
Suasana haru tercipta saat Hafiz menyerahkan hasil dagangan dan sedikit bantuan hasil patungan dari para Kang cilok Squad kepada bapak pemilik dagangan.
Ucapan terima kasih dan tetesan air mata dari bapak tua itu membuat Hafiz CS yang memiliki nasib lebih beruntung ikut larut dalam suasana haru saat ini.
Mereka tidak menyangka, hal kecil yang mereka lakukan menjadi kebahagian yang teramat sangat bagi orang lain yang memiliki nasib seperti bapak tua penjual cilok.
Rasa puas dan bahagia menyelimuti kepulangan mereka ke rumah masing-masing.
"Capek juga ternyata," ucap Hafiz sudah berada di dalam mobil bersama istrinya. "Gak bisa bayangin, bapak itu berjualan sambil ngayuh sepeda berkeliling menjajakan daganganya," Hafiz bersandar pada kursi mobilnya. Pikiranya melayang pada sosok renta yang baru saja ia bantu menghabiskan daganganya.
"Beruntung pas habis, kadang juga kata bapaknya tadi sampe malem pernah gak laku," sahut Khadija sambil mengelap keringat suaminya yang terus bercucuran. Meski AC mobil sudah di hidupkan.
"Masa sih Bund?" Hafiz menatap tak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya barusan. "Terus kalau gak habis, ciloknya di apain?" tanyanya masih penasaran.
"Ya diangetin lagi, besoknya di jual lagi. Kalau masih tidak habis ya terpaksa di buang," Tangan Khadija beralih pada kancing kemeja suaminya. "Kamu ada baju ganti kan Mas?" tanyanya berganti topik.
"Ada di belakang Bund," Hafiz melepas kemejanya yang sudah lembab dengan keringat. Lalu mengambil baju ganti yang selalu ia bawa sebagai cadangan mana kala di butuhkan seperti sekarang ini.
"Ya kita doain semoga bapak itu selalu diberi kesehatan dan diberi kemurahan rizki oleh Alloh SWT." pungkas Khadija.
"Aaaamiiiiin." sahut Hafiz seraya menatap istrinya. "Langsung pulang atau mampir ke Masjid dulu?" lanjut Hafiz bertanya. Ekor matanya menilik jam yang ada di pergelangan tangan sebelah kiri.
"Kita mampir ke Masjid aja dulu Mas, keburu waktu Dzuhurnya habis."
***
"ASSALAMUALAIKUM," ucap Hafiz dan Khadija bersamaan ketika baru masuk ke dalam Apartemenya.
"WAALAIKUM SALAM," sahut sang ibu dan Sari yang tengah duduk bersantai di ruang keluarga sembari menonton acara drakor kesukaan Sari.
Hafiz dan Khadija menyalami sang Ibu, "Zahra mana Ma?" tanya Hafiz sambil clingak-clinguk mencari keberadaan sang buah hati.
"Ada di kamar, baru saja dia tidur." jawab sang ibu.
Hafiz pun duduk di sebelah sang ibu, sementara Khadija menghampiri sang buah hati di kamar untuk sekedar melihat keadaanya.
Sari yang mengerti akan kebiasaan sang majikan mudanya itu, langsung beranjak ke dapur untuk membuatkan secangkir kopi.
"Bagaimana kabar kondisi Papa Ma?" tanya Hafiz berbasa-basi. Sebenarnya pria itu sudah tahu kondisi sang Ayah. Hafiz selalu menanyakan perihal kondisi kesehatan Ayahnya kepada dr. Harsa.
"Alhamdulillah baik. Besok sepertinya jadwal Papa kamu untuk Check Up."
"Sepertinya Carel besok sedikit terlambat, soalnya besok Carel dan Khadija ada acara,"
"Tidak apa-apa, biar Mama saja yang akan temani Papa kamu." sang Ibu mengerti akan maksud putranya yang tidak bisa menemani sang Ayah untuk kontrol kesehatan.
Setelah cukup lama berbincang, dan kopi yang di suguhkan pun hanya tinggal ampas, sang Ibu pamit pulang karena hari sudah mulai sore.
"Sayang kamu istirahat gih, mumpung Zahra masih tidur," ujar Hafiz setelah mengantar sang ibu sampai depan pintu.
"Temenin," ucap Khadija manja.
"Dasar, bumil manja," Hafiz mencubit kecil ujung hidung istrinya.
"Tolong jangan mesra-mesraan disini ya?" sindir Sari datang dari arah dapur, "Den Carel sama Mbak Dija untuk makan malam, mau dimasakin apa?" sambung Sari bertanya.
__ADS_1
"Terserah! Yang penting enak dan sehat." jawab Hafiz, berlalu sambil merangkul istrinya.
Khadija merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Kepalanya bertumpu di atas paha sang suami.
Hafiz membelai sayang rambut kepala perempuan yang ada di pangkuanya. Pria itu tidak mau melewatkan setiap inchi lekuk wajah cantik istrinya.
Khadija yang sedari tadi hanya diam memeringkan tubuhnya, merasakan perlakuan lembut suaminya. Hingga tak terasa kristal bening mengalir dari sudut matanya. Entah apa yang ada di pikiran perempuan itu. Adakah sesuatu yang menyentuh hatinya?
Pergerakan tangan Khadija mengusap bulir-bulir bening yang semakin deras mengalir, membuat Hafiz menyadari ada sesuatu yang terjadi pada istrinya.
"Sayang kamu kenapa?" Hafiz mengangkat kepala Khadija, lalu menghadapkan perempuan itu ke arahnya.
Mata sembap dan hidung yang memerah menandakan tangisan itu sudah cukup lama.
"Ndak papa Mas," jawaban Khadija setiap kali menutupi perasaanya.
"Kamu bicara sama aku, ada apa? Apa aku punya salah, ayo katakan Sayang?" desak Hafiz. Pria itu melihat ada kesedihan yang tersirat dari deraian air mata yang mengalir.
"Aku hanya teringat waktu hamil Zahra Mas," Ingatan Khadija berlari ke masalalu. Masa-masa sulitnya berputar kembali di benaknya.
Perlakuan yang Khadija rasakan pada kehamilanya yang sekarang berbanding terbalik Tiga ratus Enam puluh Derajat pada masa itu.
"Apa yang terjadi waktu kamu hamil Zahra?" Hafiz belum mengerti maksud istrinya.
"Aku hanya teringat betapa susahnya aku dulu setiap ingin bertemu dengan kamu," Khadija membuka kembali kenangan pilunya. Hafiz mendengar dan diam terpaku.
Apa yang dirasakan Khadija kala itu, mungkin pembawaan dari si jabang bayi yang ada dikandunganya.
"Waktu hamil usia Empat bulan, aku dulu pernah hampir seharian nungguin kamu di depan Rumah Sakit, tapi kamunya ndak datang-datang," Khadija mulai bercerita kondisi ngidam yang dialaminya. "Aku ndak ngerti kenapa pas hamil Zahra bawaanya ingin lihat wajah kamu, dan itu aku lakuin hampir Satu bulan penuh."
"Kenapa dulu kamu gak mencoba menemuiku Bund?"
"Ndak Mas," Khadija menggeleng, "Aku ndak mau mengusik kebahagian kamu dengan Mbak Alina karena kehadiranku," jelas Khadija.
Hafiz meraih tubuh istrinya dan merangkulnya dengan erat. "Maafin aku Sayang sudah membuatmu tersiksa," ucap Hafiz dengan yang suara bergetar penuh penyesalan.
"Bukan salah kamu Mas. Mungkin dulu Zahra penasaran sama wajah Papanya," Khadija melepas pelukan suaminya. "Ada satu lagi ngidam yang benar-benar membuatku tersiksa dan itu tidak pernah terlaksana hingga Zahra lahir,"
"Apa?" Hafiz menaikan satu alisnya.
"Pengen banget perut ini dielus-elus sama kamu, dan susah payah aku menahan, karena itu tidak mungkin. Setiap malam pun susah sekali tidur, karena ngidamnya ndak keturutan, sampe rasanya aku putus asa." Wajah sendu Khadija mengiringi cerita pengalamanya.
"Dan mungkin karena itu, wajah Zahra sangat mirip dengan kamu."
Khadija teringat akan sesuatu, Perempuan itu turun dari tempat tidur dan mengambil dompet di dalam tas yang ia letakkan di atas meja rias.
Khadija kembali kesamping suaminya. Hafiz memperhatikan istrinya itu mengeluarkan sesuatu yang terselip di dalam dompet.
"Kamu ingat foto ini Mas?" Khadija mengeluarkan guntingan gambar yang warnanya sudah mulai memudar.
Hafiz meraih benda itu dari tangan istrinya. Memperhatikan dengan seksama, "Ini kan foto yang ada di undangan pernikahan waktu itu," Hafiz mengenali gambar wajah dirinya, "Kamu dapat dari mana Bund?"
"Dari Leni. Dia yang bawa undangan itu," jawab Khadija. "Kadang dulu aku sampe kesel sendiri, kenapa aku ngidamnya selalu pengen lihat wajah kamu," lanjutnya.
"Ya wajar lah Sayang, kan aku yang buat," Hafiz beralih mencium kening istrinya, "Sekarang kamu udah gak butuh lagi," Pria itu membuang fotonya yang sudah usang.
__ADS_1
"Kok dibuang Mas?"
"Kalau ada wujudnya yang lebih tampan, ngapain harus nyimpen fotonya," goda Hafiz dengan membanggakan dirinya sendiri.
"Mulai sekarang kamu gak boleh sedih lagi, karena aku akan selalu berada di samping kamu. Jagain kamu dan anak-anak kita." pungkas Hafiz, "Ya udah, sekarang Bunda istirahat, sini Papa elus-elus perutnya." Hafiz membantu merebahkan kembali tubuh istrinya.
Hafiz ikut berbaring di samping perempuan yang tidur membelakanginya. Pria itu pun memeluk istrinya dari belakang, telapak tanganya mengusap lembut perut sang istri tercinta.
Senyum merekah kembali terukir di bibir khadija. Perempuan itu merasa lega setelah menceritakan pengalaman ngidamnya yang tidak pernah terlaksana dan baru sekarang ia bisa mendapatkanya, meski sekarang Khadija sudah tidak lagi menginginkanya.
***
"Tolooooong ... Tolooooong ..." teriak seseorang yang tubuhnya menggantung di atas tebing.
"Pegang tangan saya dengan kuat Pak!" Seorang perempuan tiba-tiba datang, entah dari mana. Tanganya berusaha menarik tangan orang yang hampir terjatuh ke dalam jurang.
Sekuat tenaga perempuan itu menarik agar tubuh Pria paruh baya itu perlahan terangkat naik.
"Kenapa kamu menolong saya?" tanya Pria setengah tua itu pada seorang perempuan yang sudah menyelamatkan nyawanya.
Namun, Perempuan itu tidak menjawab, ia hanya tersenyum sambil lalu meninggalkan Pria itu.
"Hey, tunggu!" Pria itu memanggil perempuan yang wajahnya sudah tidak asing baginya.
Pria itu terus mengejar, semakin jauh ia mengejar namun, perempuan itu lenyap dari pandangan.
Tiba-tiba datang Dua orang pria berjubah hitam datang menghampiri pria paruh baya itu.
Kedua lenganya dicekal dengan kasar, tubuhnya diseret oleh Dua orang yang mirip dengan Algojo.
"Tolong lepasin saya! Saya mau dibawa kemana?"
Tidak ada Satu pun dari Dua sosok menyeramkan itu menghiraukan.
"Tempat kamu sekarang di sini!" seru dari salah satu Algojo tersebut. Cekalan tanganya dilepas dan melemparkan Pria itu kembali ke dalam jurang yang curam.
"Tiiiiiidaaaaaaaaakkkk ... "
.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Jangan lupa tinggalkan Like, Komen dan Votenyaππ
__ADS_1
Tidak lupa juga Author ngucapin terima kasih buat para readers setiaku yang sudah ikhlas menyumbang poin maupun koin untuk Author receh seperti saya...ππ*