dan Khadija mohon sabar, kita bahas Satu_Satu dulu ya?😊


Insyaalloh jika tidak ada halangan Author bakal Up lagi, tapi gak janji ya?


Semoga Up yang ini bisa sedikit mengobati rasa penasaran para Readers.


Terus kasih Like dan Komenya, seperti Part sebelumnya banyak yang Komen jadi pagi2 Author semangat ngetiknya...😘

__ADS_1


Semoga puasa kita hari ini di beri kelancaran ya guys*..


__ADS_2