Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK -S2 Di fitnah


__ADS_3

"Makasih, Bang," ucap Dion sambil menyerahkan helm pada driver ojol yang sudah mengantarnya pulang.


Segera ia berbalik, lalu berjalan membuka pintu pagar kosan. Untuk pertama kalinya, Dion pulang lebih awal--bolos kerja. Bukan rasa lelah yang ia bawa pulang seperti hari-hari biasanya, tapi rasa bahagia yang siap menemani rebahanya.


Meski malam sudah hampir larut, tapi di kosan khusus untuk para laki-laki yang terdiri dari Sepuluh kamar itu, masih tampak ramai. Sebagian dari mereka--penghuni kosan masih ada yang bermain catur, bermain gitar, ngopi sambil ngobrol diiringi canda dan gelak tawa. Untuk sekedar menghilangkan penat dari kesibukan yang mereka kerjakan seharian. Seperti kebiasaan para pria pada umumnya yang di dominasi anak muda, baik itu mahasiswa maupun yang sudah bekerja.


Namun, dari semua aktifitas yang di lakukan para pemuda di sana--malam ini, ada Satu pemandangan yang membuat Dion hilang mood seketika.


"Nah, itu orangnya datang," tunjuk salah seorang pemuda yang kamarnya tepat di sebelah kanan kamar Dion, duduk di samping seorang wanita. Sedang menemani ngobrol, sepertinya.


Wanita itu pun berdiri melihat kedatangan pemuda yang baru muncul dari balik pintu pagar.


"Tumben lo, Bro, jam segini udah pulang," Teman yang sedang bermain gitar ikut berkomentar.


"Iyalah, pulang cepet, orang ada ceweknya nungguin di sini," sahut yang lain setengah berteriak.


Seperti biasa, Dion tak menghiraukan ocehan para teman-temanya. Rasa senang yang semula ia bawa, dalam sekejap meluap entah kemana. Yang ada sekarang justru rasa jengkel yang sempat hilang, kini kembali datang.


Tatapan sinisnya mengarah pada wanita cantik yang kehadiranya membuat Dion terusik.


"Ikut gue!" Dion menarik tangan Amanda menuju arah pintu gerbang-keluar. Tanpa menghiraukan beberapa teman yang melongo melihat sikapnya yang di nilai cukup kasar terhadap seorang wanita.


Semenjak kepergian Dion beberapa jam yang lalu, tak sedikitpun Amanda beranjak dari tempatnya--duduk di teras depan kamar Dion. Wanita itu kekeh menunggu kepulangan pemuda yang telah mengusirnya, meski dia tahu, Dion akan pulang ketika subuh menjelang.


Tapi, malam ini Amanda beruntung, pria yang dia tunggu pulang lebih awal.


Namun, sial bagi Dion.


"Ngapain lo masih di sini?!" Dion menghempas tangan Amanda, kasar. Membuat wanita itu mengaduh kesakitan.


"Bisa gak sih lo, gak kasar sama perempuan," dengus Amanda kesal sambil mengusap-usap pergelangan tangannya yang memerah.


"Gue bisa lebih kasar dari ini, kalo lo gak cepet pergi dari sini," ancam Dion penuh penekanan.


"Dan, lo tega kalo gue dan janin yang ada di perut gue di bunuh sama Alvaro," cetus Amanda, seketika membuat Dion terdiam.


Dion bingung, tidak tahu harus berbuat apa. Rasa kesalnya terhadap Amanda, karena secara tidak langsung wanita itu sudah melibatkanya dalam masalah yang sama sekali bukan urusanya--tidak lantas membuat hatinya tega membiarkan wanita itu dalam bahaya.


Akhirnya, dengan sangat terpaksa Dion bersedia membantu Amanda. Dengan Satu syarat.


"Untuk malam ini, gue izinin lo ngumpet di sini. Tapi, besok secepatnya lo harus angkat kaki dari sini. Dan gue gak mau lagi denger alesan lo, apapun itu!" tegas Dion kemudian kembali masuk meninggalkan Amanda yang hendak mengatakan sesuatu.


Amanda pun kembali merapatkan bibirnya yang sempat terbuka, lalu mengikuti langkah pemuda yang masuk terlebih dahulu ke dalam sana.


Yah, sudahlah urusan besok bisa dipikirkan nanti, yang penting sekarang ia merasa aman, batin Amanda.


"Fer, malam ini gue ikut numpang tidur di kamar lo," ucap Dion sambil membuka kunci pintu kamarnya.


"Udah bagus ada cewek lo yang ngelonin, malah numpang tidur di kamar gue," celetuk pemuda yang bernama Ferry di ikuti sorak riuh dari teman-teman yang lain. Bahkan, ada juga yang menyahut, salah seorang dari mereka bersedia menemani Amanda tidur--mubadzir bila di anggurin, katanya.


Dion hanya melengos, menanggapi. Ia tahu teman-temanya itu hanya bercanda. Di jelaskan pun percuma, apa yang sebenarnya--tentang status Amanda. Kalau tidak malah akan menimbulkan asumsi liar dari pikiran mereka. Bisa saja ia dituduh menyembunyikan atau bahkan disangka merebut istri orang.


Sementara Amanda tampak malu-malu, merapatkan tubuhnya berada di belakang Dion.


"Masuk," perintah Dion pada wanita yang berdiri di belakangnya, saat pintu sudah terbuka.


Amanda sedikit terkejut ketika sudah masuk ke kamar yang hanya berukuran 4 x 4 meter persegi tersebut.


Tempat kos yang di sewa oleh Dion memang terbilang cukup murah. Sengaja Dion memilih tempat ini, karena memang di sesuaikan dengan kondisi keuangan. Yang terpenting baginya bisa untuk beristirahat melepas lelah dari semua kegiatan yang ia jalani itu sudah lebih dari cukup.


"Oh my God, seriusan ini nanti gue tidur di sini?" tanya Amanda sambil menunjuk kasur yang ketebalanya hanya Lima centi, tergelar di atas lantai keramik berwarna putih.


Lanjut, Amanda menyisir pandangan ke segala arah. Tidak ada perabot yang melengkapi, TV, AC, kulkas, misalnya. Hanya ada lemari plastik berwarna coklat yang berdiri di sudut ruangan dan sebuah kipas angin yang tergantung di atas dinding.

__ADS_1


Namun, cukup rapi untuk ukuran kamar seorang laki-laki, menurut Amanda.


"Kalo lo nggak suka, silahkan pergi! ucap Dion dingin. Ia sudah menduga wanita sosialita seperti Amanda tidak mungkin bisa tinggal di tempat sempit nan kumuh seperti ini.


"Eh, gak pa-pa kok," sahut Amanda dengan cepat. Bisa gawat jika Dion berubah pikiran. Menurutnya hanya Dion yang saat ini bisa ia andalkan untuk melindunginya.


***


"Zahra ..." teriak Ayu sambil berlari menghampiri sahabatnya yang berada di parkiran.


Setelah melepas helm, Zahra menengok ke arah Ayu yang sudah hampir mendekat dengan napas tersengal, "Gak usah teriak-teriak kali, gue udah denger," Lengkingan suara sahabatnya itu membuat Zahra mengomel.


Tampak Ayu masih mengatur napas, "Tumben, lo sendiri? tanyanya kemudian melihat sahabatnya itu tanpa gandengan.


Kedekatan Dion dan Zahra yang semula hanya orang terdekat mereka saja yang tahu, kini hubungan keduanya sudah tersebar ke seluruh penjuru kampus. Bukan karena kemesraan yang terumbar, tetapi karena intensitas mereka yang selalu terlihat kemana-mana bersama. Dan saling mencari Satu sama lain ketika tidak terlihat di depan mata.


"Iya, Kak Dion katanya lagi ada urusan. Hari ini dia cuma ada Satu mata kuliah, nanti di jam terakhir," jawab Zahra sembari membenahi hijabnya di depan kaca spion.


Pagi-pagi sekali Dion mengirim pesan pada Zahra agar tidak menunggunya.


"Udah cantik kali. Udah yuk, masuk," Ayu menarik lengan Zahra yang belum selesai-selesai mematut wajahnya di depan kaca.


Tidak seperti biasa, kali ini Zahra langsung menuju kelas bersama sahabatnya. Setelah mengedarkan pandangan di mana biasa tempat nongkrongnya bersama Dipta, Nio, Melisha dan Nando masih tampak sepi. Mungkin mereka belum datang, pikir Zahra.


Tidak banyak hal yang di lakukan Zahra dan Ayu sembari menunggu sang Dosen masuk kelas, selain ngobrol ke sana-kemari.


"Sssttt ... Ra, tuh?" Ayu menyenggol gadis di sebelahnya, menunjuk dengan mulut memberikan isyarat.


Seketika Zahra menghentikan cerita yang sedang di bahas. Gadis itu mengernyit sambil mengangkat dagu sekilas, "Apa?"


Ayu memainkan mata, agar Zahra mengikuti arah bola mata itu memutar.


Sebelum Zahra memindai pandanganya, tiba-tiba ...


Zahra terkejut dengan kehadiran sang mantan.


"Ya udah, gue keluar dulu," pamit Ayu setelah mendapat isyarat dari Alvaro agar ia meninggalkan mereka berdua.


Kebetulan hanya ada Zahra dan Ayu di kelas.


Zahra mencoba menahan sahabatnya itu. Namun, Ayu lebih dulu berlalu tanpa menghiraukan seruan gadis berhijab abu-abu itu untuk tidak meninggalkanya berdua.


Dalam hati Zahra mengancam Ayu, jika nanti bertemu.


Zahra marasa trauma bila berada di dekat Alvaro, takut pemuda itu berbuat di luar dugaan--pelecehan seperti waktu itu. Terlebih saat ini tidak ada Dion di sisinya.


"Ngapain kamu ke sini?" tanya Zahra menatap tidak suka ke arah pemuda yang memasang senyum manis di hadapanya. Tetapi, kini senyuman itu terlihat mengerikan di mata Zahra.


"Kangen sama kamu," ucap Alvaro santai.


"Jangan macem-mecem kamu, Varo!" ketus Zahra, memalingkan muka tidak ingin bersitatap dengan wajah yang begitu menjijikkan baginya--tersirat tatapan penuh nafsu.


Alvaro tertawa kecil melihat sikap Zahra yang terlihat sok jual mahal, "Oh ya, aku ada sesuatu buat kamu," ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dari saku kemeja garis-garis yang ia kenakan. Kemudian sejenak mengutak-atik benda pipih itu sebelum menyodorkan ke arah gadis yang saat ini tengah mengacuhkanya.


Dengan penuh rasa penasaran, meski masih terlihat enggan menoleh--sedikit melirik, ekor mata Zahra menangkap gambar dari layar ponsel yang tergeletak di atas meja. Seketika mata itu membesar.


Brak!


Tidak terkejut sama sekali, justru reaksi seperti inilah yang di harapkan Alvaro. Pemuda itu menyeringai melihat sorot kemarahan saat Zahra menggebrak meja.


Tamat riwayatmu, Dion! Batin Alvaro. Tersenyum penuh kemenangan.


Sesaat Zahra tersulut emosi, siapa yang tidak sesak melihat kekasihnya di peluk wanita lain, meski tampak dari foto itu Dion tidak membalas pelukan sang wanita.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian ekspresi Zahra kembali tenang.


"Jangan pikir aku mudah termakan fitnah kamu!" Zahra tersenyum miring, sedikit mencondongkan wajah dengan kedua tangan bertumpu di atas meja, "Dia Amanda, kan?" tanyanya memastikan. Walau ia sudah tahu sosok wanita itu sebenarnya.


Terlihat keterkejutan dari mata hitam Alvaro. Pemuda itu terlihat sedikit menggeser duduk jadi lebih tegak. Menandakan sudah tidak sesantai tadi.


Semalam saat sudah berada di kamar Ferry, Dion mengirim pesan chart pada Zahra. Pemuda itu memberitahu akan keberadaan Amanda yang tengah berada di kosanya. Dion tidak ingin ada sesuatu yang di tutup-tutupi dari kekasihnya itu. Terlebih hal yang rentan menimbulkan salah paham dan mengancam kelanjutan hubunganya yang masih terbilang baru.


Bukan hanya itu, jika sudah menyangkut tentang Alvaro, firasat Dion mengatakan akan ada sesuatu hal yang tidak beres terjadi.


Terkejut awalnya. Tapi setelah mendengar penjelasan dari Dion, akhirnya Zahra mengerti.


"Aku tidak menyangka kamu melakukan hal serendah itu," Zahra menggelengkan kepala, lalu meneruskan ucapanya, "Hanya demi mewujudkan sebuah ambisi, kamu rela mengorbankan istri kamu sendiri untuk menjatuhkan orang lain. Asal kamu tahu, aku dan Dion tidak sebodoh yang kamu kira," tukas Zahra panjang lebar membuat Alvaro tidak bisa berkata-kata.


Semalam Dion juga mengatakan, mustahil seorang Alvaro tidak mengetahui keberadaan istrinya--sudah pasti dia memiliki mata-mata (orang suruhan). Bisa saja Alvaro membiarkan Amanda berada di kosanya, dengan begitu pria itu mendapat bukti untuk memfitnahnya.


Dan sekarang Zahra membenarkan apa yang menjadi kekhawatiran Dion. Terbukti dengan adanya foto Amanda sedang memeluk Dion--ada di ponsel mantanya itu. Entah bagaimana caranya Alvaro mendapatka foto tersebut.


Tanpa ingin mendengar kalimat sanggahan bernada bualan yang mungkin akan di ucapkan Alvaro, Zahra memutuskan menarik diri dari tempat duduknya. Kemudian segera beranjak pergi meninggalkan pemuda itu sendiri dengan kekalahanya.


"Brengs*k!" umpat Alvaro dengan emosi memuncak. Rencana piciknya gagal.


***


Di tempat lain ...


Dion menatap sendu ke arah seorang pria paruh baya yang sedang memakan makanan yang ia bawa dengan begitu lahap.


"Uhuk ... Uhuk ..."


"Minum dulu Pa," Dion menyodorkan botol air mineral yang juga ia bawa.


Sang ayah pun meraih botol itu lalu meminumnya, untuk menghilangkan rasa pedih di tenggorokan karena tersedak.


"Kok gak di lanjut makanya, Pa?" tanya Dion melihat makanan yang di letakkan sang ayah di atas meja masih tersisa.


Pria setengah tua itu menggeleng, "Papa rindu sama Doni dan Dina. Apa kabar mereka, apa mereka sudah makan? Pasti mereka sedang membicarakan Papa, makanya Papa tersedak," ucapnya dengan raut kesedihan.


"Papa jangan khawatir, setiap bulan Dion selalu mengirim uang untuk kebutuhan mereka," Dion menggenggam tangan sang ayah, menguatkan, "Dion janji, suatu hari nanti Dion akan bawa Doni dan Dina kemari."


Sang ayah tersenyum, menepuk-nepuk punggung tangan Dion, "Terima kasih, cuma kamu yang bisa Papa andalkan. Selama Papa di sini, Papa titip adik-adik kamu. Sering-seringlah pulang, tengok mereka."


"Iya, Pa." Dion mengangguk, menyanggupi. Meski ada rasa berat menghinggap di hati.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Makin penasaran kan? Pelan-pelan ya, kita ungkap siapa Dion sebenarnya dan latar belakang keluarganya.


Jangan lupa like, komen, dan votenya ...🙏😊😘


Nih author kasih bonus visual Alvaro.

__ADS_1



__ADS_2