Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Perjuangan Zahra 2


__ADS_3

Aku memejamkan mata. Sakit? Sangat! Meski aku sudah menduga akan seperti ini. Nada bicaranya yang meninggi, membuat dada ini terasa sesak sekali.


Papa dan Bunda saja tidak pernah melakukan hal seperti ini kepadaku.


Beraninya dia! Apa aku menyerah saja?


Tidak! Ini semua belum berakhir. Aku tidak boleh menyerah. Sekali melangkah, maka aku akan berjuang hingga ke garis akhir. Sampai Tuhan menentukan takdir untuk hambanya yang tak berdaya atas segala kuasanya.


Dan aku yakin, tidak ada usaha yang menghianati hasil.


Semoga dia-lah yang menjadi takdirku kelak. Maka perjuanganku tak akan sia-sia.


Tok ... Tok ... Tok.


"Siapa di dalem woy, buruan keluar!"


Ah, iya aku lupa. Buru-buru ku seka bulir bening yang beberapa menit yang lalu membasahi pipiku.


"Iya, sebentar," sahutku dari dalam kamar mandi. Ku tepuk-tepuk mata dan pipi dengan air, agar bekas tangisan ini terlihat samar.


Ku membuka knop pintu, lalu aku keluar. Satu, Dua, Tiga, Empat. Ada Empat orang yang sedang mengantri dengan berbagai macam eksperesi.


Wajah-wajah itu ... Ya, ada yang seperti menahan kesal, mungkin menunggu ku terlalu lama berada di dalam. Meringis, menahan pipis, ada juga yang hanya bersedekap dengan wajah santai dan yang terakhir ...


"Bertelor lo ya, di dalem," Waduuuhh, udah jelek, galak lagi. Ups---


Entah berapa lama aku berada di dalam kamar mandi tadi ... Bodo amat! Mending sekarang aku segera keluar dari sini, karena setelah ini aku ada kelas.


.


0852568xxxx


[P]


Lagi. Siapa sih orang ini sebenarnya?


Saat hendak balik ke kelas, gawai yang ada di dalam tas kembali berdenting. Menandakan si aplikasi hijau membawa pesan masuk untuk-ku.


Sejak semalam nomor misterius itu cukup mengusik ketenanganku. Beberapa kali seseorang yang tidak aku ketahui siapa dia, terus-terusan mengirim pesan yang sama 'P' hingga Lima puluh kali pesan itu masuk.


Mungkin karena aku tidak menghiraukanya, akhirnya pesan itu ia tutup dengan kata,


[Good night]


Karena tidak ada kejelasan dari sang pengirim, aku pun membiarkan pesan itu merana, hingga berhenti dengan sendirinya.


Aku tidak tahu apa maksud dari orang tersebut, yang jelas aku paling tidak suka ada orang mengirim pesan chart tanpa identitas.


Sekali, aku menanggapi dan bertanya,


[Siapa?]


Tapi, pesanku hanya di baca tanpa di balasnya. Kayaknya dia balas dendam.


Terserah! Emang gue pikirin.


Kembali, seperti tadi pagi, subuh-subuh sekali tumben ponselku sudah berbunyi, yang jelas itu bukan bunyi alarm yang biasa ku setel.


[Bangun]

__ADS_1


[Shalat subuh]


Itu bunyi pesan dari si misterius, yang bertujuan mengingatkan. Tapi dia siapa? Sok perhatian. Masih seperti sebelumnya, hanya ku baca, lalu mengabaikanya.


"Okelah, terima kasih sudah mengingatkan," gumamku sembari beranjak dari tempat tidur. Karena bagaimana pun, dia berniat baik, meski sedikit mengusik.


Ya sudahlah, anggap saja penggemar rahasia. Hahaha.


.


Dengan perasaan gondok, karena mendapat pesan yang nggak penting sama sekali, lalu kumasukkan lagi benda pipih ini ke ... Eh, ternyata sebelum meluncur kedalam tas, ponselku kembali berbunyi.


0852568xxxx


[Maaf]


Ya salaaamm ... Aku tepuk jidat. Ini apa lagi? Kenal saja nggak, tau-tau bilang 'maaf'. Hhmmm.


Lagi. Ku abaikan.


***


Tidak terasa Satu bulan sudah status palsu-ku dengan kak Dion berjalan. Tapi tetap saja pria es itu sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa-apa. Masih awet diam dan cuek.


Sudah bawaan bayi, mungkin?


Kadang aku sampai merasa gemas sendiri, harus dengan cara apa lagi aku menghancurkan bongkahan es itu. Semua cara sudah ku lakukan.


Perhatian? Sudah.


Sering ngajak ngobrol? Di cuekin.


Ngegombal? Sering!


Aku tahu kelemahan kak Dion. Pemuda itu tidak bisa berkutik jika sedang di hadapan ketiga sahabatnya. Taulah alasanya kenapa?


Ya, dia takut kedok status palsu yang kita jalani ini terbongkar. Tapi bagiku sekarang, hubungan ini bukan lagi sekedar sandiwara, melainkan aku ingin serius menjalaninya.


Biarlah untuk saat ini hanya aku yang menginginkanya, tapi aku yakin suatu hari, entah kapan dia pasti memiliki rasa yang sama. Semoga!


Kak Dion yang duduk bersisihan denganku pun menoleh, dan hanya mengangkat sebelah alisnya tanpa bertanya. Namun, melihat ekspresinya seperti itu, aku tahu sebenarnya dia penasaran dengan apa yang ku ucapkan barusan.


Kulihat kak Nio, kak Melisha dan kak Nando yang sedang memetik gitar tapi tidak jelas sama sekali kunci nadanya kemana hanya senyum-senyum, sesekali memutar bola mata. Mereka sudah hafal dengan kelakuanku yang 11-12 dengan kak Nando. Suka ngereceh.


"Sini tanganya," pintaku sambil mengulurkan telapak tangan yang ku daratkan di atas meja. Memberi arahan.


Hanya diam, tapi dia menurut apa yang ku katakan. Kak Dion pun mengulurkan tangan kananya yang tergenggam sesuai perintahku dan diletakkan tangan itu disebelah tanganku.


"Kosong kan?"


"Hhmmm," gumamnya malas.


Ku menunjukkan telapak tanganku yang kosong. Lalu ku menumpuk tanganku yang sudah mengepal di atas tangan kak Dion.


Kak Dion bingung dengan aksiku ini, begitu juga dengan ketiga orang yang duduk diseberang-ku dan kak Dion, mereka mulai ikut penasaran. Mungkin mereka bingung, apa yang sedang aku lakukan. Karena biasanya aku ngegombal hanya dengan kata-kata.


"Sekarang buka tangan kakak," perintahku selanjutnya.


Seperti orang lugu-lugu cengo, kak Dion pun kembali menurut dan mulai membuka tanganya, mungkin dia mengira aku akan memberinya sesuatu, seperti kacang atau permen yang tiba-tiba saja ada dalam genggamanku.

__ADS_1


Saat tangan itu sudah terbuka, aku pun membuka tanganku lalu kumasukan jari-jariku ke sela-sela jarinya.


Jadi genggaman tangan deh ...


"Hahaha,"


"Jiiaaahhhh ... Kena juga lo, di gombalin si Zahra,"


"Dasar bocah,"


Suara kak Nio, kak Melisha dan kak Nando bersahutan bercampur tawa yang berderai sedikit kencang. menyadarkan kak Dion yang masih diam terpaku dengan pikiran, entah.


'Yes, berhasil!' seruku dalam hati.


Sekilas ku lihat bibir itu melengkung tipis. Tidak masalah, setidaknya es batu sudah mulai menampakkan lelehanya, meski itu hanya setitik.


Sampai akhirnya kak Dion berdiri dan melepaskan genggamanya, kemudian berbalik sembari mengibaskan tanganya sebelum berlalu.


Hahaha ... Ada yang malu.


Setelah kak Dion pergi, aku masih melanjutkan obrolanku bersama ketiga kakak-kakak ketemu gede yang memiliki tampang kece-kece.


Tiba-tiba suara gemulai Bang Maman penjual sosis bakar langganan datang mengagetkan.


"Yuhuuu ... Sosis bakar datang," Bang Maman meletakkan Lima butir sosis bakar tepat di hadapanku.


Loh, ini siapa yang pesan? Aku tidak merasa memesan ini makanan.


Ku menyapu pandangan, menatap kearah kak Nio, kak Melisha dan kak Nando, mengangkat dagu sekilas.


Seperti bisa membaca pikiranku, mereka bertiga kompak mengendikan bahu. Tidak tahu.


"Ini siapa yang pesan Bang?" Akhirnya ku bertanya pada Bang Maman, yang sudah berbalik badan.


"Aku yang pesenin buat kamu," Seketika bola mataku melotot, seakan ingin loncat dari kelopaknya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Ayo tebak siapa kira-kira yang membuat Zahra terkejut?


Nih yang minta visual


Zahra



Dion

__ADS_1



Jangan lupa like, komen, dan votenya ya? 🙏😊😘


__ADS_2