Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Kemarahan Hafiz


__ADS_3

Brugkh ...


Bukan suara seseorang terjatuh melainkan Hafiz melempar koper yang berisi baju-baju Alina ke halaman rumahnya.


"Pergi kamu sekarang dari rumah ini!" usir Hafiz dengan wajah merah padam dan tatapan menyala di arahkan pada Alina yang masih duduk di ruang tamu. Kemarahan Hafiz kini sudah tidak bisa di tahan lagi.


Sekitar Dua jam yang lalu setelah kepergian Alina membawa Zahra untuk sekedar jalan-jalan, keluarga besar Edsel di kejutkan dengan kabar Zahra dilarikan ke Rumah Sakit milik keluarga.


Zahra di larikan ke Rumah Sakit oleh Alina. Gadis kecil itu mengalami alergi yang cukup parah. Timbul ruam merah disekujur tubuhnya dan mengalami pembengkakan di area wajah.


"Apa yang terjadi dengan Zahra Mbak?" tanya Khadija panik saat bertemu dengan Alina di depan ruang UGD.


Tanpa menunggu jawaban Alina, sebagai pemilik dari Rumah Sakit, dengan bebasnya Hafiz masuk ke ruangan dimana putri kecilnya tengah ditangani oleh Dokter jaga.


"Aku juga tidak tahu Ja. Tiba-tiba saja tadi Zahra muntah-muntah dan setelah itu pingsan. Pas perjalanan aku bawa kesini tubuhnya sudah merah-merah dan bibirnya bengkak," jelas Alina menunduk takut.


"Tadi Zahra habis makan apa saja?" Khadija tanggap akan penyebab yang dialami buah hatinya saat ini.


"Tadi kita cuma jajan ice cream sama kue kacang. Itu aja kok,"


"Astagfirullohalazdim Mbak ... Zahra itu alergi sama makanan yang berbau kacang," Khadija mulai geram.


"Maafin aku Ja? Aku gak tahu jika Zahra ada alergi dengan makanan, " Alina menggenggam tangan Khadija tampak jelas raut penyesalan dari wajah perempuan itu.


Khadija mengurut dada, berusaha meredam emosinya. Ada benarnya juga apa yang dikatakan Alina. Apa yang terjadi dengan Zahra bukan sepenuhnya kesalahan Alina. Karena memang Alina tidak tahu akan pantangan makanan yang harus di hindari Zahra dan semua terjadi tidak ada unsur kesengajaan.


"Gimana Mas kondisi Zahra?" tanya Khadija saat melihat suaminya keluar dari ruang UGD.


"Zahra masih belum sadar, Tapi tadi dia sudah di beri obat anti alergi." Hafiz memeluk istrinya. Pria itu tahu akan kekhawatiran yang di rasakan sang istri sebagai seorang ibu.


Hafiz memberikan tatapan mematikan ke arah Alina. Namun, masih belum memberikan reaksi apa-apa. Karena ia tidak mau terjadi keributan yang akan mengganggu para pasien di Rumah Sakit miliknya.


Setelah Satu jam menunggu akhirnya Zahra siuman dan reaksi alerginya pun sudah berkurang.


Sebenarnya Zahra harus menjalani perawatan untuk Dua sampai Tiga hari kedepan, tetapi gadis kecil itu menolak dan merengek meminta pulang.


Dengan berat hati, Hafiz menuruti permintaan puterinya itu. Dan Hafiz pun memutuskan melakukan rawat jalan untuk Zahra dengan pantauan langsung dari Dokter spesialis anak yang akan ia datangkan langsung ke rumahnya,

__ADS_1


Kedatangan Zahra pun disambut haru oleh kakek neneknya. Setelah itu Hafiz dan Khadija membawa sang buah hati kembali ke kamar untuk istirahat.


Alina masih berada di ruang tamu di interogasi oleh kedua orang tua Hafiz, hingga Peristiwa pengusiran itu terjadi.


Khadija kembali turun kebawah ketika mendengar kegaduhan yang di dominasi suara Hafiz, suaminya.


"Maafin aku Rel, aku gak ada maksud mencelakakan Zahra. Aku benar-benar gak sengaja." mohon Alina di sela isak tangisnya.


"Papa mohon Rel, maafin Alina. Dia kan su~..."


"Jadi Papa lebih membela perempuan ini dari pada cucu Papa sendiri?" Hafiz momotong ucapan sang Ayah, "Oke, kalau begitu, jika perempuan ini masih disini, biar Carel bersama anak dan istri Carel yang keluar dari rumah ini!" ancam Hafiz dengan kemarahan yang semakin berapi-api tatkala Alina mendapat pembelaan dari sang Ayah.


"Gak papa Pa, biar Alin pergi dari sini," Alina pun menerima keputusan Hafiz. "Maafin Alina Pa, Ma," lanjut Alina menyalami kedua mantan mertuanya sebelum ia keluar meninggalkan rumah yang selama ini ditumpanginya.


Ayah dan Ibu Hafiz sudah tidak bisa berbuat apa-apa, mereka hanya bisa pasrah dengan keputusan anaknya. Jelas mereka lebih memilih anak dan cucunya, meski ada rasa tidak tega melihat Alina yang sudah tidak memiliki siapa-siapa.


"Mbak Alina tunggu!" cegah Khadija menghentikan langkah gontai Alina tepat di ambang pintu.


Semua mata tertuju pada perempuan yang baru saja turun dari lantai Dua termasuk juga Hafiz, suaminya. Khadija terus berjalan melewati Hafiz yang masih setia berdiri menatap penuh tanya.


Khadija merangkul pundak Alina dan mengajaknya berbalik menghadap suaminya.


"Gak bisa Bund! Aku gak bisa maafin orang yang sudah mencelakakan anak kita,"


"Aku tahu Mas, tapi Mbak Alina ndak sengaja," kekeuh Khadija membela Alina.


"Sudah Ja, percuma kamu membelaku. karena Carel tidak akan merubah keputusanya, " sela Alina putus asa. Perempuan itu tahu watak keras yang di miliki sahabat kecilnya itu.


"Mbak Alina tunggu sebentar, " Khadija menahan tangan Alina yang hendak berbalik badan.


"Mas, aku mau bicara sama kamu," Khadija beralih meraih tangan suaminya lalu menggandengnya menuju ruang keluarga.


Ibu Hafiz pun menghampiri Alina yang masih berdiri ditempatnya, "Ayo kita duduk dulu, kita tunggu Khadija membujuk suaminya." Perempuan paruh baya itu kembali ketempat duduknya semula sambil menuntun Alina.


"Ayolah Mas, apa kamu ndak kasihan sama Mbak Alina, dia itu sudah ndak punya siapa-siapa dan tidak punya apa-apa. Lalu apa kamu tega membiarkan dia terlantung-lantung di jalan?" papar Khadija berusaha membujuk suaminya.


Hafiz mengusap wajahnya kasar, "Stop! Gak usah kamu bela dia. Aku sudah cukup muak dengan sikapnya selama ini dan keputusan ku sudah bulat, aku tidak peduli dia mau kemana!" Hafiz pun kuat dengan alibinya.

__ADS_1


"Oke Mas, aku tahu jika Mbak Alina sering membuat kamu kesal dan aku pun merasakan itu. Tapi kali ini tolong pakai hati nurani kamu, lupakan dia sebagai mantan istri kamu bahkan sikapnya yang cukup menyebalkan itu. Tolong ingat lagi dia sebagai sahabat kamu, dimana dulu hanya dia tempat kamu mengadu, dan dia yang selalu ada buat kamu," Khadija memflashback akan kenangan sang Suami bersama sahabat masa kecilnya. Hafiz memang pernah bercerita kepada Khadija bagaimana eratnya persahabatan yang terjalin antara ia dan Alina.


Hafiz pun terdiam mendengar penuturan Khadija. Entah apa yang ada di fikiran Hafiz saat ini, apa masih kekeuh dengan keputusanya atau justru mempertimbangkan ucapan istrinya?


Sampai Tiga puluh detik pertama Hafiz masih diam, terdengar tarikan nafas panjang yang ia hirup lalu menghembuskanya dengan kasar, "Baiklah, aku beri dia kesempatan satu kali lagi, tapi jika sampai dia berulah lagi aku tidak akan segan-segan lagi mengusirnya dari sini!"


Khadija pun tersenyum lalu memeluk pria dihadapanya tersebut, "Makasih ya Mas?" ucap Khadija bahagia.


"Ya sudah kamu urus dia, aku akan menemani Zahra dikamar." Hafiz menyerahkan urusan Alina kepada istrinya, dan ia pun berlalu menuju kamar buah hatinya.


.


"Bagaimana Ja?" tanya sang Ayah mertua penuh harap melihat menantunya kembali dengan ekspresi susah di tebak.


Khadija mengangkat kedua sudut bibirnya, "Beres Pa," Khadija mengangkat jempol sebelah kanan.


"ALHAMDULILLAH," seru semua orang kompak termasuk Ina yang sedari awal hanya diam tanpa bisa berucap apa-apa.


"Makasih ya Ja," Alina memeluk erat Khadija, "Maafin juga semua kesalahanku selama ini. Aku tahu sebenarnya kamu marah dengan sikapku selama ini yang berusaha merebut kembali Carel dari tangan kamu," ucap Alina mengakui kesalahanya di iringi tangis penyesalan yang keluar dari mulutnya.


"Aku sudah maafin Mbak. Syukur sekarang Mbak Alina sadar," Khadija mengusap lembut punggung Alina menenangkan, "Tapi Mbak Alina harus janji tidak akan mengulanginya lagi,"


"Iya Khadija, aku janji,"


Sekarang aku tahu, kenapa Carel begitu mencintaimu Khadija? Selain kamu istri dan ibu yang baik, tapi kamu juga memiliki hati yang tulus. Aku nyerah! Karena aku tidak akan pernah bisa menyaingimu. Batin Alina masih berada di pelukan Khadija.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


*Bersambung...


Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya para Readersku tercintah... 🙏😘😍*


__ADS_2