
" Hey...Mbak Alina, maaf ya? Mas Dokter ini suami saya !"
Rasanya Khadija ingin sekali berteriak seperti itu, ketika suara Alina mengejutkan Khadija yang akan membuka pintu mobil Hafiz.
" Maaf ya Mbak, tempat anda bukan di sini, tapi di sana?" Tunjuk Alina pada mobil Aslan yang terparkir tidak jauh, hanya Lima puluh meter dari mobil Hafiz.
Seketika Khadija menoleh ke arah Alina yang selalu bergandengan dengan Hafiz.
" Iya maaf, saya lupa!" Ucap Khadija, menahan rasa malunya.
" Gak papa kok Ja, kalau kamu ingin ikut dengan saya." Jawab Hafiz santai.
" Khadija ikut sama gw!" Sela Aslan yang entah muncul dari mana, tiba_tiba sudah berdiri di samping Khadija dengan menggamitkan tanganya di tangan Khadija.
Khadija terkejut, lalu mengalihkan pandanganya ke bawah melihat tangannya dengen Aslan saling bertautan.
Segera Khadija menarik tanganya kembali. "Maaf Mas, kita bukan Muhrim." Ucap Khadija melirik tajam ke arah Hafiz. Selain untuk menegur Aslan, Khadija juga berharap Hafiz mengerti akan sindiran yang ia lontarkan.
" Ayo yank, kita pulang?" Ajakan Alina menyelamatkan Hafiz dari lirikan tajam Khadija.
Hafiz mengangguk, lalu Alina dan Hafiz pun masuk ke dalam mobil.
Suara mesin Hafiz berderu, siap meninggalkan area parkir.
" Aslan, Dija, gw duluan!" Pamit Hafiz, membuka kaca mobilnya, dengan mendadakan tanganya.
Aslan mengangkat tanganya, membalas lambaian tangan dari sahabatnya.
" Maaf Ja, aku tadi gak sengaja." Ucapan Aslan menyadarkan Khadija yang masih setia menatap kepergian mobil suaminya, Aslan mengatupkan kedua telapak tanganya di depan Khadija.
Khadija menoleh ke Aslan, " Iya, Dija maafin, tapi jangan di ulangi lagi ya Mas?"
" Makasih Dija cantik, Ayo aku antar pulang sekarang." Dengan langkah berat, Khadija pun mengikuti Aslan menuju mobilnya.
Setelah masuk ke dalam mobil Aslan, untuk beberapa menit, tidak ada pergerakan mobil Aslan berjalan.
Sejak masuk ke dalam mobil, Khadija hanya diam, tatapan matanya kosong, memandang ke arah luar kaca mobil yang tampak berjajar mobil_mobil para pengunjung Restauran.
Aslan yang biasanya tidak pernah kehabisan topik membuka suatu obrolan, mendadak membisu, entah apa yang sedang fikirkan oleh Aslan?
" Mas..." / " Dija..." Aslan dan Khadija akhirnya membuka suara mereka bersamaan, tatapan mata Khadija dan Aslan pun saling bertemu.
Aslan semakin lekat menatap Khadija penuh perasaan, namun lain hal dengan Khadija yang segera menunduk mengalihkan pandanganya.
" Ya udah, kamu dulu yang ngomong." Ucap Aslan yang terus menatap Orang yang ada di sampingnya.
" Kok mobilnya ndak jalan_jalan?" Tanpa harus berdebat siapa yang duluan bicara, Khadija menjawab dengan pertanyaan, sedikit menoleh ke arah Aslan.
" Boleh, aku ngomong serius sama kamu Ja?" Aslan balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Khadija.
Aslan merubah posisinya menghadap ke arah Khadija.
" Ngomong aja Mas?"
" Sebelumnya aku minta maaf sama kamu, mungkin ini terlalu cepat buat kamu, tapi nggak buat aku..."
" Mas jangan muter_muter, Dija ndak ngerti!"
Aslan tersenyum. " Aku Cinta dan Sayang sama kamu Ja?" Ungkap Aslan To the Point.
Khadija menegakan wajahnya dengan bola mata yang terbelalak.
Untuk beberapa detik, Khadija terdiam.
Khadija menarik nafas pendek sebelum menjawab peryataan Aslan.
" Maaf Mas, Dija ndak bisa!"
__ADS_1
" Kenapa Ja? Coba jelasin apa yang kurang dari aku?"
" Ndak ada yang kurang dari kamu Mas, Akulah yang kurang..."
"....Tapi aku akan menerima segala kekurangan kamu Ja, aku dan keluargaku tidak pernah mempermasalahkan kasta atau dari mana seseorang itu berasal!"
Aslan memanglah berasal dari keturunan orang kaya, namun kekayaan yang di dapat orang tua Aslan bukanlah dari warisan turun_temurun, tetapi hasil rintisan usaha yang di mulai dari Nol.
Maka dari itu, keluarga Aslan tidak pernah membeda_bedakan kasta seseorang, mereka Welcome terhadap siapapun.
Kekayaan yang di miliki seseorang itu bukan hanya titipan, namun lebih dari itu, bisa dikatakan suatu keberuntungan. Akan tetapi semua itu ada masanya dan dapat berpindah kapan saja kepada yang dikehendaki oleh sang penguasa Alam Semesta.
" Bukan itu maksud aku, suatu saat kamu akan mengerti dan tahu alasan aku nolak kamu!"
Aslan tertunduk lesu, menyandarkan kepalanya di atas lingkaran kemudinya.
" Sekali lagi maafin aku Mas?"
" Enggak Ja, kamu gak salah." Aslan kembali tersenyum, ia tidak mau Khadija merasa bersalah. " Ya udah, lupain aja ucapanku barusan! Tersenyum dong, entar jeleknya ilang lho?" Aslan mencoba menggoda Khadija.
" Apa'an sih kamu Mas, ndak lucu!" Khadija pun tersenyum, Aslan berhasil menggodanya.
" idih...Siapa juga yang ngelucu? "
" Jadi ndak ini nganterin aku pulang?"
" Ya jadi dong? masa sih Mas Aslan tega ngebiarin cewek cantik kaya kamu ngegembel di jalanan!" Aslan meledek Khadija mengusir kecanggungan.
" Mas..!!
" Hahaha..." Bukan Aslan namanya jika tidak bisa mencairkan suasana, meskipun hatinya sedang gundah gulana di tolak cintanya oleh Khadija.
Aslan kemudian menjalankan mobilnya keluar dari area parkir, bersiap meluncur ke tempat pemberhentian Khadija, sementara.
" Makasih Mas, hati_hati di jalan." Ucap Khadija saat sudah keluar dari mobil Aslan.
" Sari?" Khadija mengerutkan keningnya, ketika melihat Sari yang berhenti di depanya dengan menggunakan motor metic mang Didin.
" Lho...kok jadi kamu yang jemput?" Tanya Khadija heran.
Mas Dokter kemana? Khadija membatin.
" Iya Mbak, barusan Den Carel nelfon, kalau Sari suruh jemput mbak Dija disini." Jawab Sari yang masih menyalakan mesin motornya.
" Ayo Mbak, naik!" Ajak Sari, melihat Khadija yang masih setia berdiri ditrotoar.
Khadija pun langsung mendaratkan bokongnya di atas boncengan motor yang di setir oleh Sari. Tidak perlu memakai helm, karena Khadija dan Sari hanya melewati jalan komplek perumahan.
Sesampainya di rumah nan megah itu, tampak sepi.
" Bapak sama Ibu kemana Sar?" Tanya Khadija saat memasuki pintu utama. Suasana rumah tampak sepi.
" Oh..Nyonya tadi katanya nginep di rumah saudaranya, kalau Tuan mah kaya Jailangkung Mbak?" Hampir setahun di rumah itu, namun Khadija tidak tahu pasti kapan dan jam berapa Ayah mertuanya kembali ke rumah. Yang Khadija sering temui hanya Ibu mertuanya, selebihnya Khadija banyak menghabiskan waktunya bersama para ART ataupun di kamarnya.
" Hush...Ngawur kamu!" Khadija menepuk pelan bahu Sari. " Ya sudah, aku tak masuk kamar dulu, mau Sholat Isya'." Khadija menunjuk kamarnya sambil terus berjalan.
" Mbak Dija kalau butuh sesuatu panggil Sari aja Mbak!" Ucap Sari saat akan masuk ke dapur.
" Sip!" Khadija mengangkat jempolnya.
***
Lewat tengah malam.
Hati Khadija gelisah, fikiranya pun tidak karuan, ia terus berjalan mondar_mandir diruang tamu menunggu kedatangan Hafiz yang tidak biasa pulang sampai larut malam.
Barkali_kali Khadija melihat jam digital yang terpampang di layar ponselnya.
__ADS_1
".Dimana toh Mas, kamu sekarang?" Gumam Khadija, sambil mengotak atik ponselnya.
Khadija terus_menerus menempelkan ponsel ke telinganya, namun selalu di akhiri suara decakan dari bibirnya.
Setelah cukup lama menunggu, terdengar suara mobil masuk ke dalam garasi. Segera Khadija membuka pintu.
" Astagfirullohaladzim Mas...!!!" Suara Khadija memekik, melihat Hafiz yang berjalan sempoyongan dengan tampilan yang sudah berantakan, berbeda jauh saat mereka berbuka puasa bersama beberapa jam yang lalu.
Khadija berlari menghampiri Hafiz, lalu memapah tubuh berat suaminya.
Dengan susah payah Khadija membawa Hafiz menaiki tangga menuju lantai Dua kamar Hafiz. Ini kali kedua Khadija mendapati suaminya pulang dalam keadaan mabuk selama menjadi Istri Hafiz.
Khadija menghempaskan tubuh besar Hafiz ke kasur King size_nya.
Khadija membantu membetulkan posisi tidur Hafiz, setelah mencopot sepatu Slip on yang di kenakan Hafiz, selebihnya untuk baju dan celana Khadija tidak berani menyentuhnya.
Ditutupnya tubuh Hafiz sebatas perut,menggunakan selimut tebalnya.
Saat akan beranjak, Tangan Khadija ditarik oleh Hafiz, tubuh kecil Khadija pun terjengkang kebelakang menindih tubuh Hafiz.
Dalam keadaan setengah sadar, dengan cepat Hafiz merubah posisinya di atas tubuh Khadija.
Khadija mencoba memberontak, namun tenaganya tidaklah cukup kuat melawan cengkraman tubuh besar Hafiz.
" Lepasin aku Mas!! Teriak Khadija dengan mata terpejam, menggeleng_gelengkan kepalanya menghalau serangan brutal dari Hafiz. " Kamu ndak boleh lakukan ini, kamu sedang mabuk Mas !!! Seru Khadija, sambil memukul_mukul dada bidang Hafiz.
Pukulan Khadija tak membuat tubuh Hafiz bergeser sedikitpun.
" Aku sayang sama kamu, tolong jangan tinggalin aku sayang."
Entah mengapa Khadija merasa terhipnotis akan ucapan Hafiz yang seakan membuat jantung Khadija berdegub kencang dan darahnya berdesir seketika.
Perlahan Khadija membuka matanya, melihat tatapan sayu dari netra coklat suaminya.
" Jangan pernah tinggalin Aku..." Racau Hafiz, Kembali mendaratkan seranganya dengan bringas.
Apalah daya mulut Khadija hanya bisa berteriak, namun Raganya sudah terkunci tidak bisa memberontak.
Apa yang terjadi pada Khadija dan Hafiz? Tolong bayangkan sendiri, yang jelas mereka sudah melakukanya...🤔😜
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Ya meskipun cerita aku ini jarang ada peminat, tapi aku akan tetap melanjutkan cerita ini sampai tamat.
Terima kasih untuk para Readers yang sudah setia menunggu cerita ini Up dan dengan sukarela memberikan jempolnya.
Author disini hanya ingin menuangkan imajinasi dan menyalurkan Hoby menulis tanpa mempermasahkan yang sedang ramai di bahas di group, apalah_apalah itu...Whatever...!
Aku harap semoga ceritaku ini bisa menjadi kisah inspiratif khususnya untuk kaum perempuan. Dan tolong jeleknya di buang saja.
Komen dan Like para Readers menjadi obat semangat buat Author.🙏🙏🙏
Maaf Author sedikit curcol...😁
__ADS_1