
Seusai membersihkan diri karena pertempuran singkat yang baru saja terjadi, Hafiz dan Khadija kembali turun kebawah setelah putri kecil mereka Zahra datang menghampiri untuk menyampaikan pesan dari sang nenek, bahwa mereka sudah ditunggu untuk makan malam bersama.
Zahra yang berada di gendongan sang Papa dan Khadija berada di samping suami tercinta, berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju ruang makan tempat semua keluarganya kini berada. Namun, tidak ada Alina disana.
Kini semua anggota keluarga sudah berkumpul dan menempati posisi duduk masing-masing.
"Kemana Alina?" tanya sang Ayah ketika tidak melihat sosok perempuan yang tadi datang bersamanya.
"Aku disini Pa," sahut Alina yang datang dari arah kamar tamu yang berada di lantai bawah. Perempuan itu tidak mengganti sebutanya terhadap kedua mantan mertuanya.
"Tante itu siapa Pa?" tanya Zahra menunjuk ke arah Alina yang hendak duduk bersebrangan dengan sang Papa.
"Namanya Tante Alina. Dia teman Papa," terang Hafiz pada puteri kecilnya.
"Ayo Zahra salim dulu nak sama tante Alina," titah sang Bunda.
Zahra pun turun dari kursinya dan berjalan memutar menghampiri Alina. Gadis kecil itu meraih tangan Alina lalu menciumnya.
"Cantik banget sih kamu," puji Alina sembari mencium Pipi gembil Zahra. Kemudian Zahra kembali ke posisi sumula, duduk diantara Papa dan Bundanya.
"Ya iyalah, Bundanya aja cantik, sholehah lagi," sahut Hafiz sedikit menyindir. Hafiz tersenyum menatap istrinya, seolah mengisyaratkan kepada Alina bahwa Khadija adalah sosok istri yang sempurna dimatanya.
Alina melirik sekilas kearah mantan suaminya. Perempuan itu pun tanggap dengan sindiran Hafiz terhadapnya. Alih-alih menanggapi ucapan mantan suaminya tersebut, Alina mengalihkan perhatianya pada sosok anak Laki-laki yang tampak cuek tidak peduli dengan orang-orang disekitarnya.
"Ini siapa, kok ganteng sekali?" tanya Alina kepada bocah laki-laki yang duduk disebelah kanan antara ia dan Ina.
Dipta menoleh sekilas lalu fokus kembali pada mobil-mobilan kecil yang ia mainkan di atas meja. Tanpa mempedulikan Alina yang tengah menunggu jawaban darinya. Sama seperti Hafiz sang kakak, meski mereka tidak sekandung tetapi sifat cuek Hafiz nampaknya menurun kepada Dipta.
"Dia anak kedua Papa Lin. Namanya Dipta," timpal mantan Ayah mertua.
"Hah_?" Alina terkejut, lalu menatap pria paruh baya yang duduk di ujung meja, "Anak Papa? Memang kapan Mama hamil lagi?" tanya Alina masih tidak percaya.
"Hush ... Ngawur aja kamu," protes Ibu Hafiz mengibaskan sebelah tanganya.
"Oh ya, kenalkan ini Ina istri kedua Papa," tunjuk Ayah Hafiz pada Perempuan yang duduk disampingnya tanpa menjawab pertanyaan Alina.
Alina pun beralih menatap Perempuan yang masih terlihat muda bahkan lebih muda darinya. Sempat Alina mengira istri muda Ayah Hafiz adalah saudara atau sepupu Hafiz yang belum ia ketahui.
Ayah Hafiz memang belum sempat mengenalkan istri barunya tersebut. Ibu Hafiz langsung mengajak Alina masuk kedalam setelah menyambut kedatangan mereka tadi.
Ina pun memperkenalkan dirinya, begitu juga sebaliknya dengan Alina.
Setelah cukup berbasa-basi, makan malam pun di mulai. Suara riuh Zahra dan Dipta yang meminta ini itu selalu mewarnai setiap kesempatan jika sedang berkumpul bersama.
__ADS_1
Makan malam selesai dan ditutup dengan kue buatan Khadija sebagai pencuci mulut. Selalu ada inovasi baru yang perempuan itu ciptakan. Pujian demi pujian selalu ia dapatkan dari para penikmatnya, yang tak lain adalah keluarganya sendiri.
***
Pagi hari,
Seperti biasa, selepas Shalat Subuh, Khadija langsung bergegas ke dapur untuk menyiapkan sendiri segala kebutuhan suami dan anaknya. Meski sudah ada Dua asisten Rumah Tangga di rumah besar itu, Khadija kekeuh untuk urusan keluarganya ia sendiri yang akan menghandlenya.
Dan Hafiz tengah bersiap-siap di dalam kamar. Kini Pria itu sudah rapih dengan setelan pakaian kerja yang selalu di siapkan istrinya.
Kriieeekk ...
Terdengar suara pintu terbuka perlahan. Ada seseorang yang mendorongnya dari luar.
Grep,
"Kok tumben masih pagi udah peluk-peluk? Masih kangen ya?" tanya Hafiz saat ada seseorang memeluk tubuhnya dari belakang.
"Iya aku kangen banget sama kamu,"
Hafiz seketika tersentak, dengan kasar Hafiz melepas tangan yang sedang bertautan melingkar di tubuhnya. Hafiz membalikan badanya melihat seseorang yang begitu ia kenal dari suaranya, "Ngapain kamu kesini Alina?!" tanya Hafiz dengan nada meninggi. Belum hilang kekesalanya tempo hari, kini mantan istrinya itu berulah kembali.
Posisi Hafiz yang membelakangi pintu, membuat pria itu tidak tahu pasti siapa orang yang masuk kedalam kamar. Ia mengira itu adalah istrinya karena Hafiz tengah sibuk mempersiapkan berkas-berkas penting yang akan ia bawa lalu memasukkanya kedalam tas kerja. Perhatianya pun tidak fokus pada lengan yang bertelanjang tanpa mengenakan kain penutup seperti layaknya pakaian yang biasa dikenakan Khadija.
"Kamu kenapa sih Rel, jadi berubah gini sama aku?" balas Alina menatap sendu ke arah pria yang berada di ujung kemarahanya.
"Bukan aku yang berubah, tapi sikap kamu yang semakin kurang ajar!"
"Tapi, aku cuma mau minta maaf sama kamu Rel?" mohon Alina atas kejadian waktu dirumahnya. Namun, kali ini usahanya itu membuat mantan suaminya itu semakin marah.
"Bukan begini juga caranya Lin! Jadi tolong, jika kamu masih mau aku hargai dirumah ini, tolong jaga sikap kamu," gertak Hafiz sambil menyeret tangan Alina agar keluar dari kamar.
"Apa sudah tidak ada lagi kesempatan untukku menjadi bagian dari hidup kamu lagi Rel?" Alina menatap nanar ke arah Hafiz, sebelum pria itu menutup pintu kamarnya.
"Ada. Tapi hanya sebagai teman karena hati ini sudah ada yang mengisi. Hanya Khadija yang ada dihatiku sekarang dan selamanya," balas Hafiz menatap nyalang ke arah perempuan di hadapanya.
Blam ...
"Apa sih istimewanya Khadija, hingga membuat kamu tidak bisa berpaling?!" gumam Alina dengan melipat kedua lenganya di depan dada setelah usahanya mendapat penolakan dari mantan suaminya.
"Bunda ..."
"Sayang ..." Dua suara yang terdengar bersahutan.
__ADS_1
"Iya sebentar," sahut Khadija sedikit berteriak dari arah dapur. Ia tahu jika itu suara suami dan anaknya yang tengah membutuhkan bantuan.
Setelah mencuci tangan, Khadija segera menghampiri kedua orang yang sudah menunggunya di ruang makan. Ada Zahra yang meminta di ikat rambutnya, dan Hafiz meminta dipasangkan dasi oleh istrinya.
"Itu Mbak Alina darimana? Kok dari atas?" tanya Khadija sambil memasangkan dasi di leher suaminya. Penglihatan Khadija menangkap sosok perempuan yang berjalan menuruni anak tangga dari lantai Dua.
"Tadi sih dari kamar?" jawab Hafiz jujur. Ternyata setelah di usir oleh Hafiz, Alina tidak langsung turun kembali ke bawah.
Mata Khadija membola sempurna, "Ngapain Mas?" cicitnya penasaran.
"Habis godain aku," jawab Hafiz santai.
"Lalu?" Khadija menyipitkan mata, penasaran dengan jawaban sang suami selanjutnya.
"Ya aku tolaklah! Mulai sekarang kamu harus hati-hati karena di rumah ini ada pelakor yang sedang berkeliaran," Sengaja Hafiz mengkompori istrinya, agar perempuan itu selalu waspada tidak mudah terpancing hasutan Alina.
"Ndak akan aku biarkan. Cukup sekali kamu diambil orang," ucap Khadija mengeratkan giginya.
"Faighting Bund!" seru Hafiz mengangkat kepalan tanganya di depan wajah istrinya. Hafiz pun tersenyum senang karena sang istri termakan pengaruhnya. Sebenarnya Pria itu hanya ingin menggoda istrinya. Entah mengapa Ia sangat suka melihat ekspresi menggemaskan jika istrinya itu sedang cemburu.
"Awas kamu, kalau sampai tergoda," ancam Khadija dengan memelototkan matanya.
"Kamu tenang saja. Insyaalloh aku pastikan imanku masih kuat kok Sayang?" Hafiz menggenggam tangan istrinya menyakinkan.
Setelah itu Khadija beralih mengikat rambut putri kecilnya yang setia menunggu giliran. Dengan cekatan Ibu satu anak itu memilin rambut panjang Zahra dengan model yang berbeda setiap harinya.
Satu persatu anggota keluarga sudah mulai berdatangan menuju ruang makan. Begitu juga dengan Alina ikut bergabung. Perempuan itu sempat masuk kembali kekamarnya setelah turun dari lantai dua, tempat kamar mantan suaminya
Seperti hari-hari sebelumnya mereka satu keluarga selalu menyempatkan untuk melakukan sarapan dan makan malam bersama untuk mengawali dan mengakhiri aktifitas mereka sehari-hari.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan terus Like, Komen dan Vote nya ya...😊🙏*