Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Rencana Liburan


__ADS_3

Cukup lama berada di lantai atas, Khadija akhirnya turun ke bawah setelah Leni mengirimkan pesan singkat kepada sang pemilik toko tersebut. Dan Alina masih bertahan diatas berada di meja kerjanya untuk mengecek pembukuan keuangan.


[Khadija sayang, udah jam berapa ini? Pesanan kue masih banyak lho ...]


Kalimat bernada sindiran tersebut dikirimkan Leni ke nomor ponsel Khadija. Leni tidak sungkan untuk menegur sahabatnya itu meski perempuan berhijab itu kini adalah Bos-nya.


Dengan santai Khadija berjalan menuruni anak tangga. Namun, ketika berada di pertengahan, langkah kakinya terhenti melihat seseorang yang baru masuk ke dalam toko.


Khadija pun berbalik kembali naik ke atas.


"Sssttt ... Sssttt ... Mbak Alin," panggil Khadija setengah berbisik berdiri di tangga paling atas.


Alina yang tengah fokus menatap layar Laptop, lalu menegakkan kembali wajahnya melihat Khadija yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya.


"Apa?"


"Sini," Khadija mengibaskan tanganya.


Alina penasaran, akhirnya berdiri lalu berjalan menghampiri Khadija.


Tanpa menjelaskan maksud ia memanggil sang Manager, Khadija langsung menunjuk ke arah bawah, tepat sesorang tengah berdiri di depan meja etalase.


Tanpa bertanya pula, Alina melongokan kepala sesuai arah telunjuk Khadija. Janda cantik itu mengerjapkan matanya berkali-kali, tidak menyangka, entah kebetulan atau tidak dengan keberuntunganya kali ini. Perempuan itu berjingkrak kegirangan sambil memeluk Khadija dari samping.


"Ikut turun ndak?" tawar Khadija menggerakkan kedua alisnya menggoda.


Alina kembali menegakkan badanya, "Gimana Ja, penampilanku masih rapi kan?" Perempuan itu tampak salah tingkah sambil membenahi rambut yang ia selipkan di belakang telinga, dan merapikan dress selutut yang ia kenakan.


"Udah cantik kok," ucap Khadija menautkan jari telunjuk dan jempol membentuk huruf O.


Kemudian Khadija turun kembali setelah Alina menyuruhnya untuk turun terlebih dahulu.


Alina masih berada di atas berusaha menenangkan detak jantungnya yang mendadak tak beraturan.


"Assalamualaikum, Mas Haikal?" sapa Khadija, berjalan menghampiri pria yang ternyata adalah orang yang di incar oleh Alina.


"Waalaikum Salam Dek," jawab pria itu menoleh seraya tersenyum.


"Hai, Elif Sayang?" Khadija beralih menyapa gadis cilik yang berada digendongan pria itu.


Tidak lama kemudian, Alina menyusul turun ke bawah dan mengucapkan sapaan salam terhadap pria yang sama ketika sudah berdiri di samping Khadija.


Dan Haikal pun menjawab ucap salam dari perempuan cantik itu. Ada rasa sedikit terkejut melihat Khadija dan Alina yang sudah saling mengenal, "Jadi kalian berteman?" tanyanya.


"Lebih dari sekedar teman, bahkan sudah seperti saudara," jelas Khadija yang di amini oleh Alina.

__ADS_1


Bahkan Khadija berakting ikut terkejut, pura-pura tidak tahu jika Alina dan Haikal sudah saling mengenal.


"Elif Sayang, ini kuenya sudah siap," sela Leni dengan membawa kue yang telah di pesan Haikal sebelumnya.


Haikal menerima uluran box kue dari tangan Leni, ketika hendak membayar dengan cepat Alina mencegahnya.


"Gak usah Mas, biar aku yang bayar," ucap Alina.


"Jangan Mbak ... "


"... Anggap saja ini sebagai ucapan terima kasih karena tempo hari Mas Haikal sudah membantu saya," ujar Alina memotong penolakan Haikal.


"Sudah Mas terima saja, ndak boleh nolak rizki," sahut Khadija mendukung apa yang di katakan perempuan di sampingnya.


"Baiklah. Terima kasih,"


"Oh ya, Mas Haikal lagi libur ngajar toh, ayo silahkan duduk dulu Mas, kita ngobrol," bujuk Khadija. Merupakan moment yang pas memberikan kesempatan untuk Alina melakukan pendekatan kepada duda anak Satu itu.


Khadija menyenggol lengan Alina, memberikan kode kepada janda cantik itu agar mengerti maksudnya.


"Iya Mas duduk dulu," Ternyata perempuan itu cukup peka.


"Kalau begitu sini Elif main sama Tante Leni," sahut Leni yang sedari tadi masih setia berdiri di balik meja. Diam-diam gadis itu memperhatikan gelagat Khadija.


Dan Leni pun mengerti maksud isyarat Khadija kepada Alina. Kesempatan bagus untuknya jika Alina dekat dengan Haikal itu artinya ia memiliki peluang untuk mendekati Fino.


Haikal pun menerima tawaran Khadija dan Alina. Kemudian mereka bertiga mengambil posisi duduk diantara kursi pengunjung yang terlihat masih kosong.


Toko akan ramai pengunjung di jam-jam tertentu hanya untuk menikmati kue sambil bersantai dan nongkrong.


Kemudian Khadija meninggalkan Haikal dan Alina duduk berdua, dengan alasan ingin membuatkan minuman. Tujuan Khadija sebenarnya untuk memberikan kesempatan keduanya agar ngobrol lebih santai dan saling mengenal.


Lima menit kemudian, Khadija kembali dengan membawa Dua cangkir teh lalu meletakkanya di atas meja, tepat di depan Haikal dan Alina.


"Ja, kamu mau kemana? Ayo sini ikut duduk juga," tanya Alina dengan maksud agar Khadija ikut duduk kembali menemaninya. Saat ini Alina merasa gugup jika harus di hadapkan berdua dengan Haikal. Padahal ini adalah pertemuanya untuk yang kesekian kalinya.


"Sudah waktunya," Khadija menunjuk jam dinding yang tergantung di atas pintu masuk. Waktu sudah menunjukan jam istirahat hampir tiba.


Alina mengangguk pasrah, ia tahu jika Khadija harus segera pergi ke rumah sakit.


***


Khadija mempercepat langkah kakinya ketika sampai di area parkir halaman rumah sakit, Pandanganya tertuju pada Dua orang yang baru saja turun dari mobil.


"Mas Aslan, Aisyah," pekik Khadija saat sepasang suami istri itu sudah berjalan hendak meninggalkan area parkir.

__ADS_1


Keduanya pun berbalik mendengar suara yang tidak asing tengah memanggil mereka.


"Khumaira kenapa Dek?" tanya Khadija tiba-tiba sambil mengarahkan punggung tanganya di atas dahi gadis kecil berumur Satu tahun lebih itu sedang tertidur di gendongan Aisyah, adiknya.


Aisyah tersenyum melihat kepanikan sang kakak, "Memey gak papa kok Mbak," jelasnya.


"Kita kesini cuma mau imunisasi dia aja," timpal Aslan menjelaskan maksud kedatanganya ke rumah sakit.


"Syukur deh," ucap Khadija lega, "Mbak kira tadi dia sakit."


"Mbak Dija mau kemana?" tanya Aisyah kemudian.


"Mau kemana lagi Dek, kalau bukan mau nyuapin si bayi besar," sindir Aslan yang sudah hafal dengan kelakuan manja dari sang kakak ipar yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.


Khadija tertawa ringan mendengar sindiran Aslan menyebut suaminya layaknya bayi besar. Aisyah hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan suaminya yang selalu ceplas-ceplos dalam berkata-kata.


Akhirnya mereka bertiga berjalan bersama memasuki gedung rumah sakit.


Bukanya menuju ke poli anak, Aslan dan Aisyah justru mengikuti Khadija menuju ruangan sang pemilik rumah sakit.


Khadija ingin menemani adiknya itu untuk mengimunisasi sang keponakan setelah mengantarkan makan siang untuk suaminya. Dan Aslan akan menunggu di ruangan Hafiz, sahabatnya.


"Rel, gimana minggu depan kita liburan?" ujar Aslan setelah Khadija dan Aisyah pergi.


"Kemana?"


"Ke daerah puncak. Kebetulan ada Clien gw nawarin villa-nya kalo gw mau liburan kesana."


"Oke banget tuh, kita ajak sekalian si Dio biar tambah rame, gimana?"


"So pasti. Tiga serangkai gak bakal lengkap kalo kurang Satu personil,"


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya Ya...🙏😚😘


__ADS_2