Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Sebuah jawaban


__ADS_3

"Hah ... Hah ... Hah ... "


"Kamu mimpi buruk lagi Pah?" tanya sang Istri melihat suaminya terbangun dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Cih! Kenapa perempuan bodoh itu yang selalu muncul di mimpiku. Memangnya siapa dia?" cicitnya dengan nada angkuh.


Untuk kedua kalinya Ayah Hafiz mengalami mimpi yang memperlihatkan sosok Khadija.


"Siapa Pah?" sang istri tidak mengerti siapa perempuan yang di maksud oleh suaminya.


"Bukan siapa-siapa, hanya perempuan bodoh!" elaknya.


"Ya sudah mending sekarang kita bangun, Shalat Subuh," ajak sang istri.


"Shalat saja sendiri!" tolaknya kasar. Pria itu segera turun dari tempat tidur meninggalkan istrinya menuju kamar mandi.


Sang istri hanya menggelengkan kepala, melihat sikap angkuh suaminya, "Papa, Papa kapan kamu sadarnya?" ucapnya bermonolog.


Semenjak pernah tinggal dengan puteranya, kini sang ibu telah di bukakan pintu hatinya oleh sang Maha Pencipta. Ia tidak pernah lalai menjalankan kewajibanya sambil terus mengajak sang suami agar mengikuti langkahnya kembali ke jalan yang benar.


Meski selalu mendapat penolakan namun, perempuan itu tidak pernah bosan untuk mengingatkan. Dalam setiap doa yang dipanjatkan, ia berharap seiring berjalanya waktu hati suaminya melunak dan dapat menerima kehadiran menantu serta cucu-cucunya.


"Pah, hari ini jadwal kamu untuk Check Up ke Rumah Sakit," sang istri mengingatkan ketika melihat suaminya sudah keluar dari kamar mandi.


"Hhmmm ..." Pria itu hanya berdehem menanggapinya.


***


"Mas, kamu mau pakai baju yang mana?" tawar Khadija saat membuka lemari pakaian. Ada berbagai jenis kemaja yang tergantung di dalam sana.


Hafiz menghampiri istrinya, Pria itu pun tampak menimang-nimang sebelum menjatuhkan pilihan, "Pakai Batik ini aja Sayang. Kita Couple-an,"


Tanpa membantah Khadija langsung mengambil baju yang di kehendaki suaminya.


Hafiz memang memiliki selera Fashion yang bagus di banding Khadija. Maklum orang kaya.


Untuk membeli pakaian Khadija selalu meminta pendapat sang suami, Perempuan itu berfikir apapun yang ia kenakan semata hanya untuk memanjakan mata suaminya.


Setelah menyiapkan segala keperluan sang suami dan selesai dengan urusanya sendiri, Khadija beralih ke kamar sang buah hati.


"Assalamualaikum, Bunda masuk ya Sayang?" ucap Khadija setelah mengetuk pintu. Khadija mengajarkan putrinya sedari dini untuk menjunjung tinggi akan pentingnya adab dan tata krama dalam berprilaku.


"Waalaikum Salam, iya Bunda," sahutnya dari dalam kamar.


Setelah mendapat persetujuan putrinya, Khadija lalu masuk.


"Sayang, ayo sekarang kamu siap-siap," ucapnya menuju lemari pakaian yang bernuansa Putih dan Pink.


"Mau kemana Bunda?" tanya Zahra.


"Hari ini kita mau menghadiri acara pernikahanya Abi," Khadija memang belum memberi tahu putrinya perihal acara pernikahan Haikal. Untuk sebutan Zahra pada mantan calon suaminya itu, Khadija tidak pernah menggantinya.


Khadija segera membantu putrinya bersiap-siap. Setelah tadi pagi Sari telah membantu Zahra untuk mandi. Selama Ina belum kembali tugas Sari merangkap sebagai Baby Sitter sementara.


Selesai membantu putrinya untuk mengenakan baju yang senada denganya, Khadija beralih menata rambut panjang Zahra. Dipakaikanya jepit rambut beraksen mutiara di kedua sisi belahan rambut gadis kecil itu.


"Wah, udah pada seragaman, mau kemana?" Sari menatap takjub keluarga kecil majikanya.


"Mau ke acara kondangan," sahut Khadija.


"Kalau begitu sarapan dulu. Sari udah masak menu spesial." ujar Sari tersenyum lebar sambil merentangkan tangan, menunjukan hasil masakanya.


Hafiz, Khadija, Zahra pun berjalan mendekat ke arah meja makan.


Pletak


"Auuww... Sakit Den," Sari mengusap-usap keningnya yang mendapat sentilan dari Hafiz sang majikan.


"Kamu bilang ini spesial?" ucap Hafiz dengan nada meremehkan. Sari mengangguk pelan, "Kalo cuma gini doang istriku masak sambil merem pun juga bisa," lanjut Hafiz membanggakan Khadija.


"Papa ndak boleh gitu, halgai masakanya Mbak Sali," bela Zahra pada Sari. Hafiz di buat mati kutu oleh ucapan putrinya.


"Dengerin tuh Den, Princes aja ngerti," Sari tersenyum penuh kemenangan.


"Sudah, ayo kita sarapan. Keburu telat nanti kita Mas," lerai Khadija menyudahi perdebatan di pagi hari.


***


07.45 WIB


Hafiz dan keluarga kecilnya datang tepat waktu di tempat akad nikah Haikal di langsungkan.


Kedatangan Hafiz pun langsung disambut oleh kedua sahabatnya yang sudah datang terlebih dahulu. Dio dan Aslan sengaja menunggu Hafiz di parkiran.


Setelah saling sapa dan berbasa-basi sejenak, mereka semua masuk ke dalam Masjid berpasang-pasangan. Tidak lupa dengan Nio dan Zahra yang sengaja memasangkan diri.


Tepat pada waktu yang sudah dijadwalkan,


prosesi akad nikah pun di gelar. Acara berjalan dengan khidmat. Pengucapan ijab qobul pun lancar dengan satu tarikan nafas.


Kini Haikal dan Mihrima telah resmi menyandang status sebagai suami istri yang sah di mata hukum Agama dan Negara.

__ADS_1


Dilanjut dengan acara sungkeman yang di hadiri oleh keluarga dari kedua belah pihak. Haikal berhasil meluluhkan dan meyakinkan keluarga Mihrima hingga akhirnya hubungan mereka mendapat restu sebelum pernikahan dilaksanakan.


Sepasang pengantin baru yang tampak cantik dan tampan dengan balutan busana pengantin muslim bernuansa putih, beralih menyalami para tamu undangan.


Tiba giliran Pasangan Hafiz dan Khadija di jajaran terakhir setelah pasangan Aslan dan Dio.


"Selamat ya Mas, semoga menjadi keluarga yang SAMAWAH," Khadija menangkupkan kedua telapak tanganya tanpa bersentuhan dengan pengantin Pria.


"Makasih ya Ja, kamu juga semoga selalu bahagia," balas Haikal tersenyum ramah.


"Udah jangan lama-lama ngobrolnya," sindir Hafiz di belakang Khadija.


"Mas," Khadija memutar bola matanya malas menoleh ke belakang. Perempuan itu selalu di buat jengah dengan sikap over cemburu suaminya jika bersangkutan dengan Haikal.


"Tenang saja Pak Dokter, saya tidak akan merebut istri anda, karena saya sudah memiliki istri yang tidak kalah cantik," kelakar Haikal menepuk pundak kawan seangkatanya.


"Ya udah selamat kalau begitu," ucap Hafiz datar.


Khadija beralih pada Mihrima dan mengucapkan kalimat yang sama, dan disambut pelukan hangat oleh Mihrima.


"Abi celamat ya?" ucap si kecil Zahra sambil menggandeng tangan Nio.


"Makasih ya Sayang," Haikal berjongkok mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil yang ada dihadapanya. "Ini siapa Sayang?" tanya Haikal menunjuk bocah laki-laki yang ada disamping Zahra. Haikal tidak tahu jika Nio adalah putra dari Dio, kawan SMA-nya.


"Saya pacar Zahra Om," sela Nio menjawab.


"iihh...Kak Nio, kita itu macih kecil, kata Papa ndak boleh pacal-pacalan." omel Zahra pada Nio. "Ini Kak Nio, Abi. Calon cuami Plinces," lanjut gadis kecil itu memperkenalkan.


"Kan sama aja Dek," sahut Nio mengoreksi.


Tutur menggemaskan Zahra disambut gelak tawa oleh para orang dewasa.


Pasangan Hafiz dan Dio selaku orang tua dari kedua Bocah ingusan tersebut di buat geleng-geleng kepala.


"Bocah siapa sih itu anak dua Rel?" tanya Dio mendadak amnesia.


"Gak tau gw Yo?" balas Hafiz masih tercengang mendengar ucapan putrinya yang seperti orang dewasa.


"Pinter banget sih keponakan Om Aslan," sambut Aslan tersenyum jahil ke arah Hafiz dan Dio. Kemudian beralih merangkul kedua bocah beda usia anak dari kedua sahabatnya.


"Ternyata dia biang keroknya," gumam Hafiz


"Dasar Pengacara sesat!" timpal Dio.


Acara akad nikah pun selesai di gelar, tidak ada resepsi setelahnya. Haikal dan Mihrima tidak ingin membuang-buang waktu hanya untuk menggelar Resepsi pernikahan. Akan lebih baik jika waktu yang ada mereka curahkan untuk sang buah hati yang masih bayi.


Untuk acara makan-makan, Haikal menyerahkan pada jasa Catering yang ia sewa. Dan menggelarnya di halaman Masjid untuk menjamu para tamu undangan yang terdiri dari kerabat dan teman terdekatnya saja.


Begitu juga dengan Hafiz dan Khadija serta kedua pasang sahabatnya yang berniat undur diri. Masih banyak urusan yang harus mereka selesaikan. Dan karena itu membuat mereka semua tidak bisa berlama-lama.


Setelah berpamitan kepada kedua mempelai, mereka semua menuju mobil yang terparkir dan melesat kembali kearah tujuan masing-masing.


***


"Bund, kamu tunggu di ruanganku dulu, nanti aku nyusul,"


"Kamu mau kemana?"


"Aku mau ke ruangan dr. Harsa. Ada Papa disana sedang Check Up."


Khadija mengangguk dan menuruti perintah suaminya. Dengan menggandeng putri kecilnya, Khadija beranjak menuju ruangan sang Direktur utama.


Hafiz pun segera memutar langkahnya menuju ruang Praktik sang Dokter Spesialis Urologi.


Tiga puluh menit kemudian, Hafiz kembali ke ruanganya.


"Mas, kamu kenapa?" tanya Khadija mendapati sang suami masuk dengan memasang raut wajah tak terbaca namun, tersirat penuh makna.


Hafiz tak bergeming. pandanganya kosong, ia terus berjalan melewati perempuan yang masih tampak bingung akan perubahan sikap suaminya hanya dalam sekejap.


Pria itu duduk di singgahsananya. Pikiranya melayang jauh entah kemana, meninggalkan raganya.


"Zahra mana?" Hafiz membuka suara dengan ekspresi datar tanpa menoleh ke arah istrinya.


"Tadi ikut dengan Mbak Clara bersama Nio ke ruangan Mas Dio," jawab Khadija. Tatapan matanya terus memperhatikan sikap aneh yang ditunjukan Pria yang ada di hadapanya.


Hafiz kembali diam untuk beberapa saat, larut akan pikiranya.


Kenapa Mas Hafiz jadi aneh begini? Apa yang dikatakan oleh Dokter Harsa? batin Khadija penuh tanda tanya.


Perempuan itu kini memilih untuk diam, ia tidak ingin sampai salah bicara. Khadija kembali duduk di sofa menunggu sang suami membuka suara.


Hafiz menatap sekilas ke arah istrinya yang masih setia menatapnya penuh tanya. Sepasang mata teduh Khadija membuat Hafiz goyah akan keterdiamanya.


"Apa ada hal yang selama ini kamu sembunyikan dariku?," tanya Hafiz masih dengan nada datarnya.


"Maksud kamu apa Mas?" jawab Khadija balik bertanya.


"Katakan dengan jujur, kenapa kamu merahasiakanya,"


Deg

__ADS_1


Jantung Khadija mulai berdebar. Mulutnya seakan terkunci, tidak tahu harus memulai dari mana untuk menjelaskan semuanya.


"Apa kamu melakukan semua ini hanya untuk mendapat restu dari Papa?"


Khadija menunduk, bibirnya mulai bergetar. Perempuan itu takut untuk menatap suaminya. Jelas tergambar raut kekecewaan dari Pria itu.


"Maafin aku Mas," Hanya kalimat itu yang mampu di ucapkan Khadija. Perempuan itu berlutut memeluk kaki suaminya. Seolah ia adalah orang yang bersalah.


Hafiz mengangkat bahu istrinya, "Kamu gak salah Sayang," Hatinya terenyuh tatkala istrinya merasa bersalah dan tersudut atas kalimat dakwaanya.


"Aku menyesal, kenapa aku terlambat menyadari semua ini," Mata sayu Hafiz menatap lekat netra coklat Khadija, "Aku gak sanggup jika harus kehilangan kamu Sayang," Hafiz memeluk istrinya dengan erat. Pria itu sangat Khawatir akan kondisi sang Istri yang hanya memiliki Satu ginjal, terlebih saat ini Khadija tengah mengandung. Akan sangat beresiko!


"Jadi kamu sudah tahu semuanya Mas?" tanya Khadija masih dalam dekapan suaminya.


Hafiz menganggukan kepala di atas bahu istrinya.


Ketika Hafiz hendak masuk kedalam ruangan dr. Harsa, tanganya pun sudah bersiap memutar handle pintu, terdengar sayup namun masih jelas di telinganya obrolan seseorang didalam sana.


"Tolong katakan dengan jujur, siapa pendonor ginjal untuk saya waktu itu Dokter?" suara Ayah Hafiz mendesak Dokter yang menanganinya.


"Maaf tuan, saya sudah berjanji tidak akan membocorkan identitas beliau," jawab dr. Harsa menolak halus permintaan Ayah dari pemilik Rumah Sakit tempat ia bekerja.


Braakk...


"Jangan buat saya hilang kesabaran dr. Harsa!" bentak Ayah Hafiz dengan menggebrak meja. Pria paruh baya itu mulai geram, sudah beberapa hari hati dan pikiranya selalu dibayangi oleh mimpi buruk yang sudah Dua kali mengganggu tidurnya.


Ayah Hafiz mulai curiga, ia menerka-nerka ada keterkaitan antara menantu dan pendonor ginjalnya.


"Sabar Tuan," dr. Harsa mulai takut dengan gertakan Pria paruh baya yang sudah di ujung amarahnya.


"Kamu katakan atau..."


"Baiklah saya akan mengatakanya," dr. Harsa menarik nafas panjang lalu menghembuskanya perlahan. Semoga keputusanya ini tidak salah.


Hafiz yang diam-diam mendengarkan di balik pintu alias menguping, memasang pendengaranya baik-baik, karena ia pun merasa penasaran dengan sosok baik hati itu.


"Pendonornya adalah ibu Khadija istri dr.Hafiz menantu anda sendiri.


Dada Hafiz serasa bergemuruh mendengar pernyataan dr.Harsa. Ingin sekali ia tak percaya namun, nama yang disebutkan dr. Harsa sangat jelas di telinganya.


Tanpa menunggu lagi pembicaraan selanjutnya dari dr. Harsa dan sang Ayah, dengan rasa sedih, marah, dan kecewa yang bercampur menjadi Satu Hafiz melangkahkan kakinya menuju ruang pribadinya.


Ceklek...


Hafiz melepas pelukanya, ketika ada seseorang membuka pintu tanpa permisi.


"Papa?" gumam Hafiz melihat sang Ayah muncul dari balik pintu.


Mata Pria yang baru masuk itu menatap tajam ke arah Khadija. Perempuan itu hanya menunduk. Bersiap menerima cercaan bahkan makian dari sang Ayah mertua seperti sebelum-sebelumnya.


"Kenapa kau lakukan semua ini Perempuan bodoh! Apa kau melakukanya hanya untuk mendapatkan restu dariku?" cecar Ayah Hafiz.


"Stop Pa! Jangan pernah menyebut istriku Perempuan bodoh," bela Hafiz terhadap istrinya.


"Memang dia Perempuan bodoh. Kalau dia pintar tidak mungkin dia akan mengorbankan separuh hidupanya untuk orang yang sangat membencinya!" kekeuh sang Ayah akan sebutan terhadap menantunya.


Hafiz dan Khadija berusaha mencerna maksud ucapan sang Ayah.


"Apa kau melakukanya memiliki tujuan lain?" lanjut Ayah Hafiz dengan tatapan intimidasi ke arah Khadija yang masih berdiri di belakang suaminya.


Khadija menggeleng cepat, "Saya melakukanya hanya karena rasa kemanusiaan. Jika itu bukan anda, maka saya akan tetap melakukanya." jawab Khadija mengangkat wajahnya. Entah mendapat kekuatan dari mana Khadija menjawab praduga sang Ayah mertua dengan lugas.


"Ayo sayang kita pulang," ajak Hafiz menggamit tangan perempuan yang berdiri di belakangnya. Hafiz tidak sanggup lagi mendengar cacian yang akan dilontarkan sang Ayah kepada istrinya. "Percuma berurusan dengan orang tua Satu ini. Sampai kapan pun pengorbanan kamu tidak akan pernah dihargainya." sindir Hafiz mulai geram dengan sikap sang Ayah yang memiliki hati sekeras batu.


Hafiz beranjak dari tempatnya melewati sang Ayah sambil menarik tangan istrinya.


"Beri saya Satu Alasan agar saya merestui pernikahan kalian," ucap sang Ayah menghentikan langkah sepasang suami istri yang hendak keluar.


Khadija dan Hafiz memutar badan menghadap Pria yang sudah membalikan badanya terlebih dahulu.


"Tidak membutuhkan alasan untuk sebuah Ketulusan," jawab Khadija syarat akan makna.


Ayah Hafiz berjalan mendekat masih dengan ekspresi datar, "Papa tunggu kalian nanti malam dirumah." ucapnya mengusap puncak kepala Khadija.


Pria itu pun kemudian berlalu meninggalkan Anak dan menantunya yang diam terpaku di tempatnya.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen dan Vote-nya ya?" 🙏😊😍😘*

__ADS_1


__ADS_2