
"Ina?" gumam Ayah Hafiz sambil berjalan masuk ke dalam rumah. Satu nama yang tidak asing diingatanya.
"Papa sudah pulang?" Ibu Hafiz menghampiri sang suami saat muncul dari ambang pintu, dan menyambut tas kerja yang di tenteng Pria paruh baya itu.
"Yang diluar itu anak siapa Ma?" tanya ayah Hafiz penasaran. Memastikan siapa ibu dari anak kecil yang bermain bersama cucunya.
"Oh itu Anak pengasuhnya Zahra," jawab sang Istri. Sepasang suami istri itu pun berjalan beriringan kembali keruang tamu.
Hafiz dan Khadija berdiri menyambut kedatangan sang Ayah dengan mencium punggung tangan Pria itu.
"Bagaimana keadaan kamu Dija? Sudah membaik?" tanya sang Ayah mertua kepada menantunya.
"Mas Bram?"
Belum sempat Khadija menjawab, tiba-tiba terdengar suara seseorang menyela percakapan antara mertua dan menantu yang akan baru di mulai.
Semua orang menoleh ke asal suara. Mereka semua tercengang melihat Ina sudah berdiri. ternyata perempuan itulah yang menyerukan Nama tersebut.
"Ina?" lirih Ayah Hafiz mengenali Perempuan yang berdiri menatapnya.
Suasana mendadak menjadi hening, menunggu reaksi kedua orang yang baru bertemu namun, sudah saling mengenal.
"Kamu kenal dengan Ina Pa?" Ibu Hafiz memecah keheningan sejenak.
Tanpa menjawab pertanyaan sang istri, Pria yang bernama lengkap Bramantyo Edsel ini berjalan mendekat ke arah perempuan muda yang berdiri mematung ditempatnya.
"Ina, kemana kamu selama ini?" Secara mengejutkan Ayah Hafiz memeluk perempuan yang dikenal semua orang sebagai pengasuh Zahra.
Hafiz, Khadija dan sang Ibu semakin terperanga dibuatnya. Mereka hanya bisa saling tatap tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi.
"Maaf Mas, saya harus pergi. Saya tidak bisa lagi berada disini," Ina melepas pelukan Pria yang berdiri dihadapanya.
Tas jinjing yang semula diletakan di lantai, Ina mengangkatnya kembali, hendak beranjak dari tempatnya berdiri.
Ayah Hafiz berdiri mematung, melihat Perempuan itu berlalu dari hadapanya.
"Maaf Tuan Hafiz, Mbak Dija dan Nyonya saya pamit," ucap Ina sebelum melanjutkan langkahnya.
"Ina tunggu!" cegah Hafiz menghentikan langkah Ina. "Silahkan duduk kembali, bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" lanjut Hafiz.
Setelah semua sudah mengambil posisi duduk, Hafiz duduk diantara Ibu dan istrinya disofa panjang, sang ayah duduk disofa tunggal bersebrangan dengan tempat duduk Ina.
"Jadi diantara kalian siapa yang bersedia menjelaskan," Dengan nada datar Hafiz menatap Ayahnya dan Ina bergantian.
Jangankan untuk menjawab, menegakan wajahnya pun Ina tidak sanggup. Sungguh Ina tidak berani bahkan malu untuk menatap keluarga yang selama ini sudah baik terhadapnya.
__ADS_1
Sudah terlambat untuk Ina menghindar dari situasi yang tak pernah ia duga sebelumnya. Namun, apa daya Ina, mau tidak mau ia harus menghadapinya apapun itu konsekuensinya. Diusir pun Ina sudah siap.
"Ina ini mantan Istri siri Papa," ucap Ayah Hafiz menatap ketiga orang yang sudah menunggu jawaban darinya. Akhirnya dengan segenap keberanian Pria paruh baya itu mengakui sebuah kebenaran yang telah lama ia rahasiakan.
Sekaligus merupakan Pernyataan yang sungguh mengejutkan keluar dari mulut seorang Pria yang begitu anti terhadap orang dari kalangan bawah seperti Ina dan Khadija.
Plak...
Satu tamparan mendarat di Pipi yang sudah menampakkan kerutan namun, masih terlihat tampan.
"Tega kamu Pa!" Ibu Hafiz menatap tajam, berdiri tepat disamping sang suami.
Air matapun luruh seketika dari mata seorang Istri yang sudah merasa dikhianati. Ibu Hafiz sudah tidak heran jika suaminya memiliki banyak wanita diluar sana. Namun, yang ia tahu wanita-wanita itu hanya sebatas penghibur. Ia tidak menyangka jika sang suami telah memiliki istri selain dirinya.
"Maafkan Papa, Ma?" Ayah Hafiz berdiri sambil memegang tangan istrinya. Dengan cepat tangan itu di hempaskan oleh Perempuan yang sudah berderai air mata.
Ibu Hafiz pun kembali duduk disamping anak dan menantunya. Mengerti akan kondisi sang Ibu, Hafiz pun memeluk sang Ibu berusaha menenangkan.
Dengan tiba-tiba Ina beranjak dari duduknya, beralih berlutut di depan Ibu Hafiz, "Maafkan saya Nyonya, andai waktu itu saya tahu status dari Mas Bram, saya tidak akan membalas cintanya dan mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi." ucap Ina tulus penuh penyesalan.
Namun Ibu Hafiz tak bergeming, masih setia dengan isak tangis di pelukan putra semata wayangnya.
"Jadi Dipta anak dari Papa saya?" tanya Hafiz pada Perempuan yang duduk berlutut dibawahnya.
"Iya Tuan," jawab Ina merundukan wajahnya.
"Sekali lagi saya minta Maaf, saya janji setelah ini saya tidak akan lagi menampakan diri saya maupun anak saya. Saya akan pergi sejauh mungkin," ujar Ina sebelum beranjak dari hadapan sang majikan.
"Tunggu Ina!" Ibu Hafiz mencekal tangan Ina sebelum perempuan itu beranjak berdiri.
"Menikahlah kembali dengan suami saya," Permintaan mengejutkan dari seorang Perempuan yang sudah tersakiti hatinya.
Dengan cepat Ina menggelengkan kepala, "Tidak Nyonya, saya tidak ingin merusak kebahagiaan keluarga anda."
Kali ini Ayah Hafiz dibuat terkejut dengan permintaaan istrinya terhadap mantan istri sirinya.
"Mama yakin?" gumam Hafiz memastikan. Sang Ibu pun mengangguk memberi jawaban.
"Meski hati saya sakit dan ini juga bukan keputusan yang mudah, tapi saya tidak sampai hati membiarkan kamu menanggungnya sendiri. Ada Dipta yang membutuhkan figur seorang Ayah. Jadi saya harap kamu menerima tawaran saya." Ibu Hafiz menatap nanar ke arah Ina.
Ina terdiam, Perempuan itu tidak tahu harus menjawab apa dan harus bagaimana.
"Dan kamu Pa, kamu harus bertanggung jawab atas kesalahan yang sudah kamu perbuat. Ada anak kecil yang membutuhkan perhatian seorang Ayah!" ucap Ibu Hafiz dengan nada sedikit ketus beralih menatap suaminya.
Entah reaksi apa yang ada didalam hati Ayah Hafiz, sedih atau senang kah? Hanya ia dan Tuhan yang tahu. Secara lahiriah ayah Hafiz tidak menunjukan eksperi apapun. Sikap angkuh yang biasa ia tunjukan, mendadak hilang seperti Kerbau di colok hidunganya, Pasrah menerima segala keputusan yang diberikan oleh istrinya.
__ADS_1
"Bagaimana Ina? Ini semua saya lakukan demi Dipta anak kamu dengan suami saya." tanya Ibu Hafiz sekali lagi, setelah sebelumnya ia tidak mendapat jawaban.
"Jika itu alasanya, saya terserah Nyonya dan Mas Bram," jawab Ina tertunduk.
"Carel, Khadija cepat kalian panggil penghulu dan Ustad. Kita nikahkan mereka sekarang," titah sang Ibu penuh penekanan.
"Hah," Hafiz kembali terkejut dengan perintah sang Ibu, "Harus sekarang ya Ma?" tanya Hafiz ragu.
"Terus mau kapan lagi? Menunggu adik kamu besar?" pungkas sang Ibu, "Ayo Ina kamu ikut saya," lanjutnya mengajak Ina meninggalkan ruang tamu.
"Ayo Pa, kamu juga ikut!"
Setelah semua orang meninggalkan ruang tamu kini hanya tinggal Hafiz dan Khadija yang masih setia duduk di sofa.
"Subhanalloh," ucap Khadija
"Kenapa Bund?" tanya Hafiz menoleh ke sebelah kanan tepat istrinya berada.
"Aku salut dengan pemikiran Mama. Tidak semua istri bisa ikhlas jika harus berbagi suami, tapi yang dilakukan Mama sungguh diluar dugaanku Mas," jawab Khadija dengan mata menerawang.
"Iya sama, aku juga gak habis pikir dengan keputusan Mama," Hafis manggu-manggut setuju dengan perkataan istrinya.
"Apapun keputusan yang di ambil Mama, Semoga menjadi ladang pahala untuk beliau."
"Ngomong-ngomong mencari ladang pahala, apa Bunda tidak ingin seperti Mama?" Hafiz menaik turunkan alisnya. Terbesit ide konyol menggoda perempuan disampingnya.
"Boleh," jawab Khadija santai meskipun sedikit terkejut dengan pertanyaan sang suami. "Tapi ada syaratnya?"
"Apa?" Hafiz penasaran, tidak menyangka ternyata istrinya menanggapi gurauan yang begitu sensitif bagi kaum istri.
"Asal kamu mau di sunat untuk kedua kalinya!" jawaban skakmat yang dilontarkan Khadija, lalu pergi meninggalkan suaminya.
.
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung....
Jangan lupa like, komen dan votenya ya...😘🙏*