Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Cemburu


__ADS_3

Hari-hari mereka lewati seperti biasa, dari bangun sampai tidur lagi.


Namun cinta Hafiz kepada Istrinya, Khadija semakin hari semakin luar biasa. Hafiz merasa beruntung memiliki sosok istri dan seorang ibu dari anaknya yang begitu sempurna di matanya.


Tekad Hafiz memenangkan kembali hati Khadija tidak pernah memudar. Menjadi seorang Suami dan Ayah yang baik sudah pasti ia lakukan, terlebih Hafiz selalu berusaha menjadi imam yang baik bagi keluarga kecilnya.


Dua bulan sudah Pernikahan Hafiz dan Khadija, berselisih paham sudah pasti terjadi, namun Hafiz dan Khadija selalu bisa mengatasi dengan saling mengisi kekurangan sifat masing_masing. Meskipun bunyi pasal "Wanita selalu benar" selalu di canangkan.


Khadija menjalani hidupnya bak air yang mengalir, mengikuti skenario yang sudah di gariskan. Seiring berjalanya waktu, apakah cintanya sudah mulai tumbuh untuk Hafiz? Entahlah, karena Khadija pun selalu mengelaknya.


Kini Khadija memiliki hoby baru yaitu ia selalu datang ke Rumah sakit untuk sekedar mengantarkan makan siang untuk suaminya. Karena Hafiz akan makan hanya masakan dari istrinya.


Tok...Tok...Tok


"Masuk!" Suara seseorang di dalam ruangan.


"Assalamualaikum..." Ucap Khadija saat hendak masuk kedalam ruangan yang tidak asing sejak beberapa tahun yang lalu saat ia masih bekerja menjadi Office girl.


"Waalaikum Salam..." Jawaban serempak dari Dua orang berlainan gendre yang berada di dalam ruangan.


Khadija menghampiri Hafiz, lalu mencium punggung tangan sang suami yang sudah menjadi kebiasaan lamanya.


"Sayang kenalkan ini Sita, teman waktu kuliah dulu." Ucap Hafiz pada Khadija memperkenalkan wanita hamil yang terlihat cantik dan sexy duduk bersebrangan denganya.


Khadija tersenyum ramah sambil mengulurkan tanganya, uluran tangan pun disambut hangat oleh wanita yang bernama Sita.


"Mas, aku tunggu disitu ya?" Tunjuk Khadija pada kursi sofa yang ada di ruangan suaminya. Hafiz pun mengiyakan.


Menit demi menit berlalu, hingga hampir Satu jam Khadija menunggu sang suami bersama teman lamanya mengobrol kesana kemari bernostalgia mengenang zaman waktu kuliah.


Khadija merasa bosan, karena disitu ia hanya diam, sama sekali tidak dilibatkan dalam perbincangan, namun Khadija tidak masalah, ikut bergabung pun pasti tidak akan nyambung, menurut Khadija. Namun disisi lain Khadija merasa jengkel karena makanan yang dibawanya sudah mulai dingin terabaikan.


"Mas, aku pulang...Assalamualaikum!" Khadija bangkit dari duduknya, segera beranjak pergi meninggalkan ruangan suaminya.


Belum sempat menjawab ucapan Khadija, Istrinya itu dengan cepat menghilang dari balik pintu.


"Sorry Sit, aku harus mengejar istriku!" Ucap Hafiz sebelum keluar dari ruanganya.


Dengan langkah terburu-buru, Hafiz mengejar istrinya yang sudah keluar dari area gedung Rumah sakit.


"Sayang tunggu!" Hafiz mencekal lengan Khadija.


"Lepaskan! Aku mau pulang, kasihan Zahra sudah menunggu." Balas Khadija datar.


Zahra ditinggal bersama seorang Babby sitter di Apartemenya. Sebulan yang lalu Hafiz menyewa Babby sitter untuk membantu mengurus Putri kecilnya, karena ia tidak mau Istrinya kelelahan mengurus semua pekerjaan rumah tangga yang semua di handle sendiri oleh Khadija.


Meski Khadija sempat menolak, karena hanya akan buang_buang uang, toh selama ini ia tidak pernah direpotkan selama mengurus Zahra, Putrinya sendiri. Namun Hafiz tetaplah Hafiz yang kekeuh akan pendirianya, disitu Khadija pasrah.


"Ayo aku antar."


"Ndak usah, lanjutin aja sana ngobrolnya!" Ketus Khadija.


Tanpa menjawab, Hafiz kemudian menggandeng tangan istrinya menuju parkiran. Dengan terpaksa Khadija mengikuti langkah suaminya.


Tidak ada obrolan di dalam mobil, hanya saling diam. Mata Khadija menatap ke arah luar jendela.


Hafiz pun diam membiarkan istrinya yang sedang bergulat dengan fikiranya, itu lebih baik menurutnya. Karena Hafiz akan menyelesaikanya di rumah.

__ADS_1


Dengan langkah cepat Khadija masuk kedalam kamar, Hafiz mengikuti dari belakang.


"Sayang, kamu kenapa sih?" Tanya Hafiz pada Khadija yang sudah duduk di sofa dengan melipat kedua tanganya di depan dada.


Khadija masih diam, membuang muka.


Hafiz menghembuskan nafas berat, baru kali ini ia melihat Istrinya marah yang tidak jelas masalahnya.


"Ayo dong Bund, ngomong?" Bujuk Hafiz.


"Ngapain masih disini, sana balik lagi, pasti teman kamu lagi nungguin!" Usir Khadija menatap sinis kearah suaminya.


Hafiz tersenyum melihat kemarahan istrinya kali ini. Hafiz baru menyadari sebab kemarahan Khadija.


"Kamu cemburu ya?" Hafiz menoel pipi istrinya.


"Ngapain aku cemburu? Ndak penting!" Elak Khadija atas tuduhan suaminya.


Hafiz dengan sigap memeluk istrinya dari belakang dengan posisi duduk, dagunya bertumpu di bahu Khadija.


"Ndak usah peluk_peluk!" Khadija berusaha melepas tangan Hafiz yang melingkar di perutnya.


"Aku seneng deh, kalo kamu marah kaya gini? Itu artinya kamu cemburu." Ucap Hafiz dengan nada lembut diiringi senyum sumringah dari bibirnya.


Khadija diam mencoba menahan emosinya.


Apa iya aku cemburu? Terus kenapa juga aku harus cemburu, kan aku ndak cinta sama Mas Hafiz? Khadija bermonolog dalam hati.


"Makasih ya sayang, kamu sudah bisa menerima aku lagi di hati kamu." Hafiz melepas pelukanya, dan memutar tubuh Khadija, mengahadapnya.


"Jangan Ge_Er, aku itu kesel karena kamu dari tadi asik ngobrol sendiri, gak mikirin aku ada disitu, lagian kamu itu belum makan siang!" Khadija masih terus saja mengelak atas sikap anehnya.


"Memang ngapain sih dia tadi ada diruangan kamu?" Tanya Khadija penasaran.


"Oh, kebetulan Sita itu pasien aku, sambil menunggu suaminya menjemput, aku ajak dia mampir ke ruangan."


"Kalau dia teman kamu, bukanya dia juga seorang dokter kandungan?"


"Dia berhenti kuliah saat Semester Enam, karena dia harus ikut suaminya tugas diluar Negeri." Jelas Hafiz.


"Lain kali kalau ngobrol jangan berduaan di dalam ruangan, apalagi kalian itu bukan~..."


".....Muhrim kan?" Lanjut Hafiz mengerti arah pembicaraan Istrinya.


"Nah itu tahu?" Khadija melirik sinis.


"Sayang aku lapar, kamu gak mau kan suami tampan kamu ini Maagnya kumat?" Hafiz mencoba mengalihkan topik pembicaraan, dengan kalimat pamungkas yang selalu membuat Khadija lemah. Hafiz tahu, jika Khadija tidak akan tega membiarkan penyakitnya kambuh.


Meski hatinya masih kesal, namun Khadija bersedia mengambilkan makanan untuk suaminya.


Beberapa menit kemudian Khadija kembali membawa sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya dan segelas air putih ditanganya.


"Ya udah, cepat di makan!" Titah Khadija saat sudah meletakkan makanan yang ia bawa diatas meja.


"Suapin?" Ucap Hafiz manja.


"Aku sibuk Mas!" Tolak Khadija hendak pergi.

__ADS_1


"Auww...Sakit!" Rintih Hafiz sembari memegang perutnya.


Khadija membalikan badan, kemudian duduk kembali di samping suaminya. Diangkat kembali piring makananya dan mulai menyuapi bayi besarnya.


Hafiz selalu punya cara untuk membuat istrinya tak berkutik, namun Khadija mengerti akan akal bulus suaminya. Sejengkel apapun hatinya, tak pernah sekalipun Khadija mengabaikan tugasnya untuk melayani sang suami.


"Kenapa sih Mas, senyum_senyum terus? Ada yang aneh di wajah aku?" Tanya Khadija disela_sela menyuapi suaminya.


"Kamu cantik Bund."


"Bosen, itu terus yang diucapin! Bukanya cantikan temen kamu tadi?"


Hafiz tampak berfikir, "Iya juga sih?" Jawabnya usil. Khadija mencebik mendengar pernyataan suaminya.


Hafiz menahan senyum, melihat perubahan expresi wajah istrinya.


Fix kali ini kamu cemburu!


"Udah sayang cukup, aku mau balik lagi ke Rumah sakit, kasihan Sita udah lama nunggu!" Ide jahil Hafiz ingin terus menggoda istrinya, ia ingin tahu sejauh mana Khadija cemburu.


Tanpa berucap apapun, Khadija mlengos beranjak berdiri berlalu dari hadapan suaminya.


Brak...


Khadija membanting pintu dengan kasar. Hafiz terbahak di dalam kamar melihat kecemburuan istrinya untuk pertama kali, dan itu merupakan kebahagiaan untuk Hafiz karena usahanya selama ini tidak sia_sia untuk mendapatkan kembali cinta Khadija.


***


"Serius amat, lagi nonton apa sih Bund?" Tanya Hafiz, ikut duduk disamping Khadija di ruang TV.


Khadija menengok dengan menautkan kedua alisnya, melihat suaminya sudah berganti memakai pakaian santainya," Katanya mau balik ke Rumah sakit, gak baik bikin orang menunggu!" Tanya Khadija yang di akhiri dengan sindiran.


"Biarin ajalah gak penting juga, pentingan nemenin kamu di rumah." Kalimat yang terdengar biasa, namun bisa membuat pipi Khadija bersemu merah.


"Sayang, besok aku Ulang tahun." Hafiz memberitahu Istrinya. Bukan mengingatkan karena Khadija tidak tahu tanggal dimana suaminya dilahirkan.


"Terus?" Balas Khadija datar.


"Emang kamu gak mau kasih kado buat aku?"


"Ulang tahun bukan tradisi kita sebagai umat muslim Mas?" Jawab Khadija menatap suaminya." Cukup kamu merefleksi diri menjadi lebih baik, itulah wujud rasa syukur yang harus kamu lakukan agar pertambahan umur kamu menjadi berkah." Sambung Khadija. Hafiz terpelongo mendengar kalimat bijak dari Istrinya.


"Tapi seenggaknya, kasih apa kek gitu sama aku? Masa kamu gak mau kasih kado sebagai simbol dimana aku ditetaskan?"


Khadija seketika tertawa mendengar ucapan suaminya,"Emang kamu Ayam, ditetaskan? Ya udah ntar gampang." Khadija terpaksa mengiyakan permintaan suaminya, agar Hafiz berhenti merengek meminta kado seperti anak kecil.


.


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Tunggu kelanjutan kado apa yang akan diberikan Khadija untuk Hafiz.😜


Jangan lupa Like dan Komenya...🙏🙏🙏 Kasih Vote buat yang sukarela...😘😍*


__ADS_2