Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Dunia Haikal dan Alina


__ADS_3

Setelah mendapat kabar jika Alina dilarikan kesebuah klinik karena pingsan, Hafiz, Dio, Aslan dan para istri berbondong-bondong datang menghampiri ke klinik dimana Alina di rawat.


Derap langkah keenam pasang kaki saling bersahutan berjalan menyusuri koridor menuju kedua laki-laki yang sedang duduk didepan sebuah ruangan.


Haikal dan Fino yang melihat keenam orang yang baru saja datang berjalan mendekat, keduanya pun berdiri menyambut.


"Gimana keadaan Alina Fin?" tanya Hafiz cemas. Meski dalam keseharian ia tampak cuek pada mantan istrinya itu, tapi sebagai sahabat masa kecil, Hafiz tetap merasa khawatir jika terjadi sesuatu terhadap perempuan yang tengah terbaring lemah di dalam sana.


"Belum tau Bang, soalnya Alina masih belum siuman," jawab Fino, menggeleng lemah.


"Kok bisa, Alina pingsan?" desak Hafiz karena tadi pagi ia melihat perempuan itu masih kelihatan baik-baik saja, tidak seperti orang sakit.


"Maaf, sebenarnya ..."


Baru saja, Haikal ingin menjelaskan sesuatu, tapi ucapanya keburu terpotong ketika seseorang dari dalam ruangan membuka pintu.


Ceklek,


Semua orang terkejut, baru saja Fino mengatakan jika perempuan yang ada di dalam ruangan itu belum siuman, tetapi tidak disangka seseorang yang sedang membuka pintu itu adalah Alina yang sudah terbangun, sadar.


"Kok, semua ada disini?" tanya Alina sambil memegang keningnya yang masih terasa sedikit berat. Namun, ruam kemerahan yang ada di wajahnya sudah menghilang, mungkin karena efek dari pemberian obat anti alergi.


Haikal yang berada tepat disebelah pintu, dengan sigap memegang lengan Alina, ia takut perempuan itu masih belum kuat menopang tubuhnya.


"Kenapa kamu keluar?" tanya Haikal.


Dan semuanya pun serempak menyerukan hal yang sama agar Alina kembali masuk, dan berbaring.


Alina tersenyum, "Aku udah gak papa kok, yuk kita pulang aja," ajaknya semangat. Bukan karena tubuhnya yang sudah merasa membaik, tapi Alina sangat senang mendapat perhatian dari Haikal. Ternyata ada untungnya juga ia pingsan.


Akhirnya setelah membayar adminitrasi yang semula akan di bayarkan oleh Hafiz, tetapi langsung di cegah oleh Haikal, karena apa yang di alami Alina semua gara-gara dia, jadi Haikal merasa dirinyalah yang harus bertanggung jawab.


Sesampainya di Villa Alina di bawa ke kamar dengan di temani oleh Khadija, Aisyah dan Clara.


Sedangkan Haikal kembali ke kamar, untuk melihat putrinya yang sudah tertidur.


Hafiz, Dio dan Aslan, mereka berkumpul di ruang tengah sambil mengawasi Khumaira dan Dira yang sedang bermain lari-lari bersama Sari.


Sedangkan Fino duduk sendiri termenung di teras Villa. Pria bule itu merasa ada yang aneh melihat sikap Alina terhadap Haikal. Selama mereka liburan bersama, diam-diam Fino memperhatikan sikap berlebihan dari perempuan yang tengah di incarnya. Alina selalu menampakkan rona bahagia bila sedang bersama duda beranak satu itu.


Apakah Alina memiliki rasa terhadap Haikal? Pertanyaan yang terlintas di benak Fino.


"Hayo, jangan bengong," suara Leni mengagetkan Fino yang sedang melamun.


Fino sedikit mengangkat wajahnya, melihat kearah Leni yang sudah berdiri di sampingnya, "Eh, kamu Len, ngagetin aja,"


"Ini Mas, makan dulu, belum sarapan kan?" Leni meletakkan sepiring nasi lengkap dengan lauk pauknya di atas meja depan Fino. Lalu mengambil duduk di kursi tunggal yang ada di sebelah pria itu.


"Jadi nggak enak ngerepotin?" ucap Fino basa-basi. Sebenarnya pria itu sedang tidak nafsu makan karena hatinya sedang gamang memikirkan perasaan Alina sesungguhnya untuk siapa? Namun, disisi lain ia merasa tidak enak hati menolak kebaikan Leni.


Dengan terpaksa, Fino mengangkat piring itu lalu menyendokan makanan masuk kedalam mulutnya.


Sembari bertopang dagu, Leni tersenyum memperhatikan Fino yang sedang makan, meski terlihat tidak begitu lahap.


Sadar sedang di perhatikan, Fino mengalihkan pandanganya menengok kesamping, melihat Leni tengah senyum-senyum sendiri menatap ke arahnya.


"Len, kamu kenapa?" tanya Fino sambil mendadakan tangan tepat di depan wajah Leni.


"Eh," Leni terkesiap, "Gak papa kok Mas," Perempuan itu gugup, lalu bangkit dari kursi segera berlalu menyembunyikan pipinya yang sudah memerah karena malu kepergok diam-diam sedang mencuri pandang.

__ADS_1


"Dasar cewek aneh," gumam Fino sambil menggelengkan kepala setelah kepergian Leni.


____


Sore hari,


Ketiga pasangan turun dari lantai atas dengan menggunakan pakaian santai lengkap dengan jaket, karena semakin sore udara semakin dingin. Sore ini mereka mengagendakan akan melihat Sunset dari atas bukit.


"Mas, kamu gak ikut?" tanya Khadija menghampiri Haikal yang sedang menemani putrinya menonton di ruang tengah.


"Enggak Dek, soalnya aku habis ini mau mengoreksi tugas-tugas dari mahasiswa," tolak Haikal halus.


"Yaelah Kal, kita itu lagi liburan, santai dulu Bro," sahut Aslan.


"Maunya sih gitu? Tapi, gimana lagi udah tuntutan profesi," kata Haikal sambil tersenyum.


"Ya sudah, Elif mau ndak ikut tante?" tawar Khadija beralih pada gadis kecil yang berada di pangkuan ayahnya. "Gak papa kan Mas, kita ajak Elif?" lanjut Khadija meminta izin suaminya, agar Haikal bisa mengerjakan tugasnya.


"Iya gak papa," jawab Hafiz tersenyum ke arah istrinya. Pria itu lebih rela jika Elif yang ikut ketimbang bapaknya.


"Gimana Mi, Alina jadi ikut?" sambut Dio melihat istrinya yang baru datang dari arah kamar Alina.


"Nggak katanya Pi, badanya masih lemes," jawab Clara.


"Bapak-bapak, Ibu-ibu ... Tungguin, Sari ikut," teriak Sari saat baru keluar dari kamar melihat ketiga pasangan itu sudah beranjak pergi menuju pintu keluar.


Lantas di mana Fino dan Leni? Fino sudah menunggu di luar terlebih dahulu sembari mengajak bermain keponakanya, selagi Aslan dan Aisyah bersiap-siap. Sedangkan Leni juga menemani Fino, gadis itu sangat gencar mencuri-curi kesempatan untuk mendekati pria blasteran itu.


____


Prank ...


Entah apa yang ada di pikiran Haikal, tanpa permisi pria itu langsung membuka pintu kamar Alina yang tidak terkunci.


"Mas Haikal?" Alina terkejut, menegakan wajahnya melihat Haikal tiba-tiba membuka pintu kamarnya. Ia mengira para penghuni Villa sedang pergi, dan hanya ia yang tertinggal.


"Kamu nggak kenapa-napa kan Lin?" Haikal balik bertanya dengan wajah panik. Dilihatnya perempuan itu sedang berjongkok memungut pecahan beling gelas yang pecah.


"Nggak papa kok Mas," kata Alina. Setelah mandi dan menggunakan lotion, perempuan itu hendak meminum obat dan secara tidak sengaja menjatuhkan gelas tersebut, karena tanganya licin, "Cuma gelas jatuh,"


Sedikit lega, ternyata Alina dalam keadaan bsik-baik saja. Haikal lalu pergi kebelakang untuk mengambil sapu dan jengki, kemudian kembali ke kamar Alina.


Setelah itu dengan mengucap permisi Haikal kembali ke kamar Alina. Tidak memiliki maksud apa-apa ataupun mencari kesempatan dalam kesempitan, karena Haikal bukanlah type pria seperti itu, ia hanya ingin membantu membersihkan serpihan-serpihan beling tersebut, itu saja. Tidak lebih.


"Mas," panggil Alina, ketika Haikal hendak keluar sambil membawa sapu dan jengki yang ada di tangan.


Haikal pun berbalik, "Ya, ada apa Lin?"


Alina tidak menjawab, tetapi perempuan itu berjalan mendekat ke arah Haikal, "Aku mau ngomong sesuatu, boleh?" pintanya dengan intonasi pelan.


Haikal mengangguk mempersilahkan, "Tapi, kita ngobrolnya di luar saja," ajaknya keluar dari kamar untuk menghindari fitnah setan.


Kemudian Alina mengikuti Haikal dari belakang, lalu pria itu meminta izin sebentar untuk mengembalikan alat kebersihan tersebut ke tempat semula.


"Silahkan, kamu mau ngomong apa?" tanya Haikal setelah kembali dan duduk bersebrangan dengan Alina di meja makan.


"A--aku sebenarnya ..." ucap Alina terbata dengan wajah tertunduk, bola matanya bergerak memutar, bimbang mempertimbangkan apa yang akan ia katakan. Karena memang keinginanya ini datang secara mendadak.


Haikal mengernyit, menunggu Alina meneruskan kalimatnya, "Kenapa Lin?" tanya Haikal lagi, ketika melihat ekspresi wajah Alina yang seperti orang kebingungan.

__ADS_1


Alina mengambil nafas panjang berkali-kali, mengumpulkan asupan oksigen, agar fungsi kerja otak di kepalanya mampu membantu mengungkapkan isi hati yang sudah tidak mampu lagi ia pendam.


Inilah waktu yang tepat baginya mengatakan semuanya sebelum terlambat. Lebih baik ia mengetahui lebih awal, sebelum rasa cinta itu tumbuh semakin dalam, karena akan jauh lebih menyakitkan jika akhirnya tahu mencintai dalam kesendirian.


Melihat kemajuan sikap yang ditunjukan Haikal akhir-akhir ini, lebih tepatnya semenjak Dua hari terakhir, membuat Alina mendapat sedikit keyakinan, kalau Haikal memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Terlalu cepat menyimpulkan memang, tetapi lebih baik seperti itu. Segala sesuatu yang belum pasti akan terwujud apa bila terlebih dahulu diyakini, persepsi Alina.


"Aku cinta sama kamu Mas," ungkap Alina dengan sekuat tenaga sambil memejamkan mata, bersiap mendengar apapun jawaban yang keluar dari mulut Haikal.


Hingga Sepuluh detik berlalu, keduanya terdiam tidak ada yang membuka suara, Alina masih tertunduk dengan mata terpejam.


Haikal masih mencerna ucapan perempuan di hadapanya. Seorang Haikal yang memiliki otak cerdas, seketika menjadi Blank mendengar ungkapan cinta dari seorang wanita. Dan itu merupakan kali pertama dalam seumur hidupnya.


Bahkan dulu, waktu Haikal masih menjalin hubungan spesial dengan Khadija, tidak pernah ada ungkapan cinta yang tercetus secara langsung dari keduanya. Hingga akhirnya memutuskan untuk ke jenjang yang lebih serius, semua mengalir begitu saja. Seiring berjalanya waktu cinta yang tumbuh sudah bisa dirasakan tanpa perlu di ucapkan. Dan Haikal bukanlah pria yang pandai mengungkapkan isi hatinya lewat kata-kata.


Apalagi pernikahanya dengan sang mantan istri, Mihrima, yang dilandasi karena sebuah kesalahan. Keduanya tidak pernah mengungkapkan isi hati satu sama lain, sampai akhirnya memutuskan untuk berpisah. Mungkin itu yang melatar belakangi kembalinya Mihrima pada mantan kekasihnya. Namun, kini Haikal sudah cukup bahagia akan kehadiran Elif, sang buah hati tercinta.


"Kamu yakin, dengan apa yang kamu katakan Lin?" tanya Haikal membuka suara. Ada rasa tidak percaya, bagaimana mungkin dalam waktu singkat perempuan itu memiliki rasa cinta yang begitu cepat.


Perlahan Alina membuka mata, dan mengangkat kembali wajahnya, menatap pria di hadapanya. Hatinya merasa lega karena Pria itu masih merespon ucapanya, meski belum tahu jawaban sesungguhnya, "Iya Mas," ucapnya penuh keyakinan.


Haikal kembali terdiam, ia bingung apa yang harus ia katakan untuk menjawab ungkapan cinta dari Alina. Tampaknya kebaikanya selama ini di salah artikan oleh janda sexy itu.


Ingin menjawab tidak, tetapi Haikal tidak sampai hati. Mengatakan iya pun, Haikal sendiri masih belum sepenuhnya mengerti apa yang ia rasakan saat ini.


Dengan mengucap Bismillah dari dalam hati Haikal berkata, "Maaf Lin, aku tidak memiliki rasa yang sama seperti-Mu,"


Alina mengangguk pasrah. Wajahnya pun kembali tertunduk kecewa, tetapi paling tidak ia kini sudah tau bagaimana perasaan Haikal terhadapnya dan waktunya ia akan melupakan semuanya, walau itu tidak mudah.


Kemudian Alina permisi, karena ia sudah tidak sanggup lagi berlama-lama menatap orang yang sudah membuat hatinya kecewa.


"Tunggu Lin," cegah Haikal membuat langkah Alina terhenti tanpa berbalik.


Haikal ikut berdiri, lalu berjalan melewati Alina dan berhenti tepat di hadapan perempuan itu, "Tapi, izinkan aku untuk berusaha membalas rasa cinta itu," ucap Haikal memegang kedua ujung bahu Alina.


Seketika Pupil mata Alina melebar tak percaya dengan apa yang ia dengar baru saja. Meskipun bukan itu jawaban yang ia mau sebenarnya, tetapi paling tidak jawaban itu sudah cukup membuat hati Alina lega. Ada harapan untuknya sambil terus berusaha membuat pria itu jatuh hati kepadanya. Perjuangan kembali di mulai.


"Kamu serius Mas?"


"Iya,"


"Aaaa ..."


"Eits," Haikal menggoyangkan jari telunjuknya kekanan-kekiri, dan satu tanganya menahan bahu Alina yang akan berhambur ke pelukanya, "Belum Muhrim," ucapnya mengingatkan


"Ups, Sorry," saking bahagianya, Alina lupa dengan predikat pria alim yang di sandang Haikal.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen dan Votenya ya...😘😚☺


__ADS_2