
"Kak, temenin Bunda nonton yuk?" Bunda ngebangunin sambil nepuk-nepuk pantatku.
Aku menggeliat sambil kucek-kucek mata yang masih sulit terbuka, "Hooaaammm ..." Lalu mulutku pun terbuka.
Aku mengangguk, tanpa menjawab. Karena aku malas ngomong, mulutku bau jigong. Kemudian aku pun turun dari tempat tidur sambil gendong bantal, mengikuti langkah bunda menuju ruang tengah.
Sabar Ra! aku cuma bisa ngurut dada. Semenjak dari awal bunda hamil sampai sekarang usia kandunganya menginjak Delapan bulan, sudah seperti kegiatan rutin tengah malam untukku menemani bunda nonton, meskipun ini nggak setiap hari, tapi ini tuh udah yang kesekian kali, dan susah sekali untukku menolak.
Seperti sekarang ini. Ya kali tengah malam gini nonton film india? Mana aku paling anti lagi, sama itu film yang bisanya dikit-dikit nyanyi.
Ah, sepertinya aku harus bener-bener extra sabar.
Awas aja entar kalo udah lahir, bakal aku pites itu bocah!
Belum sah jadi adek aja udah nyusahin. Kayanya itu bayi tau kalo aku gak suka sama dia. Bodo amat!
Dan jangan kira aku udah nerima itu bayi yang ada di perut bunda yang katanya itu adek aku. Nggak!
Aku menuruti permintaan bunda, semata itu karena aku nggak mau durhaka dan bikin bunda sedih.
Tapi malangnya aku, gara-gara itu si jabang bayi yang belum keluar, sering kali membuatku tersiksa dengan permintaan bunda yang selalu ada-ada aja.
Kenapa bukan Papa? Karena semenjak hamil, bunda nggak mau deket-deket sama papa, katanya bunda nggak suka sama bau badan Papa. Alhasil papaku jadi merana dan sering ku pergoki Papa tidur di sofa.
Tuh kan, belum apa-apa aja itu anak udah durhaka!
Saat sudah di ruang tengah, aku langsung mencari posisi tidur di atas sofa. Cukup aku menemaninya saja, dan aku biarkan bunda nonton sendiri film india kesukaanya.
"Kak, masakin Bunda mie instan dong?"
Nah loh! Belum jauh ku bertamasya ke alam mimpi yang indah, bunda udah kembali buatku jengah.
"Zahra ngantuk Bund, besok aja ya?" tolakku memberi penawaran. Karena kali ini aku bener-bener ngantuk berat, mana besok ada ulangan.
Bunda diam. hanya terdengar suara acha-acha, nehi-nehi yang berasal dari Televisi.
"Hiks ... Hiks ..."
__ADS_1
Sudah ku duga, jika keinginanya tidak terpenuhi, bunda pasti akan ngeluarin jurus andalanya. Nangis!
Jelas aku nggak tega. Dengan sangat terpaksa aku bangun, "Iya, Zahra bikinin," kataku sambil jalan sempoyongan ke arah dapur.
Inginku mengumpat, tapi takut dosa. Ya sudahlah mending ku ber_istighfar saja.
"Sayang, sini biar Papa yang masakin, kamu duduk dulu di situ," Emang Papa itu malaikat penolong, selalu datang di waktu yang tepat.
Papa sudah hafal dengan kebiasaan bunda yang selalu merasa lapar waktu tengah malam.
Meski Papa seharian udah capek kerja, tapi Papa selalu sempetin bangun jika bunda gak ada lagi di tempat tidurnya. Dan Papa tahu jika anaknya yang gemoy ini lagi menderita karena ulah sang bunda.
Setelah mie_nya matang, segera Papa bangunin aku yang lagi ketiduran di kursi dengan menopang kepala diatas kedua lengan yang bersandar di atas meja makan.
Papa pun balik lagi ke kamar, beliau gak mau kalo sampe bunda tahu. Jika tau yang memasak mie itu Papa, maka mie akan terbuang sia-sia.
***
"Ooowweeeekkk ... Ooowweeeekkk ..." suara tangis seorang bayi yang baru keluar dari rahim bundaku secara Secar menggema memenuhi ruang operasi.
Karena yang menangani bunda adalah Papa sendiri, maka aku di perbolehkan masuk untuk menemani bunda di detik-detik persalinanya.
Ah, romantisnya Papa sama bunda.
Bunda yang dalam keadaan setengah sadar, karena pengaruh anastesi lalu menoleh ke arahku yang selalu setia duduk di sampingnya sambil melingkarkan tanganku di atas dadanya, "Sayang, Zahra senengkan Nak, adeknya udah lahir?" Lagi-lagi aku harus menganggukan kepalaku terpaksa, untuk menjawab pertanyaan bunda.
***
Fatimah Shakila Edsel, itulah nama yang di sematkan pada bayi yang usianya belum genap sebulan itu. Namun, sudah berhasil merebut parhatian Papa dan Bunda dariku.
"Bund, sarapan buat Zahra mana?"
"Maaf Sayang, bunda masih belum sempat masak, kamu sarapan sama roti aja dulu ya? Ini si dedek mimik susunya ndak mau berhenti,"
"Pa, anterin Zahra ke toko buku yuk, buat persiapan ujian,"
"Aduh Sayang, kamu minta antar sama Nio atau Dipta aja ya? Ini si adek nggak ada yang jagain, bunda lagi masak,"
__ADS_1
Aaaarrrgghhh ... Hanya kata maaf yang sering terucap dan ku dengar akhir-akhir ini dari Papa sama Bunda sejak bayi itu lahir. Aku muak!
Bukan aku manja, memang ku akui yang ku minta itu bukanlah hal yang sulit untuk ku lakukan sendiri, bahkan sepele, secara aku sekarang udah kelas XII SMA dan usia ku pun kini sudah Delapan belas tahun.
Namun, aku hanya ingin mendapat perhatian seperti dulu lagi. Apa aku salah? Atau aku terlalu egois? Ku rasa tidak, menurutku itu wajar, kan aku anak Papa sama Bunda juga. Justru aku yang pertama harusnya aku yang di dahulukan.
"Kak, Bunda perhatikan akhir-akhir ini kok sering pulang telat?" tanya Bunda, saat ku baru pulang sekolah.
"Main dulu Bund, sama temen-temen," Aku berkata jujur menjawab pertanyaan Bunda. Sengaja aku sering pulang telat, karena aku merasa suntuk dan gerah saat di rumah.
Aku mencoba mencari perhatian di luar dengan bermain bersama teman-teman. Masih dalam konteks yang wajar, karena aku juga nggak punya pacar. Bersama Ayu dan Chika, teman sekelas. Aku sering menghabiskan waktu senggangku bersama mereka untuk sekedar main nge_game di Mall, ngumpul duduk-duduk di taman kota, jika ada film yang bagus, mereka juga sering ngajakin aku nonton.
Ngomong-ngomong soal pacar, Papa dan Bunda sangat ketat dalam hal satu ini, karena mereka tidak mau sekolahku terganggu karena aku pacaran. Cukup klise! Tapi itu tidak masalah buatku, it's okay. I am single, i am very happy. Kaya judul lagu?
Terlebih ada kak Dipta yang bertugas sebagai bodyguard dadakan ketika ku disekolah. Walhasil setiap ada cowok yang mau ngedeketin sudah di halau lebih dulu oleh tatapan setan si Oom kecik.
Kenapa bukan Kak Dipta yang aku ajak main? Untuk urusan main, adik Papaku itu paling anti, dan lebih suka menyendiri. Mentok main_nya seorang Dipta itu ke perpus atau nggak ke toko buku. Tapi nggak apa-apa, biar dia yang belajar dan aku yang menikmati bocoran jawaban soal-soal ujian.
Kak Nio? Ya jelas dia lebih milih pacarnya lah ketimbang main sama aku, kecuali kalau kak Icha lagi sibuk, baru deh itu manusia satu ingat denganku.
.
.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya ...πβΊπ
Nb : Untuk visual Zahra ada perubahan ya? Silahkan cek ... Ada beberapa yang nanyain visual Zahra yang mungkin gak sesuai dengan ekspektasi alur cerita, setelah menimang, ternyata komen para readers ada benarnya juga, dan ternyata disini authornya khilaf ... hehehe ... monmaap yaaa...?
__ADS_1
Itulah gunanya kalian buat author, meskipun ini itu cerita fiksi yang kebanyakan halu, tapi di sisi lain saya sebagai author juga harus menciptakan cerita yang sesuai dengan realita dan tidak banyak mengada-ada.
Kritik dan saran kalian selalu author tunggu.