Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Teringat masalalu


__ADS_3

Pukul 06.30 petang...


Setelah melaksanakan Sholat magribnya sendirian tanpa sang Istri yang selalu saja menolak jika di ajak beribadah. Hafiz duduk di sofa sebelah Alina yang tengah sibuk dengan pekerjaan kantornya.


Tepat Sepuluh bulan usia pernikahan Hafiz dan Alina. Masih seperti awal pertama mereka baru menikah. Hafiz kini mulai terbiasa menyiapkan segala keperluanya sendiri.


Alina?


Selalu sibuk dengan dunia karirnya dan kaum sosialitanya.


" Yank?" Panggil Hafiz pada Istrinya.


" Hhhmm..." Alina berdehem, tanpa mengalihkan tatapanya dari Layar kotak di depanya.


" Minggu ini kita Weekend yuk?"


" Aku gak bisa yank, aku ada arisan sama teman_temanku."


" Jadi, lebih penting teman_teman kamu dari pada aku?"


" Jangan mulai baperan deh?"


Hafiz menghembuskan nafas beratnya. Ia merasa kini Alina sudah banyak berubah semenjak bergelut di dunia karirnya.


Hafiz beranjak dari duduknya, karena merasa tidak dihiraukan oleh Istrinya ia memutuskan keluar dari kamarnya.


" Yank, mau kemana?" Tanya Alina pada suaminya yang sudah berjalan melewati dirinya.


Tanpa menoleh atau pun menjawab pertanyaan sang Istri, Hafiz begitu saja meninggalkan Alina yang ada di dalam kamarnya.


Mata Hafiz melihat ke semua sudut rumahnya, namun tampak sepi. Entah mengapa kaki Hafiz dengan ringanya melangkah menuju ke sebuah ruangan kecil yang terletak di sebelah dapur rumahnya.


Perlahan Hafiz membuka pintu kamar itu. Tak ada yang berubah, masih seperti saat sang penghuni meninggalkanya dulu.


Setelah kepergian Khadija dari rumah Hafiz, kamar itu selalu menjadi tempat favorit baru untuk Hafiz di kala hati dan pikiranya butuh ketenangan.


Seperti saat ini, entah mengapa Hafiz sangat merindukan masa_masa itu.


Masa dimana Khadija selalu ada buatnya meski tanpa ada rasa cinta di antara mereka.


Hafiz membuka lemari kayu yang terletak di sudut ruangan kamar itu.


Terdapat Dua helai baju yang tergantung, yang sengaja di tinggalkan oleh Khadija. Satu baju pemberian Aslan dan Satu lagi pemberian Hafiz.


Karena Khadija tidak ingin lagi membawa kenangan Hafiz dan Aslan dalam hidupnya.


Baju berwarna Navy yang dipakai Khadija terakhir kali sebelum Khadija memutuskan untuk pergi, dan ternyata belum sempat di cuci oleh Khadija pada waktu itu, bahkan sampai saat ini tak ada niatan dari Hafiz menyuruh Sari untuk mencucinya.


Hafiz mendudukan tubuhnya diatas kasur yang di taruh di atas lantai tempat dulu Khadija menghabiskan masa terakhirnya di rumah Hafiz.


Digenggamnya baju Khadija, sekilas bibir Hafiz tersenyum mengingat moment ketika Khadija lupa menutup kembali resleting bajunya pada waktu itu.


Kamu cantik dan kamu begitu polos Ja?


Batin Hafiz memuji Khadija.


" Kalau sudah tiada, baru terasa...Bahwa kehadiranya sungguh berharga..." Sepenggal lirik lagu yang dinyanyikan seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu.


Senyum Hafiz seketika memudar, terkejut mendengar suara seseorang yang tiba_tiba mengagetkanya.


Hafiz menoleh, memastikan sang pemilik suara sumbang itu, namun lagunya sungguh mengena di hati Hafiz.


" Eh...kamu Sar, ngagetin saya saja!"


" Lagi galau ya Den?" Ternyata Sari pelakunya. Selama ini Sari juga tahu jika sang majikan selalu datang ke tempat itu jika suasana hati Hafiz sedang buruk.


" Tapi, itu kenapa tadi kok senyum_senyum? Lagi galau atau lagi kangen?" Lanjut Sari yang sedari tadi memperhatikan majikanya, namun tanpa di sadari oleh Hafiz


" Siapa yang senyum_senyum, jangan sok tau kamu Sar?" Hafiz mengelak. Sari memang terkadang menjadi sok akrab dengan sang Majikan, ketika membahas soal Khadija.


" Bukan Sari sok tahu Den, tapi memang kelihatan kalau Den Carel itu lagi kangen sama Mbak Dija." Ungkap Sari.


Hafiz hanya terdiam, mengiyakan ucapan Sari dalam hatinya.


" Tapi sekarang udah telat Den, kenapa gak dari dulu_dulu kangenya?" Cerocos Sari.


" Penyesalan memang selalu datang belakangan Sar!" Hafiz menanggapi ucapan Sari.

__ADS_1


" Kalau didepan mah namanya Pendaftaran Den?" Kelakar Sari mencairkan suasana yang sedang mellow.


" Ada_ada aja kamu!" Hafiz tersenyum kembali dengan kalimat candaan Sari.


" SAYANG...SAYANG...?" Teriak Alina sambil menuruni anak tangga mencari keberadaan suaminya.


Hafiz yang mendengar segera mengembalikan kembali baju Khadija ke tempat semula.


" Jangan lupa kunci lagi kamar ini nanti!" Titah Hafiz pada Sari, sebelum Hafiz meninggalkan kamar itu, lalu melangkah menghampiri alina.


" Iya, ada apa?" Tanya Hafiz acuh, karena masih kesal terhadap Istrinya yang selalu mengabaikanya.


Cup


Satu kecupan manis mendarat di bibir Hafiz.


Ciuman adalah Jurus jitu Alina, jika sang suami sedang ngambek padanya.


" Kamu marah ya Yank?"


" Menurut kamu?"


" Iya_iya aku tahu aku salah, Maafin aku ya?"


*Cup


Cup


Cup*


Serangan bertubi_tubi dari bibir Alina,di layangkan ke wajah Suaminya.


" Kenapa kamu nyariin aku?" Tanya Hafiz datar, nampaknya kini Ciuman Istrinya tidak lantas menjadikan mood Hafiz berubah.


" Anterin aku yuk Yank, ketemu Client ? Badan aku pegel_pegel semua nih, kalau harus nyetir sendiri." Pinta Alina manja.


Meskipun hatinya masih merasa kesal, tetapi Hafiz juga tidak akan tega membiarkan Alina, Istrinya untuk pergi sendiri.


" Ya udah, kamu tunggu sebentar aku mau ganti baju sekalian ambil kunci mobil." Hafiz pun segera berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sunyi hening tak ada yang membuka suara, hanya suara bising dari mesin mobil yang terdengar.


Raut muka Hafiz sudah tidak terkondisikan lagi, wajahnya memberengut sepanjang perjalanan mengantarkan Istrinya.


Bukan tanpa sebab Hafiz seperti itu, karena mulai masuk ke dalam mobil, hingga hampir sampai di tempat yang di tuju, Alina terus menerus sibuk dengan layar Gadget yang selalu stand by di tanganya. Tanpa sedikitpun mengalihkan pandanganya ke arah sang Suami yang ada di sampingnya barang sebentar saja.


Sampai di tempat tujuan, Hafiz hanya mengekor di belakang Alina, sudah seperti Bodyguard mengawal majikanya.


Alina dan Hafiz masuk ke dalam sebuah Restauran yang mayoritas tamunya dari kalangan atas.


Langkah Alina terus bergerak menuju meja yang sudah di reservasi sebelumnya.


Alina melambaikan tanganya ke arah Pria blasteran yang sedang duduk sendiri menunggu kedatangan Alina.


" Hay...James, I am so sorry?" Alina kemudian bercipika_cipiki dengan seseorang yang bernama James.


" No problem." Jawab James santai.


Hafiz memelototkan matanya melihat interaksi Istrinya dengan orang yang Hafiz tidak mengenalnya.


Hafiz segera menarik tangan Alina, sedikit menjauh dari posisinya semula.


" Kamu apa_apaan main cipika_cipiki segala?" Omel Hafiz setengah berbisik agar tidak mengganggu pengunjung restauran yang sedang menikmati makananya.


" Kamu kenapa sih, jadi posesif gini? Ini itu udah biasa waktu aku di Luar Negeri!"


" Tap~..." Ucapan Hafiz terpotong, ketika melihat Alina sudah pergi meninggalkanya.


" I am sorry again, James?" Ucap Alina setelah duduk bersebrangan dengam James.


Seseorang yang bernama James hanya mengangkat bahunya, dan tersenyum smirk melirik ke arah Hafiz yang sudah ikut duduk bergabung di sebelah Istrinya, dengan wajah cemburunya.


Hafiz bertambah kesal dengan Alina, ketika Alina tak berniat mengenalkanya pada orang yang di sebut Client oleh Alina sebagai suaminya. Sebagai seorang Suami, Hafiz sangatlah merasa terhina apa lagi posisinya di hadapan Pria lain.


Sepanjang obrolan yang dilakukan Alina dan James yang mambahas kerja sama tentang proyek pembangunan sebuah Resort di sebuah pulau, Hafiz hanya diam menyimak dengan menelantarkan kopi Espresso yang sudah di pesankan Istrinya.


Semakin lama Hafiz merasa muak, karena tidak dianggap keberadaanya.

__ADS_1


Tanpa permisi akhirnya Hafiz beranjak pergi dari duduknya, meninggalkan Alina.


" Rel, mau keman?" Tanya Alina sedikit berteriak, melihat Hafiz yang berjalan menuju pintu keluar.


Namun Hafiz tak bergeming demi menahan amarahnya yang siap meledak.


Alina pun berniat menyusul suaminya, dengan cepat tangan James menahan tangan Alina.


" Biarkan saja dulu, dia hanya cemburu denganku. Dia akan luluh jika sudah di ranjang nanti." Kalimat pamungkas dari mulut James yang membuat Alina kembali ke posisi duduknya.


James sudah mengetahui jika Hafiz adalah suami Alina.


" Ya kamu benar James?" Alina mengangguk, membenarkan perkataan Pria blasteran yang ada di depanya.


Kembali ke Hafiz, kini Hafiz sudah berada di dalam mobilnya, tanpa berfikir panjang Hafiz segera melajukan mobil sportnya dengan kecepatan tinggi seirama dengan suasana hatinya yang sedang berapi_api.


Suasana jalanan Ibukota sedikit lengang, dengan mulus mobil Hafiz melesat kembali ke rumahnya.


Hanya butuh waktu 15 menit Hafiz kembali ke rumahnya, lebih cepat dari biasanya.


Dengan langkah cepat Hafiz masuk ke dalam rumahnya, kakinya berhenti mendengar seruan dari Bik Onah.


" Tuan muda tunggu!"


Hafiz membalikan badanya, melihat Bik Onah berlari kecil dari arah dapur menghampirinya.


" Tuan, tadi ada~..."


" Tadi ada Dio dan anaknya kemari mencari kamu!" Pandangan Hafiz pun berpindah ke suara orang yang dikenalnya.


Ternyata suara Sang Ayah yang memotong ucapan ARTnya.


" Apa benar Bik?" tatapan Hafiz kembali ke Bik Onah memastikan ucapan sang Ayah. Hafiz menangkap ada hal yang disembunyikan.


" ii...iya Tuan." Jawab Bik Onah gugup seraya mengangguk.


Meskipun tidak puas dengan jawaban Bik Onah, namun Hafiz tidak mau terlalu ambil pusing, karena hati dan fikiranya sudah terlanjur kacau berantakan akibat sikap dari Istrinya sendiri.


Hafiz segera berlalu dari hadapan Ayahnya dan Bik onah, menuju kamarnya.


" Jangan pernah katakan apapun pada Carel, atau kamu akan saya pecat!" Ancam Ayah Hafiz pada Bik Onah. Yang mengetahui sesuatu yang sengaja disembunyikan dari Hafiz.


" Baik Tuan!" Jawab Bik Onah menunduk takut.


***


Di tempat lain seorang wanita dengan menggunakan busana Syar'inya tengah duduk bersantai di teras rumah, sembari menikmati udara malam yang cukup segar dengan di temani segelas susu di tanganya.


Wajahnya menunduk menatap perut buncitnya, tangan lembutnya membelai penuh kehangatan, senyum manisnya selalu terukir dari bibir tipisnya.


" Aww..." Pekiknya saat kaki mungil terasa menendang di dalam sana. " Semakin hari kamu semakin pintar, udah gak sabar yo melihat ayah dan bunda?"


Tawa kecilnya selalu terdengar ketika sang buah hati yang belum terlahir kedunia selalu merespon ucapanya.


" Bunda sudah ndak sabar melihat wajah kamu nak? Kira_kira kamu cowok atau cewek ya? Apapun jenis kelamin kamu, kamu adalah mutiara hati bunda, baik_baik di sana ya? sampai kamu siap lahir ke dunia ini."


"Auuwww....Sakit..." Ringisnya sambil memagangi perutnya.


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


Makasih buat doa para Readers, Alhamdulillah hari ini Author bisa Update...


Jangan lupa selalu Like dan komenya ya*...

__ADS_1


__ADS_2