
03.00 Sore
Tak ada kata-kata yang mampu menggambarkan betapa bahagianya Hafiz saat ini. Disaat ia harus merelakan orang yang dicintainya untuk orang lain, saat itu juga ia mendapatkan cintanya kembali.
Kun Fayakun, kalimat sakti Alloh atas kehendakNya. Kalimat itu pulalah yang mengubah hidup Hafiz dalam sekejap.
Hafiz dan Khadija kini telah kembali sah menyandang status sebagai suami istri. Setelah menikah Hafiz memboyong Khadija serta sang buah hati, Zahra pulang ke Apartemen mewahnya.
"Sayang, sekarang Princes dan Bunda tinggal disini bersama Papa." ucap Hafiz pada Zahra yang berada di gendonganya saat baru masuk kedalam Apartemen.
"Benelan Pa? Yeay...Plinces bisa telus baleng Papa dong?" Zahra bersorak sambil mengangkat tanganya ke udara. Hafiz mencium gemas tingkah lucu Putri kecilnya itu.
Khadija mengekor dibelakang suaminya. Mengikuti langkah Hafiz menuju kamar Zahra yang sudah Hafiz persiapkan sebelumnya. Manakala putribya itu ingin menginap bersamanya. Namun, sekarang kamar itu akan selalu berpenghuni setiap harinya.
"Nah sekarang Princes main dulu, Papa udah siapkan mainan yang banyak buat Zahra," Hafiz menurunkan Zahra dari gendonganya. Mata Zahra berbinar melihat berbagai macam boneka dari segala ukuran berada diatas kasur yang berbentuk kepala Hello kitty, karakter kesukaanya.
Hafiz dan Khadija tersenyum melihat betapa bahagianya sang buah hati.
Kemudian Hafiz dan Khadija meninggalkan Zahra yang tengah asik bermain bersama bonekanya menuju kamar utama.
"Sayang ayo masuk, ini kamar kita,"
Tak ada pergerekan dari Khadija, langkah kakinya terhenti saat akan masuk kedalam kamar Hafiz, suaminya.
Hafiz yang menyadari tak ada orang dibelakangnya, kembali berbalik mendekat ke arah Khadija.
"Kamu kenapa, heum?" Kedua tangan Hafiz memegang kedua sisi lengan istrinya.
Khadija hanya menggeleng, lalu digamitnya tangan perempuan itu, menuntunya masuk ke dalam kamar.
Hafiz membimbing Khadija duduk di tepi ranjang.
"Aku tau, kamu masih belum bisa menerima kenyataan ini," Hafiz merubah posisinya, berlutut sambil menggenggam erat tangan istrinya.
Hafiz mengerti jika Khadija masih belum bisa menerima kehadiranya kembali di hidupnya.
"Aku minta maaf, aku belum bisa mencintaimu lagi Mas?" ucap Khadija jujur. Ia masih belum bisa melupakan sosok Haikal dari dalam hatinya.
Hafiz tersenyum hangat, mendengar kejujurun istrinya. Meski ada sedikit nyeri di dalam hati, bagi Hafiz dengan adanya Khadija berada disampingnya saat ini sudah lebih dari cukup untuk mengobati kerinduanya selama ini.
"Tidak apa-apa sayang. Sekarang izinkan aku untuk memenangkan hatimu kembali." ucap tulus Hafiz, mencium kedua punggung tangan istrinya.
"Makasih Mas," balas Khadija tersenyum.
"Sudah masuk waktu Ashar, aku mau mandi dulu, setelah itu kita Sholat berjamaah," Hafiz kembali berdiri dan beranjak ke kamar mandi.
Begitu juga dengan Khadija ikut berdiri. Sambil menunggu suaminya selesai mandi, Khadija merapikan baju-bajunya ke dalam lemari yang sebelumnya ditunjukan oleh sang pemilik kamar.
Khadija pun menyiapkan baju untuk suaminya, masih sama seperti dulu sebelum mereka berpisah.
Dug...
Saat Khadija berbalik badan, tiba-tiba tubuhnya menabrak sesuatu yang keras dan basah.
"Astagfirullohaladzim ..." pekik Khadija terkejut melihat tubuh besar suaminya yang berdiri tepat dihadapanya dengan bertelanjang dada dan hanya berlilitkan handuk dipinggangnya. "Cepet pake bajunya Mas?" Khadija menutup mata dengan sebelah tangan, dan tangan satunya mengulurkan baju yang sudah ia ambil dari lemari sesaat sebelum suaminya itu kembali.
Hafiz terkekeh melihat tingkah istrinya. Wajar ini kali pertama untuk Khadija melihat secara Live bentuk tubuh atletis dari suaminya. Karena dulu Hafiz tidak pernah mempertontonkan tubuhnya di depan Khadija.
__ADS_1
"Sudah sekarang buka matanya," Hafiz menurunkan tangan istrinya saat ia sudah memakai pakaianya.
Perlahan Khadija membuka mata dengan bibir mengerucut, "Lain kali jangan ngagetin toh Mas?" omel Khadija berjalan melewati suaminya.
"Mau kemana, Bund?" tanya Hafiz melihat Khadija hendak keluar dari kamar.
Khadija memutar kembali badanya. "Mau kekamar Zahra, waktunya dia mandi." jawab Khadija sambil menarik handle pintu.
***
Setelah selesai menunaikan Shalat Ashar barjamaah, Khadija segera bergegas menuju dapur barunya.
Khadija mengedarkan pandanganya ke setiap sudut dapur yang masih asing di penglihatanya. Matanya tertuju pada kulkas yang terletak di pojok dapur. Ia pun membukanya, dan hanya menemukan beberapa bahan makanan disana.
Beberapa potong ayam dan sosis yang ada di dalam Freezer, serta beberapa buah wortel yang sudah hampir kisut.
Entah menu apa yang akan di buat Khadija untuk makan malam keluarga kecilnya malam ini. Tangan cekatan Khadija mulai bergrilya meracik bumbu masakanya.
"Ada yang bisa di bantu Bund?"
Khadija menoleh ketika ada seseorang sudah berdiri di sampingnya.
"Ndak usah Mas, sudah hampir selesai kok," tolak Khadija halus, "Zahra mana?" tanya Khadija.
"Barusan saja dia tidur. Mungkin dia kecapean." jawab Hafiz berpindah duduk di kursi meja makan.
Mata Hafiz tidak pernah lepas memandang Istrinya. Tatapan matanya seirama dengan sunggingan senyum di bibirnya.
Suasana inilah yang selalu didambakan oleh Hafiz yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya dari mantan istrinya, Alina.
Baginya pekerjaan ibu rumah tangga merupakan pekerjaan paling mulia dari seorang wanita dan mencari nafkah adalah tugas seorang suami di dalam keluarga.
Khadija meletakan semangkuk besar sop ayam. Entah itu kebetulan atau memang faktor keturunan, Hafiz dan Zahra sama-sama menyukai menu yang berjudul sop ayam.
"Kamu masih ingat makanan kesukaanku Bund?" tanya Hafiz sambil menghirup bau sedap dari kepulan asap makanan dihadapanya.
"Makanan kesukaan kamu, makanan kesukaan Zahra juga." jawab Khadija sambil berlalu kembali ke dapur mengambil beberapa masakanya yang masih tertinggal.
Setelah selasai dengan kegiatan memasaknya, dan waktu Magrib pun sudah hampir tiba, Khadija segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket.
Hafiz menunggu Khadija selesai mandi sembari menonton TV yang ada di kamarnya.
Beberapa saat kumudian, Khadija keluar dari kamar mandi sudah lengkap dan rapih dengan menggunakan baju santai, masih seperti kebiasaanya yang dulu.
Kemudian mereka melakukan Shalat berjamaah tanpa kehadiran sang buah hati, karena Zahra masih tertidur, meski tidak baik tidur di waktu magrib, namun Hafiz tidak tega membangunkan Putri kecilnya yang nampak lelah.
" Mas kamu mau makan sama apa?" Tawar Khadija sambil menuangkan nasi ke dalam piring suaminya.
" Aku mau makan semuanya, termasuk mau makan Bunda juga nanti malam."
" Hah~..." Khadija menghentikan pergerakan tanganya." Mau jadi Sumanto kamu Mas, makan manusia?" Tanya Khadija heran, ia bergidik ngeri mendengar ucapan suaminya.
" Hahaha...Masih polos aja kamu Bund?" Hafiz menggelengkan kepalanya tidak habis fikir dengan istrinya yang tidak mengerti akan arti ungkapan yang sebenarnya." Ya sudah, ayo kita makan dulu, nanti aku jelasin." Lanjut Hafiz sambil tersenyum jahil.
***
10.30 Malam
__ADS_1
Khadija berada dikamar Zahra untuk menidurkan kembali buah hatinya, Setelah beberapa saat yang lalu Zahra sempat terbangun karena lapar.
Sesudah makan Zahra kembali bermain dengan Papanya, hingga Zahra berulang kali tampak menguap karena jam sudah menunjukan waktu untuk tidur malam sudah lewat.
Khadija kembali ke kamar, tampak Hafiz duduk bersandar dipunggung tempat tidur, masih sibuk dengan sebuah benda persegi dipangkuanya. Hafiz memeriksa kembali hasil laporan Rumah sakit yang sempat ia tinggalkan sejak beberapa hari yang lalu.
Tanpa bersuara, Khadija menarik bantal yang ada disebelah suaminya.
"Mau kemana Bund?" Tanya Hafiz mengalihkan pandanganya pada sang istri Perempuan itu sudah memeluk bantal didepan dadanya.
" Eum...Anu...Aku mau tidur di sofa aja Mas?" Jawab Khadija grogi.
Hafiz menutup Laptop yang ada dipangkuanya kemudian turun dari ranjangnya berjalan menghampiri Khadija.
" Kenapa? Kamu takut sama aku?"
Khadija hanya diam sambil menunduk.
Hafiz mengangkat dagu Khadija," Aku tidak akan melakukan apapun tanpa seizin kamu, jadi kamu gak usah merasa takut."
Hafiz menuntun istrinya kembali ke ranjangnya, dengan perasaan ragu Khadija merebahkan tubuhnya di atas kasur, kemudian Hafiz menutup tubuh istrinya dengan selimut tebalnya.
" Tidurlah." Hafiz tersenyum kemudian ia mencium kening Istrinya dengan lembut." Aku sayang kamu." Ucap Hafiz di depan wajah Khadija.
Hati Khadija belum bisa mencintai Hafiz kembali, namun tidak bisa dipungkiri perlakuan manis Hafiz terhadapnya mampu membuat jantungnya berdegup lebih kencang dari sebelumnya.
Lampu sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur yang berada di kedua sisi ranjang. Malam pun semakin larut, namun Khadija masih tetap terjaga, beberapa kali ia merubah posisinya, dilihatnya Hafiz sudah tertidur dengan posisi membelakanginya.
Ternyata Hafiz pun belum tertidur, ia tahu jika Khadija tidak bisa tidur.
Grep...
" Sudah, ayo cepat tidur!" Hafiz memeluk Khadija dari belakang, mengunci tubuh Khadija dengan lengan besarnya.
Khadija berusaha memberontak namun tubuh kecilnya tidak cukup kuat melepas rangkulan suaminya.
Akhirnya Khadija pun pasrah, perlahan Khadija memejamkan matanya berharap tidak terjadi apa_apa setelahnya.
Hafiz tersenyum saat Khadija tidak lagi bergerak. mereka berdua pun terlelap dengan posisi ternyamanya kali ini.
Meski tidak terjadi malam pertama, dengan posisi seperti itu saja rasanya Hafiz tidak ingin waktu pagi segera tiba.
.
.
.
.
.
.
.
Untuk bonus visual Hafiz, Khadija dan Mihrima sudah Author kasih di Part sebelumnya ya...
__ADS_1
Jangan lupa Like dan Komenya...Bonus Vote, Author terima dengan Lillahi Taala...😁😊🙏🙏🙏