
"Siapa Mas?" tanya Khadija penasaran setelah sang suami menutup teleponya.
"Alina," jawab Hafiz singkat menyebutkan satu Nama. Namun, terpancar raut kesedihan dari wajah yang masih telihat basah.
Khadija menautkan kedua alisnya, "Ada apa sama Mbak Alina?"
"Papa, Mamanya meninggal. Mereka ditemukan bunuh diri di kamarnya," jelas Hafiz menatap nanar ke arah ponsel yang masih berada di genggamanya. Ia tidak menyangka jika Mantan mertuanya mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.
Khadija menutup mulutnya yang sedikit terbuka, perempuan itu sangat terkejut mendapat kabar tak terduga, "Innalillahi wainna ilaihi rojiun," ucapnya.
_____
"Ya ampun Bund, kenapa banyak sekali? Kamu ngusir aku?" Hafiz terkejut ketika keluar dari kamar mandi melihat sang istri tengah memasukan baju-bajunya ke dalam koper layaknya orang hendak liburan.
Ya, setelah mendapat kabar duka dari keluarga Alina, Hafiz memutuskan bertolak pergi ke Luar Negeri untuk bertakziah. Walau bagaimanapun Alina pernah menjadi bagian dari hidup Hafiz dan kedua orang tua Alina adalah mantan mertuanya.
Tentunya keberangkatanya kali ini, atas restu dari sang istri, Khadija.
Hafiz tidak sendiri, ia akan berangkat bersama sang Ayah sebagai perwakilan dari keluarga besar Edsel.
"Kamu gak papa Bund, aku tinggal ke Luar Negeri?" Terasa berat untuk Hafiz meninggalkan anak dan istrinya. Walaupun hanya untuk beberapa hari saja.
Ingin sekali Hafiz mengajak Khadija dan Zahra turut serta tetapi apalah daya terkendala pengurusan Paspor dan Visa yang memakan waktu cukup lama. Sebenarnya Hafiz tidak masalah menunggu beberapa hari lagi namun, Khadija tetap saja menolaknya.
"Ndak Papa Mas, kan cuma Tiga hari toh?" Khadija tersenyum menyakinkan, sembari merapikan krah kemeja yang di kenakan suaminya.
"Kamu gak cemburu Bund?" Iseng Hafiz bertanya dengan memicingkan mata, Pria itu ingin tahu reaksi istrinya akan tujuan kepergianya kali ini bertemu dengan sang mantan. Mengingat, pernah secara tidak sengaja Hafiz menyebut nama Alina dan seketika itu air muka Khadija berubah, tampak jelas istrinya cemburu kala itu.
"Ngapain aku harus cemburu? Kamu kesana kan niatnya untuk bertakziah, lain ceritanya kalau kamu kesana ngapelin Mbak Alina." cerocos Khadija, kemudian berlalu menuju meja rias untuk mengambil jam tangan suaminya. "Cemburu juga harus tau tempat," lanjut Khadija sembari memasangkan jam di tangan pria yang masih berdiri di hadapanya.
"Semuanya sudah siap, ndak ada yang ketinggalan toh?" Khadija memastikan sekali lagi kepada sang suami, jangan sampai ada yang terlupa, karena persiapan yang dilakukan serba mendadak.
"Ada,"
"Apa?"
"Kamu," Hafiz menangkup wajah sang istri kemudian menghujaninya dengan kecupan di seluruh wajah. "Ya sudah, aku berangkat dulu jaga diri dan jaga anak kita baik-baik.
Khadija menyunggingkan senyum termanisnya, "Pasti itu Mas. Kamu juga jaga diri dan jaga hati kamu buat aku." ujar Khadija sambil menunjuk dada suaminya. Hafiz pun membalasnya dengan senyuman.
Hafiz dan sang Ayah berangkat ke Bandara dengan diantar supir pribadi keluarga.
Lambaian tangan Tiga orang Perempuan dan Dua bocah kecil yang berdiri berjajar di teras rumah mengiringi berlalunya mobil sedan berwarna hitam keluar dari pintu gerbang.
***
Malam hari, setelah menunaikan Shalat Isya' berjamaah bersama para perempuan yang ada di dalam keluarga Edsel termasuk Dua ART, Khadija kembali masuk ke kamar untuk mengecek ponselnya. Ia berharap ada notif pesan masuk atau riwayat panggilan dari sang suami.
Khadija merasa gelisah seharian ini. Setelah kepergian suaminya ke Luar Negeri tadi pagi, Hafiz tak kunjung memberinya kabar sama sekali, begitu juga sang Ayah mertua belum juga menelepon kedua istrinya.
Sambil menunggu kabar dari Hafiz, Khadija menyibukan diri dengan mengaji sambil terus berdoa di dalam hati agar sang suami dan sang Ayah mertua dalam keadaan baik-baik saja. Semoga!
Satu jam kemudian, tepat Khadija baru saja menutup Al Quran yang selesai di lantunkanya, ponsel yang ia taruh di atas meja rias pun berdering.
Seketika senyum mengembang terbit dari bibir Khadija ketika melihat foto kontak Pria bersnelli terpampang nyata di layar ponselnya dalam mode panggilan Vidio Call.
Tanpa menunggu lama, Khadija yang masih mengenakan mukenahnya segera mengklik panel hijau yang tertera di layar gawainya tersebut.
[ Assalamualaikum Mas,] Khadija mengulas senyum menyambut wajah seseorang di seberang sana.
[ Waalaikum salam Bunda,] Tampak Hafiz merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
[ Dimana? ]
__ADS_1
[ Ini baru aja nyampe Hotel, ]
[ Udah sampai, kok ndak lansung ngabarin? ]
[ Maaf Sayang, tadi Aku sama Papa langsung ikut ke acara pemakaman orang tua Alina,]
[ Oh ... Sudah makan? ]
[ Lagi gak enak makan,]
[ Kenapa?]
[ Kangen kamu,]
[ Lebay, belum juga sehari. Sudah Shalat?]
[ Tadi Maghrib udah, Isya'nya belum.]
[ Kok belum?]
[ Kan belum waktunya? Disini waktunya selisih Satu jam lebih lambat,]
Setelah hampir Setengah jam melakukan panggilan saling bertatap muka mereka berdua pun sepakat mengakhiri sambunganya.
Khadija segera turun ke bawah setelah mendapat panggilan dari Sari, memberi tahu jika sang Ibu mertua sudah menunggunya di ruang makan untuk makan malam bersama.
"Maaf Ma sudah menunggu," ucap Khadija sembari menarik kursi untuk dirinya sendiri.
"Sedang teleponan dengan Carel ya?" sahut Ibu Hafiz.
"Iya Ma. Mana Mbak Ina?" tanya Khadija sambil menuangkan nasi untuk Zahra, sang buah hati yang duduk disampingnya. Khadija tidak merubah sebutanya terhadap istri muda sang Ayah mertua, karena umur Ina yang masih sepantaran denganya. Dan itu tidak masalah untuk Ina maupun anggota keluarga yang lainya.
"Itu masih nerima telepon dari Papa, tadi kita gantian." jawab Ibu Hafiz, mengangkat dagu menunjuk ke arah Ina yang tengah asik mengobrol dengan suaminya diruang keluarga. "Ayo kita makan dulu saja, kasihan anak-anak sudah lapar. Biar Ina nanti menyusul kalau sudah selesai menelepon."
***
"Siapa Rel?" tanya Alina melihat orang yang duduk di hadapanya tengah senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel.
Kini Hafiz dan Alina sedang makan malam bersama di sebuah Restauran jepang yang ada di Hotel tempat Hafiz menginap.
Alina datang menghampiri Hafiz setelah meminta alamat Hotel tempat sang mantan suami menginap dari mantan mertuanya. Perempuan itu beralasan jika seharian ini ia belum makan karena berduka.
Hafiz pun merasa iba melihat Alina datang dengan kondisi yang tampak lesu dan kuyuh. Ia pun akhirnya bersedia menemani mantan istrinya itu untuk makan malam.
"Istriku," jawab Hafiz tanpa mengalihkan pandanganya. Jari-jarinya masih sibuk mengetik di atas layar keypad membalas pesan chart dari istrinya.
"Hah, istri?" Alina terkejut. Setelah bercerai mereka berdua memang Lost contack. Dan Alina terakhir menghubungi Hafiz saat ia memberitahu kabar duka yang tengah ia alami. Itupun Alina hanya mencoba dan ternyata selama ini Hafiz tidak pernah mengganti nomor teleponya.
Hafiz juga tidak pernah menggunakan Sosmed, sehingga membuat kehidupan pribadinya tertutup dari khalayak umum di dunia maya.
Alih-alih menjawab pertanyaan Alina, Hafiz justru menyodorkan ponselnya ke arah perempuan di depanya.
Alina mengernyitkan keningnya, "Bukanya ini pacar sahabat kamu itu, kalau gak salah namanya Khadija?" Alina berusaha mengingat wajah Perempuan berhijab dengan seorang gadis kecil yang fotonya terpasang sebagai Wallpaper di layar Handphone mantan suaminya tersebut.
"Dari dulu dia istriku dan dia tidak pernah menjadi pacar Aslan," jawab Hafiz.
"Maksud kamu?" Alina menghentikan suapanya dan menatap intens ke arah Hafiz meminta penjelasan dari Pria tersebut.
"Maaf, jika waktu itu aku sempat menyembunyikan pernikahan ku dengan Khadija,"
"Tunggu, tunggu Rel, aku semakin gak ngerti dengan maksud kamu ini,"
"Jadi waktu itu ... " Hafiz pun menceritakan masalalu pernikahanya dengan Khadija.
__ADS_1
Alina di buat terperanga dengan pernyataan mantan suaminya itu. Bahkan Alina sempat di buat tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Menurut Alina, Hafiz dan Khadija begitu Profesional dalam menjalani peran pernikahan tanpa di dasari rasa cinta bak sebuah drama.
"Lalu kemana dia saat aku kerumah kamu?"
"Dia ada. Dan dia selalu bersembunyi jika kamu datang,"
"Siapa anak kecil yang ada bersama dia itu?"
"Dia Zahra, putri kami,"
"Kamu bilang pernikahan kamu yang sekarang belum genap Dua tahun, dan lebih mengejutkanya lagi bocah kecil ini kamu bilang di anak kalian?" Semakin jauh Alina mengetahui kebenaran yang sesungguhnya, maka samakin banyak hal yang mengganjal di pikiranya. Sangat tidak mungkin dalam waktu kurang dari Dua tahun Hafiz sudah memiliki anak sebesar itu, meskipun tidak tahu pasti berapa usia Zahra, tapi Alina bisa memprediksi usia gadis kecil itu.
Lagi-lagi Hafiz harus menceritakan malam tragedi antara ia dan khadija beberapa tahun silam. Dan Hafiz pun memberitahu kalau semua itu terjadi karena ada sangkut paut orang yang ada di hadapanya saat ini.
Alina tersenyum remeh dengan ke naifan mantan suaminya itu, "Setelah kita bercerai, dia datang kembali membawa anaknya dan dia bilang anak itu anak kamu, dan dengan polosnya kamu percaya gitu aja?"
Hafiz mengangguk mantap, "Bahkan tanpa tes DNA pun aku percaya kalau dia itu anakku," ucap Hafiz santai, karena Hafiz tau siapa Khadija. Seorang perempuan yang bisa menjaga kehormatanya.
"Dan asal kamu tahu dia tidak pernah memintaku kembali, justru akulah yang mengejar memintanya kembali padaku,"
"Hello ... Sejak kapan seorang Carel Hafiz Edsel mengejar seorang perempuan?"
"Sejak aku sadar kalau aku begitu sangat-sangat mencintainya lebih dari aku mencintaimu waktu itu,"
Alina tersenyum miring mendengar pernyataan Hafiz yang sedikit membuat hatinya sakit, "Aku penasaran sespesial apa sih dia, sampai membuat kamu tergila-gila,"
"Dia itu bukan hanya spesial, tapi dia itu sangat istimewa," puji Hafiz terhadap istrinya. Ia pun tersenyum, seketika terbayang wajah cantik Khadija.
"Lalu bagaimana hubungan kamu dengan James?" Hafiz mengalihkan topik pembicaraan karena ia pun penasaran selama prosesi pemakaman orang tua mantan istrinya itu, ia tidak melihat orang yang menjadi salah satu faktor perceraianya dengan Alina waktu itu.
Alina menggeleng dan tertunduk lesu. Raut wajahnya berubah, jelas terlihat ada kesedihan dari sorot matanya, "Dia penyebab Papa dan Mama bunuh diri,"
"Maksudnya?" kini beralih Hafiz di buat penasaran dengan fakta yang baru saja ia dengar.
"James telah menjual rahasia perusahaan kepada rival perusahaan Papa dan mengakibatkan perusahaan kalahTander. Papa bangkrut semua aset, termasuk rumah di sita oleh Bank untuk menutupi hutang-hutang yang sudah dialokasikan untuk memenangkan Proyek itu. "Alina meneteskan kembali air mata yang sempat mengering.
Hafiz terenyuh mendengar kisah di balik kematian orang tua Alina yang berakhir tragis dengan meminum racun sianida bedasarkan penemuan bukti di tempat kejadian perkara (TKP). Dikamar pribadi orang tua Alina. Kedua orang tua Alina mengalami Depresi cukup berat ketika pihak Bank menyuruh mereka untuk mengosongkan rumah dalam waktu dekat, untuk kembali ke tanah air pun mereka sudah tidak memiliki tempat. Karena Apartemen Alina pun turut di sita.
Hafiz mengulurkan sapu tangan yang ia ambil dari saku celananya ke arah Alina. Perempuan itu pun menyambutnya dan mengusapkan di kedua pipinya.
"Aku menyesal Rel, telah mempercayakan semuanya kepada Pria brengs*k itu." Tangisan Alina semakin menjadi, membuat semua mata pengunjung Restauran tertuju padanya.
Hafiz di buat salah tingkah, dengan tatapan tajam dari sebagian pengunjung menatap ke arahnya. Seolah ia penyebab perempuan di hadapanya itu menangis, "Lin tolong berhenti menangis, kita jadi pusat perhatian orang-orang," gumam Hafis sembari melihat ke sekeliling.
Tidak banyak yang di lakukan Hafiz untuk menenangkan Alina. Pria itu sedikit menggeser kursinya ke samping Alina dan menepuk-nepuk pelan bahu mantan istrinya itu. Jika saja yang menangis adalah Khadija sudah pasti Hafiz akan membawa perempuan itu kedalam dekapanya.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung ...
Pada kemana ya, para Readers ku tercinta pada kabur atau lagi gak punya kuota? Sedihnya Author melihat Like dan Komen yang selalu menurun...😢😢😢
Untuk para Readersku yang masih setia, mohon bantu terus supportnya ya?
__ADS_1
Lemesin jari-jarinya untuk klik tanda jempol dan komen di kolom komentar meski hanya satu kata Next*.