
"Thanks Kal, udah membantu," ucap Hafiz pada Haikal. Setelah semalam pria itu bersedia untuk meruqyah toko kue milik Khadija yang menyimpan banyak kejanggalan berbau mistis.
"Iya sama-sama," kata Haikal sambil tersenyum.
"Terus mereka di buang kemana Mas?" sela Khadija ingin tahu.
"Ya ketempat semestinya mereka berada," jelas Haikal.
Untuk hari ini toko kembali tutup untuk sementara waktu. Dan akan kembali buka besok setelah semua urusan selesai.
Khadija tidak ingin lagi ada gangguan-gangguan setelah ini yang menghantui keluarga dan kedua pegawainya.
"Tapi, yakin kan Mas mereka gak bakal datang kesini lagi?" tanya Sari memastikan. Gadis itu takut jika suatu saat mahluk itu akan kembali datang mengganggu.
"Insyaalloh, nggak," Haikal menggeleng yakin. Namun, Pria itu juga berpesan agar masing-masing pribadi dari mereka untuk tetap mengisi hati supaya tidak kosong dengan selalu berdzikir dan mengingat Alloh agar senantiasa terhindar dari segala gangguan baik itu yang terlihat maupun yang tak kasat mata. Karena sesungguhnya setan selalu ada disekitar kita.
Selesai dengan urusanya, Haikal pun pamit undur diri karena siang ini ia ada kelas mengajar di salah Satu Universitas swasta yang ada di Ibukota. Ya, profesi Haikal adalah seorang Dosen.
Khadija pun memberikan bingkisan sebagai tanda ucapan terima kasih. Jika dilihat dari wadahnya jelas terlihat itu box kue yang tertera nama AZ ZAHRA BAKERY. Untuk memberi imbalan uang, sudah pasti akan ditolak oleh Duda Satu anak itu. Karena ia melakukanya dengan ikhlas.
Setelah kepergian Haikal, Hafiz dan Khadija pun turut pamit kepada Leni dan Sari untuk pergi ke rumah sakit.
____
"Aah ... Sial!" Sambil berkacak pinggang, Alina menendang ban mobilnya yang kempes.
Saat hendak perjalanan menuju toko Khadija, tiba-tiba ban mobil perempuan itu mengalami kebocoran.
"Mana jalanan sepi lagi," Alina menengok kekanan kekiri, mencari pertolongan, "Ah iya, coba aku hubungin Fino," gumam Alina. Terbesit Satu nama yang muncul di benaknya. Pria tersebut tidak akan pernah menolak jika Alina membutuhkan bantuanya.
Tin ... Tin ...
Ketika hendak menempelkan ponsel ke telinganya, Alina melihat mobil SUV berwarna putih berhenti tepat di depanya.
Tampak seorang Pria turun dari mobil tersebut, lalu berjalan memutar menghampiri perempuan yang sedang kebingungan.
Terulas senyum di bibir Alina melihat pria yang ia kenal wajahnya tetapi tidak ia ketahui namanya.
"Maaf, kenapa anda berhenti di tempat sepi seperti ini?" tanya Pria itu. Menurutnya tempat itu sangat rawan terjadi kejahatan terutama bagi perempuan. Karena sering terjadi pembegalan di daerah tersebut.
"Kebetulan sekali, bisakah anda membantu saya?" Alina balik bertanya tanpa menjawab pertanyaan pria di hadapanya. Kemudian perempuan itu mengutarakan masalahnya.
"Ada ban serepnya?"
Alina mengangguk, "Sebentar saya ambilkan," Kemudian Alina membuka bagasi, lalu mengeluarkan ban cadangan dari dalam tempat itu.
__ADS_1
Tampak pula pria itu mengeluarkan beberapa peralatan yang selalu ia bawa di dalam mobilnya, seperti dongkrak dan alat-alat teknis lainya.
Alina terus memperhatikan pria yang tengah berjongkok sambil memutar kunci roda melepas Satu persatu baut ban mobilnya.
Senyum cantik itu tidak sedikitpun memudar dari bibir Alina. Entah apa yang sedang di fikirkan Janda tak beranak itu.
Tiga puluh menit kemudian tidak terasa ban mobil sudah selesai terpasang.
"Sudah selesai," pria itu berdiri sambil menepuk-nepuk tangannya yang kotor.
"Permisi Tuan," ucap Alina mengelapkan tissue di dahi pria tersebut, "Kening anda ada noda hitam," lanjutnya memberitahu setelah menurunkan kembali tanganya.
Tidak sengaja pria itu mengusapkan tangannya yang kotor ke dahinya saat merasakan keringat yang hampir terjatuh.
"Terima kasih atas bantuanya," ucap Alina lagi. Tampak perempuan itu salah tingkah. Ingin sekali ia berkenalan setelah ketiga kali bertemu secara tidak di sengaja.
"Sama-sama," balas pria itu tersenyum ramah.
Pria itu pun segera membereskan alat-alat perbengkelanya dan hendak mengembalikan kembali ke dalam mobilnya.
Alina masih berdiam mematung di tempatnya. Ia bingung bagaimana cara memulai perkenalanya.
"Nona, kenapa anda masih berdiri di sini?" tanya pria itu heran saat akan kembali masuk kedalam mobilnya, setelah mengembalikan peralatanya di bagasi belakang.
Alina berjalan menghampiri pria itu dan mengulurkan tanganya, "Alina," Tanpa ragu dan mengkesampingkan rasa gengsinya, perempuan itu terlebih dahulu mengajak kenalan pria yang sempat membuatnya penasaran. Tidak ingin lagi menyia-nyiakan kesempatanya kali ini untuk mengetahui nama dari pria baik hati itu. Bahkan Alina juga berharap lebih, semisal saling bertukar nomor telepon.
Sedikit kecewa Alina menarik kembali tanganya dan mengangguk terpaksa.
Satu server ini orang dengan Khadija. batin Alina.
Tin ... Tin ...
Bunyi klakrson sebuah mobil ceper berwarna silver berhenti di belakang mobil Haikal. Seketika pandangan Alina dan Haikal berpindah ke arah mobil tersebut.
"Fino," lirih Alina mengenali si pemilik mobil.
"Kenapa Lin?" tanya Fino ketika baru turun dari mobilnya, lalu menghampiri perempuan yang tengah berdiri berhadapan dengan seorang laki-laki.
"Mas Haikal ya?" tunjuk Fino ke arah Haikal sebelum Alina sempat menjawab pertanyaanya.
Haikal pun mengangguk seraya tersenyum, "Mas Fino saudaranya Aslan kan?" Haikal menjabat tangan pria blasteran tersebut, "Apa kabar?" lanjut Haikal. Ia sudah mengenal Fino saat meminta bantuan Aslan menangani kasus perceraianya.
"Baik Mas," jawab Fino ramah. "Kalian kok bisa ada disini?" sambung Fino bertanya dengan menunjuk Haikal dan Alina bergantian.
"Ah iya, tadi ban mobilku bocor," jelas Alina dan memberitahu jika Haikal yang sudah membantunya, "Kalian sudah saling kenal?" todong Alina penasaran.
__ADS_1
"Mas Haikal ini temenya Bang Aslan," papar Fino.
"Ya sudah kalau begitu Mbak Alina dan Mas Fino saya duluan," pamit Haikal setelah menilik jam yang bertengger dilengan sebelah kiri. Waktu sudah menandakan kelas mengajar akan segera di mulai Lima belas menit lagi.
Alina dan Fino pun mengangguk mempersilahkan.
***
"Mas lihat deh, sepertinya Mbak Alina lagi seneng," tunjuk Khadija pada suaminya memperhatikan dari atas balkon, seorang perempuan yang sedang duduk sendiri di tepi kolam tengah senyum-senyum sendiri.
"Lagi kesambet mungkin dia," duga Hafiz asal.
"Hush ... Ndak boleh gitu," Khadija mencubit lengan sang suami yang berdiri di sampingnya sambil menikmati secangkir kopi. Khadija merasa sikap dingin suaminya itu sudah keterlaluan terhadap mantan istrinya tersebut. Menurut Khadija, seharusnya suaminya itu kembali menjalin hubungan persahabatan, toh selama ini Alina sudah menunjukan perubahan sikap yang lebih baik.
Hafiz pun mengaduh, karena cubitan sang istri lumayan terasa, "Sakit Bund,"
"Biarin," jawab Khadija cuek.
"Mbak Alin," pekik Khadija melambaikan tangan saat seseorang yang di panggil melihat ke arahnya.
Alina membalas lambaian tang Khadija sembari tersenyum, "Sini," balas Alina menyuruh perempuan yang berada di atas sana untuk turun menghampirinya.
Khadija mengangguk, mangangkat Satu jempolnya.
"Eits, Mau kemana?" Hafiz mencekal lengan istrinya saat berbalik badan.
"Mau turun,"
"Gak boleh!"
"Ayolah Mas," mohon Khadija.
"Udah malem, waktunya tidur. Kalau mau ngobrol besok lagi aja di lanjut."
.
.
.
.
.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen, dan Vote nya ya?🙏😊😚