
0852568xxxx
[P]
[Waktunya Shalat]
[Jangan lupa makan]
[Bangun]
[Selamat tidur]
Itulah kalimat pesan yang di kirim orang misterius itu dalam Satu minggu terakhir. Tidak ada pertanyaan, maka tidak pernah pula sekalipun aku membalas pesan tersebut. Karena isi pesan hanya bertujuan mengingatkan.
'Siapa sih, orang ini sebenarnya?' Heran! Selalu dibuat bertanya-tanya setiap menerima pesan dari seseorang tersebut, entah siapa. Untuk kesekian kalinya, sudah menjadi kegiatan rutin baginya, mungkin, mengirimi ku isi pesan yang berbeda pada waktu-waktu tertentu.
Awal-awal cukup merasa terganggu, mendapat perhatian dari seseorang yang tidak ku kenal sama sekali. Tapi makin kesini hal itu ku anggap biasa, karena tidak ada yang perlu di khawatirkan, maka hanya ku biarkan.
Nanti juga kalau sudah merasa bosan, dia akan berhenti dengan sendirinya. Apalagi aku tidak pernah menghiraukanya. Pikirku.
Tapi sial, belum sampai orang itu bosan mengirimiku pesan, akhirnya aku pun benar-benar dibuat penasaran, karena sampai sekarang belum pernah sekalipun si misterius itu menunjukan identitasnya.
Bahkan sekarang Foto profilnya sudah berganti menjadi boneka kesukaanku. Panda. Sejak beberapa hari yang lalu.
Sudah ku coba menanyakan nomor tersebut ke beberapa teman, termasuk kak Nio, kak Dipta, kak Melisha, kak Nando, dan Ayu, tetapi tidak satu pun dari mereka mengenalnya.
"Pengagum rahasia lo kali," Tanggapan yang rata-rata hampir sama dari mereka yang ku tanya.
Dan hanya kak Dion yang belum ku tanya. Sebenarnya feeling-ku mengarah pada pacar pura-puraku itu pelakunya.
Bukan tanpa alasan aku menduganya, melihat dari kalimat yang cukup singkat, jelas dan padat seperti keseharianya yang irit saat berbicara.
'Kalaupun benar dia kak Dion, dari mana dia tau boneka kesukaanku?' Terselip tanya saat pradugaku mengarah ke pemuda itu.
Oh, aku tau bisa saja kak Dion mencari tahu dari kak Nio informasi tentangku.
Entahlah.
Dan fakta baru yang ku temukan tadi siang dan itu untuk pertama kali dari sekian banyak pesan yang di kirim dari si misterius itu,
[Jangan genit]
[Langsung pulang]
Sontak dahiku mengernyit, ku edarkan pandangan, merasa sedang ada yang mengawasi.
Fix, dia masih satu kampus denganku. Buktinya dia tahu, saat aku berada di parkiran, hendak pulang. Kebetulan ada beberapa anggota anak BEM, yang terdiri Tiga cowok ganteng datang menghampiriku. Mereka datang menawari untuk bergabung dalam acara bakti sosial yang akan di adakan Tiga hari lagi di sebuah desa terpencil.
Disini, penyandang nama keluarga Edsel memang di pandang golongan dari kelas atas, jadi jika menyangkut acara-acara yang membutuhkan sumbangan dana, disitu sudah pasti namaku dan kak Dipta masuk dalam jajaran orang yang ikut berpartisipasi.
Me
[Sebelumnya, aku ucapkan terima kasih atas perhatian yang kamu beri selama ini. Kalau memang kamu tidak memiliki niat jahat, bisa kita berteman?
Aku sudah tidak tahan lagi, sangat-sangat penasaran aku di buatnya. Akhirnya malam ini ku putuskan untuk membalas pesan seseorang yang ada diseberang sana, setelah dia mengucapkan 'Selamat tidur'.
Aku ingin tahu balasan dia seperti apa dengan kalimat pancingan tersebut, menawarinya sebagai teman.
Lima menit,
Sepuluh menit,
Tiga puluh menit kemudian, saat aku baru memejamkan mata, notif pesan si aplikasi hijau berbunyi.
0852568xxxx
[Hanya teman?]
What! Sesingkat itu kalimat yang ia ketik selama setengah jam? Padahal pesan yang aku kirim tadi langsung centang dua, biru. Dan itu artinya dia langsung membacanya.
__ADS_1
Me
[Maksudnya?]
[Siapa kamu sebenarnya?]
Ku ketik kata itu dengan dahi berkerut. Benar-benar bingung, maksud dari kalimat tanya yang dia kirim padaku barusan.
Apa dia benar kak Dion? Yang tidak terima hanya dianggap sebagai teman? Ah, membayangkanya saja sudah membuatku bahagia.
Me
[Oke, jika kamu tidak mau menjawab, setelah ini akan aku block nomor kamu!]
Kembali ku kirim pesan bernada ancaman, setelah Lima belas menit, tidak kunjung mendapat jawaban.
0852568xxxx
[Oke, besok temui aku di taman belakang kampus]
Kurang dari dua menit, orang tersebut membalas pesanku barusan.
Aku tersenyum, semakin kuat dugaanku jika itu memanglah kak Dion.
Taman belakang kampus, tempat dimana aku sering memergoki kak Dion saat sedang menyendiri. Jika sedang tidak ingin di ganggu, maka di situlah tempat favoritnya sambil mengenakan headset dan membaca buku.
***
"Yuk, udah cantik belum?" tanyaku pada Ayu yang duduk di sebelahku, sambil mencecap liptint warna bibir yang baru saja ku poles agar tampak lebih merata.
Ayu yang sedang memasukkan Laptop ke dalam tas, lalu menoleh, mengangkat sebelah alis, "Tumben dandan, mau kemana lo?" jawabnya, balik bertanya. Heran.
Memang tidak biasanya aku seperti ini. Ya meski cuma memakai liptint dan memoles sedikit bedak yang hampir luntur, tersapu angin karena tadi pagi sempat lari-lari.
Takut telat.
Ya, karena tadi pagi aku terlalu lama menunggu kak Dion di depan halte, sampai jam masuk kelas hampir mepet, ternyata yang di tunggu tidak kunjung datang. Akhirnya aku memutuskan untuk berangkat sendiri.
Semakin kuat dugaan, bahwa selama ini yang mengirim chart padaku adalah kak Dion. Buktinya tadi pagi aku baru sampai di parkiran, ku lihat kak Dion datang dari arah taman belakang. 'Oh, jadi itu alasanya ...?'
Aku rasa dia sedang menyiapkan sesuatu untuk bertemu denganku nanti siang. Semacam suerprise, mungkin. Maka dari itu dia berangkat lebih dulu.
Ah, so sweet.
Karena sedang di buru oleh waktu, takut terlambat, aku pun tidak sempat menyapanya.
Dan setelah ini aku akan datang menemuinya.
"Eh, ini bocah di tanya malah senyum-senyum," timpa Ayu yang menemukanku masih sibuk mematut wajah di depan cermin bundar tutup bedak yang sedang ku pakai sembari membenahi hijab pasmina yang bertengger rapi di atas kepala.
"Ada deh, ntar aja gue ceritain," balasku sambil memasukan bedak yang sudah ku tutup kembali.
Aku pun berdiri, lalu berpamitan sambil menoel pipi chubby sahabatku itu.
Dengan jantung yang sudah berdebar-debar dari semalam, ku langkahkan kaki menuju tempat dimana ku menemui seseorang yang selama ini membuatku penasaran.
Ya, dia pacarku sendiri. Walau kami belum bertatap muka, tapi feelling-ku mengatakan dia lah orangnya.
Sepi.
Tidak ada siapapun, bahkan tidak ada tanda-tanda kejutan yang sempat ku bayangkan.
Ku sapu pandangan ke setiap arah. Namun, masih tidak ada siapun disana.
"Dimana dia?" gumamku lirih sambil berjalan menuju bangku taman yang biasa di duduki oleh kak Dion.
Grep,
Tubuhku seketika tersentak ada seseorang memelukku dari belakang.
__ADS_1
Kedua lengan besar itu mengungkung tubuhku.
Tapi, aku sangat mengenal bau parfum ini ... Dia ...
"Tetap diam. Jangan bergerak," pintanya dengan suara lirih, menyandarkan wajahnya di bahuku saat aku berusaha memberontak.
Tidak salah lagi ...
"Aku rindu sama kamu," ucapnya, semakin mempererat rangkulan yang melingkar di perutku.
"Lep ... " ucapku terjeda saat tiba-tiba pelukan itu terlepas paksa.
Bugh ...
"Berengs*k!"
Bugh ...
Mataku pun terbelalak melihat adegan kekerasan yang di lakukan seseorang yang sangat aku kenal. Tinjuan demi tinjuan di layangkan pada pemuda yang sudah beberapa kali jatuh tersungkur.
"Varo!" Ku berteriak saat bogem mentah mendarat di wajah Alvaro. Sepercik darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Kak ... kak ... Zahra mohon hentikan," pintaku, merangkul dan menarik paksa tubuh kak Dion yang sudah tidak terkontrol.
"Gue peringatin sama lo, sekali lagi lo gangguin Zahra, gue habisin lo!" tunjuk kak Dion dengan emosi yang berapi-api pada Alvaro yang berusaha bangkit.
"Cih, lo pikir lo siapa?" balas Alvaro dengan wajah sengit menatap pemuda yang masih ku tahan tubuhnya agar tidak melanjutkan aksi brutal yang baru saja terjadi.
"Cukup! Jadi yang selama ini ..."
"... Yah, aku yang selama ini mengirim pesan itu," jawab Alvaro, membuatku terkejut. Tadinya aku berfikir, Alvaro hanya memanfaatkan kesempatan di saat aku sedang sendiri berada di taman.
Di luar dugaan, ternyata dia si misterius itu.
"Maksud kamu apa, melakukan semua itu?" tanyaku dengan tatapan tidak suka.
"Aku masih sangat sayang sama kamu Ra. Aku nggak bahagia dengan pernikahanku. Dan aku tidak bisa lupain kamu,"
Kak Dion sudah mengeratkan kepalan tanganya. Dengan rahang mengeras kak Dion kembali menghampiri Alvaro setelah menghempaskan rangkulan tanganku.
"Lo katakan sekali lagi, gue habisin lo sekarang juga!" Kak Dion mengangkat krah kemeja Alvaro. Emosinya kembali tersulut mendengar pernyataan Alvaro.
Seperti menantang maut, Alvaro tidak gentar dengan ancaman kak Dion. Masih sempat pemuda itu menyeringai sinis, "Gembel seperti lo, mau ngehabisin gue?" ucapnya santai, "Coba aja kalau berani," tantang Alvaro meremehkan.
"Kak, ayo kita pergi dari sini. Nggak usah dengerin orang gila ini!" seruku, berusaha melerai agar kak Dion tidak kalap dengan ejekan Alvaro.
Keterlaluan!
"Dengar ya Var, mulai sekarang jangan ganggu hidupku lagi. Aku mau, mulai detik ini, anggap kita tidak pernah kenal!" semburku, menunjuk wajah Alvaro.
Dengan paksa ku melepaskan cengkraman kuat tangan kak Dion dari kerah Alvaro. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan mereka berdua. Khususnya kak Dion, aku tidak mau dia terkena masalah. Mengingat Ayah Alvaro adalah orang yang berpengaruh di Universitas ini.
"Tapi Ra ... " ucap Alvaro tertahan, saat aku dan kak Dion sudah menjauh darinya.
Dengan susah payah aku menyeret tubuh kak Dion yang masih enggan membiarkan Alvaro terlepas dari cengkramanya. Segera ku tinggalkan Alvaro dengan berbagai umpatan serta ancaman yang di tunjukkan pada kak Dion.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa like, konen dan votenya ya?🙏😊😘