
Hafiz berbalik badan, setelah mendengar seruan dari sang Ayah.
"Lakukanlah sesuka hati Papa, karena Carel akan tetap memilih Khadija dan Zahra. Merekalah kebahagiaan Carel yang sesungguhnya!" ucapnya dengan sepenuh hati. Hafiz kemudian meneruskan langkahnya mengejar sang istri dan anaknya.
Sang Ayah nampak geram, senyum yang semula terukir berubah seketika menjadi masam, setelah mendengar jawaban tak terduga dari putra semata wayangnya.
Iming-iming harta tidak serta merta membuat pendirian Hafiz goyah. Karena dari awal ia mendapatkan warisan, Hafiz tidak terlalu berambisi. Maka dari itu ia tidak pernah mau ikut campur dengan semua kekayaan yang diwariskan mendiang sang kakek kepadanya. Bahkan Hafiz tidak terlalu peduli ketika mengetahui, semua aset yang dimilikinya telah beralih dibawah kekuasaan sang Ayah, terkecuali hanya Rumah sakit yang berada di bawah kepemilikanya.
Hafiz bukanlah sosok yang gila harta namun Hafiz adalah seorang yang haus akan perhatian dan kasih sayang.
Khadija.
Satu nama yang mampu memberikan apa yang dibutuhkan Hafiz selama ini. Tidak heran pula jika Hafiz sangat berjuang untuk mendapatkan kembali Ketulusan cinta Khadija.
***
Setelah mengambil Zahra dari kamar Sari, Khadija segera beranjak keluar dari rumah sang mertua dengan membawa kepiluan di hatinya.
Zahra sengaja di titipkan kepada Sari oleh Hafiz, untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti halnya kejadian tidak mengenakan yang baru saja terjadi. Karena tidak baik untuk kesehatan mental Zahra yang masih terlalu dini untuk mengerti kerumitan urusan orang dewasa.
Hafiz mengedarkan pandanganya, matanya tertuju pada sang Istri yang berjalan cepat dengan menggendong buah hatinya hendak keluar dari gerbang.
"Bunda ... Tunggu Bunda?" Hafiz mencekal lengan Khadija setelah berhasil mengejarnya. "Ayo kita pulang," Tangan Hafiz menghapus air mata yang sudah tidak terbendung membanjiri pipi Khadija.
"Bunda, kenapa Papa?" tanya Zahra dengan wajah polos.
"Bunda, hanya kelilipan kok sayang, iya kan Bund?" Jawab Hafiz berbohong pada Zahra, Khadija mengangguk dan tersenyum ke arah Puterinya. Hafiz dan Khadija tidak ingin berbagi kesedihan kepada sang buah hati.
Khadija pun menurut, mengikuti ajakan suaminya.
Di dalam mobil tidak ada percakapan di antara Hafiz dan Khadija, sedangkan Zahra yang berada di bangku belakang tengah asik menonton film kartun kesayanganya.
Hafiz sangat mengerti akan kesedihan yang dirasakan Khadija, istrinya. Hal inilah yang selama ini Hafiz kawatirkan. Sudah cukup baginya selama ini membuat khadija tersakiti. Karena itulah Hafiz berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang di berikan oleh Tuhan untuk selalu membahagiakan Istri dan Anaknya.
Sesampainya di apartemen hari sudah menjelang siang, Hafiz menyerahkan Zahra pada sang Babby sitter untuk di tidurkan karena sudah jadwalnya Zahra untuk tidur siang.
Setelah itu Hafiz pergi kedapur untuk sekedar mengambilkan air minum untuk Istrinya yang terlebih dahulu masuk ke kamar.
__ADS_1
"Sayang, ini aku bawakan air putih, kamu minum dulu ya? Biar sedikit lebih tenang." ucap Hafiz lembut pada sang istri yang terbaring di atas tempat tidur, dengan posisi meringkuk membelakanginya. Hafiz mengelus kepala sang istri yang tertutup Hijab dengan sayang.
Khadija menggeleng.
Hafiz menghembuskan nafas berat, "Inilah alasan kenapa aku selalu mengulur-ulur waktu untuk meminta restu pada Papa," ujarnya terduduk lemas di tepi ranjang di samping Khadija.
Khadija masih saja tak bergeming.
"Maafkan suamimu yang lemah ini! Hidup denganku hanya akan membuatmu selalu tersakiti," Hafiz sudah pasrah, jika suatu saat bahkan hari ini pun ia sudah siap jika sang istri pergi meninggalkanya--Hafiz tidak ingin membuat istrinya selalu tersiksa batin atas perlakuan sang Ayah.
Hafiz beranjak dari duduknya, derap langkah kakinya menuntun pria itu hendak keluar dari kamar--membiarkan istrinya sendiri untuk sementara waktu, mungkin bisa membuat perempuan itu bisa sedikit lebih tenang.
Grep ...
Baru beberapa detik, Hafiz menggerakan kakinya, tiba-tiba ada dua tangan kecil menelusup di kedua sisi tubuhnya yang berhasil mengunci langkahnya, "Jangan tinggalkan aku lagi Mas," Khadija semakin mengeratkan pelukanya, seakan ia tidak mau lagi kehilangan orang yang begitu dicintai untuk ketiga kalinya.
Hafiz melepas lilitan tangan yang melingkar di tubuhnya. Ia memutar tubuhnya menghadap sang empunya tangan. "Sayang, asal kamu tahu sampai kapanpun aku tidak akan pernah ninggalin kamu. Aku gak akan bisa hidup tanpa kamu dan Zahra, anak kita," Hafiz menangkupkan kedua tanganya di wajah Khadija, menatap lekat kedua mata yang sudah tampak sembap "Kita berjuang sama-sama ya? Agar siapapun tidak bisa memisahkan kita, dan hanya maut yang boleh memisahkan." ucap Hafiz begitu dalam, membuat hati Khadija tersentuh.
Khadija mengangguk mantap seraya tersenyum lega.
Ting tong...
Bibir yang saling bertautan akhirnya terlepas ketika bunyi bel, mengganggu aktifitas Hafiz dan Khadija.
"Aku buka pintu dulu ya sayang?" Pamit Hafiz sembari mengusap bibir istrinya yang sedikit membengkak akibat ulahnya.
Setelah mendapat persetujuan dari Khadija, Hafiz segera berlalu menuju pintu utama untuk melihat siapa pelaku yang membuyarkan keromantisan yang terjadi antara dia dan istrinya.
"Mama?" Pekik Hafiz terkejut melihat ibunya yang datang kembali dengan membawa koper besar.
"Izinkan Mama untuk tinggal bersama kalian disini." Pinta sang ibu dengan wajah sendunya.
"Tentu Ma." Hafiz menyetujuinya dengan senang hati.
Lalu Hafiz menggiring ibunya untuk masuk dan mengambil alih koper yang ada di tangan sang ibu.
"Ibu?" Khadija tidak kalah terkejut ketika baru keluar dari kamar mendapati sang ibu mertua sudah berada di Apartemenya kembali.
__ADS_1
"Sayang, Mama ingin tinggal bersama kita." Sela Hafiz.
Khadija berjalan mendekat ke arah sang suami dan ibu mertuanya yang masih berdiri di ruang tamu.
"Zahra pasti senang, jika tahu neneknya akan menginap di sini?" Ucap Khadija, sembari mengangkat kedua sudut bibirnya.
Hafiz kemudian mempersilahkan ibunya untuk duduk. Hafiz masih penasaran motif dibalik keputusan sang Ibu untuk ikut tinggal bersamanya.
"Jadi kenapa Mama pergi dari rumah?" Pertanyaan Hafiz kepada ibunya yang membuat Khadija tersentak. Ternyata perkiraanya salah, namun Khadija sementara memilih diam dan menyimak, menunggu jawaban apa yang sebenarnya terjadi.
"Sebenarnya selama ini Mama sudah muak menghadapi sifat Papa kamu yang arogan dan diktaktor! Seperti halnya kamu yang ingin hidup bahagia, Mama juga ingin nak?" Ucap sang ibu sambil tersedu, Khadija yang melihatnya merasa iba, ia mendekat ke arah ibu mertuanya untuk membantu menenangkan. "Mama rasa, kebahagiaan Mama saat ini ada pada kalian. Jadi apa kalian mau menerima Mama di sini?" Ucapnya dengan penuh keyakinan, lalu beralih menatap ke arah Khadija yang berada di sampingnya, bertanya memastikan.
"Ibu adalah orang tua kami, jadi ndak ada alasan untuk kami menolaknya." Jawab Khadija dengan senang hati kemudian memberikan pelukan hangat pada sang ibu mertua.
Hafiz begitu bahagia melihat Dua wanita yang di sayanginya kini berada bersamanya. Nilai kesempurnaan Khadija semakin bertambah di matanya.
"Baiklah Bu..."
"....Panggil Mama!" Sang ibu mertua mengoreksi sebutan Khadija terhadapnya.
"ii...iya Ma." Khadija gugup lidah kampungnya tidak terbiasa dengan panggilan baru terhadap ibu mertuanya. "Kalau begitu Dija permisi dulu, ingin menyiapkan kamar untuk Mama." Sambung Khadija.
Khadija pun berlalu menuju kamar tamu untuk mempersiapkan kamar sang ibu mertua yang berniat tinggal bersama keluarga kecilnya sampai batas waktu yang tidak ditentukan, bahkan untuk selamanya pun tidak masalah buat Khadija.
.
.
.
.
.
*Bersambung ...
Jangan lupa Like dan komenya....🙏🙏🙏*
__ADS_1