Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Double kehilangan


__ADS_3

Bagai kehilangan arah, Khadija berjalan tertatih menyusuri trotoar. Tidak tahu kemana kakinya akan melangkah.


Deraian air matanya terus menggenangi pipi mulusnya. Otaknya terus berputar mengingat kejadian yang telah dialaminya.


Sungguh_sungguh menyakitkan, bukan hanya fisiknya namun hati Khadija pun terasa perih bagai di sayat tajamnya sembilu.


" Aku sayang kamu Alina!"


" Jangan tinggalkan aku lagi, Alina!"


Dua kalimat itu yang membuat hati Khadija remuk redam.


Sepanjang kebrutalan Hafiz melampiaskan nafsunya terhadap Khadija hanya nama "Alina" yang di sebutnya.


Hanya isakan tangis yang keluar dari bibir Khadija, sembari memungut pakaianya yang sudah berserakan di lantai.


Memaki pun percuma, karena tidak akan ada yang mendengarnya, yang bersangkutan pun sudah terlelap dalam kelelahanya.


" Terima kasih atas kebaikanmu Mas, dan Terima kasih juga kamu sudah menghancurkan hidupku!" Kalimat yang terucap dari bibir Khadija sebelum ia beranjak pergi dari kamar Hafiz.


Langkah pendek Khadija terus berlari menuruni anak tangga. Lampu_lampu di ruang bawah pun sudah di padamkan.


" Hey...Anak kampung dari mana kamu! Saya peringatkan lagi sama kamu..." Panggil seseorang yang tengah berdiri di ruang keluarga. Khadija berhenti ketika kakinya mendarat pada tangga paling dasar. Matanya menangkap samar seseorang berjalan mendekat ke arahnya.


Tidak terlalu jelas siapa orang yang memangilnya, hanya terlihat siluet tubuhnya, namun Khadija cukup mengenali suaranya.


".... Cukup Tuan, setelah ini saya tidak akan menginjakan kaki saya di rumah ini lagi!" Tegas Khadija memotong ucapan sang Ayah mertua, tanpa tahu pasti kelanjutan kalimat yang akan di lontarkan. Khadija pun telah mengganti sebutannya.


" Bagus! Tanpa saya harus menjelaskan, ternyata kamu cukup sadar diri!" Ayah Hafiz menyeringai namun tak terlihat oleh Khadija.


Khadija segera berlari ke kamarnya, meringkasi baju_bajunya ke dalam tas ransel lusuh miliknya.


Entah sudah berapa jauh kaki Khadija melangkah menyusuri jalanan di tengah gelapnya malam, yang hanya diterangi lampu jalan.


Khadija berhenti menengok ke belakang, lalu kesekitar. " Aku dimana toh ini?" Gumamya lirih.


Mata Khadija tertuju pada warung tenda yang masih buka, ada beberapa pengunjung di sana.


Karena masih dalam suasana bulan puasa jadi tidak heran ada warung yang buka sampai dini hari.


" Alhamdulillah, untung masih ada sisa." Khadija menemukan lembaran uang Sepuluh ribu di saku celananya.


Khadija mengusap sisa_sisa air matanya, sebelum beranjak ke warung hanya untuk membeli segelas teh hangat sebagai sunnah makan sahurnya.


Khadija sedikit berlari, ketika melihat seorang Ibu_ibu berhijab keluar dari warung, dengan menenteng kantung plastik warna hitam, yang ntah apa isinya.


Bruugk...


Dengan sigap Khadija menangkap tubuh wanita paruh baya yang terkulai lemas di pelukanya.


" Tolong...Tolong...!" Teriakan Khadija membuat orang yang berada di dalam warung berhambur keluar.


Kemudian ada Dua orang Bapak_Bapak berusaha mengambil alih tubuh Ibu itu dari dekapan Khadija, lalu memindahkanya ke atas tikar yang sengaja di gelar oleh sang pemilik warung.


Direbahkanya tubuh Ibu itu, kepalanya berada di pangkuan Khadija.


" Buk...Buk...bangun? " Ucap Khadija dengan menepuk pelan pipi ibu itu.


" Ada yang punya minyak angin atau minyak kayu putih?" Tanya Khadija panik menatap orang yang tengah berkerumun.


" Gak ada Neng?" Jawab Ibu pemilik warung, ada pula yang menggeleng dan ada yang sudah kembali ke tempatnya.


Kini Khadija hanya ditemani Ibu pemilik warung, sedang warungnya di jaga oleh sang suami.


" Kok bisa ibu ini pingsan neng? Tanya Ibu pemilik warung ambigu.


Khadija menggeleng." Saya ndak tau Bu, saya hanya melihat ibu ini keluar dari warung dengan memegang kepalanya!" Jelas Khadija.


Namun Khadija baru teringat jika ia selalu membawa minyak telon yang setiap saat berada di tas selempangnya. Khadija sangat menyukai bau khas minyak telon, yang menurutnya baunya seperti bayi.


Khadija pun merogoh tas_nya mencari benda yang di carinya. Setelah ketemu, Khadija langsung mengoleskan minyak telonya ke pelipis dan hidung Ibu berhijab itu.


Lima menit kemudian...


" Eung..." Erang Ibu berhijab itu sambil memegang kepalanya, lalu berusaha membangunkan tubuhnya.


" Jangan bangun dulu Bu?" Khadija menahan tubuh ibu itu dengan hati_hati. Ibu itu pun kembali mendaratkan kepalanya di pangkuan Khadija.


" Saya kenapa?" Tanyanya melihat Khadija.


" Ibu tadi pingsan." Jawab Khadija singkat.


" Ini Bu, minum dulu." Ucap ibu pemilik warung yang baru kembali dengan membawa segelas Teh hangat.


Khadija membantu sang Ibu berhijab untuk bangun. " Pelan_pelan Bu?" Ucapnya.


Khadija meraih gelas yang berisi Teh dari tangan Ibu pemilik warung, Lalu membantu meminumkanya pada Ibu berhijab.


" Terima kasih, saya mau pulang." Ujar Ibu berhijab melihat dua orang yang ada di hadapanya.


" Mari saya antar Bu?" Tawar Khadija saat Ibu berhijab hendak berdiri.


" Apa tidak merepotkan kamu Nak?" Tanyanya pada Khadija. Khadija menggeleng sembari tersenyum.


Ibu berhijab pun menyerahkan kunci motor yang baru diambil dari saku gamisnya.


Khadija menerimanya sambil mengerutkan keningnya.


" Kenapa, kamu tidak bisa bawa motor ya?" Tanya Ibu berhijab melihat raut keraguan dari wajah Khadija.

__ADS_1


" Bisa Bu, tapi kurang begitu lancar." Jawab Khadija jujur.


Khadija memang pernah beberapa kali belajar naik motor, itupun dulu waktu zaman ia masih duduk dibangku SMA, bukan motor miliknya sendiri melainkan motor milik sahabatnya.


" Tidak apa_apa, kamu pelan_pelan saja bawanya, lagian rumah Ibu hanya berjarak Satu kilo meter dari sini." Jelas Ibu berhijab.


Lalu Khadija dan Ibu berhijab itu pun pamit dan berterima kasih pada Ibu pemilik warung.


Khadija mengendarai motor matic Ibu berhijab itu dengan sangat hati_hati, selain karena ia belum terlalu mahir, Khadija juga tengah membonceng orang yang sedang sakit.


Setelah Lima belas menit, Khadija selamat sampai rumah Ibu berhijab itu.


" Terima kasih ya Nak? Sudah bersedia mengantar?" Ucap Ibu berhijab saat sudah turun dari motornya.


" Iya Bu, sama_sama, Kalau begitu saya pamit." Khadija meraih tangan Ibu berhijab itu lalu menciumnya.


" Eh...Tunggu Nak!" Cegah Ibu berhijab, saat Khadija ingin berbalik badan.


" Iya Bu, ada apa?" Khadija kembali memutar badanya.


" Kamu mau kemana Nak?" Tanyanya lagi, melihat Khadija membawa Tas ransel yang bergelayut di pundaknya.


Khadija menunduk lalu mengelengkan kepalanya pelan." Saya ndak tau mau kemana Bu?" Jawab Khadija lesu.


" Mari masuk dulu, kita sahur bersama."


" Ndak usah Bu, terima kasih."


" Ayo jangan sungkan, Anggap ini ucapan terima kasih saya ke kamu."


Dengan sedikit memaksa, akhirnya Ibu berhijab itu berhasil membujuk Khadija untuk mampir ke rumahnya.


Setelah masuk, Khadija dipersilahkan duduk diruang tamu, mereka duduk bersebrangan.


" Nama kamu siapa, kalau ibu boleh tau?"


" Khadija, panggil saja Dija."


" Nak Dija, kalau boleh ibu tahu kenapa kamu berjalan sendirian tengah malam seperti ini?


Khadija kembali menunduk, menyembunyikan air matanya yang kembali mengembung di pelupuk matanya.


Khadija tidak ingin menceritakan masalahnya, apalagi dengan seseorang yang baru ia kenal.


Ibu berhijab itu beranjak mendekat duduk di sebelah Khadija, ketika merasakan ada sesuatu yang janggal terhadap diri Khadija.


" Meskipun kita baru mengenal, ceritalah Nak, siapa tahu Ibu bisa membantumu." Ucap lembut Ibu berhijab itu, sambil mengusap lembut pundak Khadija.


Merasakan ada kelembutan dan ketulusan dari Ibu berhijab itu, air mata Khadija pun luruh kembali tanpa bisa ditahanya lagi.


" Dija bingung harus memulainya dari mana?" Ucap Khadija menatap nanar ke arah Ibu berhijab yang ada di sampingnya.


" Tidak perlu kamu menceritakan semuanya, sampaikan saja apa yang menurut kamu paling membebani kamu saat ini!"


Karena untuk pulang kampung pun rasanya tidak mungkin, apalagi dengan kondisinya saat ini yang tidak memiliki uang. Apa cukup uang Sepuluh ribu bisa mengantarkan Khadija pulang ke kampungnya?


Entah mengapa kali ini Khadija begitu merasa nyaman dan dengan lepas menceritakan beban hidupnya pada orang yang baru di kenalnya.


Ibu berhijab itu menarik tubuh Khadija ke dalam pelukanya, beliau merasa iba dengan apa yang tengah menimpa Khadija.


" Kamu gadis yang baik, Insyaalloh Alloh akan selalu melindungimu dan memberikanmu yang terbaik." Ucap Ibu berhijab yang memberikan ketenangan di hati Khadija.


Khadija semakin terisak mendengarnya. "Terima kasih Bu?"


Ibu berhijab melepas pelukanya, lalu memegang kedua sisi bahu Khadija, "Nama saya Aminah, panggil saja Ummi Aminah." Ujar Ibu berhijab yang baru memperkenalkan dirinya dan memberikan sebutan baru untuknya pada Khadija.


"Kalau kamu mau, kamu boleh tinggal disini bersama saya, sekalian bisa bantu_bantu saya untuk mengurus toko, karena saya sedang mencari karyawan, karyawan lama saya memutuskan menikah dan akan ikut suaminya." Tawar Ummi Aminah.


Mata Khadija seketika berbinar, dan lengkungan bibirnya membentuk bulan sabit.


" Alhamdulillah, Dija mau Bu...Eh Ummi?" Khadija mengangguk senang. " Oh ya kenapa Ummi tadi bisa pingsan?" Sambung Khadija teringat kejadian yang di alami Ummi Aminah.


" Mungkin Ibu hanya kecapean nak Dija, karena sudah beberapa hari ini Ummi mengurus toko sendirian."


" Suami dan Anak Ummi kemana?"


" Saya seorang Janda, suami saya sudah meninggal Lima tahun yang lalu, dan selama pernikahan kami tidak di karuniai anak." Jelas Ummi Aminah.


" Maafin Dija, Ummi?" Ucap Khadija merasa tidak enak hati.


" Tidak apa_apa Dija? Oh ya, kita sahur dulu yuk, jadi keasikan ngobrol keburu imsyak nanti?"


Ummi Aminah dan Khadija pun melakukan santap sahurnya bersama. Setelah itu mengantarkan Khadija ke kamar tamu yang ada di rumah Ummi Aminah.


***


Hafiz perlahan membuka matanya ketika pantulan cahaya matahari menyelinap dari celah jendela kamarnya.


Hafiz mengerjap mendapati tubuhnya yang sudah bertelanjang dada, hanya berbalut selimut tebal yang menutupi setengah badanya, ia masih terduduk di atas kasurnya, mengingat kejadian yang terjadi semalam. "Nggak...Nggak...Itu hanya mimpi!" Hafiz menyangkal pada dirinya sendiri.


" Gw cuma mimpi, gak mungkin gw udah..." Hafiz menjeda kalimatnya lalu mengintip dibalik selimutnya. Ternyata tubuhnya sudah dalam keadaan polos tanpa sehelai benang menutupinya.


Mata Hafiz membulat seketika, bukan karena tubuh polosnya, namun ada bercak darah yang menempel di atas Sprei warna Cream miliknya.


" Aaaarrrrggghhh...Shit..!!! Hafiz terlonjak dari tempat tidurnya, lalu memungut bajunya yang sudah berhambur di lantai.


Dengan memakai kembali celana dan kemeja yang di pakainya semalam, Hafiz segera keluar dan turun ke bawah.


" Dija...Dija...!" Suara Hafiz menggema ketika sudah berada di bawah dan mengedarkan pandanganya ke segala arah.

__ADS_1


Tak ada sahutan dari orang yang di panggilnya, Hafiz berlalu menuju kamar Khadija.


Hafiz juga tidak menemukan Khadija di kamarnya. Hafiz pun berusaha menelfon Khadija, namun suara oprator yang menjawabnya.


"Maaf, Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, coba hubungi beberapa saat lagi..."


Hafiz pun mengikuti anjuran oprator, ia terus menghubungi nomor Khadija berharap ada keajaiban suara Khadija yang menjawab.


Terus berjalan mondar mandir di depan kamar Khadija, dengan ponsel yang tertempel ditelinganya.


" Tuan Muda." Suara Bik Onah menghentikan pergerakan Hafiz.


Dahi Hafiz berkerut, melihat benda yang diulurkan Bik Onah.


" Khadija mana Bik?" Tanya Hafiz panik menerima Ponsel dan kartu ATM Khadija dari tangan Bik Onah.


Sebelum pergi dari rumah semalam, Khadija sempat berpamitan pada Bik Onah dan Sari yang sudah dianggapnya keluarga sendiri oleh Khadija.


Khadija juga menitipkan ponsel yang berlogo apel digigit pemberian Hafiz sebagai ganti ponsel butut Khadija yang tidak sengaja di senggol Hafiz lalu terjun bebas ke lantai walhasil ponsel butut pun porak_poranda.


Dan kartu ATM yang pernah di berikanya pada Khadija, namun tak sekalipun dipergunakan oleh Khadija.


" Dia sudah pergi dari rumah ini semalam!" Ucap datar, seseorang yang sudah berdiri dibelakan Hafiz.


Hafiz terkejut lalu membalikan badanya.


" Jadi Papa yang sudah mengusir Khadija?!" Tanya Hafiz dengan nada sedikit meninggi.


" Jangan asal menuduh kamu! Dia pergi atas kemauanya sendiri!" Sang Ayah pun marah atas tuduhan Hafiz.


Memang benar Ayah Hafiz tidak mengusir Khadija, ia hanya ingin mengingatkan Khadija agar tidak lagi mendekati putranya itu, karena sang Ayah merasa curiga, ketika tengah malam Khadija keluar dari kamar Hafiz.


" Jangan lupa persiapkan diri kamu, nanti malam kita akan bertemu dengan calon tunangan ksmu!" Ujar sang Ayah dingin, sebelum beranjak pergi ke kantornya.


Masa bodoh dengan pernyataan sang Ayah, Hafiz segera berlalu ke kamarnya. di sambarnya kunci mobil yang ada di atas meja.


Hafiz memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi, entah kemana Hafiz akan mencari Khadija.


Belum sembuh rasa sedihnya semalam karena harus ditinggal kekasihnya Alina pergi.


Semalam saat di Apartemen Alina.


Hafiz menghampiri lalu memeluk tubuh Alina dari belakang, saat Hafiz mendapati kekasihnya itu berdiri terpaku di balkon kamarnya.


" Kenapa sayang, kok kamu tiba_tiba murung begini, Heum...?" Tanya Hafiz, ketika Alina sudah menutup telfonya dari ayahnya.


" Aku harus balik lagi ke Luar Negeri yank!" Jawab Alina dengan wajah sedihnya.


" Kamu masih kangen sama aku ya? Tenang aja, nanti aku susul kamu kesana." Ucap Hafiz santai.


" Bukan itu yank masalahnya!"


" Lalu?"


" Maaf..." Ucapan Alina menggantung.


Hafiz membalikan badan Alina, menghadapnya. " Untuk...?" Tanya Hafiz bingung maksud kata Maaf dari Alina.


" Perusahaan Papa Colaps..."


" Tunggu...Tunggu...Ini apa maksudnya?" Tanya Hafiz semakin bingung.


" Aku di jodohin dengan anak rekan bisnis Papa Rel?" Alina meluapkan unek_uneknya.


" Dan kamu terima?"


" Aku terpaksa menerimanya Rel, aku gak mau perusahaan Papa bangkrut!" Jawab Alina menunduk, ia tidak kuasa untuk menatap orang yang dicintainya patah hati.


Hafiz mengusap wajahnya kasar tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


" Aaarrrgggghhhh...." Hafiz mengerang kasar, meluapkan emosinya.


Tanpa pamit, Hafiz keluar dari kamar Apartemen Alina dengan kemarahan, kesedihan dan kekecewaan yang bercampur aduk.


" Rel Tunggu!" Panggilan Alina yang tak dihiraukan oleh Hafiz.


Blam...


Hafiz membanting pintu Apartemen Alina dengan kasar.


Seperti kebiasaan sebelumnya, Hafiz selalu datang ke tempat di mana menurutnya sejenak bisa melupakan emosi yang berkecamuk di benaknya.


Di meja Bar disebuah Club malam dengan ditemani minuman beralkohol merupakan kebiasaan buruk dari seorang dr.Carel Hafiz Edsel jika sedang memiliki masalah.


" Sial...Sial...Sial...!!! Rutuk Hafiz sambil memukul_mukul stir kemudinya. Pandanganya tertuju ke segala arah berharap bisa menemukan Khadija.


Kini Hafiz dihantui rasa bersalahnya terhadap Khadija, ia ingin meminta maaf atas kesalahanya telah merenggut kesucian Khadija meskipun mereka berada di bawah ikatan yang sah menurut Agama.


*Hafiz yang membuat peraturan, namun Hafiz sendirilah yang melanggarnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa selalu Like dan komenya...🙏🙏🙏*


__ADS_2