
Lima menit menunggu,
[Assalamualaikum Ja, Maaf aku gak bisa jemput kamu, aku ada urusan mendadak.]
Khadija menghembuskan nafas beratnya setelah mendapatkan pesan chart dari Aslan. Dan dibalas Khadija dengan kalimat [Iya ndak papa.]
Bukan karena Khadija kecewa, tapi sebaliknya Khadija merasa senang, tidak harus terjebak dalam situasi rumit.
"Gimana ini, waktu buka puasa tinggal Lima belas menit lagi, masa iya Dija harus pulang jalan kaki?" gumam Khadija menilik Jam yang ada di ponselnya.
Saat kaki Khadija akan melangkah memutuskan kembali ke rumah dengan berjalan kaki, langkah Khadija terkunci ketika mobil yang di kenalnya menepi menghampirinya.
"Ja, ayo masuk!" ucap laki-laki yang ada di dalam mobil itu dengan mencondongkan kepalanya di kaca mobil yang terbuka.
"Hah~..." Khadija terbengong berdiri di tempatnya.
"Hey, Mbak, ayo ikut saja. Sudah hampir Maghrib nih?" sahut sang Wanita yang ada di samping lelaki itu.
Khadija sedikit tersentak dari lamunanya saat wanita itu membuka suaranya.
"ii...iya maaf." Dengan perasaan ragu Khadija masuk ke dalam mobil sport warna hitam. Mobil siapa lagi kalau bukan mobil suaminya sendiri, Hafiz.
Khadija terkejut melihat Hafiz dan Alina datang menjemputnya. Ada rasa lega di hati Khadija, meskipun suaminya bersama wanita lain.
Di kursi penumpang belakang, Khadija duduk hanya diam, tanpa menanyakan alasan Hafiz datang menjemputnya kembali. Karena menurut Khadija itu tidak penting.
"Tadi Aslan nelepon aku suruh jemput kamu, katanya dia nanti datangnya agak telat." Hafiz membuka suara. Melirik Khadija dari kaca spion.
"Owh ... Jadi ini alasanya?" timpal Alina.
Beberapa menit yang lalu saat Hafiz sampai di Apartemen Alina, Aslan menghubungi Hafiz untuk menjemput Khadija, takut Khadija sudah menunggunya.
"Rel, lo dimana?" tanya Aslan melalui sambungan telepon.
"Nih gw masih jemput Alina. Kenapa?"
"Gw minta tolong nanti sekalian lo jemput Khadija, kasian mungkin dia udah nungguin gw," jawab Aslan diseberang sana.
"Hhmm ..."
Aslan pun mematikan sambungan teleponya setelah mendapat persetujuan dari Hafiz. Aslan memberitahu Hafiz lewat pesan chart dimana pria itu harus menjemput Khadija seperti biasa ia menjemputnya.
Dasar Aslan sialan..! Tahu gitu tadi Khadija gak gw turunin! Hafiz menggerutu dalam hati.
Hafiz merasa kasihan dan khawatir dengan Khadija yang tengah berpuasa, karena jam berbuka pun sudah hampir tiba.
Setelah ia dan Alina sudah siap di dalam mobil, Hafiz segera menancap gasnya dengan kecepatan tinggi berpacu mengejar waktu.
"Sayang, pelan-pelan dong? Kenapa sih, kok buru-buru?" omel Alina
"Jam berbuka sudah dekat!" ucap Hafiz, pandanganya fokos ke arah jalan raya.
"Kamu puasa lagi ya?" tanya Alina dengan memicingkan matanya.
"Bukan aku, tapi Khadija,"
"Khadija yang puasa, kenapa kamu yang buru-buru sih? Khadija itu bukanya pacarnya Aslan ya?"
"Nanti saja aku jelasin!"
Hafiz menghela nafas lega, ketika melihat Khadija masih berada ditempat dia menurunkanya semula.
Sebelum sampai di tempat yang di tuju, Adzan Maghrib sudah berkumandang, waktunya Khadija untuk berbuka puasa. Namun, tidak ada sesuatu yang digunakan untuk membatalkan puasanya.
Hafiz dengan cepat membuka Dasboard mobilnya, pria itu mengambil sesuatu yang ada di dalamnya dengan satu tangan, Satu tanganya lagi stand by pada lingkaran kemudi.
"Ja ini," Hafiz menyodorkan sebotol air mineral berukuran sedang, tanpa menengok ke arah Khadija, "Batalin dulu puasa kamu." Pria itu selalu menyediakan air minum di dalam mobilnya.
Sementara itu Alina yang sedari awal selalu bersikap manja pada Hafiz, hanya cuek pada Khadija. Tanpa rasa malu Alina menampakan kemesraanya dengan Hafiz di depan mata Khadija.
Peduli setan dengan Khadija, toh dia bukan siapa_siapa. Dia hanya orang yang di titipkan untuk menumpang. Begitulah kira_kira yang ada di fikiran Alina.
" Makasih Mas." Ucap Khadija, meraih benda yang diulurkan Hafiz.
" Alhamdulillah..." Ucap Khadija pelan setelah menenggak minumanya.
Lama banget to sampainya? Batin Khadija.
Khadija merasa risih dengan pemandangan yang ada di depanya, meskipun Khadija sudah terbiasa melihatnya, namun Khadija ingin Hafiz menghormati bulan suci ini.
Khadija berusaha mengalihkan pandanganya, namun Suara mesra Alina membuat telinga Khadija gerah.
"Mas, ingat ini bulan puasa lho!"
Karena merasa tidak tahan, Khadija mengirim pesan pada Hafiz.
__ADS_1
Ditengah kemesraan yang di hiasi tawa candanya dengan Alina, Hafiz kemudian membaca pesan dari Khadija setelah notif pesan ponselnya berbunyi.
Lalu sekilas Hafiz melirik Khadija yang sedang berpura_pura tidur dari kaca spionya.
Dirasa Khadija sedang tertidur, maka ia tidak menghiraukan pesan dari Khadija. Hafiz takut Alina tersinggung, jika ia memperingatkan sang kekasih untuk menjaga sikapnya. Karena selama ini Hafiz tidak pernah menolak akan perlakuan Alina.
Dalam kepura_puraan tidurnya, Khadija merasa kesal, karena pesanya tidak di hiraukan oleh Hafiz.
Astagfirullohaladzim...Khadija hanya bisa beristigfar dalam hati.
***
Di tempat lain, dr. Dio dan keluarganya sudah menunggu kedatangan para sahabatnya di Restauran yang mereka pesan sebelumnya.
Sudah lewat Sepuluh menit dari jam berbuka puasa, namun para sahabatnya belum menampakan batang hidungnya.
Tidak lama kemudian datang Satu Pria yang di apit Dua Wanita, siapa lagi kalau bukan Hafiz, Khadija dan Alina yang sudah datang menghampiri meja yang sudah tertata dengan menu yang menggugah selera.
" Horeee...Tante cantik udah datang?" Sorak Nio melihat Khadija berjalan ke arahnya.
Nio pun turun dari kursinya menyambut kedatangan Khadija. Khadija pun menyambut tubuh kecil Nio ke dalam gendonganya.
" Sorry Yo, Gw telat!" Ucap Hafiz cengengesan sambil menarik satu kursi untuk Alina.
" Udah lagu lama, kalo lo ngaret!" Jawab Dio datar. Clara istri Dio hanya tersenyum menyambut Hafiz, Khadija dan Alina.
" Siapa ini Rel?" Tanya Clara penasaran karena kali pertama ia melihat Alina. Kalau Khadija, Clara sudah mengenalnya bahkan sudah mulai akrab dengan Khadija.
" Oh ya ini Alina." Ucap Hafiz mengenalkanya pada Clara.
" Alina." Alina mengulurkan tanganya pada Clara.
" Clara." Clara menyambut jabat tangan dari Alina.
" Alina ini pacar Carel, yang pernah Papi ceritain sama Mami?" Imbuh Dio pada Clara, Istrinya. Alina hanya tersenyum simpul menanggapinya.
" Owh.." Clara hanya ber oh ria." Dija ayo duduk." Sambung Clara pada Khadija yang masih berdiri.
" Kalian duluan saja, Dija mau Sholat Magrib dulu ke Musholla!" Pamit Khadija pada semua orang yang sudah duduk di kursinya masing_masing.
" Ya sudah, silahkan...Mushollahnya ada di samping Resto ini." Jawab Dio memberi tahu.
Khadija mengangguk. " Nio, tante mau Sholat dulu ya?" Pamit Khadija pada Nio yang masih berada di gendonganya.
" Ya udah yuk?" Ajak Khadija
" Tapi turunin Nio dulu tante, kita jalanya gandengan ya tante? Biar Nio bisa lindungin tanta cantik?" Celoteh menggemaskan dari bibir mungil bocah yang usianya hampir Enam tahun itu.
Hafiz, Dio dan Clara tersenyum melihat tingkah Nio, Alina masih setia dengan sikap datarnya.
Khadija dan Nio pun segera berlalu meninggalkan mereka yang akan memulai acara bersantapnya. Meskipun sudah merasa tersindir dengan ucapan Nio, tidak ada Satu pun dari mereka berniat untuk mengikuti langkah Khadija dan Nio untuk menunaikan kewajibanya sebagai seorang muslim.
" Sorry, gw kebelakang sebentar!" Ucap Hafiz tiba_tiba saat akan memulai acara makanya. dan dingguki oleh Alina, Dio dan Clara.
Dengan langkah terburu_buru Hafiz keluar dari Resto.
" Dija tunggu!" Hafiz memanggil Khadija yang masih ternlihat dari jangkauan matanya.
Khadija dan Nio membalikan badan saat ada suara yang memanggilnya.
" Nio Sholatnya sama Om Carel yuk?" Ucap Hafiz pada Nio saat sudah berada di depan Khadija dan Nio.
Khadija tersenyum menatap lelaki yang ada dihadapanya seraya berucap. " Alhamdulillah."
" Kenapa Ja?" Tanya Hafiz mengalihkan pandanganya dari Nio, menatap netra mata Khadija.
" Ndak papa Mas, Dija seneng Mas Dokter ndak melalaikan kewajiban."
" Ya udah yuk, keburu habis waktunya." Hafiz menjadi salah tingkah ketika melihat tatapan teduh dari mata Khadija.
Segera Hafiz menggandeng tangan kecil Nio masuk ke Shaf Laki_laki setelah Hafiz menuntun Nio terlebih dahulu untuk berwudhu. Khadija pun masuk ke Shaf Perempuan, yang kebetulan masih ada kesempatan untuk Sholat berjamaah dengan para karyawan Restauran tersebut.
Setelah selesai menunaikan Sholatnya, Khadija merapikan kembali mukenah yang tersedia di dalam Musholla, segera ia beranjak keluar dan ternyata Hafiz dan Nio sudah berada di luar sedang menunggunya.
" Maaf, tante lama ya?" Ucap Khadija sambil mencubit kecil pipi gembul Nio.
" Gak papa tante? Nio ama Om Elel juga baru keluar kok, Iya kan Om?" Pandangan Nio beralih pada Hafiz. Hafiz tersenyum sambil mengacak pucuk kepala Nio.
" Mas!" Panggil Khadija sambil mengulurkan tanganya ke arah Hafiz.
Hafiz terdiam sejenak, menurutnya tidak perlu Khadija melakukanya ketika di depan umum.
Lagi_lagi otak dan hatinya tidak sejalan, Tangan Hafiz pun terulur, dengan cepat Khadija meraihnya lalu mencium punggung tangan Hafiz.
" Kok Tante cantik, cium tangan Om Elel?" Nio mendongakan kepalanya memperhatikan adegan yang di lakukan Hafiz dan Khadija. Ternyata Nio adalah bocah kecil yang cukup kritis.
__ADS_1
Hafiz mengusap wajahnya, salah tingkah. Berbeda dengan Khadija yang santai menanggapi pertanyaan Nio.
" Iya sayang, kan Om_nya lebih tua dari tante? Tadi Nio udah cium tangan Om belum?" Tanya Khadija menundukan kepalanya ke tubuh pendek Nio.
Nio mengangguk. " Tapi Nio belum cium tangan tante cantik." Ucapnya, lalu meraih tangan Khadija dan menciumnya.
" Pinternya Nio?Tante boleh cium gak?"
" Boleh dong? " Nio menunjuk pipinya sendiri dan menyodorkan ke arah Khadija.
Cup...
Khadija dan Nio tertawa ceria.
" Kalo gitu, bararti Om Elel juga boleh cium tante cantik dong, seperti Papi sama Mami?" Celetuk Nio yang membuat Tatapan Hafiz dan Khadija beradu. Segera Khadija memalingkan wajahnya tersipu malu.
Hafiz segera menghentikan celotehan Nio, ia takut akan berbuntut panjang.
" Kebanyakan ngomong ni Bocah!" Ucap Hafiz, mengangkat Nio ke gendonganya segera berlalu dengan langkah cepatnya, Khadija pun mengekor di belakang Hafiz.
" Turunin Nio Om!" Nio meronta sambil memukul bahu Hafiz.
Melihat Nio hampir menangis, Hafiz menghentikan langkahnya dan menurunkan Nio kembali.
" Tante sini!" Panggil Nio pada Khadija yang tertinggal di belakangnya.
Nio meraih tangan Khadija lalu menggandengnya, tak di sangka Nio juga menggandeng tangan Hafiz. Kemudian mereka berjalan beriringan masuk kembali ke dalam Restauran.
" Papi...Mami..." Teriak Nio, menarik tangan Hafiz dan Khadija yang ada di genggaman tangan kanan dan kirinya.
Dio dan Clara mengeryitkan keningnya melihat penampakan keluarga kecil dadakan yang berjalan menuju meja tempat mereka berada.
" Kok lama banget sih yank?" Gerutu Alina saat Hafiz sudah duduk disampinya.
" Iya Maaf, tadi aku ikut Sholat sekalian sama Nio."
" Hah~...! Pekik Dio, Clara dan Alina bersamaan dengan wajah terkejutnya mendengar Hafiz Sholat, setelah beberapa hari yang mereka di kejutkan dengan Hafiz berpuasa, sebelum akhirnya jatuh sakit.
Khadija yang sudah duduk di sebelah Nio terlihat biasa saja. Nio duduk tepat diantara Hafiz dan Khadija dengan posisi melingkar mengitari meja bundar yang besar dengan jumlah kursi untuk Tujuh Orang, namun Satu kursi di sebalah Khadija terlihat masih kosong menunggu sang penghuni datang.
" Gak usah pada Shock gitu, kalian harusnya bersyukur karena hidup gw gak blangsak_blangsak amat!" Celetuk Hafiz.
" Calon imam idaman banget deh?" Timpal Alina merangkulkan tanganya ke lengan Hafiz seraya bersandar di bahu sang Kekasih.
Hafiz melirik Khadija dengan ekor matanya, namun Khadija mengalihkan pandanganya pada Nio.
" Nio mau makan apa biar tante ambilkan?" Tawar Khadija pada Nio.
" Gak usah Dija, biar Nionya sama saya aja." Cegah Clara merasa tak enak hati merepotkan Khadija.
" Gak Mau Mi, Nio maunya sama tante cantik?" Ucap Nio dengan bibir mengerucut.
" Nio?" Dio Mengacungkan jari telunjuknya pertanda tidak boleh membantah.
" Biarin aja lah Yo, Nio kan maunya sama Dija, toh Dija_nya juga gak keberatan, Iya kan Ja? Bela Hafiz pada Nio, beralih bertanya pada Khadija.
" Kamu sama Aslan itu sama aja, selalu belain Nio!" Gerutu Dio, sambil menyendokan makanan ke mulutnya.
" Iya Mas, Mbak ndak papa kok?" Ucap Khadija dengan senyum tulusnya, Nio tersenyum senang mendapat pembelaan.
Setelah perdebatan tentang Nio terjadi, mereka kembali sibuk dengan kegiatan bersantapnya masing_masing.
Tak ada lagi yang bersuara kecuali ocehan Nio yang terdengar.
Khadija sangat telaten menyuapi Nio, mengelap bibir Nio yang terlihat belepotan terpancar sekali sifat keibuanya.
" Sorry semuanya gw telat!" Suara Aslan yang tiba_tiba muncul dari arah belakang Khadija dan Nio.
" Yeay...Om Alan datang?" Sorak Nio mengangkat tanganya ke udara. Aslan kemudian mencium gemas pipi Nio.
" Giliran makan udah mau habis, lo dateng!" Jawab Hafiz.
" Gak papa, Asal gw bisa lihat Dija aja, gw udah kenyang kok!" Celetuk Aslan dengan menaik turunkan alisnya melihat ke arah Hafiz. Khadija tersentak mendengar penuturan konyol Aslan.
Semua tertawa menanggapi celetukan Aslan yang membuat Khadija mati kutu. Khadija hanya tertunduk malu. Akhirnya ia terjebak juga dalam situasi yang sangat dihindarinya.
"Eh...Tunggu, Ini yang punya anak siapa, yang ngurusin siapa?" Sindir Aslan pada Dio dan Clara. Aslan melihat Khadija sedang mengurusi makan Nio.
" Udah duduk Jangan kebanyakan ngemeng lo!" Timpal Dio jutek karena merasa tersindir.
Aslan lalu menarik satu kursi di samping Khadija.
Setelah selesai dengan acara berbuka bersama, mereka sejenak barbasa basi membuka obrolan yang hanya dilakukan para Pria.
Sedangkan para Perempuan hanya diam menyimak, kecuali Khadija yang memiliki obrolan seru dengan Nio.
__ADS_1