
"Gawat!" pekik Zahra dengan mata membulat melihat layar gawai yang baru ia keluarkan dari dalam tas, setelah merasakan ada yang bergetar--mode silent--ketika benda berbahan kulit yang semula di selempang, ia letakkan di atas pangkuan. Tertera berpuluh-puluh panggilan tak terjawab dari kedua orang tuanya.
Seketika Zahra berdiri, lalu menepuk-nepuk baju bagian belakang yang berlumuran pasir.
Begitu juga dengan Dion, melakukan hal yang sama.
"Kenapa?" tanya Dion, heran.
"Pasti Papa sama Bunda khawatir nungguin aku, Kak," ucap Zahra gusar. Untuk pertama kalinya ia berada di luar rumah hingga jam menandakan lewat Sembilan malam.
Tidak terasa, menikmati keindahan pantai di malam hari, di temani kerlip dari lampu perahu nelayan yang sedang berlayar dan titik-titik cahaya dari pulau sebrang, membuat Zahra terbuai, lupa akan waktu pulang.
Dion pun merasakan hal yang sama. Belum pernah ia merasakan kedamaian seperti malam ini. Hingga pemuda itu pun ikut terlena larut dalam suasana.
Bukan hal romantis yang dilakukan Dion dan Zahra, melainkan hanya duduk bersila di tepi pantai sembari bermain pasir, membuat gundukan tak berbentuk. Layaknya anak kecil, sesekali keduanya saling berbalas mencolekkan pasir di pipi, di iringi tawa kecil yang menghiasi.
"Udah, lo tenang aja. Biar nanti gue yang ngomong sama ortu lo," Dion mencekal kedua bahu gadis itu, memberikan ketenangan. Tampak gurat kecemasan dari wajah Zahra.
.
Tepat dugaan. Saat Zahra membuka gerbang, mempersilahkan Dion yang sedang menuntun motor untuk masuk, terlihat di beranda rumah papa Hafiz dan bunda Khadija sedang menunggu kedatanganya.
Papa Hafiz yang sedang mondar-mandir, seketika menghentikan langkah, menoleh ke arah Dua orang berlainan jenis mendekat ke arahnya. Bunda Khadija yang semula duduk, lalu berdiri dengan ekspresi wajah bertanya-tanya.
Sebelum benar-benar mendekat kearah Dua orang yang berdiri di ujung sana, Dion menyempatkan menatap gadis yang berjalan beriringan diantara motor yang berada di tengah. Tatapan tenang itu mengisyaratkan agar sang kekasih tidak perlu takut, ada dirinya yang akan pasang badan-- bertanggung jawab, jika sampai gadis itu terkena marah.
Seakan mengerti arti tatapan itu, Zahra membalasnya dengan anggukan.
Zahra dan Dion mengucap salam saat baru menginjakkan kaki di atas lantai marmer teras.
Gadis itu sedikit menunduk takut, tidak berani memandang wajah kedua orang tuanya, terlebih sang papa. Tidak dengan Dion, pemuda itu tetap tenang walau ada yang berdebar di dalam dada.
Salam pun di jawab oleh sepasang suami istri tersebut.
Papa Hafiz mengerutkan kening. Melihat wajah pemuda di hadapanya--tidak asing.
Begitu pun dengan Dion, masih jelas di ingatanya, seorang bapak-bapak yang sudah membantunya saat kebingungan. Tidak menyangka, seseorang yang dianggapnya kepo tadi sore adalah ayah dari kekasihnya.
"Kamu?" ucap papa Hafiz, kala mengingat siapa pemuda di hadapanya kini.
Dion mengangguk sembari tersenyum ramah, mengiyakan, "Iya Om, saya yang tadi sore."
Zahra dan sang bunda sekilas beradu pandang, sedetik kemudian keduanya melempar tatapan pada kedua laki-laki berbeda generasi itu, bergantian.
Bunda Khadija dan Zahra tidak mengerti apa maksud dari kedua laki-laki tersebut.
"Papa, Bunda, ini Kak Dion temen Zahra," sela Zahra memperkenalkan pemuda di sampingnya. Ingin tahu reaksi sang papa.
Penasaran.
Sepertinya mereka berdua sudah pernah bertemu sebelumnya? Benak Zahra bertanya-tanya.
"Tepatnya teman dekat, Om, Tante," cetus Dion memperjelas.
Zahra terkejut dengan pengakuan Dion. Di saat pemuda lain lebih nyaman mengaku hanya sebagai teman di depan orang tuanya--Alvaro, sang mantan misalnya. Baru mengakui hubungan spesialnya ketika sudah berjalan kurang lebih Satu tahun, itupun setelah mendapat desakan dari sang papa karena seringnya berkunjung dan menunjukkan gelagat yang tak biasa. Tetapi berbeda dengan Dion, penuh percaya diri pemuda itu memperjelas statusnya.
__ADS_1
"Jadi, yang kamu beli di mini market tadi untuk ...." Papa Hafiz sengaja menjeda ucapanya lalu beralih menatap putrinya.
"Iya, Om," Dion mengangguk, membenarkan. Tidak ingin ada salah paham. Sempat tadi ayah kekasihnya itu mengira dirinya sudah beristri.
Bunda Khadija yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kedua pria itu berinteraksi, akhirnya mengangguk mengerti. Pemuda yang sempat di ceritakan suaminya tadi sore tidak lain adalah teman dekat putrinya sendiri. Mungkin itu juga yang membuat si sulung sering mengumbar senyum, terka bunda Khadija.
Sama halnya dengan sang bunda, akhirnya Zahra pun paham siapa pemuda yang sempat di puji sang papa, ketika pria paruh baya itu menuntaskan ceritanya. Seulas senyum tipis terbit dari kedua sudut bibir Zahra.
"Dari mana saja kalian, baru pulang jam segini," tanya papa Hafiz kemudian.
Tatapan dingin itu membuat bulu kuduk Zahra merinding, senyum yang sempat terukir pun kembali lenyap.
"Maaf, Om, ini salah saya ...."
"Nggak Pa, ini salah Zahra," sanggah Zahra memotong ucapan Dion. Tidak ingin kekasihnya itu terkena masalah melihat tatapan tak bersahabat dari kedua manik coklat sang papa.
"Tidak, Om!" / "Nggak, Pa!" Seru Dion dan Zahra bersamaan.
Papa Hafiz dan bunda Khadija menatap kedua pemuda yang saling berebut kesalahan itu, bergantian. Bingung, siapa yang benar dan siapa yang salah.
"Sudah, sudah ... lebih baik kita masuk dulu," putus bunda Khadija mengakhiri perdebatan.
Setelah masuk sang tuan rumah mempersilahkan tamunya duduk.
Papa Hafiz dan Dion duduk bersebrangan di sofa tunggal, ruang tamu.
Sedangkan bunda Khadija mengajak Zahra ke dapur untuk membuat minuman. Bukan itu sebenarnya maksud dari bunda Khadija, ia hanya ingin memberikan waktu pada suaminya untuk mengintrogasi pemuda yang mengaku sebagai teman dekat putrinya tersebut.
"Maaf, Om, saya yang salah," Dion mengulang ucapanya setelah sang tuan rumah mempersilahkanya membuka suara, "Saya tadi yang mengajak Zahra keluar. Tidak sengaja kami tadi bertemu di jalan," lanjutnya, berkata jujur dengan wajah tenang.
Sembari menyimak Dion memperkenalkan diri, Papa Hafiz mengamati pemuda di hadapanya kini. Dari caranya berbicara, bersikap dan segi penampilan semua tampak wajar, sepertinya Dion adalah pemuda baik-baik. Penilaian sementara setelah pertemuanya yang kedua kali.
"Sejak kapan kalian berpacaran?" tanya papa Hafiz kemudian.
"Baru Satu bulan, Om," jawab Dion tanpa ragu.
Meskipun hubungan putrinya dengan pemuda ini masih terbilang baru, tapi papa Hafiz bisa melihat keseriusan dari seorang Dion. Terlihat dari keberanian pemuda itu mengakui kesalahanya.
Cukup gantle juga rupanya, pikir papa Hafiz.
Pria paruh baya itu manggut-manggut, memasang muka datar, berbeda ketika mereka bertemu sore tadi--tampak ramah.
"Oke, untuk kali ini kamu saya maafkan. Dan Tolong lain jika kamu ingin bertemu anak saya di luar jam kuliah, lebih baik kamu berkunjung kemari," tegas papa Hafiz tidak mengizinkan pemuda itu mengajak putrinya keluar pada malam hari. Bagaimanapun, meski Feelling-nya mengatakan Dion pemuda yang baik, tidak lantas membuatnya percaya begitu saja. Akan lebih aman mereka bertemu di rumah dan tentunya lebih mudah untuk mengawasi.
Di tempat lain, tepatnya di ruang dapur ...
"Dari mana saja tadi?" tanya sang bunda sambil menyiapkan Dua cangkir kosong di atas nampan, lalu menyuruh putrinya mengambilkan toples gula beserta teh yang ada di dalam rak gantung penyimpanan.
"Dua sendok saja," sang bunda memberi arahan setelah Zahra bertanya berapa takaran gula yang harus di tuang.
"Dari pantai, Bund," jawab Zahra jujur sembari menuangkan gula dan menaruh teh celup pada masing-masing cangkir.
"Malam-malam begini?" tanya Bunda Khadija dengan dahi berkerut, "Ngapain aja? Tempatnya rame apa ndak? Terus, tadi suasananya terang apa gelap?" sambungnya penasaran dengan pertanyaan bertubi-tubi. Ada rasa khawatir menghampiri. Jangan sampai apa yang pernah ia lihat dulu saat sang suami mengajaknya berjalan-jalan di tepi pantai, tidak sengaja dari kejahuan ia melihat Dua orang pemuda-pemudi berbuat mesum dibalik perahu nelayan yang sedang bersandar di bawah minimnya pencahayaan.
Zahra menautkan kedua alisnya, bingung maksud pertanyaan sang bunda. "Bunda, aneh," ucapnya, menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Jawab, Bunda," desak bunda Khadija menuntut jawaban.
"Zahra dan Kak Dion gak ngapa-ngapain kok, cuma bermain pasir aja sambil ngobrol. Udah gitu aja," jelas Zahra.
"Beneran, cuma ngobrol?" tatapan bunda Khadija meredup, memastikan tidak ada kebohongan yang di tutupi.
Zahra menghembuskan napas pendek, sedetik kemudian ia tersenyum menghadap sang bunda, "Bunda Sayang, apa kelihatanya Zahra sedang berbohong?" jawab Zahra balik bertanya.
Kini ia tahu alasan sang bunda memberondongnya dengan banyak pertanyaan yang menyiratkan kecurigaan.
"Bunda percaya," sang bunda ikut tersenyum lega. Ada Kejujuran yang tersirat dari binar kedua bola putrinya.
Walau Feelling-nya mengatakan, tidak mungkin anak gadisnya itu melakukan hal sejauh itu. Tapi, rasa penasaranya lebih tinggi menguasai.
"Tapi, ngomong-ngomong ini teko kok gak bunyi-bunyi ya, Bund?" tanya Zahra merasa ada yang aneh. Sudah Lima belas menit berlalu semenjak ia menaruh teko di atas kompor lalu menghidupkanya.
"Astagfirullohaladzim ..." ucap bunda Khadija.
.
"Bunda, Zahra, serius cuma ini?" tanya papa Hafiz ketika putrinya menaruh nampan di atas meja dengan suguhan ala kadarnya.
Zahra mengangguk sambil cengengesan, sedangkan bunda Khadija tampak menahan senyum mengambil posisi duduk di samping suaminya.
"Maaf ya Pa, Kak Dion. Cuma bisa suguhin ini. Soalnya tadi gas-nya habis," ucap Zahra sambil memeluk nampan.
"Iya gak pa-pa," Dion menganggukan kepala.
Papa Hafiz memutar bola mata jengah, tidak enak hati pada sang tamu. Bagaimanapun dan siapapun itu, baginya tamu adalah raja. Dan wajib bagi tuan rumah untuk menghormatinya.
"Apa tidak ada air yang berwarna, Bund?" lirih papa Hafiz mengarahkan bibirnya pada telinga sang istri yang ada disampingnya.
"Ndak tau itu anak kamu, Pa? Tadi di dapur adanya orange jus. Katanya, Dion alergi dengan minuman rasa buah," balas bunda Khadija berbisik.
Setelah menenggak air putih yang di suguhkan hingga tinggal setengah, Dion memutuskan untuk berpamitan.
Tidak ada Satu pun yang menahan, karena hari memang sudah malam, sang tuan rumah pun mengizinkan.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Jangan lupa like, komen, dan votenya ya ...🙏😊😘
Mohon maaf untuk yang meminta crazy up, author belum bisa penuhin, soalnya banyak urusan di dunia nyata yang harus di kerjakan. Jadi, sekali lagi author minta maaf.
__ADS_1