Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Pilihan yang sulit


__ADS_3

Setelah mengetahui siapa orang yang telah mendonorkan ginjalnya untuk sang Ayah, sejak saat itu membuat Hafiz tampak murung dan gelisah.


Sebagai seorang Dokter yang sudah berpengalaman dan tentunya sudah berkonsultasi dengan Dokter spesialis Urologi, selaku Dokter yang menangani Khadija, Hafiz mencari solusi akan kehamilan sang istri yang sangat beresiko.


Ragu, takut dan sedih itulah ungkapan perasaan yang di rasakan Hafiz saat ini.


Pria itu ragu bagaimana cara memberitahu kepada istrinya akan bahaya mengandung di saat kondisinya yang belum lama melakukan operasi pengangkatan ginjal. Apakah Khadija akan menerima jika harus menggugurkan kandunganya?


Takut! Hafiz takut jika ia memaksakan istrinya untuk mempertahankan kehamilanya, maka itu artinya ia membiarkan orang yang ia cinta berada dalam bahaya.


Sedih! Pria itu juga merasa sedih jika harus kehilangan calon bayi yang selama ini di nantikanya.


Sampai-sampai permintaan sang Ayah Dua hari yang lalu, meminta ia dan keluarga kecilnya kembali ke rumah belum terpikirkan lagi oleh Hafiz.


Selepas makan malam Hafiz kembali lagi ke kamar. Khadija seperti biasa ia akan membuatkan teh untuk suaminya sebagai teman bersantai di malam hari.


Dengan membawakan teh hangat buatanya, Khadija menghampiri sang suami yang sedang duduk sendiri di balkon kamar Apartemen.


"Mas," Khadija memanggil suaminya untuk yang ketiga kali sambil melambaikan telapak tangan didepan wajah pria itu.


"Eh, iya Bund?" Hafiz tersadar ketika ada bayangan berkelebat di depan mata.


"Kamu kenapa? Dari kemarin aku perhatiin sering melamun? Apa ada masalah?" tanya Khadija beruntun.


Untuk beberapa saat Hafiz diam, menghirup nafas panjang dan menghembuskanya perlahan berusaha mengumpulkan energi untuk memulai membicarakan kekhawatiran yang tengah ia rasakan sebelum semuanya terlambat.


Hafiz membenahi posisi duduknya menghadap istrinya, "Sayang, Sebelumnya aku minta maaf," Hafiz menatap lekat mata bulat istrinya. Penuh keraguan namun, mau tidak mau ia harus menyampaikanya.


"Kenapa Mas?" tanya Khadija tidak mengerti.


"Sepertinya kamu harus menggugurkan kandungan kamu ini Sayang," Dengan nada berat Hafiz menyampaikan kabar buruk ini.


Plak...


Gerak reflek tangan Khadija menampar suaminya, "Tega kamu Mas!" Suara Khadija meninggi, tidak terima dengan pernyataan Pria yang masih setia duduk di hadapanya dengan menahan rasa panas di pipinya.


"Dengar dulu penjelasan aku Bund?" Hafiz meraih tangan istrinya ketika perempuan itu hendak beranjak dengan amarahnya.

__ADS_1


Sudah di duga oleh Hafiz, jika akan begini kejadianya. Khadija tidak akan terima.


Hafiz berdiri maraih tubuh Khadija ke dalam pelukanya. Tubuh perempuan itu bergetar dengan isak tangisnya.


"Kamu jahat Mas," Khadija berusaha melepas pelukan tangan kekar yang melingkar di tubuhnya. Namun, tangan itu semakin erat mendekapnya.


Hafiz berusaha memberikan ketenangan untuk beberapa saat, sampai istrinya kembali tenang setelah itu ia akan melanjutkan kembali penjelasanya.


Sudah puas dengan raung tangisanya, kini berganti sesenggukan yang terdengar.


"Ayo kita duduk, dengarkan dulu penjelasanku," Hafiz melepas pelukanya lalu menuntun istrinya untuk duduk kembali di sofa tempatnya semula.


Hafiz dengan lembut mengusap air mata yang masih tersisa di pipi Khadija.


"Bukan kamu saja yang terpukul, tapi aku juga berat menerima semua ini," ucap Hafiz mengawali penjelasanya, "Namun, aku juga gak bisa membiarkan nyawa kamu yang menjadi taruhanya,"


Wanita yang hidup dengan Satu ginjal lebih beresiko mengalami gangguan kehamilan dan perkembangan janin terkait Hipertensi gestasional, preeklampsia, dan eklampsia. Terlebih luka bekas jahitan yang belum pulih sempurna.


"Tapi aku, hiks...hiks... Aku ndak mau ngegugurin anak kita Mas," ucap Khadija tertunduk menatap tak berdaya perut yang terus di belainya.


"...Dan kamu rela ninggalin Zahra?" sahut Hafiz membuat Khadija terdiam.


Perempuan itu kini berada pada pilihan yang sulit. Baginya kedua buah hatinya adalah separuh dari hidupnya.


Perlahan Hafiz memberikan pengertian atas kondisi yang ia pun tidak menginginkanya. Sebagai Dokter spesialis kandungan, tentunya tindakan Aborsi merupakan hal yang paling di benci bahkan di hindari selama pengalamanya menjadi seorang Dokter. Namun, kini hal itulah yang akan ia lakukan pada calon janin yang merupakan darah dagingnya sendiri.


Tetapi meninjau dari sudut pandang agama, tindakan Aborsi di perbolehkan karena Udzur yaitu dengan alasan kesehatan seperti dapat membahayakan nyawa ibu bahkan janin yang di kandung. Mengingat pula usia kandungan Khadija yang masih berusia Lima minggu itu artinya belum di tiupkan ruh pada janin tersebut.


***


"Gimana kondisi kamu sekarang Sayang?" tanya Hafiz ketika berada di ruang perawatan istrinya.


Setelah melewati pergolakan batin antara iya dan tidak atas usulan sang suami, akhirnya Khadija menyetujui untuk menggugurkan kandunganya dengan berbagai pertimbangan.


Karena usia kandunganya yang terbilang cukup muda masih berada di Trisemester awal, Hafiz cukup memberikan istrinya obat yang disebut Mifepristone, jenis obat ini bekerja dengan cara menghambat kerja hormon Progesteron, yaitu hormon yang di butuhkan Embrio untuk tumbuh dan berkembang.


Meskipun begitu, Hafiz tetap membawa istrinya menjalani perawatan di Rumah Sakit. Karena dalam waktu Empat hingga Enam jam setelah meminum obat tersebut, biasanya akan menimbulkan efek samping seperti perut kram dan pendarahan hebat. Butuh waktu sekitar Tiga sampa Empat hari hingga semua jaringan embrio dapat keluar benar-benar dari dalam tubuh.

__ADS_1


"Sudah mendingan Mas," Wajah Khadija masih tampak pucat setelah mengalami pendarahan.


"Maafin aku Bund?" ucap Hafiz sudah duduk disamping tempat tidur istrinya sambil terus menggenggam tangan perempuan yang tengah terbaring lemah di atas tempat tidur.


"Sudah Mas ndak papa. Aku sudah ikhlas, mungkin ini jalan terbaik yang sudah Alloh gariskan," ujar Khadija legowo. Meski, masih ada rasa sedih di dalam hatinya.


Hafiz tersenyum setelah mendengar penuturan bijak dari istrinya. Pria itu pun memberikan kecupan lembut di kening lalu beralih mencium bibir sang istri dengan mesra.


"Eeits, Pak Dokter udah main sosor-sosor aja," Suara seseorang yang baru datang, membuyarkan kemesraan yang baru saja di mulai.


Hafiz pun menegakkan kembali tubuhnya, dan menoleh ke asal suara, "Ngapain sih lo kemari, ganggu aja," Hafiz menatap kesal, ternyata pelakunya adalah Aslan. Sahabat sekaligus merangkap menjadi adik ipar.


"Pake nanya lagi, ya jengukin Kakak ipar lah?" jawab Aslan sambil cengengesan.


"Maaf Mas, Mbak kita ganggu," ucap Aisyah sudah berdiri di samping brankar sang Kakak sambil meletakan Parcel Buah yang ia bawa.


"Orang Mbak juga ndak lagi ngapa-ngapain," jawab Khadija salah tingkah.


Aslan dan Aisyah mesem-mesem melihat pipi Khadija yang sudah memerah karena malu.


Hafiz sudah mengabari semua keluarga termasuk kedua mertuanya di kampung perihal kondisi Khadija.


Untuk Zahra, kini gadis kecil itu sudah di bawa pulang kembali oleh sang Kakek dan neneknya setelah menjenguk menantunya. Karena suasana Rumah Sakit tidak baik untuk anak kecil.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen dan Vote_nya ya...🙏😊*

__ADS_1


__ADS_2