Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Reuni 2


__ADS_3

Masih dengan kesendirianya, namun dengan status yang berbeda. Hafiz kembali menghadiri reuni akbar yang diselenggarakan setiap Lima tahun sekali oleh para alumni SMAnya tercinta tanpa seorang pasangan.


Hafiz memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju sebuah gedung di salah satu hotel bintang Tiga yang


berada di pusat kota, tempat acara reuni di gelar.


Yang sebelumnya Zahra bersedia menemani sang Ayah, namun tiba_tiba Khadija memberi kabar kepada Hafiz, jika Zahra tidak bisa ikut, karena Putri kecilnya itu sudah tertidur pulas saat menunggu kedatangan sang Ayah.


Jika kali ini Hafiz datang tanpa membawa pasangan, maka kedua sahabatnya pun di ultimatum olehnya agar tidak membawa pasanganya.


Jika kedua sahabatnya sampai membawa pasangan, maka alamat untuk Hafiz, siap_siap akan terabaikan dan Hafiz tidak akan membiarkan itu terjadi.


Namun Ultimatum yang dilayangkan Hafiz kepada kedua sahabatnya itu, tidak serta merta di indahkan oleh Aslan dan Dio. Mereka tetap membawa anak serta istrinya masing_masing datang ke acara tersebut.


" Kan gw udah bilang, kenapa


pada bawa pasangan sih?" Gerutu Hafiz pada Aslan dan Dio saat melihat para istri kedua sahabatnya itu berlalu entah kemana meninggalkan para suaminya.


" Gila aja lo, kalo mau ngejomblo gak usah ajak_ajak deh! Lagian nih ya Rel, Istri gw tuh gak mau kalo gw tinggal." Sahut Aslan.


" Kalo sampe malam ini gw dateng sendiri, tanpa bawa anak istri gw, bisa_bisa pulang gw di suruh tidur di luar sama si Clara." Imbuh Dio.


"Lagian kenapa lo gak ajak Dija aja sih?" Tanya Aslan.


" Kemarin malam gw udah coba ngajak dia tapi Khadija gak bisa, katanya dia sudah ada acara." Jawab Hafiz.


Hafiz, Aslan dan Dio kini sudah duduk saling berhadapan di sebuah meja yang berisikan Enam kursi.


Apa yang di khawatirkan Hafiz ternyata salah, nyatanya Aslan dan Dio tidak mengabaikanya, karena Clara dan Aisyah serta Nio memilih mencari keseruanya sendiri.


Beberapa saat kemudian, mata Aslan terbelalak melihat sepasang orang yang baru masuk ke dalam gedung.


" Yo...Yo...Apa gw salah lihat?" Panggil Aslan pada Dio yang duduk bersisihan denganya, mata Aslan menatap lurus ke objek yang di maksud.


" Atau gw cuma mimpi?" Balas Dio dengan wajah terkejutnya, ternyata Dio juga menyadari arah tatapan Aslan.


Hafiz mengerutkan keningnya melihat tingkah aneh Aslan dan Dio yang duduk dihadapanya.


" Coba lo pukul gw Yo?"


" Gw juga, bareng_bareng Lan?"


Plak...Plak...


" Auww...Pelan_pelan dong lo?" Pekik Aslan.

__ADS_1


" Gak kira_kira lo ya kalo ngegampar!"Omel Dio.


" Hahaha...Makanya punya mata itu dijaga, ingat sama anak dan Istri." Jawab Hafiz tergelak, belum menyadari apa yang dilihat Aslan dan Dio.


Ternyata Hafiz lah pelaku pemukulan terhadap Aslan dan Dio, Hafiz merasa aneh dengan kedua sahabatnya itu.


" Gila lo pada, Istrinya ada disini, masih aja jelalatan!" Ucap Hafiz.


" Bukan kita yang gila, tapi lo yang habis ini jadi gila!" Timpal Aslan sambil mengelus_elus pipinya yang masih terasa panas.


" Lihat noh?" Tunjuk Dio memakai dagunya.


Hafiz pun penasaran dengan apa yang di maksud Aslan dan Dio, segera Hafiz membalikan badan masih dengan posisi duduknya.


Betapa kagetnya Hafiz melihat salah seorang teman seangkatanya membawa seorang wanita yang sangat_sangat di kenalnya. Wajah Hafiz seketika memanas dan menjadi merah padam.


Hafiz segera bangkit dari duduknya, namun berhasil di tahan oleh Aslan.


" Mau kemana lo Rel?" Tanya Aslan yang berhasil mendudukan Hafiz kembali ke kursinya.


" Gw mau samperin tuh si Haikal, berani_beraninya dia ngerebut Khadija dari gw!" Ucap Hafiz menahan emosinya.


" Tahu dari mana lo, kalo Khadija pacarnya Haikal?" Tanya Dio.


" Gak bisa jawab kan lo? Mending lo samperin mereka baik_baik tanya ada hubungan apa mereka berdua, Ingat, gak usah pake emosi!" Ujar Aslan meredam api cemburu Hafiz, sahabatnya.


" Nih lo minum dulu!" Dio menyodorkan sebotol kecil air mineral yang baru di ambilnya dari bagian konsumsi.


Hafiz pun menenggak minumanya hingga tandas.


Tanpa aba_aba lagi, Hafiz segera beranjak menuju ke arah Khadija dan Haikal yang tengah berbincang dengan para tamu yang hadir.


" Ekhem...ekhem..." Hafiz berdehem dibelakang Khadija dan Haikal.


Khadija dan Haikal pun berbalik ke arah Hafiz yang berdiri dengan gaya coolnya.


Khadija pun terkejut melihat Hafiz yang berada dalam satu acara dengan Haikal sang calon suami.


" Hey...Fiz apa kabar?" Sapa Haikal sambil menjabat tangan Hafiz.


" Baik, kamu sendiri apa kabar?" Balas Hafiz datar, ekor mata Hafiz selalu mengarah pada Khadija yang berdiri di samping Haikal.


" Alhamdulillah, seperti yang kamu lihat?" Jawab Haikal dengan senyum ramahnya.


" Jadi kalian sudah saling kenal toh?" Jari telunjuk Khadija menunjuk Hafiz dan Haikal bergantian.

__ADS_1


" Kita itu dulu Satu kelas Dek? Dan Hafiz ini cowok incaran para cewek_cewek, tapi dia ini cueknya minta ampun!" Jelas Haikal mengenang zaman SMAnya bersama Hafiz.


" Owh..." Khadija hanya ber oh ria. " Oh ya, kebetulan kalian juga sudah saling kenal jadi Mas Haikal, Mas Hafiz ini mantan suami aku dan Mas Hafiz, Mas Haikal ini calon suami aku." Jelas Khadija pada Dua orang Pria yang berdiri di hadapanya.


Seakan bumi berhenti berputar pada porosnya dan sejenak jantung Hafiz berhenti beroprasi, ketika ia mendengar pernyataan dari Khadija. sungguh kenyataan yang begitu pahit bagi Hafiz sebelum ia sempat mengungkapkan isi hatinya terhadap Khadija.


" Jadi Hafiz ini Papahnya Zahra?" Tanya Haikal pada Khadija, Khadija pun hanya mengangguk.


" Iya, saya Papa kandung Zahra!" Tegas Hafiz penuh penekanan.


" Gak heran jika Zahra secantik itu, orang Papahnya aja ganteng kaya gini." Puji Haikal pada Hafiz.


Khadija sudah menceritakan semua masalalunya kepada Haikal, dan belum sempat Khadija mempertemukan Hafiz dan Haikal ternyata mereka sudah di pertemukan secara tidak sengaja, dan Satu hal yang tak terduga ternyata mereka berdua sudah saling mengenal sebelumnya.


" Ya sudah, selamat buat kalian berdua!" Ucap Hafiz dingin, dengan menahan rasa cemburu yang bergejolak di hatinya. Segera Hafiz berlalu meninggalkan Haikal dan Khadija.


Aslan dan Dio yang mengawasi Hafiz dari jauh, merasa heran karena Hafiz begitu saja pergi, tanpa pamit.


Tanpa menunggu acara di mulai Hafiz memutuskan untuk pergi dari tempat yang akan membuatnya terbakar api cemburu melihat orang yang begitu di cintainya harus bersama orang lain.


Hafiz masuk kedalam mobilnya dengan membanting pintu mobilnya dengan kasar.


" Sial...Sial...Sial, Kenapa rasanya sesakit ini Ja?" Hafiz meracau di dalam mobilnya, beberapa kali Hafiz membenturkan kepalanya pada lingkaran kemudinya.


Saat ini Hafiz benar_benar merasakan sakit hati yang begitu dalam, lebih sakit saat ia ditinggal oleh Alina.


Tak terasa Hafiz menitikan air matanya hanya demi seorang wanita, dalam sepanjang sejarah hidup seorang dr.Carel Hafiz Edsel.


Apa ini karma buatku Ya Tuhan ?


.


.


.


.


.


.


Bersambung....


Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏*

__ADS_1


__ADS_2