
Setelah kejadian mimpi buruk yang dialaminya, Khadija terus di hantui rasa cemas yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
Tetapi Khadija tidak mau Suudzon terhadap Hafiz, karena ia yakin jika suaminya adalah orang yang setia bahkan Khadija sering mendengar pernyataan sang suami kalau dia tidak akan pernah menghianati bahkan meninggalkanya hingga maut memisahkan.
Namun keyakinan itu mulai goyah semenjak Dua hari yang lalu setelah mimpi buruk yang dialami Khadija, Hafiz sudah Dua kali berturut-turut sering pulang hingga larut malam.
"Mas ini kan hari minggu, kamu mau kemana?" tanya Khadija ketika melihat Hafiz baru keluar dari kamarnya sudah dalam keadaan rapih, meski hanya memakai pakaian santai. Berbeda saat ia berada dirumah yang biasanya hanya menggunakan celana selutut dan kaos oblong, namun kali ini Hafiz menggunakan setelan celana jeans panjang yang di padukan dengan kaos berwarna navy dan topi yang bertengger diatas kepalanya.
"Aku ada urusan sebentar sayang?" jawab Hafiz seraya tersenyum.
"Ya sudah hati-hati." ucap Khadija menatap curiga. Saat sebelum menjawab pertanyaan Khadija, Hafiz sempat melihat notif yang masuk ke ponselnya lalu Hafiz tersenyum menanggapinya.
Setelah ritual perpisahan yang rutin di lakukan setiap hari, Hafiz pun segera pergi entah kemana, tidak di ketahui oleh Khadija, istrinya.
"Kamu kenapa, pagi-pagi sudah melamun?" Tangan lembut Ibu mertua mengusap bahu Khadija yang sedang duduk termangu di kursi meja makan.
Khadija menoleh, "Eh, Mama," jawab Khadija seraya tersenyum.
Ibu mertua lalu duduk di kursi paling ujung, tempat dimana kepala keluarga biasa duduk bersebelahan dengan Khadija.
"Cerita sama Mama, ada masalah apa?" tanya Ibu mertua, seolah mengerti apa yang dirasakan menantunya saat ini.
Khadija menggeleng, "Ndak ada apa-apa kok Ma?" jawabnya.
Khadija tidak ingin sang Ibu mertua tahu akan kegundahan hatinya memikirkan gelagat aneh sang suami akhir-akhir ini.
Sikap Hafiz memang tidak berubah, masih tetap berlaku manis seperti biasa terhadap Khadija. Hanya saja, Dua hari belakangan Hafiz selalu menjauh ketika sedang menerima telepon, dan sering tersenyum saat mendapat pesan dari seseorang.
Dan yang lebih aneh lagi, semenjak Khadija suci dari hadast besarnya, Hafiz sama sekali belum menjamahnya. Bukan Khadija yang tidak sabar mendapat belaian suaminya, namun justru disinilah yang membuat Hafiz sedikit berbeda dari biasanya.
"Ya sudah kalau begitu, Mama mau ke kamar Zahra..."
"...Eum, boleh Dija ngomong sesuatu sama Mama?" cegah Khadija membuka suaranya ragu, saat Ibu mertua hendak berdiri dari duduknya.
Sang Ibu mertua duduk kembali, "Silahkan, kamu mau ngomong apa?"
"Sebelumnya Dija minta maaf Ma, bukanya Dija bermaksud meragukan suami Dija, tapi...?" Khadija menarik nafas, sebelum melanjutkan ucapanya. "....Mas Hafiz akhir-akhir ini berubah."
"Maksud kamu?"
"Mas Hafiz akhir-akhir ini sering pulang telat, dan hampir ndak ada waktu buat keluarga." ujar Khadija memberanikan diri menyampaikan unek-unek dihatinya pada Ibu mertua. Setidaknya itu lebih baik dari pada ia harus bercerita pada orang lain.
Dua hari terakhir Hafiz memang beberapa kali melewatkan moment kebersamaanya bersama keluarga, seperti Shalat berjamaah, makan malam bersama, dan mengajak sang buah hatinya bermain. Yang biasa Hafiz sempatkan setelah melakukan makan malam sambil berkumpul di ruang keluarga.
"Mungkin Carel lagi banyak pekerjaan jadi mengharuskanya untuk lembur."
Ada secuil kelegaan di hati Khadija mendengar pendapat sang Ibu mertua.
"Tapi ingat, kamu sebagai Istri juga harus peka dengan apa yang di mau para suami, biar suami betah di rumah."
"Maksud Mama?" tanya Khadija penasaran dengan maksud peringatan yang disampaikan Ibu mertua. Hatinya kembali gusar.
__ADS_1
"Iya, kita sebagai seorang Istri harus pandai merawat diri, jangan mentang-mentang suami menerima kondisi sang istri apa adanya, terus kita cuek dengan penampilan. Dandanlah secantik mungkin apabila suami ada dirumah. Bukankah itu bagian dari mencari pahala?" Petuah Ibu mertua panjang lebar.
Di usianya yang sudah mencapai Setengah abad lebih, Ibu Hafiz masih terlihat cantik dan awet muda, karen ia rajin melakukan perawatan. Meski kerutan halus di wajahnya tidak bisa mengingkari umurnya.
Khadija seketika menatap penampilanya sendiri yang selalu memakai baju gamis dan hijab instan yang menutup hingga area dada, dan tanpa polesan bedak dan Make Up di wajahnya.
"Kamu cantik, tapi diluar sana banyak wanita yang lebih menarik." Ibu mertua menatap Khadija dengan tatapan penuh arti.
"Satu lagi, buatlah selalu suami kamu Puas dan betah di kamar." lanjut Ibu mertua berbisik, sambil beranjak meninggalkan menantunya,
"Eh~" Khadija tertegun dengan kalimat terakhir sang Ibu mertua.
Untuk beberapa menit Khadija kembali terbengong, larut akan fikiranya.
Setelah otaknya berhasil memahami semua ucapan Ibu mertua, segera Khadija masuk ke dalam kamar, mencari-cari sesuatu yang berada di dalam lemarinya.
***
Di hari libur, waktu makan siang sudah terlewatkan tanpa sang Suami. Khadija berharap jam makan malam kali ini Hafiz sudah datang untuk menemani. Semoga saja!
Namun sayang, harapan tinggal harapan.
[Maaf Bund, hari ini aku pulang telat lagi.]
Bunyi pesan dari Hafiz, setelah ratusan kali Khadija berusaha menghubungi, namun tak sekalipun dijawab oleh Hafiz.
Marah, kesal, kecewa, khawatir bercampur aduk menjadi satu. Seharian Hafiz berada di luar rumah.
Seharian pula, waktu Khadija habis untuk memikirkan suaminya yang berada di luar sana.
Kekhawatiran Khadija berhasil mengalahkan emosinya, ketika semua orang sudah tenggelam dalam tidur malamnya, Hafiz masih belum menampakan wujudnya.
Ceklek...
Pintu Apartemen terbuka, Khadija segera bangkit dari duduknya di sofa ruang keluarga menghampiri seseorang yang ia rasa itu adalah suaminya.
"Mas, kok baru pulang jam segini?" tanya Khadija pada sang suami yang baru datang.
Baru beberapa langkah Hafiz berjalan meninggalkan pintu depan, tiba-tiba langkah kakinya tercekat melihat seseorang yang berdiri tepat dihadapanya.
Susah payah Hafiz menelan salivanya, bukan karena senyum termanis yang ditampilkan Khadija, namun kali ini Khadija benar-benar mempraktekan apa yang di sarankan oleh Ibu mertuanya.
Hafiz menatap Khadija dari ujung rambut, sampai ujung kaki tanpa berkedip dengan mulut sedikit terbuka.
Wow, sexy!
Khadija sudah tidak malu-malu lagi berpenampilan terbuka di depan suaminya, dan ini merupakan yang kedua kalinya setelah tampilanya di malam pertama.
Jika biasanya Khadija selalu memakai piyama serba panjang, tapi tidak untuk sekarang. Lingeri yang sudah lama dimuseumkan di dalam lemari, kini di pakainya kembali.
"Mas?"
__ADS_1
"Sayang?" panggil Khadija untuk yang kedua kali setelah tidak mendapat respon dari panggilanya yang pertama.
"Eh, iya Bund..." Hafiz terhenyak dari lamunan akan pesona Khadija.
"Kamu mau makan dulu, atau mandi dulu?" tawar Khadija pada Pria itu.
"Aku mau mandi dulu aja sayang, udah lengket semua badan aku."
"Ya sudah, aku siapkan dulu air hangatnya."
Kurang lebih Lima belas menit Khadija menunggu sang suami selesai dari ritual membersihkan tubuhnya. Akhirnya yang dinanti pun muncul dari balik pintu bilik kecil yang ada di dalam kamarnya.
Dengan bertelanjang dada, hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, Hafiz keluar dari kamar mandi. Tetesan air dari ujung-ujung rambut yang basah semakin menambah aura kesexy-anya.
"Sekarang kamu mau makan dulu, atau..." tawar Khadija kembali, sambil mengalungkan tanganya di leher sang suami.
"...Aku mau langsung istirahat aja Bund, badan aku capek semua." ucap Hafiz memotong penawaran istrinya.
Duuuuaaaaarrrrrr...
Cup
Hanya kecupan di kening yang di dapatkan Khadija. Hafiz menurunkan lengan Khadija yang melingkar di lehernya, lalu meninggalkan Perempuan itu menuju lemari untuk mengambil pakaianya.
Khadija menghentakan satu kaki, emosi yang sempat di redamnya, kini kembali membara setelah usaha yang dilakukan untuk memuaskan suaminya berujung sia-sia.
"Kamu mau kemana Bund?" tanya Hafiz melihat istrinya membawa bantal serta selimut berada di gendonganya.
"Tidur di luar!" jawab Khadija ketus. Khadija sangat kesal dan memutuskan untuk sementara waktu menenangkan diri, tidur sendiri di ruang keluarga.
Khadija masih sadar diri akan posisinya yang menumpang tinggal di Apartemen suaminya, dan tidak mungkin ia menyuruh Hafiz untuk tidur di luar.
Blam
Khadija membanting pintu dengan kasar.
"Maafin aku sayang." gumam Hafiz setelah istrinya menghilang dari pandangan.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung...
Ayo lemesin jari-jarinya untuk kasih Like dan Komenya, sisain sedikit votenya juga untuk saya ya? 😊🙏🙏🙏*