
Khadija terisak dalam pelukan Aisyah, sang Adik yang baru bertemu beberapa jam yang lalu.
Khadija, Leni, Aisyah dan Aslan saat ini barada di luar ruang UGD tengah menanti kabar kepastian dengan perasaan harap-harap cemas.
Meskipun Aslan dan Aisyah tidak tahu pasti apa hubungan Khadija dengan seorang anak kecil dan perempuan paruh baya yang saat ini berada di dalam ruang UGD, mereka berdua turut merasa khawatir.
Banyak pertanyaan yang terlintas di benak Aslan dan Aisyah saat ini. Namun, tidak mungkin mereka akan menanyakannya pada Khadija dalam kondisi seperti ini.
Setidaknya sepasang suami istri ini harus sabar menunggu sampai menemukan waktu yang tepat untuk menjawab rasa penasaranya.
Jangankan untuk berbicara, bahkan untuk bernafas pun rasanya sulit bagi Khadija saat ini.
Leni dan Aisyah terus berusaha menenangkan Khadija yang sudah terkulai lemas duduk dikursi ruang tunggu.
Satu jam berlalu. Belum ada kabar sama sekali dari Dokter maupun Perawat yang menangani Dua korban kecelakaan yang ada di dalam sana.
Tidak lama berselang, Satu perawat keluar dengan raut wajah panik.
"Dengan keluarga Anak Zahra?" panggil sang Perawat saat baru keluar dari ruang UGD.
Khadija langsung berlari menghampiri sang Perawat, begitu juga dengan Aslan, Aisyah dan Leni.
"Bagaimana kondisi mereka berdua Sus?" Tanya Khadija penuh kekhawatiran.
"Kondisi Ibu Aminah sudah stabil. Tetapi Zahra kondisinya kritis, dia banyak kehilangan darah. Stock darah dirumah sakit ini untuk golongan dari Putri anda sedang kosong. Dan kami harap pihak keluarga mencari pendonor untuk Zahra secepatnya," jelas sang Perawat.
"Apa golongan darah Zahra Sus?" tanya Aslan memastikan.
" Golongan darahnya AB."
Golongan darah yang di miliki Zahra tergolong jenis golongan darah yang langka, jadi cukup sulit untuk segera menemukan pendonornya. Namun, kini mereka sedang di buru waktu demi menyelamatkan gadis kecil yang tengah berjuang antara hidup dan mati.
Khadija semakin tak kuasa mendengar kondisi Zahra saat ini, otaknya pun sudah tidak mampu lagi untuk berfikir.
"Sabar Ja, semoga Zahra cepat menemukan pendonornya." ucap Leni menenangkan Khadija.
" Iya Mbak, mari kita berdoa untuk keselamatan Zahra." Imbuh Aisyah.
Khadija masih tercekat membisu, tatapan matanya kosong, perlahan kelopak mata Khadija meredup, tubuhnya pun luruh ke lantai dengan mata yang sudah terpejam.
Aslan, Aisyah dan Leni bertambah panik mendapati kondisi Khadija yang pingsan tak berdaya.
Aslan segera memanggil Perawat untuk menangani Khadija.
Setelah Khadija sudah tertangani, Aslan berpamitan pada Istrinya, sedang Leni berada di depan ruang UGD, berjaga jika sewaktu_waktu Dokter mencari keluarga Pasien.
" Sayang, kamu jaga Mbak kamu dulu disini, Mas mau mencari pendonor untuk Zahra."
" Iya Mas."
Segera Aslan keluar dari ruang perawatan Khadija.
Tampak Aslan sedang berfikir dan langkah cepat kakinya yang terus berjalan entah kemana.
Aslan menuju satu ruangan yang cukup Familiar baginya.
Tanpa permisi, dengan cepat Aslan membuka pintu ruangan itu.
" Aslan!" Ucap seseorang terkejut dengan kehadiran Aslan tiba_tiba.
" Gak usah banyak tanya dulu, cepetan lo ikut gw!" Tanpa basa_basi Aslan menarik paksa tangan orang yang tampak terkejut dengan kehadiranya.
Dengan wajah bingungnya seseorang tersebut mengikuti langkah terburu_buru Aslan tanpa banyak tanya.
Setelah sampai di ruangan yang dituju, seseorang itu mengerutkan keningnya.
" Ngapain lo dateng_dateng ngajak gw kesini?"
Alih_alih menjawab pertanyaan orang tersebut, Aslan segera memanggil satu Perawat.
" Sus, segera ambil darah orang ini?"
" Hah~..."
Perawat itu pun merasa terkejut begitu juga orang yang di maksud Aslan untuk di ambil darahnya.
" Dokter Hafiz?" Tanya sang Perawat dengan wajah sungkan.
" Udah cepetan Sus, kita tidak punya cukup waktu." Tukas Aslan.
__ADS_1
" Mari Dok."
Segera Aslan mendorong tubuh seseorang itu, yang ternyata sahabatnya sendiri, dr.Hafiz selaku pemilik Rumah sakit.
Hafiz masih terbengong, tidak mengerti apa yang di maksud Aslan, kenapa ia harus mendonorkan darahnya.
" Sedot yang banyak Sus, kalau perlu sampai habis sekalian juga gak papa." Ucap Aslan santai, ketika sang Perawat bersiap memasangkan jarum di lengan Hafiz.
" Enak aja lo, dateng_dateng udah mau ngebunuh gw!" Cibir Hafiz dengan wajah juteknya.
" Ini menyangkut hidup mati seorang anak kecil Rel?"
" Maksud lo?"
" Udah, jangan banyak tanya dulu, ntar juga lo tau?"
Aslan tidak tau bagaimana ia menjelaskan pada Hafiz, maksud ia menyuruh Hafiz untuk mendonorkan darahnya, karena Aslan juga belum tahu hubungan apa yang terjalin antara Khadija dan Zahra.
Aslan juga tidak memberitahu pada Hafiz, pertemuanya dengan Khadija, karena menurut Aslan tidak ada pengaruhnya juga Hafiz mengetahuinya.
Pengambilan darah pun selesai, Aslan dan Hafiz keluar dan beranjak pergi ketempatnya masing_masing, setelah sebelumnya Hafiz berjanji ingin bertemu dengan anak kecil yang di maksud Aslan.
Hafiz menuju ruang praktenya, karena ada janji dengan pasien dan Aslan kembali ke ruangan Khadija di rawat.
" Gimana Mas, kamu sudah dapat pendonornya?" Tanya Khadija yang sudah siuman dari pingsanya, ketika Aslan sudah masuk keruanganya.
" Sudah, kamu tenang aja ya Ja? Zahra pasti akan baik_baik saja." Jelas Aslan.
Ceklek...
Seseorang masuk ke ruangan Khadija.
" Ja, Zahra dan Ummi setelah ini akan di pindahkan ke ruang perawatan." Leni memberitahu Khadija.
" Bawa aku kesana, aku ingin melihat Zahra!" Ucap Khadija yang beranjak turun dari brankarnya.
" Tapi Ja~..." Cegah Aslan yang ditahan oleh Aisyah. Aisyah memegang lengan suaminya dan menggelengkan kepalanya pelan.
Aisyah sudah hafal dengan watak Khadija yang keras kepala, jadi akan percuma apa bila mencegahnya.
" Biarkan saja Mas, Mbak Dija ketemu Zahra." Ujar Aisyah pada Aslan. Dan Aslan pun mengangguk paham.
Khadija dan Leni berbagi tugas, Khadija yang menunggui Zahra, lalu Leni bertugas menunggui Ummi Aminah.
Setelah masuk kedalam ruangan Zahra, dilihatnya tubuh gadis kecil itu terbaring penuh luka lebam dan goresan akibat benturan dengan Aspal.
Kecelakaan yang di alami Ummi Aminah dan Zahra murni kecelakaan tunggal, karena Ummi Aminah hilang keseimbangan pada saat beliau akan membelokan motornya ke arah rumahnya, tetapi dari arah yang sama ada kendaraan lain menyalip dengan kecepatan tinggi, membuat Ummi Aminah kaget dan motor yang di kendarainya pun oleng, mengakibatkan Zahra yang duduk di depan, tubuh kecilnya terpental dan kepalanya membentur Aspal. sedang Ummi Aminah tertindih badan motornya.
Meski sudah dinyatakan stabil setelah mendapatkan donor darah, tidak lantas membuat Zahra kecil tersadar, butuh waktu untuk menunggunya siuman.
Khadija duduk di tepi brankar Zahra, tanganya selalu menggenggam tangan kecil putrinya, air matanya kembali berlinang.
" Bangun Sayang, jangan tinggalin Bunda?" Ucap Khadija sebelah tanganya membelai pipi lebam Zahra.
Aslan dan Aisyah yang berdiri di belakang Khadija hanya saling menatap penuh tanda tanya.
Dalam tangisnya, Khadija tak henti_hetinya membacakan Surah Yasin yang sudah dihafalnya di luar kepala.
Tak lama setelah itu, pintu ruangan terbuka masuklah Dua orang Pria yang masih lengkap dengan snellinya.
" Permisi." Ucap salah Satu Pria, yang keduanya sama_sama berprofesi sebagai Dokter.
Aslan dan Aisyah pun menoleh, namun tidak dengan Khadija yang terus fokus memandang wajah pucat putrinya.
Kedua orang Pria itu pun berjalan mendekat, kemudian bersalaman dengan Aisyah Istri Aslan, yang sebelumnya sudah di sambut terlebih dahulu oleh salaman Khas para Pria oleh Aslan.
Tidak ada yang menyerukan suaranya, karena sangat tidak etis berisik di ruangan orang sakit. Mereka hanya saling melempar senyuman dan anggukan kepala.
Selesai dengan acara saling menyapa dengan senyuman, mata semua orang beralih pada sosok tubuh kecil yang sedang terbaring tak sadarkan diri.
" Princes?" Kata yang keluar dari salah seorang Pria, tatapan mata semua orang tertuju padanya. Begitu juga dengan Khadija yang mendengar sebutan untuk Putri kecilnya diucapkan.
Khadija beranjak dari duduknya dan menoleh pada beberapa orang yang berdiri di belakangnya.
Tiga pasang mata saling bertemu dan saling terkejut.
" KHADIJA!" Seru kedua Pria itu.
" Mas Dokter, Mas Dio!" Seru Khadija terkejut.
__ADS_1
" Ini benar kamu Ja?" .Ulang Hafiz, dengan mencekal kedua bahu Khadija. Khadija mengangguk lalu menurunkan pandanganya kesebelah bahunya.
Mengerti akan tatapan Khadija, Hafiz pun menurunkan tanganya yang semula bertengger di bahu Khadija.
Jika dulu saja Khadija tidak mau di sentuh orang yang bukan muhrimnya, apalagi sekarang, dengan tampilan Khadija yang Syar'i akan sangat tidak mungkin untuk menyentuhnya sembarangan.
" Dari mana kamu tahu nama panggilan itu Mas?" Tanya Khadija heran.
" Aku bertemu denganya tadi pagi di taman." Jawab Hafiz.
Dio, Aslan dan Aisyah masih diam, menyimak Interaksi Hafiz dan Khadija.
" Ternyata Alloh punya caranya sendiri untuk mempertemukan kalian berdua." Ucap Khadija datar membuang tatapan matanya.
" Maksud kamu?" Tanya Hafiz dengan sorot mata tajam meminta penjelasan.
Khadija melihat sekilas ke arah Zahra dan kembali menatap Hafiz, Khadija mengangguk memberikan Isyarat yang penuh dengan makna.
Semua orang yang ada diruangan itu, semakin di buat bingung dengan maksud percakapan Hafiz dan Khadija.
Ada apa dengan Hafiz dan Khadija di masa lalu?
Begitulah kira_kira pertanyaan yang ada di otak Aslan dan Dio. Sedangkan Aisyah masih menunggu fakta apa lagi yang akan terungkap setelah sekian lama sang Kakak tidak pernah memberi kabar.
" Jadi, dia Anakku?" Tanya Hafiz, dengan menunjuk dirinya sendiri.
" Namanya Zahra, Ya dia anak kita." Khadija memperjelas.
Jeedddeeerrr....
Bagai petir di siang bolong, pernyataan Khadija seperti Bom waktu yang baru saja meledak.
Khadija tidak ingin menyembunyikan semuanya lagi, menurutnya sudah saatnya semua harus terbongkar, ada Zahra yang butuh pengakuan dari seorang Ayah yang selama ini dirahasiakanya. Mungkin ini cara Alloh mengungkapkan semuanya.
Terkejut, bingung dan rasa tak percaya campur aduk jadi satu menyelimuti benak semua orang, kecuali Khadija.
Namun rasa itu berubah menjadi bahagia, Hafiz tidak menyangka jika impianya selama ini memiliki seorang anak terwujud meski berawal dari sebuah kesalahan dan ketidak sengajaan yang dilakukan di masa lalunya.
Hafiz berlalu melewati Khadija mendekat ke arah putri kecilnya.
Hafiz menghujani ciuman di wajah pucat Zahra. Rasa bahagianya membuat Hafiz lupa akan keberadaan Aslan dan Dio yang siap memberondongnya dengan seribu pertanyaan.
Aisyah menghampiri Khadija yang masih diam terpaku berdiri di tempatnya. Aisyah kemudian merangkul kembali sang Kakak, tetapi Aisyah juga masih belum berani meminta penjelasan. Ia akan menunggu Khadija sendiri yang akan menjelaskanya terlebih dahulu.
" Sayang bangun, ini Papa datang buat kamu? Katanya Princes ingin main lagi besok dengan Papa..."Racau Hafiz, mengingat pertemuan yang tidak disengaja dengan seorang gadis kecil, yang ternyata adalah Putri kandungnya sendiri.
Air matanya pun sudah tidak bisa dibendung lagi. Hafiz merasa terharu dan bahagia bisa bertemu dengan buah hati yang sebelumnya tak pernah ia duga, namun ia juga merasa sedih, dengan kondisi Putrinya saat ini.
Dio menepuk pundak Aslan untuk mengajaknya keluar.
" Beri mereka waktu menyelesaikan masalahnya." Ucap Dio dan diangguki oleh Aslan.
Kemudian Dio dan Aslan pun keluar dari ruang perawatan Zahra, tak lupa Aslan mengajak pula Istrinya, dan kini hanya ada Hafiz, Khadija dan Zahra di dalam ruangan itu.
.
.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
Fatimah Az Zahra
Gimana udah gak pinisirin lagi kan? Untuk kisah selanjutnya, yuk mari dikomen kasih Author masukan...
Visual Aslan dan Aisyah udah aku kasih di Bab 32.
Jangan lupa Like dan Komenya...Khop khun kha...🙏🙏🙏*
__ADS_1