Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Pura-pura pacaran


__ADS_3

"Bentar kak aku mau ngomong," Aku menarik tangan kak Dion menjauh dari kerumunan Dua sahabatnya, kak Nio dan kak Nando.


Ku cari tempat yang sedikit sepi. Karena situasi di dalam cukup bising, maka terpaksa ku ajak kak Dion keluar dari dalam gedung. Kebetulan di sebelah area parkir ku lihat ada semacam taman kecil yang terdapat air mancur di tengahnya.


Ada Tiga bangku beton dan bunga-bunga yang masih menampakkan warna mengelilingi sekitar taman, di tambah nuansa kerlap-kerlip dari sorot lampu yang di lilitkan pada batang-batang pohon, menciptakan suasana tempat ini cukup romantis untuk pasangan yang sedang berduaan. Sayang aku dan kak Dion bukan sepasang kekasih. Ah, seandainya ...


Lupakan!


Mungkin tempat ini sengaja di desain sedemikian rupa oleh pihak pengelola.


Ditaman ini kulihat juga terdapat sisa-sisa ornamen pernikahan masih terpajang, beberapa balon yang di dominasi warna White-Purple bertuliskan Happy Wedding, You and Me, masih cantik menggantung, kerangka persegi menyerupai bilik terbuka yang di lilit bunga dan daun sintetis masih terpasang di tengah taman serta di beberapa sudut masih terpampang jelas foto Pre-Wedding sepasang pengantin yang tengah berbahagia di dalam sana.


Ku rasa di tempat ini, prosesi akad nikah Alvaro tadi siang berlangsung.


Ku cari tempat yang lebih dekat dengan area parkir, kalau-kalau kak Nio nanti mencariku.


"Coba jelasin, maksudnya apa? Kak Dion manfaatin aku?" Ku tatap lekat netra coklat pemuda yang berdiri di hadapanku.


Kak Dion hanya mengendikan bahu, acuh. Kedua tanganya tenggelam di kedua sisi saku celana,


Biar ngeselin, tapi selalu membuatku terpesona dengan gayanya yang cool.


"Jadi, bener kak Dion itu Gay?" Tak mendapat respon, akhirnya ku cetuskan pernyataan yang tadi sempat menggelitik di telingaku.


Gay. Satu kata yang di lontarkan kak Nando untuk menghakimi sahabatnya yang satu ini.


"Jangan bilang, karena gue bilang lo gay, terus sekarang tiba-tiba lo gandeng Zahra," Kalimat tuduhan yang seketika membuat otakku bertanya-tanya.


Hah, kak Dion gay? Jadi ini alasan dia selama ini bersikap dingin sama cewek.


"Bisa diem nggak lo!" delik kak Dion ke arah pria yang memasang tampang cengengesan. Mungkin dia malu, takut suara sember kak Nando sampai di dengar orang, "Gue sama Zahra udah jadian," lanjutnya santai.


Jadian? Kapan?


Sama seperti diriku, wajah santai kak Nio, kak Nando dan kak Melisha seketika terperangah mendengar pengakuan dari kak Dion yang begitu mengejutkan.


Siapapun pasti akan kaget mendengar hal ini, bahkan jika kecoa ikut mendengar, mungkin binatang menggelikan itu sudah tertawa ngakak. 'Kesambet jin tik-tok keknya nih bocah!' pikir si kecoa.


Di ajak datang barengan aja kemarin udah sewot, sampai nuduh yang macem-macem. Tetiba sekarang dia memproklamirkan status yang kuanggap Fake untuk kedua kalinya.


Tatapan intimidasi ketiga pasang mata, beralih menatapku. Tergambar binar ketiganya sedang meminta penjelasan.


Entah setan dari mana yang membantu menggerakkan kepalaku untuk mengangguk, mengiyakan.


Ada rasa tak percaya dari ketiganya dan aku pun sama.


"Anggep aja kita impas, saling memanfaatkan. Gue udah temenin lo bahkan gue ngaku jadi pacar lo di depan mantan lo itu. Dan asal lo tau, gue bukan gay," paparnya dengan sorot mata tajam. Menolak tuduhan itu.


"Lagian aku cuma mau di temenin aja kok, biar gak keliatan ngenes aja dateng sendiri dipernikahan mantan dan aku gak pernah minta ya, kak Dion jadi pacar aku, meski itu cuma bo'ongan," balasku tak terima. Jelas aku nggak terima, karena nggak ada kesepakatan sebelumnya dan ini itu mutlak keputusan sepihak yang di ambil kak Dion.


"Gue nggak mau tau, mulai sekarang lo pacar gue dan lo juga tadi udah mengakui di depan temen-temen gue," tegasnya yang lagi-lagi membuatku tercenung sesaat.


Apa-apaan! Pemaksaan ini namanya.

__ADS_1


'Kenapa juga tadi aku main manggut-manggut aja,' Merutuki kebodohon sendiri.


Ku akui selama ini sosok kak Dion memang bisa membuatku terpesona dan penasaran, tapi untuk mencintai, itu semua butuh proses minimal pendekatan.


Boro-boro pendekatan, ngobrol aja jarang. Dan ini kali pertama aku bisa ngobrol sedikit panjang dengan ini kulkas.


Oke! Lo jual, gue beli. Semuanya sudah terlanjur. Akan ku ikuti permainanya.


Senyum miring terukir di bibir tipisku, memandang si dia yang sudah berlalu meninggalkanku.


Dasar cowok SOMVRET!


***


Berguling-guling tidak jelas dikamar, menatap layar ponsel berkali-kali berharap ada notif pesan masuk dari seseorang di seberang sana bersedia menemani di malam minggu ini.


Sepertinya itu hanya hayalan yang mustahil terjadi. Bagaimana ada pesan masuk, bertukar nomor saja tidak pernah. Dan inikah yang di namakan sepasang kekasih?


Lucu. Bahkan sangat menggelikan jika di ingat-ingat.


Sudah beberapa hari semenjak memutuskan untuk menjalin hubungan yang sampai sekarang aku sendiri tidak mengerti arah status yang ku jalani saat ini.


Tidak ada yang spesial saat bertemu. Jangankan tersenyum, berpapasan saja lebih sering dia membuang muka.


Semakin kesini, semakin menyebalkan saja sikapnya.


Tidak banyak yang tahu memang hubungan tak kasat mata yang ku jalani bersama kak Dion. Kecuali kak Nio, kak Nando dan kak Melisha.


Namun, tidak aneh juga jika akhirnya mereka curiga, melihat sikapku dan kak Dion yang terlihat biasa-biasa saja, tidak ada mesra-mesranya.


Aku yang mendapat pertanyaan seperti itu, seketika tersedak ludah sendiri. Bingung mau jawab apa.


"Ya beneran lah," sahut kak Dion.


"Iya, aku perhatiin kalian tu kaya bukan orang pacaran, dan terkesan nggak saling kenal, malahan," Kak Melisha ikut menimpali.


"Awas lo, sampe permainin adek gw," ucap kak Nio bernada ancaman.


"Yuk, yank kita pergi aja dari sini," Jika sudah merasa terpojok, kak Dion mulai kembali melakukan sandiwara.


Lagi-lagi aku yang di tarik hanya bisa pasrah mengikuti.


Jangan pikir, dia akan membawaku ke suatu tempat yang romantis buat ngobrol berdua. Enggak!


"Dah sono balik ke kelas," titahnya, kemudian ngeloyor entah kemana.


Ngenes.


Bahkan Ayu sahabatku, sengaja tidak aku beri tahu. Buat apa? Percuma! Nggak ada yang spesial juga buat di pamerin. Yang ada entar malah aku yang di ledekin.


Pulang-pergi ngampus juga lebih sering bareng kak Nio dan kak Dipta. Untuk hal yang satu ini aku memaklumi, karena pacar boonganku itu tidak memiliki kendaraan. Tapi kalaupun memiliki kendaraan sendiri nggak jadi jaminan juga bakal mau mengantar-jemput.


Oh ya, untuk kak Dipta dia juga sudah tau dari kak Nio. Untuk pertama reaksinya sama. Kaget.

__ADS_1


Tapi Om kecik ku itu fine-fine aja selama aku yang menjalani merasa nyaman.


Nyaman, katanya? Hahaha ... Hanya bisa tertawa. Miris.


"Banyak-banyak makan semangka ya, biar nggak darah tinggi," pesan dari kak Dipta yang berhasil menyentil telingaku waktu itu.


Dan benar saja belum seminggu menyandang status kekasih dari si es balok cukup membuat kepalaku keliyengan.


Sebagai cewek yang terbiasa mendapat perhatian dari sang mantan yang kini tinggal kenangan, di cuekin seperti ini rasanya bikin mood uring-uringan.


"Aaaarrrrggghhhh ... " Hanya bisa mengerang dengan suara yang teredam oleh bantal dimana wajah ini kutenggelamkan.


Ting,


Tanganku beberapa kali berpindah menepuk ranjang, meraba mencari benda yang baru saja berbunyi.


Ketemu.


Kugeser layar, membuka kunci. Si aplikasi hijau menampakkan ada satu pesan dari nomor tak dikenal. Tanpa gambar profil yang tertera.


0812568xxxx


[P]


Nggak jelas dan ku abaikan.


0812568xxxxx


[P]


Lagi. Siapa sih?


Me : [Q]


Ku jawab asal. Malas meladeni orang-orang nggak jelas, kurasa dia hanya iseng.


Benar saja, tidak ada lagi balasan dari seberang sana, entah siapa.


Ah, ya sudahlah, mending juga aku tidur.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, komen dan Votenya ya?🙏😊😘


__ADS_2