
"Manda, ayo masuk," ajak Zahra setelah membuka pintu apartemen.
Setelah meminta solusi pada kedua orang tuanya dan mengutarakan maksud di balik ia membantu Amanda, papa Hafiz mengizinkan untuk sementara waktu menempati apartemen miliknya yang sudah lama tidak dihuni.
Awalnya papa Hafiz ragu dan menolak, takut suatu hari Zahra tersandung masalah. Karena, bagaimanapun yang di lakukan putrinya itu salah. Sudah menyembunyikan hak orang lain, walau niatnya itu baik.
Berbeda dengan bunda Khadija yang langsung menyanggah perkataan sang suami. Menurutnya, ada baiknya untuk sementara Amanda di sembunyikan, daripada nyawa gadis itu dan bayi yang ada di kandunganya terancam.
Akhirnya papa Hafiz pun terpaksa menyetujui, mendengar alasan sang istri. Ia juga mengatakan kepada putrinya agar selalu berhati-hati dan memberitahu jika terjadi sesuatu.
"Sekarang sementara kamu bisa tinggal di sini," ujar Zahra melangkah masuk.
Amanda memutar kepala, menyisir pandangan ke segala arah. Sepi, "Ini apartemen siapa, Ra?" tanyanya.
"Apartemen papa."
"Kok sepi?"
"Iya, kami sekeluarga memang nggak tinggal di sini. Apartemen ini udah lama nggak kami tempati. Cuma ada petugas kebersihan datang kemari, Dua hari sekali."
Amanda menghentikan langkah, saat Zahra hendak mengajaknya menuju kamar, "Tapi, Ra, aku takut kalau tinggal send ...."
"... tenang, aku akan menemani kamu tinggal di sini," ucap Zahra sembari tersenyum. Sang bunda memintanya untuk tetap menemani wanita itu. Karena kondisi Amanda yang tengah berbadan Dua, tidak memungkinkan bila harus ditinggal sendiri, takut ibu hamil itu membutuhkan sesuatu.
Amanda meraih kedua tangan Zahra, lalu menggenggamnya erat, "Aku nggak tau harus bagaimana membalas kebaikan kamu, Ra," ucapnya dengan suara bergetar, merasa terharu.
Zahra membalas genggaman tangan itu dengan pelukan menenangkan, "Kamu nggak usah mikirin itu, yang terpenting kamu dan bayi kamu selamat."
"Ya udah yuk, aku antar ke kamar," ajak Zahra setelah melonggarkan pelukannya.
Zahra pun mengajak Amanda menuju kamar tamu.
"Oh ya, Ra, aku boleh pinjam baju kamu, nggak?
"Boleh, nanti kamu bisa ambil ke kamarku. Pilih aja mana yang kamu suka. Tapi gitu, bajuku panjang semua, nggak ada yang sexy."
"Iya, nggak pa-pa."
Karena hari sudah hampir petang, Zahra memutuskan kembali ke kamar. Ingin segera membersihkan diri, lalu menunaikan kewajiban--salat Magrib.
"Nda, kita salat berjamaah, yuk?" Zahra yang sudah lengkap memakai mukenah menghampiri Amanda yang tengah santai di ruang TV.
"Nggak ah, males," sahut Amanda menoleh sekilas pada Zahra lalu fokus kembali pada layar televisi.
Gadis itu sedikit terkejut mendengar pernyataan Amanda. Zahra yang semula berdiri di ujung kursi, lalu mengambil posisi duduk di samping wanita itu.
"Kamu nggak boleh bilang seperti itu, salat itu kewajiban kita sebagai seorang muslim lho, Nda," tutur Zahra mengingatkan.
Amanda bergeming, tangan yang sedari tadi memegang remot itu pun terulur kedepan--menekan tombol power, mematikan layar persegi berukuran Empat puluh inci tersebut.
"Aku mau ke kamar, ngantuk." pamitnya sambil beranjak berdiri, kemudian berlalu pergi.
Zahra menggelengkan kepala menatap punggung Amanda yang berjalan menuju kamar.
Menurut Zahra, seharusnya di saat seperti ini, Amanda lebih mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta. Bisa saja apa yang di alaminya sekarang merupakan bentuk teguran baginya atas perbuatanya di masa lalu. Bukan malah menjauh seperti itu.
Zahra mengendikan bahu, bangkit dari duduknya, "Yah, semoga Alloh memberi hidayah buat kamu, Manda," gumamnya sambil berlalu kembali ke kamar, hendak menjalankan kewajibanya yang sempat tertunda.
.
"Manda," panggil Zahra setelah mengetuk pintu kamar Amanda.
Tidak lama pintu kamar terbuka, menampakkan Amanda dengan muka bantal, menggeliat sambil menguap, lalu menutup mulutnya yang terbuka dengan Satu tangan. Baru bangun tidur, sepertinya.
"Aku mau berangkat kuliah dulu. Nanti kalo kamu mau sarapan udah aku siapin di meja makan."
__ADS_1
Amanda mengangguk, "Ya sudah, hati-hati."
Sebelum pergi, Zahra juga berpesan agar wanita itu tidak pergi kemana-mana, keluar dari apartemen. Bila membutuhkan sesuatu, Zahra menyuruh Amanda untuk menghubunginya saja. Dan mengecek terlebih dahulu ketika ada tamu yang datang, mengintip dari lubang pintu.
***
"Gimana Amanda, ngerepotin lo, nggak?" tanya Dion saat berada di dalam mobil, menuju perjalan pulang dari kampus.
Ya, Zahra sengaja membawa mobil sejak memutuskan pindah ke apartemen. Selain itu ada Amanda yang harus ia lindungi dari pengasawan Alvaro, jika hendak pergi kemanapun.
Zahra yang berada di belakang kemudi, menengok sekilas lalu menggeleng, "Enggak, sih."
"Emang kenapa?" tanya Zahra kemudian.
"Gak pa-pa. Ya kali aja, dia kan lagi hamil, siapa tau minta yang aneh-aneh," jawab Dion teringat kelakuan Amanda yang cukup merepotkan ketika wanita itu menginap di kosanya.
Kemudian Dion menceritakan kejadian kemarin malam. Pas tengah malam menjelang dini hari, Amanda sengaja mengetuk kamar Ferry, guna membangunkan dirinya untuk mengambilkan mangga muda yang tergantung hanya Dua buah tepat di depan kamar. Beruntung situasi sudah tampak sepi, para penghuni kos sudah masuk ke kamarnya masing-masing. Jadi tidak ada yang melihat gelagat ngidam Amanda.
Sudah berusaha menolak, karena ia sangat mengantuk saat itu. Namun, pertahanan itu goyah saat Amanda terus merengek. Tidak ingin mengganggu para tetangga yang sudah terlelap tidur, dengan berat hati sambil menggerutu, ia pun akhirya memanjat pohon mangga itu dengan susah payah. Bebarapa kali sempat mengumpat kesal, ketika kakinya hampir saja terpeleset, karena pencahayaan yang terbatas dan mata yang masih teresa lengket.
Ting!
Belum selesai Dion bercerita, notifikasi pesan si aplikasi hijau milik Zahra berbunyi.
Karena posisinya yang sedang menyetir, Zahra pun meminta tolong pada Dion agar melihat siapa pengirim pesan tersebut. Barang kali saja penting--dari sang bunda atau sang papa.
Dion meraih ponsel Zahra yang terletak di atas dashboard. Pemuda itu tampak mencebik lalu menghela napas pendek setelah melihat dan membaca isi pesan sesuai perintah Zahra.
"Siapa, Kak?"
"Panjang umur juga itu cewek. Baru aja gue mingkem," gerutu Dion sambil mengulurkan ponsel itu ke arah gadis di sampingnya.
Dengan sebelah tangan, Zahra menerima ponselnya.
Zahra mengerutkan dahi, "Buah kecapi itu seperti apa sih, Kak?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan, fokus pada jalanan di depan.
"Mana gue tau," jawab Dion cuek. Kehadiran Amanda sungguh-sungguh merepotkan, menurutnya.
Akhirnya, Zahra membelokkan mobilnya menuju swalayan terbesar yang ada di Ibukota. Setelah sempat beberapa kali berhenti pada lapak-lapak pedagang buah yang bejajar di tepi jalan.
"Hish! Ngerepotin banget sih!" cicit Dion kesal. Lelah berputar-putar mengelilingi area khusus buah-buahan yang ada di swalayan, "Ya udah sih, beli buah yang lain aja."
"Ntar kalo anaknya ileran, gimana?"
"Ya terserah, buk ..."
Plak!
Ucapan Dion terputus, tubuhnya sedikit berjengkit saat ada seseorang menepuk punggungnya cukup keras.
Begitu juga dengan Zahra, merasa terkejut mendengar bunyi keplakan di punggung kekasihnya.
Seketika Dion dan Zahra berbalik, melihat siapa pelaku pemukulan tersebut.
"Jadi laki itu jangan mau enaknya aja. Giliran istri ngidam males-malesan buat penuhin apa maunya. Lagian itu bukan keinginan emaknya, tapi itu maunya anak kamu!" omel seorang ibu-ibu bertubuh tambun, menatap tajam ke arah Dion.
Bola mata Dion membesar, hampir saja pemuda itu tersedak ludahnya sendiri saat mendapat omelan tiba-tiba dari seseorang yang tak dikenal.
Begitupun dengan Zahra, ikut terkejut.
"Udah berapa bulan, Neng?" tanya ibu itu beralih menatap ramah ke arah Zahra, sambil mengelus perut rata gadis itu.
Zahra semakin terkejut, tatapan matanya memindai ke arah perut di mana tangan ibu itu masih setia membelai.
"Eh, buk ..."
__ADS_1
" ... baru buka Dua bulan, ya 'kan, Sayang?" sela Zahra memotong ucapan Dion. Gadis itu memasang senyum penuh arti melihat ke arah sang kekasih.
Iseng.
Dion beralih menatap Zahra, mengangkat Satu alis, mengisyaratkan ia semakin tidak mengerti.
"Memangnya minta ngidam apa sih?" tanya ibu itu lagi.
"Cuma pengen makan buah kecapi, Tante. Tapi, Papanya belum apa-apa udah nyerah gak mau nyariin," ujar Zahra sedikit memanyunkan bibirnya, khas raut orang ngambek. Namun, dalam hati Zahra sudah terbahak melihat ekspresi wajah Dion yang sudah seperti kambing cengo.
"Timbang buah kecapi doang, apa susahnya, sih?" gerutu ibu semakin menggebu, "Masih untung permintaan istri kamu ini masih lumrah, daripada dia minta keliling dunia, sanggup, kamu!" lanjutnya semakin menjadi.
Dion semakin gelagapan, tidak tau apa yang harus ia ucapkan. Meminta sang kekasih untuk membantu menjelaskan, tapi nyatanya gadis itu semakin membuat suasana semakin runyam.
.
"Sial! Mimpi apa gue semalam," ucap Dion geram saat sudah kembali di dalam mobil.
Sudah tidak peduli lagi dengan buah titipan Amanda, setelah ibu-ibu yang menurut Dion menyebalkan itu berlalu pergi, segera ia menggandeng paksa kekasihnya keluar dari gedung swalayan menuju parkiran.
"Lo juga, bukanya bantuin malah ikutan mojokin." cicit Dion melirik tajam gadis di sampingnya.
Bukanya takut, justru tawa Zahra kian pecah.
"Ciieee ... yang habis kena omel, marah nih, ye?" goda Zahra sambil menoel-noel pinggang Dion.
Dion bergeming, suasana hatinya terlanjur kesal. Namun, tampak beberapa kali tubuhnya berjengkit--geli--saat ujung jari kekasihnya masih terus berusaha menggoda.
Lama-lama Dion terganggu. Dengan cepat tanganya menangkap jemari yang terus menekan-nekan pinggangnya. Sejurus dengan itu, Dion memutar posisi duduk, menghadap gadis di sebelahnya.
Dion menyeringai dengan tatapan penuh arti.
Mendapat tatapan yang tak biasa, tawa lepas Zahra perlahan memudar. Mendadak raut wajahnya menjadi salah tingkah saat perlahan tubuh Dion bergerak mendekat ke arahnya.
Tubuh Zahra bergerak mundur, tapi sayang tubuhnya tertahan oleh pintu yang sudah tertutup. Semakin dekat, hingga wajah Dion tampak jelas di depan wajahnya.
Sedikit menunduk, Zahra menyembunyikan pipinya yang tampak memerah. Matanya terpajam, dengan dahi berkerut menandakan betapa ia merasa gugup. Entah apa yang ada di pikiran gadis itu saat ini, hingga ia pasrah tak menghindar saat wajah Dion hanya berjarak beberapa senti di depanya. Terasa hembusan napas Dion menyeruak hangat di wajahnya. Degup jantung di dalam sana semakin tak berirama.
Sedetik, Dua detik, Tiga detik, tidak terjadi apa-apa. Hingga akhirnya Zahra membuka mata dan mendapati Dion sedang menahan tawa melihat ekspresi wajahnya.
"Nungguin, ya?" ganti Dion menggoda dengan tawa kecil yang terurai. Lalu memundurkan kembali tubuhnya ke tempat duduk semula.
Bibir Zahra mengerucut, "Iiih, jahil banget sih!" dengusnya kesal merasa dikerjai.
"Ngarep banget sih lo, gue cium," Dion menonyor pipi Zahra, "Udah sore, ayo pulang!" sambungnya memberi perintah.
Tidak sedikitpun terbesit di pikiran Dion memanfaatkan situasi. Ia hanya ingin membalas tingkah usil kekasihnya itu. Baginya, seorang wanita seharusnya di lindungi dan di jaga, bukan di rusak. Terlebih dia seseorang yang di cintai. Itulah petuah sang Ayah yang selalu di ingat.
.
.
.
.
.
.
Bersambung ...
Mohon maaf, untuk beberapa hari ini telat Up. Harap di maklumi, karena author sedang merawat ibu yang sedang sakit. Jadi pikiran pun tidak konsen pada yang lain.
Mohon terus dukunganya. Jangan lupa like, komen, dan votenya selalu di tunggu.
__ADS_1