
Di ruangan Hafiz. Beberapa kali Khadija mengganti channel acara di Televisi, tak Satupun dari program yang ditayangkan mampu membuat ibu hamil itu bertahan untuk tetap menonton. Sampai akhirnya tombol berwarna merah menjadi pilihan terakhir.
Bosan! Satu kata yang kini di rasakan oleh Khadija. Tak ada kegiatan yang bisa ia lakukan selain harus menunggu sang suami menyelesaikan tumpukan pekerjaan.
Beberapa kali Perempuan itu melirik ke arah sang suami yang tengah sibuk membubuhkan coretan tinta hitam di atas lembaran-lembaran putih yang terhampar di atas meja.
Ingin sekali Khadija menghampiri suaminya. Namun, jika mendekat itu artinya ia mengganggu pekerjaan sang suami dan membuyarkan konsentrasi Pria yang memakai kacamata saat bekerja. Karena itu Khadija mengurungkan niatnya. Dengan terpaksa ia putuskan untuk menunggu tanpa melakukan sesuatu.
Hanya diam duduk manis di sofa, mata lentiknya menatap lekat ke arah mahluk yang yang begitu menawan hati setiap insan yang melihat. Tangan lembutnya membelai perut yang masih rata, lengkungan sudut bibirnya terangkat sempurna.
Ternyata memandang suaminya jauh menyenangkan di bandingkan menonton acara di televisi, pikir Khadija baru menyadari.
Bersyukur dan bahagia yang dirasakan Perempuan itu kini. Untuk kedua kalinya Tuhan menitipkan benih hasil karya Pria dihadapanya.
Terima kasih Ya Alloh, engkau telah mengirimkanya untukku dan menitipkan keturunanya di dalam rahimku.
Merasa ada yang memperhatikan, Hafiz sejenak mengalihkan pandangan.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Hafiz melihat sang istri tengah senyum-senyum sendiri, menatapnya.
Khadija menggeleng tanpa mengalihkan tatapanya, "Ndak papa," jawabnya singkat.
Tidak seperti biasa, merasa ada yang berbeda dari tatapan istrinya. Hafiz merasa curiga.
"Bund, kamu gak papa kan?" tanya Hafiz sekali lagi, mendekat duduk di samping sang istri. Punggung tanganya ditempelkan di kening perempuan itu.
"Aku ndak sakit kok Mas," ucap Khadija memperjelas, masih dengan senyum manis yang terulas.
Grep...
Dengan tiba-tiba Khadija memeluk Pria itu. Hafiz pun terkejut di buatnya. Pasalnya Perempuan itu tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
"Aku sayang kamu Mas," ucap Khadija.
Seperti mendapat Durian runtuh bahkan lebih dari itu, untuk pertama kali Hafiz mendengar pernyataan cinta dari Khadija.
"Bahkan, aku lebih dulu menyayangimu," balas Hafiz masih berada di pelukan sang istri tercinta.
"Mas aku mau ... "
"... Mau apa sayang?" Dengan semangat Hafiz menjawab sambil melepas rangkulanya.
Hafiz sudah siap jika perempuan itu menginginkan sesuatu lebih dari apa yang dilakukanya saat ini.
Tak sabar menunggu jawaban sang istri, Pria itu perlahan mendekatkan wajahnya bermaksud memberikan pemanasan sebelum mereka melakukanya.
"Aku mau pipis Mas," jawaban tak terduga dari Khadija. Perempuan itu berusaha menahan buang air kecil saat sang suami begitu lama tidak melepas pelukanya.
Seketika Hafiz menarik wajahnya kembali, menahan kekecewaan. Apa yang ia duga ternyata salah.
Khadija pun segera mengangkat tubuhnya, berlalu menuju kamar mandi yang ada di dalam ruangan suaminya.
Lima menit kemudian Khadija kembali. Tampak Hafiz kembali duduk di kursi kebesaranya, sambil membereskan kertas yang berserakan di atas meja.
"Masih lama?" tanya perempuan itu duduk dihadapan suaminya.
Pria itu tersenyum. Mengusir rasa kecewa, "Sudah sayang,"
"Sudah ndak ada acara lagi kan?"
"Kenapa?"
"Pulang,"
"Yuk!"
Ting...
"Sebentar Mas," cegah Khadija saat hendak keluar dari ruangan. Tanganya merogoh ponsel yang ada didalam tas.
Sejenak ia membaca pesan masuk dari seseorang, [Akad nikah besok dilaksanakan di Masjid At Taqwa, jam 08.00, jangan lupa datang ya?]
"Dari siapa Bund?" tanya Hafiz setelah Khadija memasukkan kembali ponselnya.
"Mas Haikal ..."
"... Ngapain dia sms kamu? Pasti dia mau modus. Emang gak tau diri si Haikal, udah mau nikah masih aja gangguin istri orang. Awas aja kalau ketemu!" terka Hafiz dengan sungutnya.
Khadija tercengang mendengar cibiran suaminya.
Plak ...
Khadija memukul lengan Pria yang berdiri di sampingnya.
"Auuww," rintihnya sambil mengusap-usap lengan yang terasa sedikit panas, "Kok kamu belain dia sih Bund?" balas Hafiz tidak terima.
"Astagfirullohaladzim Mas, bisa ndak berhenti Su'udzon?" Khadija menghembuskan nafas pendek, "Mas Haikal itu ngasih tau tempat dan waktu Akad nikahnya besok," jelas Khadija. Perempuan itu mengambil kembali gawainya lalu memberikan kepada suaminya.
"Ini di baca," titah Khadija.
"Lagian kenapa gak sms ke aku aja?" tanya Hafiz setelah membaca pesan singkat dari Haikal yang dikirim ke istrinya.
Khadija menggelengkan kepala, mengambil kembali ponsel yang ada di tangan Pria yang masih menunggu jawaban darinya.
Alih-alih Perempuan itu menjawab, ia justru berlalu melewati sang suami tanpa permisi. Lebih baik menghindar dari pada perdebatan akan berbuntut panjang.
"Sayang tunggu!" Hafiz mengejar sang istri yang terlebih dahulu meninggalkanya.
__ADS_1
***
"Dek, kamu mau pulang sekarang?" Secara tak sengaja Khadija bertemu dengan Aisyah dan Aslan di parkiran.
"Iya Mbak, lagian aku udah enakan kok." Aisyah tersenyum sambil membelai perutnya yang sudah terlihat sedikit menonjol. Menandakan kondisinya sudah lebih baik dari sebelumnya.
"Mas, besok kamu bisakan hadir ke acara akad nikahnya Mas Haikal?" tanya Khadija beralih pada Aslan.
"Oke, Insyaalloh," Aslan mengacungkan jempolnya, "Nanti chart aja tempat dan waktunya."
"Masjid At Taqwa, besok jam 08.00," timpal Hafiz, sudah berdiri di belakang Khadija. "Sekalian kasih tau juga, Dio." lanjut Hafiz pada Aslan.
"Gw udah denger," sahut Dio dari arah belakang Hafiz dengan menggandeng istri dan anaknya.
"Lho, Mbak Clara ada disini juga to?" Khadija menunjuk ke arah Perempuan cantik yang ada digandengan Dio.
"Iya, tadi habis jemput Nio di sekolah, terus dia ngajakin ketemu Papinya." jelas Clara.
"Tante cantik apa kabar?" sapa Nio, mencium tangan Khadija. Nio yang kini sudah duduk di kelas Tiga SD, sudah terlihat besar dan tidak manja seperti pertama Khadija bertemu.
"Baik sayang," Khadija mengusap puncak kepala Nio.
"Hhhhmmm ... Kita sekarang di lupain Lan, sama ni bocah," sindir Hafiz.
"Iya Rel, padahal dulu kalo ketemu selalu teriak-teriak Om Alan, Om Elel," imbuh Aslan meniru ucapan Nio saat masih balita
"Sorry Nio cuma liatnya yang cantik-cantik doang!" jawab Nio cuek, beralih mencium tangan Aisyah.
"Gemesin deh kamu," Aisyah mencubit pelan pipi Nio.
Meskipun sikapnya terkesan menjengkelkan namun, Nio masih terlihat lucu dan menggemaskan di mata orang-orang terdekat Papinya.
"Gimana Bang jadi pulang sekarang?" tanya Fino pada Aslan yang baru datang entah dari mana.
"Wah, ini baru kembaran Nio?" celetuk Nio melihat sosok Pria asing yang baru bergabung.
Semua orang menunjukan ekspresi yang sama, melihat sikap Nio yang sok kenal, sok dekat. Sama-sama menahan tawa.
Terkecuali Fino yang mengerutkan keningnya. Pria berparas bule itu tidak mengerti apa maksud ucapan mahluk kecil yang sedang bertolak pinggang menatapnya.
"Kenalin Om, aku Nio," Dengan Pe_De-nya Nio memperkenalkan diri.
Meskipun masih bingung, Fino tetap menyambut uluran tangan bocah kecil itu, "Fino,"
"Tuh kan dari nama aja udah hampir mirip," ucap Nio jumawa. Membuat semua orang tertawa akan tingkahnya.
"Lama-lama ni anak ngeselin," Hafiz mengangkat tubuh Nio.
"Buang aja Rel!" sahut Aslan memprovokasi.
Hafiz pun menurunkan kembali tubuh Nio yang sudah bertambah berat.
"Oke, berarti sekarang kita kembar," sambut Fino mensetujui gurauan Nio dengan mengangkat jari kelingking.]
"Deal!" Nio menautkan jari kelingkingnya.
"Pacar aku mana, kok gak kelihatan?" Nio kembali bersuara. Seketika membuat segerombolan orang dewasa saling tatap, mengisyaratkan siapa yang dimaksud bocah kecil itu.
"Siapa?" tanya sang Papi pada putranya.
"Zahra," Nio menaik turunkan alisnya.
"HAH," seru semua orang bersama-sama.
Hafiz dan Khadija membulatkan mulut dan mata, mendengar jawaban Nio yang menyebut nama Putri mereka.
"Masih ingusan juga, udah mikirin pacaran," cibir Aslan.
"Lagian Om Carel gak bakal ijinin Zahra pacaran sama kamu," ucap Hafiz pura-pura ketus. "Kamu kan nakal," sambungnya meledek.
"Huwaaaa ... Papi, Mami Om Elel nakal," tunjuk Nio sambil menangis. Tidak terima disebut sebagai anak nakal.
"Mas!" Khadija menyenggol perut suaminya. Karena telah membuat anak sahabatnya menangis.
"Sudah, sudah Om Carel hanya bercanda kok," ucap Clara menenangkan putranya.
"Lagian masih kecil itu gak boleh pacar-pacaran," ujar Dio, mengangkat tubuh Nio ke atas gendonganya.
Selalu ada keseruan yang tercipta ketika Nio kecil berada di antara mereka. Tingkah serta celoteh yang ia ciptakan selalu mengundang tawa.
Karena waktu sudah menunjukan jam makan siang atas usulan dari Hafiz, mereka pun memutuskan untuk makan siang bersama di Restauran yang terletak tidak jauh dari Rumah Sakit.
Setelah masuk dan mengambil posisi duduk masing-masing, lalu mereka semua memesan makanan yang di kehendaki. Sambil menunggu pesanan datang, kembali mereka melempar gurauan satu sama lain.
Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya makanan yang di pesan pun datang dan di hidangkan. Tertata rapi diatas meja.
Tidak ada kata tenang dan khidmat saat menikmati makan bersama, jika Tiga serangkai sedang berkumpul. Celetukan tak berfaedah selalu mewarnai kebersamaan mereka.
Makan siang pun selesai. Masing-masing pasangan berjalan beriringan keluar dari Restaurant, tak terkecuali dengan Fino yang beberapa saat yang lalu mengukuhkan diri sebagai kembaran Nio. Ia pun berjalan sambil menggandeng bocah kecil itu di depan Aslan dan Aisyah.
"Mas tunggu sebentar," ucap Khadija saat ia dan suaminya hendak masuk ke dalam mobil.
Sepasang mata Khadija tertuju pada seorang pria tua, tengah duduk berselonjor dibawah pohon.
"Assalamualaikum," ucap Khadija menghampiri pria tua itu.
"Waalaikumsalam," jawab orang itu dengan nafas tersengal-sengal.
__ADS_1
"Bapak kenapa?" tanya Khadija berjongkok mensejajarkan diri.
"Hanya kecapean Neng, habis jualan keliling," jawab pria tua itu sambil mengibas-ngibaskan topi lusuh yang ia copot dari atas kepala untuk menambah asupan udara masuk ke hidung.
Khadija menatap iba pada orang tua renta di hadapanya. Kemudian beralih menatap pada gerobak yang bertumpu di atas sepeda gayung yang sudah usang. Di usianya yang tidak lagi muda Bapak itu masih bersemangat untuk mencari nafkah.
"Kanapa sayang?" tanya Hafiz yang berdiri di belakang Khadija. Pria itu merasa penasaran melihat sang istri begitu serius sedang berinteraksi dengan orang asing.
Hafiz memutuskan untuk menyusul istrinya untuk menjawab rasa penasaran di hatinya.
Khadija berdiri dan berbisik di telinga sang suami dengan sedikit berjinjit.
"Hah, kamu serius Bund?" Hafiz tampak terkejut setelah mendapat bisikan dari sang istri.
Khadija tersenyum sembari membelai perutnya, "Ini si Dedek lho Mas yang minta?" Sejenak Hafiz menimang permintaan Istrinya.
Jika sudah menyangkut si calon bayi, Hafiz tidak bisa berkutik lagi.
"Rel, ngapain lho di situ?" seru Aslan, membuka kaca jendela mobil bagian belakang tempatnya duduk. Fino yang menjadi supirnya.
Ide cemerlang muncul dari otak cerdas yang di miliki Hafiz, "Turun lo sini," Hafiz membuka pintu mobil Aslan lalu menariknya secara paksa. "Fin, lo juga," perintah Hafiz.
Tiiinn...Tiiinnn...
Bunyi klarkson mobil Dio menggema, memberi tanda untuk kendaraan di depanya tidak menggahalangi laju mobilnya.
"Turun dulu Yo," Dio pun tidak luput dari rencana yang akan di jalankan Hafiz.
Dio pun turun dari mobil, mendekat kearah Hafiz, Aslan dan Fino yang sedang menunggunya Hafiz kemudian menjelaskan rencana yang di gagas Khadija, istrinya.
"Yang bener aja lo!" seru Dio.
"Kenapa gak lo borong aja sih?" Imbuh Aslan.
"Ya udah, anggap aja kita bakti sosial. Sekalian biar ikut marasakan betapa susahnya cari uang seperti yang Bapak itu rasakan. " timpal Fino.
Hafiz menjentikan jarinya, tersenyum sumringah, "Nah itu maksud gw. Thanks Fin, udah bantu jelasin ama Dua manusia dodol ini!" Hafiz merangkul bahu Fino dari samping.
Setelah semua sepakat, dengan meminta izin kepada para istri, Aslan dan Dio mengembalikan mobilnya kembali ke parkiran.
Clara dan Aisyah pun ternyata mendukung rencana Khadija untuk membantu menjajakan cilok pedangang tua itu.
Hafiz dan Dio mulai bersiap sambil menggulung kemeja panjang mereka sebatas siku, begitu pula dengan Aslan, meski tampilanya lebih santai dari kedua sahabatnya namun, terlalu rapi untuk seorang pedagang cilok. Berbeda dengan Fino yang hanya memakai celana pendek selutut dengan kaos oblong berwarna putih. Nio yang masih menggunakan segaram Merah putih tampak antusias membantu para Pria dewasa tanpa bisa di cegah.
Para istri menunggu para suami duduk di bawah pohon, sambil menemani pedagang sesungguhnya yang tengah beristirahat.
"Tidak usah Neng, Bapak gak enak jadi merepotkan suami-suami Neng," ucap Bapak pedagang merasa tidak enak hati.
"Ndak papa Pak, Bapak tenang saja," kata Khadija
"Bapak istirahat aja dulu disini," sahut Clara.
"Mending Bapak makan dulu," Aisyah menyodorkan sekotak nasi, yang baru ia beli dari Restaurant.
Keempat Pria itu tampak kebingungan, bagaimana cara menjajakan cilok yang terlihat masih penuh di dalam panci yang bertengger di atas gerobak.
"Gimana ini Rel, Lan?" tanya Dio
Aslan mengangkat kedua bahunya, tidak mengerti. Hafiz masih tampak berfikir bagaimana cara memasarkan ciloknya agar cepat Habis.
Diam-diam Fino dan Nio pun ikut berfikir.
"Aha ..." seperti mendapat pencerahan dari lampu bohlam yang tak kasat mata, Nio mendapat ide brilian.
Keempat pasang mata para Pria dewasa tertuju pada bocah kecil yang sudah memposisikan diri berdiri di tepi jalan.
"Ayo-ayo, para Ibu-Ibu, Kakak-kakak, adek-adek mari merapat kesini membeli cilok yang langsung di layani oleh Tiga kang cilok yang ganteng-ganteng, dan bonus foto bareng bersama kembaran Abang Shawn Mendes ..."
Begitulah kalimat promosi yang di lontarkan Nio. Keempat Pria dewasa hanya diam melongo.
Tidak disangka, strategi marketing bocah ingusan itu berhasil. dalam waktu sekejap para pembeli yang mayoritas para ibu-ibu dan para remaja pelajar putri yang mendengar lengkingan suara Nio, seketika datang berbondong-bondong menghampiri gerobak yang bertuliskan "Cilok Inul".
Speechles, Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan ekspresi Keempat Abang-abang cilok dadakan.
Riuh suara pembeli yang di dominasi para kaum Hawa membuat Hafiz, Aslan dan Dio kuwalahan.
Mereka bertiga saling berbagi tugas menghadapi para konsumen yang berjejal memenuhi lapak terbuka yang ada di pinggir jalan. Tak pelak pemandangan ini menjadi pusat perhatian para pengguna jalan.
Fino yang bertugas melayani para pembeli untuk bersua foto pun di buat jengah. Banyak dari mereka yang memeluk, bahkan minta di peluk sebagai bonus.
Para Istri dan pedagang asli yang memperhatikan dari kejauhan di buat terpingkal-pingkal dengan ide jahil Nio untuk menarik konsumen.
Kurang dari Satu jam cilok pun ludes terjual. Keringat yang bercucuran akibat sengatan terik matahari di siang bolong tergantikan oleh usapan lembut dari para istri tercinta.
Hanya Fino yang meratapi kesendirianya tanpa ada seseorang yang megusap peluh di wajahnya.
"Pake ini Om," Uluran tissue dari tangan kecil yang berdiri di depanya.
Fino menyambut seraya tersenyum menampakan gigi putih rata miliknya.
"Sabar Om. Suatu hari pasti datang Mimi Peri yang akan mengisi kekosongan hati." Kata-kata bijak namun, tidak enak di dengar keluar dari mulut bocah kecil yang duduk disebelah Fino.
Fino terbahak ketika mendengar nama Mimi Peri di ucapkan, "Makasih ya atas doanya." ucap Fino mengacak ujung kepala Nio.
Meski hanya lelah yang mereka dapatkan tetapi disisi lain mereka bisa memetik hikmah dan mendapat banyak pembelajaran dari sebuah arti kehidupan dan memupuk kepedulian terhadap sesama.
Selalu bersyukurlah dengan apa yang kita miliki saat ini. Diatas langit masih ada langit dan dibawah bumi masih ada bumi.
__ADS_1