Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Senjata makan Tuan


__ADS_3

Tidak ada hidangan spesial pada sarapan pagi ini, hanya dengan makanan khas orang desa, tumis kangkung, tempe goreng, dan krupuk ada juga sambal pete kesukaan Khadija yang spesial di buatkan oleh sang Ibu.


Makanan seperti ini sudah biasa untuk lidah Khadija dan Aisyah, tapi tidak untuk Hafiz dan Aslan yang terbiasa sarapan dengan roti dan selai atau nasi goreng spesial dengan berbagai toping.


Tapi untuk saat ini Hafiz maupun Aslan harus terbiasa dengan kondisi seperti ini.


Karena jumlah anggota keluarga bertambah, dengan sukarela mereka harus duduk lesehan di lantai dengan beralaskan tikar.


" Maaf nak Hafiz dan nak Aslan, ibu hanya bisa menghidangkan makanan ala kadarnya." Ucap Ibu Khadija dan Aisyah.


" Iya Bu, tidak apa_apa, ini sudah lebih dari cukup." Jawab Hafiz.


" Kalau saya sih Buk, apapun makananya yang penting ada Aisyah di samping saya, sudah seperti makanan di restoran bintang Lima." Sahut Aslan dengan gombalanya terhadap Aisyah, sambil mengedipkan satu matanya ke arah istri tercinta.


Semua orang tersenyum mendengar ucapan Aslan yang terkesan lebay.


" Pagi_pagi ndak usah gombal." Aisyah mencibir sambil mengambilkan sarapan untuk suaminya.


" Zahra mau makan sama apa Sayang?" Tanya Khadija.


" Mau sama tempe aja Bunda?" Jawab Zahra memilih menu favoritnya. Khadija memang selalu mengajarkan kesederhanaan pada Putrinya meski dalam segi makanan sekalipun, toh tempe juga makanan yang bergizi menurut Khadija.


Kemudian Khadija mengambilkan makanan untuk Zahra setelah itu membiarkan Zahra untuk memakan makananya sendiri.


Hafiz hanya diam tanpa pergerakan untuk mengambil makananya, ketika yang lain sudah mulai menyantap sarapanya.


" Mas, kamu ndak makan?" Tanya Khadija yang melihat Hafiz tengah mengotak_atik ponselnya.


Hafiz menegakan wajahnya melihat ke arah Khadija. " Iya, habis ini." Jawab Hafiz singkat.


Masa iya, gw harus ngambil_ngambil sendiri?


" Dia tuh maunya makananya diambilin Ja?" Sahut Aslan, yang mengerti maksud Hafiz, sahabatnya.


Tanpa menjawab ucapan Aslan, Khadija pun segera mengambilkan makanan untuk Hafiz, dengan menuangkan semua menu yang tersedia.


" Ayo Mas, dimakan dulu." Titah Khadija meletakan piring yang sudah berisikan makanan di depan Hafiz.


"Makasih Ja." Ucap Hafiz sembari tersenyum, lalu di letakkan kembali ponselnya beralih pada makananya.


" Hah~..." Hafiz terkejut melihat porsi yang diambilkan oleh Khadija.


Aslan yang menyadari akan kekagetan Hafiz yang berada di sampingnya pun, tertawa kecil.


" Udah, cepetan habisin! Pamali nolak rizki." Ucap Aslan berbisik mendekatkan wajahnya ke telinga Hafiz.


" Ya gak segini juga kali Lan, bisa meledak perut gw!" Hafiz balas berbisik pada Aslan.


Dengan terpaksa dan susah payah Hafiz menghabiskan sarapanya yang jauh lebih banyak dari porsi biasanya.


Wajah putih Hafiz memerah dengan air mata yang menetes, bukan karena Hafiz terharu melainkan ia tidak sengaja menyendokan sambal ke dalam mulutnya.


Perutnya pun sudah mulai bergejolak, karena riwayat penyakit Maag yang di deritanya membuat Hafiz tidak bisa memakan makanan dalam porsi banyak terlebih makanan yang pedas.


Akhirnya Hafiz tanpa meminta izin pada penghuni lain, ia pun langsung berlari menuju kamar mandi yang berada di belakang rumah.


Semua menatap ke arah Hafiz dengan tatapan bingung, melihat Hafiz yang menutup mulutnya dengan sebelah tanganya sambil berlalu.


" Ja, cepet kamu susulin Carel, ada yang gak beres denganya!" Ujar Aslan yang sudah tanggap dengan kondisi Hafiz. Sengaja Aslan menyuruh Khadija.


Jika dulu Hafiz selalu berusaha mendekatkan Aslan dan Khadija, sekarang Aslan berbalik akan mendekatkan kembali Hafiz dengan Khadija.


" Sayang, tunggu sebentar Zahra di sini aja, Bunda susul Papa dulu." Pamit Khadija pada Zahra.

__ADS_1


Tenpa menunggu jawaban Zahra yang madih asik dengan makananya, Khadija segera pergi ke belakang menyusul Hafiz.


Khadija menunggu Hafiz ke luar dari kamar mandi, setelah beberapa saat menunggu, pintu kamar mandi pun terbuka, di lihatnya Hafiz keluar dengan wajah pucat pasinya, sambil terus memagangi perutnya.


Khadija segera mendekat ke arah Hafiz.


" Mas, kamu ndak papa toh?" Tanya Khadija panik memlihat kondisi Hafiz.


Hafiz menjawab dengan gelengan kepala sembari tersenyum tipis, namun mata Hafiz meredup dan...


Grep...


" BAPAK, MAS ASLAN TOLONG...!" Teriak Khadija dengan menahan tubuh besar Hafiz yang tersungkur di bahunya.


Yang di panggil pun segera datang menghampiri setelah mendengar teriakan Khadija dari arah belakang rumah, lalu diikuti sang ibu dan Aisyah dengan menggendong Zahra dibelakangnya.


Dengan sigap sang Bapak dan Aslan pun memapah tubuh lemas Hafiz menuju kamar Khadija.


Di baringkanya tubuh Hafiz di atas ranjang, untuk beberapa saat semua orang menunggu Hafiz kembali sadar dari pingsanya. Aslan menjelaskan perihal pantangan yang harus dihindari Hafiz tentang riwayat penyakit yang pernah di deritanya.


Khadija hanya diam mendengar penjelasan Aslan dengan rasa bersalahnya. Awalnya Khadija hanya ingin mengerjai Hafiz yang bersikap manja, ingin dilayani sewaktu sarapan tadi.


" Papa kenapa Bunda?" Tanya Zahra yang sudah berada disamping Hafiz, dan Khadija yang duduk di tepi ranjangnya sambil terus mengoleskan minyak kayu putih di hidung dan pelipis Hafiz.


" Papa hanya sakit perut." Jawab Khadija.


Beberapa menit kemudian Hafiz siuman.


" Alhamdulillah kamu udah sadar Mas."Ucap Khadija saat Hafiz membuka matanya.


" Papa!" Pekik Zahra yang langsung memeluk sang Ayah dan Hafiz pun membalas pelukan buah hatinya.


Semua orang kembali berkerumun ketika mendengar ucapan syukur Khadija.


" Tidak usah Pak, saya nggak apa_apa, lagi pula saya sudah membawa obat, ada di dalam koper."


Setelah mendapat jawaban dari Hafiz dan Hafiz sudah terlihat sedikit membaik, semua orang memutuskan untuk keluar dan mempersilahkan Hafiz untuk beristirahat kembali, kecuali Khadija dan Zahra.


" Mas, aku minta Maaf ya?" Ucap Khadija yang masih merasa bersalah.


" Untuk?" Hafiz mengernyit masih dalam posisi tidurnya.


" Sebenarnya tadi aku ingin mengerjai kamu, tapi malah bikin kamu seperti ini." Jawab Khadija menunduk takut jika Hafiz akan marah padanya.


Hafiz berusaha bangun dari tidurnya dan bersandar di punggung dipan Khadija, tampak Hafiz menimang permohonan maaf Khadija, namun Hafiz menampakan senyum miringnya yang tak dilihat oleh Khadija.


" Oke, aku akan maafin kamu..." Khadija menegakan wajahnya menatap Hafiz dengan senyum sumringahnya."...Tapi, ada syaratnya!" Lanjut Hafiz yang ternyata memiliki maksud tersembunyi.


" Kenapa harus memakai syarat?" Tanya Khadija, yang senyumnya mulai memudar.


" Iyalah, karena kamu sengaja!"


" Ya sudah, apa syaratnya?"


" Seharian ini kamu harus temani aku sambil pijitin aku disini, lagian aku sakit begini gara_gara kamu!"


" Hah, yang benar saja Mas kita itu bukan muhrim lagi, jadi kita..."


" ...Kita nggak berdua, ada Zahra disini, deal?"


" Sayang, Bunda jahat, Bunda gak


mau pijitin Papa, kan Papa sekarang lagi sakit?" Adu Hafiz meminta pembelaan dari Putri kecilnya.

__ADS_1


" Jangan gitu Bunda, kasihan Papa, nanti kalau Papa gak sembuh_sembuh, Zahla gak akan maafin Bunda!"


Khadija memelototkan matanya ke arah Hafiz yang memanfaatkan Zahra untuk membelanya.


Dengan mengerucutkan bibirnya, Khadija terpaksa menyetujui persyaratan dari Hafiz."Ya sudah, deal!"


Sesakit apapun yang dirasakan Hafiz apa lagi itu hanya sakit fisik, sudah pasti ia akan memaafkan Khadija, namun kali ini Hafiz tidak ingin menyia_nyiakan kebersamaanya dengan Khadija. Hafiz rindu akan perhatian yang pernah diberikan Khadija saat mereka masih bersama.


Hafiz merubah posisinya membelakangi Khadija." Ayo sekarang mulai mijitnya!" Hafiz menepuk bahunya sendiri, memberi arahan pada Khadija.


Khadija tak menjawab, namun jari_jari lentiknya segera bergrilya di atas bahu Hafiz.


" Zahla, boleh bantu pijitin Papa?"


" Zahra sini aja, main sama Papa, biar Bunda aja yang pijitin!" Ucap Hafiz menarik Zahra di atas pangkuanya sambil terus mencium gemas wajah mungil Zahra. Khadija hanya mencebikan bibirnya.


" Zahra habis ini mau gak, jalan_jalan sama Papa dan Bunda?" Tawar Hafiz pada Putri kecilnya


" Mau Pa." Zahra mengangguk antusias


" Katanya sakit, kok malah ngajak jalan_jalan!" Sela Khadija.


" Kan ada Bunda yang siap siaga mijitin Papa?" Sengaja Hafiz menggoda Khadija.


Khadija menguatkan pijatanya ketika Hafiz mengganti sebutanya.


" Auuwww..." Pekik Hafiz.


" Kenapa PAPA? SAKIT?" Tanya Khadija menekankan kata_katanya.


" Jangan kenceng_kenceng dong Bunda?" Hafiz mengerti akan maksud Khadija yang kesal karena ucapanya, namun itu membuat Hafiz semakin gencar menggoda Khadija.


" Sengaja!" Sahut Khadija. "Ingat ya Mas kita itu udah~..."


" Ada Zahra!"Ucap Hafiz mengingatkan Khadija agar menjaga ucapanya di dapan Zahra, buah hati mereka.


Terlalu kecil bagi Zahra untuk mengerti tentang status kedua orang tuanya. Hafiz dan Khadija sebelumnya sudah sepakat untuk tidak memberitahu sang buah hati sampai saat waktunya tiba Zahra mengerti akan arti perpisahan kedua orang tuanya.


"Iya maaf, Kamu sih, mancing_mancing!" Cibir Khadija.


" Ya udah sana, kamu siap_siap habis ini kita jalan_jalan!" Titah Hafiz pada Khadija.


" Dari tadi kek Mas, udah pegel nih tangan aku!" Khadija mengkibas_kibaskan tanganya.


" Ini belum selesai ya, nanti harus dilanjut lagi pokoknya! Oh ya, ambilin dulu obat aku di dalam koper."


" Niat banget kalau mau ngerjai!"


" Iya dong Bun, kapan lagi coba bisa ngerjai mantan istri? Jadi senjata makan tuan kan?"


Khadija tak menghiraukan ucapan Hafiz, segera ia berlalu mengambilkan obat untuk Hafiz lalu keluar menuju dapur untuk mengambilkan air minum.


.


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*


__ADS_2