Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Di tinggal nikah 2


__ADS_3

Ah, kenapa jantungku berdebar makin kenceng begini sih. Mana mata sama wajah panas banget ini!


Tahan Zahra! Kamu nggak boleh nangis. Tidak ada gunanya menangisi cowok bejad seperti Alvaro.


Harusnya aku bersyukur, bukan aku yang berada di posisi cewek itu.


Tapi, kenapa hatiku cenat-cenut begini? Ini lagi hidung seperti ada yang mbeler? Aku kan sedang tidak flu?


Slruuuttt ... Aku menarik ingus, agar tidak terjun babas seenaknya. Tengsin lah di depan kak Nio sama Kak Nando.


"Kamu nangis Dek?" Kak Nio nyodorin tissue dan langsung ku sambut. Mungkin dia mendengar aku narik ingus. Dia dikira aku mewek.


No!


"Kamu gak papa kan Ra?" Lho kapan pindahnya ini orang? Kok tiba-tiba sudah ada di samping aku sih? Wah, Kak Nando mulai cari-cari kesempatan nih.


Aku menoleh ke arah Kak Nio dan Kak Nando yang ada di sisi kanan-kiri ku, bergantian. "Hahaha ..." Berusaha sekuat tenaga untuk tertawa.


"Sorry ya, Aku bukan Zahra yang cengeng, yang menye-menye," lanjutku masih berusaha tegar. Untung air mata bisa di kondisikan, jadi cukup menyakinkan, "Terus itu kapan si Varo kawin?" tanyaku kemudian.


"Ya kira-kira Tiga atau Empat bulan yang lalu lah. Lagian mereka ena-ena kagak laporan sama gue." celetuk Kak Nando.


Eh,


Sepertinya aku salah memberikan pertanyaan untuk Dua manusia di depan ku ini. Kalau Kak Nio jelas dia cerdas. Berbeda, Kak Nando yang otaknya 11-12 denganku, kalau ngomong suka bablas.


Jadi, ya gini jawabanya. Ngasal.


"Yang bener aja lo!" Lewat di depan wajahku, tangan Kak Nio menonyor kepala Kak Nando. Kesal mungkin.


"Udah, udah ..." leraiku sebelum terjadi perang antar sahabat, "Maksud aku, kapan mereka nikah," tanyaku ulang.


"Nah gitu baru bener, kalo urusanya sama Nando, lo harus pake bahasa baku," cerocos Kak Nio, menyindir kecerdasan sahabatnya yang tak seberapa.


"Belum dapet undanganya, baru denger kasak-kusuk para Ladies pas aku ke toilet tadi,"


"Ah, elo Do, gw kira berita itu udah fix. Dasar ember bocor!" omel Kak Nio, ternyata berita masih sebatas gosip yang masih belum ada kejelasanya.


"Tau nih Kak Nando, kan kalo gak bener, jatuhnya jadi fitnah?" timpalku. Jengkel juga sih? Gak terima aja kalau Varo di fitnah seperti itu. Ya meski aku masih sakit hati di putusin tempo hari.


Lega. Masih ada kesempatan balikan.


"Peace," Kak Nando ngangkat dua jari sambil nyengir. Untung manis.


Glek,


Eh, ada keturunan Dewa yunani nongol?


"Enak banget lo, dateng-dateng nandasin minuman gue?" omel Kak Nando minumanya di habiskan Kak Dion.


Kak Dion ini salah Satu sahabat Kak Nio dan Kak Nando yang tergabung Three Squad Gans. Julukan yang ku berikan untuk ketiga sahabat ini.


"Aus gue," jawab kak Dion datar.


Kak Dion ini orangnya super duper cuek, dingin seperti es balok, datar seperti triplek.


Justru yang seperti Kak Dion ini, yang aku suka. Bikin penasaran. Tidaj obralan seperti Kak Nando.


Dan Kak Nio berada diantara tengah-tengah kedua sahabatnya itu. Meskipun cuek tapi masih perhatian dan juga tidak suka tebar gombalan.


"Nih buat kalian berdua," Kak Dion menyodorkan sesuatu ke arah Kak Nio dan Kak Nando.


Ebuset ... ini orang tidak basa-basinya sama sekali, nyapa dulu kek ada aku disini? Tidak mungkin kan, dia tidak melihat ada titisan Ratu Cleopatra berada diantara titisan raja Pir'on. Parah ini orang, cakep-cakep kena katarak.


Ya sudahlah. Biasanya juga seperti itu. Hhmmm.


Tapi tunggu, sepertinya itu undangan? Undangan apa? Masa iya, Kak Dion mau nikah? Sama siapa? Perasaan yang aku tau dia tidak punya pacar. Lagian mana ada cewek yang berani dekat denganya? Baru di lirik saja sudah pasti mengkeret. Termasuk aku.


Terlalu lebay menafsirkan, siapa tau cuma undangan ulang tahun. Entah.


Lah ... Ini kenapa kok Kak Nio sama Kak Nando jadi kompakan saling menatap syahdu ke arahku? Jadi, takut? Mana itu tatapan sulit di artiin lagi?


"Kalian kenapa?" tanyaku penasaran.


"Bener kan kata gue?" ucap Kak Nando.


"Iya seminggu lagi," timpa Kak Nio.


Semakin tak mengerti apa yang mereka berdua maksud. Ku angkat sebelah alis, meminta penjelasan pada orang yang memberi undangan. Tapi apa? Cuma dapat kacang!


Kak Dion cuma mengangkat bahunya acuh. Lalu membuang muka.


Kamvret!


Ah, kelamaan ... Ku rebut undangan itu dari tangan Kak Nio.


Alvaro Giovani.


dan,


Amanda Wijaya.

__ADS_1


Nama itu? Ku coba berkali-kali membaca tulisan nama yang tertera pada undangan yang ku pegang. Berharap ada kesalahan seperti beberapa menit yang lalu saat Kak Nando memberi informasi yang tak pasti.


Dan ternyata nama itu tidak berubah sama sekali. Sebuah nama yang sudah terukir di hati.


Rasanya air mata ini sudah tidak bisa ku bendung lagi. Ku kembalikan undangan itu pada Kak Nio, lalu aku berdiri, ingin cepat pergi dari tempat ini sebelum cairan bening ini jatuh ke pipi.


"Dek kamu mau ke mana?" teriak Kak Nio.


"Alam baka," jawabku asal, tanpa menoleh kebelakang lagi.


Ku ambil langkah cepat, akan ku cari si Varo. Aku sudah tidak peduli lagi dengan para mahasiswa yang sedang memperhatikanku. menatapku dengan pikiran ntah.


Dengan napas yang memburu, ku percepat langkah kaki-ku menuju ruang kelas Varo.


Ku edarkan pandangan ke setiap sudut ruangan, tanpa bertanya pada siapa pun.


Nihil. Tidak ku temukan batang hidung lelaki itu di manapun.


"Varo baru aja keluar Ra," Salah seorang mahasiswa memberirahu. Entah itu siapa, aku tidak begitu memperhatikanya.


Sudah menjadi hal yang biasa, jika aku datang ke ruangan itu.


Ya, hampir semua mahasiswa tahu jika aku dan Varo berpacaran. Jadi, mereka sudah tahu maksud kedatanganku.


Aku pun lalu keluar dan masih berusaha mencari, siapa tahu kami berpapasan.


"Zahra, kelas kamu di sini,"


Suara itu?


Buru-buru ku hapus bekas cairan yang sempat menetes tadi, lalu mundur Dua langkah, kemudian berbalik,


"Eh, Abi? Maaf Bi, Zahra lupa," Jangan lupa beri cengiran palsu agar Abi Haikal tidak curiga.


Sial! Sampai tidak sadar sedang lewat di depan kelas sendiri. Padahal tadi sudah ada niat bolos, tapi apalah daya Tuhan tidak mengizinkan aku melakukan perbuatan tercela.


Dengan langkah gontai, aku pun masuk kedalam kelas, mengekor di belakang Abi Haikal.


"Dari mana aja, dari tadi ditungguin juga?" bisik Ayu yang duduk di sebelahku.


Ayu teman semasa SMA yang masih setia bersama sampai duduk di bangku kuliah, sedang Chika dia memilih kuliah di luar kota, tapi kita masih tetap saling berkomunikasi.


"Biasah nongki-nongki dulu sama cogans," jawabku ikut berbisik, memiringkan sedikit badan kesamping.


"Udah denger hot news belum?"


"Apa'an?"


Memang tajam sekali pendengaran Pak Dosen satu ini, padahal aku dan Ayu ada di kursi bagian belakang. Tempat Favorit yang selalu di sediakan sahabatku itu jika aku belum datang, begitu juga sebaliknya.


Aku dan Ayu pun langsung menunduk, pura-pura fokus pada buku yang sedang kami pegang.


Dua jam pembelajaran mata kuliah Abi Haikal pun selesai. Beruntung mata kuliah kali ini aku bisa fokus tanpa terbayang masalahku tadi.


Ku akui cara penyampaian materi Abi Haikal itu enak, tidak membosankan, jadi bisalah sejenak untuk pengalihan.


"Yuk, gue duluan ya?"


"Eh, Ra," cegah Ayu, seperti ingin menyampaikan info yang tadi sempat tertunda. Palingan juga bahas gebetan barunya.


"Udah besok aja di lanjut, gue buru-buru. Bye," pamitku sambil berlalu, melambaikan tangan.


Sesuai rencana, aku pun berniat mencari kembali keberadaan Varo. Semoga kali ini ketemu.


"Dek, kamu gak papa kan?" Baru keluar, udah dihadang Kak Nio. Kali ini dia datang sama pacarnya Kak Melisha. Entah sejak kapan mereka menungguku di depan kelas.


Mungkin Kak Nio cemas, saat tadi aku buru-buru pergi, terlebih dengan kondisiku yang sempat tidak menentu.


"Sabar ya Ra, kamu tenang aja nanti Kak Icha bantu cariin ganti si Varo," Kak Melisha berusaha ikut menenangkanku dengan iming-iming cowok baru.


Huh! Emang aku cewek apakah?


Aku tersenyum, bagaimana pun aku gak mau terlihat lemah di depan semua orang, meski hatiku sudah berkeping-keping, parah.


"iihh, apa'an sih? Kalian tenang aja, aku gak papa kok,"


Terlihat wajah yang sebelumnya di selimuti kecemasan, perlahan berubah ada kelegaan dengan terukirnya senyuman.


Sedikit berbasa-basi agar mereka tidak curiga, lalu aku pun pamit dengan alasan ingin pergi ke perpustakaan. Tapi Boong.


Kak Nio dan Kak Melisha pun lalu pergi, entah kemana.


Dan aku terus berjalan tanpa tujuan sambil clingak-clinguk kiri-kanan.


Grep,


Aku berjengkit, tiba-tiba ada yang menangkap pergelangan tangan, aku pun menoleh,


"Varo!" seruku. Pas banget, kebetulan si Ular datang nyamperin pentungan.


Entah sengaja atau tidak, tapi Pas.Tepat di ujung koridor, belokan bawah tangga Varo berdiri, sepertinya sengaja dia sembunyi.

__ADS_1


Masa iya dia main peta umpet?


"Eh," tambah terkejut, Varo menarik tanganku menaiki anak tangga tanpa sepatah kata.


"Varo, lepasin!" bentakku sambil berusaha melepas cengkraman si mantan pacar.


Mantan pacar? Ngenes.


Varo tetap diam. Sampai akhirnya sampai di tempat dimana kita sering menghabiskan waktu bersama. Dulu.


Rooftoop kampus.


Plak,


Waduh, kenapa ini tangan lancang banget nampar pipi Varo? Tanganku reflek setelah cowok itu melepas genggamanya.


Asli, gak sengaja.


Tapi gak papa, anggap aja ini pembalasan sakit hati.


"Maafin aku Ra," ucapnya sambil megang pipi yang kena gampar, sakit mungkin.


Rasain!


"Pasti kamu sudah mendengar kabar itu," kata Varo.


Kabar yang mana nih? Nikah apa bunting?


Ah, tuh kan baru denger kata 'kabar' aja, jadi pengen mewek.


Tahan Ra! Sayangi air mata lo, jangan menangisi orang yang gak penting. Terus berusaha menguatkan diri.


Hening.


Entah, kenapa rasa marah yang sempat memburu, seketika hilang setelah berhadapan langsung dengan Varo.


Mana itu muka melas banget. Jadi pengen peluk, eh--


"Jadi ini, maksud kamu putusin aku?" tanyaku sinis, pasang muka garang. Jangan sampai kelihatan ngenes karena di tinggal pas lagi sayang-sayange.


"Kita duduk dulu Ra," ajaknya, berusaha meraih kembali tanganku.


Di rooftoop ini memang ada beberapa kursi yang sudah tidak digunakan lagi di ruang kelas bisa dikatakan kursi-kursi yang telah usang akan di taruh disini karena gudang sudah tidak muat lagi.


"Gak perlu!" tolaku ketus, menghindari tangan Varo, lalu ku lipat kedua lengan di depan dada.


Ku lihat Varo mengangguk, setuju ngobrol sambil berdiri.


"Sekali lagi aku minta maaf," ucapnya lagi. "Sebenarnya aku masih sayang sama kamu Ra,"


Hah, seriusan? Gak salah denger? Tapi, aku gak boleh termakan rayuan Varo.


"Hahaha ... Enteng banget kamu ngumbar kata sayang," jawabku tertawa pongah.


"Aku lakuin pernikahan ini karena terpaksa Ra. Sengaja aku tidak memberitahu kamu, karena aku takut kamu bertambah sakit hati,"


"Telat!"


Aku harus segera cabut dari sini, sebelum pertahan hati ini goyah. Bagaimanapun, meski


masih saling mencintai, tapi aku gak boleh egois, karena ada seorang wanita dan janin yang ada di dalam perut butuh tanggung jawab seorang laki-laki bejad di depan ku ini.


Aku pun berbalik badan dengan kasar, ingin segera beranjak dari hadapan ...


Nah loh, belum sedetik aku berbalik, tapi Varo udah menahanku seperti ini. Aku gak bisa di giniin Varo!


"Varo lepasin!" ucapku kesal, meski ingin tetap bertahan.


"Ra,"


"Aku tahu, kamu gak rela aku pergi. Tapi gak seperti ini caranya Var," Aku putusin jika Varo kekeuh ingin balikan, Aku sih yes? Sekali-kali dalam cinta egois itu penting,


Ayo, Varo bilang kalo kamu mau balikan lagi sama aku.


"Lepasin Varo!"


"Ra, aku nggak nahan kamu? Tas kamu kechantol kursi.


Gubrak!!!


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen dan Votenys ya? 🙏😊😘


__ADS_2