
Satu bulan yang lalu...
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan di Rumah Sakit setempat, hasil tes menyatakan Ayah dan Ibu Khadija tidak memenuhi kriteria sebagai pendonor dengan alasan sang Ayah adalah perokok aktif, selain itu golongan darahnya tidak cocok.
Berbeda dengan sang Ibu yang memiliki golongan darah yang sesuai namun, riwayat Hipertensi yang pernah dideritanya membuat sang Ibu pun dinyatakan gagal sebagai pendonor.
"Maafin Bapak sama Ibu nduk, ndak bisa bantu Mertua kamu," ucap sang Ayah dengan raut kecewa setelah mendengar penjelasan dari Dokter. Sang ibu pun mengangguk sebagai bentuk permohonan maaf.
"Ndak papa Pak, Buk, yang penting kita kan sudah berusaha membantu," Khadija mengusap lengan sang Ayah dan Ibu bergantian seraya tersenyum.
"Kalo golongan darah Ibu cocok, kemungkinan darah saya cocok, bagaimana Dok?" tanya Khadija beralih pada Dokter yang ada di sebrang meja.
"Jangan Nduk, nanti kalau suamimu tahu pasti dia akan marah," sela sang Ibu sebelum Dokter menjawab.
"Mas Hafiz ndak akan tahu jika kita merahasiakanya Buk," Khadija berusaha menyakinkan orang tuanya.
"Kalau begitu mari kita lakukan pemeriksaan," jawab sang Dokter.
Khadija pun melakukan segenap pemeriksaan seperti halnya yang dilakukan oleh kedua orang tuanya.
Beberapa hari menunggu hasil tes, akhirnya Khadija menerima kabar jika ia memenuhi syarat sebagai pendonor. Dokterpun telah menjadwalkan jalanya oprasi Dua hari mendatang sembari memberikan waktu bagi pasien untuk mempersiapkan diri.
"Ibu Khadija?" dr. Harsa merasa terkejut ketika bertemu dengan pasien yang akan mendonorkan ginjalnya.
Dokter Rumah Sakit tempat Khadija akan menjalani operasi sudah mengkonfirmasi dr.Harsa selaku Dokter Spesialis Urologi, Dokter yang bertugas di Rumah sakit milik suaminya.
"Apa dr. Hafiz mengetahuinya?" tanya dr. Harsa ragu.
"Untuk sekarang belum, tapi nanti saya akan memberitahu suami saya." jawab Khadija.
"Maaf, saya tidak bisa melakukan operasi ini. Akan menjadi masalah jika suami anda mengetahuinya. Dan saya akan dituntut bahkan Rumah sakit ini juga bisa terkena masalah karena tidak memenuhi prosedur persetujuan dari pihak keluarga," terang dr. Harsa menjelaskan resiko yang akan di tanggungnya.
"dr. Harsa ndak perlu kuwatir, nanti saya yang akan bertanggung jawab," jelas Khadija menyakinkan, "Lagi pula harus berapa lama lagi mertua saya menunggu mendapat pendonor lain, lakukan secepatnya Dok, sebelum semuanya terlambat," bujuk Khadija.
dr. Harsa terlihat masih dilema meski Khadija sudah memberikan penjelasan.
[Iya Dok, saya sudah bertemu dengan pendonornya.]
[....]
[Baiklah, secepatnya saya akan kembali setelah operasi ini selesai]
"Itu pasti telepon dari suami saya?" tebak Khadija setelah dr. Harsa memutus sambunganya.
Pria bersnelli itu pun mengangguk.
"Apa yang terjadi Dok?" Khadija melihat ada kegusaran dari raut wajah Dokter yang ada di hadapanya.
"Mertua anda kondisinya memburuk,"
"Tunggu apa lagi, segera lakukan operasi ini sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan," pungkas Khadija tidak ingin mengulur waktu.
Setelah tercapai kesepakatan antara dr. Harsa dan Khadija maka operasi pun dilakukan. Khadija meminta identitasnya tetap di rahasiakan.
***
__ADS_1
Malam hari...
"Mas kok belum siap-siap?" tanya Khadija ketika menemukan sang suami berada di balkon kamarnya. "Sudah di tungguin lho sama Papa kamu," lanjutnya mengingatkan.
"Eh, iya sayang," jawab Hafiz tersadar dari lamunan.
"Ya udah yuk," ajak Khadija hendak beranjak dari sisi suaminya.
Hafiz pun mengekor dibelakang Perempuan yang sudah cantik dengan pakaian syar'inya.
"Kira-kira ada apa ya Mas, Papa kamu ngundang kita datang?" tanya Khadija sembari membantu sang suami mengkancingkan kemejanya.
"Entahlah Bund, semoga bukan hal yang buruk." harap Hafiz tidak terjadi sesuatu.
Setelah selesai kini Hafiz beserta Anak dan Istrinya hendak bertandang ke rumah orang tuanya memenuhi undangan sang Ayah.
Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian Ibukota di malam hari. Celotehan si kecil Zahra selalu bisa menghibur hati kedua orang tuanya.
Namun, tetap tidak bisa di pungkiri ada banyak pertanyaan yang tersusun di benak Hafiz dan Khadija mengiringi perjalanan mereka saat ini. Berbagai macam spekulasi pun muncul.
Apa yang sedang di rencanakan Papa ya? batin Hafiz.
Apa Papa Mas Hafiz akan menghukumku? racau Khadija dalam hati.
***
"Ada apa ini Pah?" tanya Ibu Hafiz melihat banyak menu makanan Spesial yang sudah tertata rapi di atas meja.
"Nanti Mama akan tahu," jawab Ayah Hafiz berniat memberi kejutan pada istrinya.
Satu jam kemudian, bel rumah pun berbunyi menandakan tamu yang dinanti telah datang.
Kriiiiet...
Setelah pintu rumah terbuka lebar, sang Ibu pun di buat terkejut oleh kedatangan tamu yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Namun, saat-saat inilah yang selalu di nantinya.
"Bilang ini bukan mimpi Pah?" tanya ibu Hafiz dengan mata berbinar menatap keluarga kecil Puteranya ada di depan mata.
"Kamu tidak sedang bermimpi Mah," jawab Ayah Hafiz seraya tersenyum. Untuk pertama kalinya Khadija melihat senyum ramah dari sang ayah mertua.
Hafiz, Khadija dan Zahra pun kemudian mencium tangan kedua orang tua yang masih berdiri di ambang pintu.
Tidak berbeda dengan sang majikan perempuan, ekspresi yang di tunjukan para ART pun sama. Sama-sama terkejut dan ikut bahagia.
Ayah Hafiz pun segera menggendong Zahra. Gadis kecil yang sempat tidak diakui sebagai cucunya.
"Anda ciapa?" tanya Zahra polos ketika berada di gendongan seseorang yang tidak dikenalnya.
"Sayang ini Opa, suaminya Oma. Kakek kamu," jawab sang nenek membantu menjelaskan.
"Ow," Zahra hanya membulatkan mulutnya sembari manggut-manggut paham. Dan sang kakek di buat gemas melihatnya.
"Ayo semua kita masuk," ajak sang Ayah pada Putra dan menantunya serta istrinya.
Setelah masuk kedalam rumah, tidak lupa Hafiz dan Khadija bertegur sapa dengan para ART yang tengah berdiri menyambut kedatanganya.
__ADS_1
"Jelaskan ada apa dengan semua ini Pah?" tanya sang istri masih penasaran dengan suasana yang terjadi malam ini.
Mereka kini tengah berkumpul di ruang keluarga. dan Zahra masih berada di pangkuan sang kakek.
"Papa sudah merestui pernikahan mereka," jelas Ayah Hafiz.
"Terima kasih Pa, Mama bahagia mendengarnya. Akhirnya doa-doa Mama di kabulkan oleh Alloh SWT."
Hafiz dan Khadija yang mendengar pernyataan sang Ayah, di buat terkejut dan tidak menyangka jika maksud undangan sang Ayah malam ini ternyata sebagai wujud restu yang diberikan.
"Makasih Pa," ucap Hafiz dengan senyum bahagia.
"Jadi kapan kalian kembali ke rumah ini lagi?" tanya sang Ayah pada Anak dan menantunya.
"Iya Rel, biar Mama gak bolak-balik ke Apartemen kamu jika Mama rindu kalian," timpal sang Ibu. "Kalau kalian disini, Mama kan juga bisa tahu bagaimana perkembangan calon cucu Mama," lanjut sang Ibu bersemangat.
"Jadi Khadija sekarang sedang hamil?" Sang Ayah memang masih belum mengetahui perihal kehamilan menantunya. Senyum cerah kembali berkembang dari bibir Pria paruh baya itu mendengar Satu lagi kabar bahagia.
"Iya Pah, Dija sekarang lagi hamil anak kedua," jawab Hafiz sembari mengusap perut rata sang istri yang duduk di sampingnya. "Untuk tawaran Papa, nanti Carel pikirkan lagi,"
"Papa tidak sedang memberikan penawaran, tapi Papa ingin kalian kembali ke rumah ini lagi."
"Tapi Pah ... "
"Mas," potong Khadija sebelum sang suami meneruskan kalimat sanggahanya. Khadija menganggukan kepala sebagai isyarat agar menyetujui tawaran sang ayah mertua.
"Baiklah Pah," ucap Hafiz, mengangguk setuju.
"Ya sudah, lebih baik sekarang kita makan malam." pungkas Ayah Hafiz mengajak semua anggota keluarganya untuk menikmati hidangan yang sudah di siapkan. "Cucu Opa ini pasti sudah lapar," lanjutnya menggoda Zahra.
"Opa kok tahu, kalo Zahla udah lapel?"
"Tadi Opa dengar, perut Zahra bunyi seperti Ayam kukuruyuk," Zahra tertawa mendengar gurauan dari sang Kakek.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung ...
Gimana sudah gak gagal paham lagi kan? Sengaja alur cerita ini dibikin Maju_mundur cantik, biar readersnya pinisirin...hehehe...
Berhubung nih aki-aki udah baik, tak kasih bonus visual ye...
Kalo ada aki-aki, pasti ada nini-nini, sekalian nih si Oma yang masih cantik jelita
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komen dan Vote_nya ya...🙏😘😊*