Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Kekacauan Hafiz


__ADS_3

Semenjak pertemuanya yang terakhir di malam acara reuni, tepatnya Dua hari yang lalu, Khadija tidak mendapat kabar sama sekali tentang Hafiz, ia beberapa kali mencoba menghubungi namun tetap saja hasilnya nihil, karena semenjak malam itu nomer telepon Hafiz sudah tidak aktif.


Bukan karena Khadija merasa rindu terhadap Hafiz, melainkan Khadija di buat kalang kabut oleh Zahra, Putri kecil mereka yang selalu meronta_ronta mencari keberadaan sang Ayah yang sudah Dua hari tidak datang menemuinya.


Zahra akan diam jika ia sudah tertidur, ketika merasa lelah dengan tangisanya dan rengekanya akan kembali terdengar jika Zahra sudah terbangun.


"Ayo cali Papa Bundaaa...Zahla mau sama Papa..." Rengekan Zahra yang terus menerus diucapkan.


Semenjak kehadiran Hafiz di hidup Zahra, Putri kecilnya itu sangat sulit untuk dikendalikan, karena sikap Hafiz yang selalu mamanjakan Zahra.


Semua orang sudah berusaha menenangkan Zahra, tak terkecuali dengan Haikal yang di panggil Khadija untuk membantu membujuk Putri kecilnya itu.


" Sini_sini Princes di gendong sama Abi ya?" Ucap Haikal yang mengulurkan tanganya kearah Zahra yang berada di gendongan Khadija.


Zahra menggeleng dengan cepat, mata dan hidung Zahra pun sudah memerah karena terlalu lama menangis.


" Zahla maunya cama Papa, bukan cama Abi " Kekeh Zahra.


" Udah kamu hubungin Hafiz, Dek?"Tanya Haikal yang ikut panik menghadapi Zahra.


" Sudah Mas, tapi nomernya mulai kemarin sudah ndak aktif." Jawab Khadija yang terus menggoyangkan badanya, menimang Zahra yang berada digendonganya.


" Coba kamu hubungin Mas Aslan Ja, siapa tahu dia tahu dimana dr.Hafiz." Sahut Leni memberi saran.


" Oh, iya ya...Kok aku jadi lupa?" Segera Khadija mencoba menghubungi Aslan, sang adik ipar.


Kurang dari Tiga puluh detik, sambungan telepon pun tersambung, nampak Khadija berkomunikasi dengan Aslan, tanpa perlu banyak basa_basi Khadija langsung menanyakan keberadaan Hafiz.


Wajah Khadija kembali muram ketika mendapat jawaban dari Aslan yang juga tidak mendapat kabar dari Hafiz.


" Hiks...hiks...hiks...Papa..." Isak tangis Zahra membuat hati Khadija semakin bertambah pilu.


" Cup...cup...Sayang, Zahra diam ya? Nanti pasti Papa datang." Ucap Khadija, membelai lembut punggung Zahra.


" Mana Papa Bunda, Zahla kangen sama Papa Bunda...hiks...hiks..."


Ummi Aminah yang sedari tadi tidak bersuara pun akhirnya angkat bicara." Dija, lebih baik kamu bawa Zahra menemui Papanya ke Apartemenya?"


" Tapi, Dija ndak tau dimana Apartemenya Mas Hafiz, Ummi?"Ucap Khadija.


Tampak Ummi menghembuskan nafas beratnya mendekat kearah Khadija yang masih setia berdiri di tempatnya.


" Kasihan sekali kamu nak?" Ucap lembut Ummi Aminah membelai rambut panjang Zahra, dengan hati iba.


" Assalamualaikum..." Ucap seseorang yang sudah berdiri di ambang pintu.


Semua mata mengarah ke asal suara, begitu juga dengan Zahra.


" WAALAIKUMSALAM..." Jawab semua orang serempak.


" Om Alan?" Zahra langsung memerosotkan tubuhnya dari gendongan sang Bunda.


Zahra berlari ke arah Aslan yang masih berada di ambang pintu. Kali ini Aslan datang sendiri tanpa ditemani Aisyah, sang Istri. k


Karena Aisyah tengah menemani sang Mertua pergi ke acara Arisan.


" Ayo Om kita cali Papa?" Zahra menggandeng dan menarik tangan Aslan keluar dari rumah. Zahra tau jika Aslan orang terdekat Hafiz setelah Bundanya.


Aslan pun tak kuasa menahan ajakan keponakanya itu, kaki Aslan dengan reflek


bergerak mengikuti langkah kecil kaki Zahra.


Kemudian Khadija menatap ke arah Haikal, dengan tatapan penuh makna. Haikal pun mengerti lalu ia tersenyum dan menganggukan kepalanya. "Ikutlah sama Aslan Dek, Mas percaya sama kamu?" Ujar Haikal dengan tatapan teduh.


" Makasih Mas?" Ucap Khadija sembari membalas senyum calon suaminya itu.


Lalu Khadija berganti menoleh ke arah Ummi Aminah dan Leni, keduanya pun memberikan respon yang sama seperti Haikal.


Setelah mengucap salam, Khadija segera mengikuti Aslan dan Zahra yang sudah berada di dalam mobil.


" Kita mau kemana dulu Mas?" Tanya Khadija saat sudah masuk ke dalam mobil Aslan.


" Kita cari ke Apartemenya dulu, mungkin?" Jawab Aslan yang sudah melajukan kembali mobilnya.


Zahra sudah mulai sedikit tenang, karena Aslan memberitahu pada Zahra kalau ia akan mengajak bertemu dengan Ayahnya.


Setelah Satu jam perjalanan, Aslan membelokan mobilnya menuju gedung Apartemen yang menjulang tinggi yang berada di kawasan elit.

__ADS_1


Khadija mengikuti langkah Aslan yang menggendong Zahra menuju pintu lift yang ada di bastman Apartemen Hafiz.


Aslan pun memencet tombol menuju lantai dimana ruangan Hafiz berada.


Setelah sampai di dapan pintu Apartemen Hafiz, Aslan kemudian menekan tombol Password untuk membuka pintu. Hanya Aslan dan Dio yang mengetahui Password tersebut selain Hafiz sang pemilik Apartemen.


" Ja, kamu tunggu disini dulu, aku mau ngecek kedalam dulu!" Ucap Aslan sambil menyerahkan Zahra ke gendongan Khadija.


" Iya Mas."


Kurang dari Dua menit, Aslan kembali keluar.


"Ja, cuma kamu yang bisa menangani Hafiz saat ini!"


" Apa dia sekarang~..." Khadija menjeda kalimatnya, ia tahu akan maksud Aslan.


" Iya" Aslan mengangguk membenarkan.


" Tapi Mas?"


" Demi Zahra, Ja?"


Khadija pun akhirnya pasrah, demi sang buah hati.


" Zahra ikut Om dulu ya? Kita beli makanan buat Papa, katanya tadi Papa Zahra lapar, minta dibawakan makanan." Ajak Aslan pada Zahra mengalihkan perhatian, selama Khadija mengurus Hafiz.


Setelah kepergian Aslan dan Zahra, dengan penuh keraguan Khadija perlahan masuk ke dalam Apartemen Hafiz.


Khadija terkejut mendapati kondisi Hafiz saat ini. Meskipun bukan pertama kali buat Khadija mendapati Hafiz dalam kondisi mabuk, namun inilah yang terparah.


Hafiz benar_benar dalam kondisi yang sangat kacau, rambut dan wajah yang nampak kumal tak terurus, dengan menggunakan baju yang masih sama seperti saat terakhir Khadija bertemu dengan Hafiz di acara reuni Dua hari yang lalu.


Kondisi ruangan yang sudah acak_acakan, botol minuman serta kulit kacang yang sudah berserakan disana_sini.


"Astagfirullohaladzim Mas!" Ucap Khadija melihat Hafiz yang tergeletak dilantai seperti orang terkapar, kemudian Khadija berusaha membantu membangunkan tubuh besar Hafiz.


Dalam kondisi setengah sadar, Hafiz menyadari kehadiran Khadija.


" Sayang, akhirnya kamu datang?" Ucap Hafiz menatap sayu ke arah Khadija dengan suara khas telernya.


Namun Khadija tak menghiraukan ucapan Hafiz, ia masih berusaha membangunkan tubuh Hafiz yang sudah mabuk berat, menjadikan Khadija sedikit kesulitan membawanya pergi ke kamar mandi.


Khadija menatap ke arah Hafiz, meskipun dalam keadaan mabuk, Khadija tidak melihat kebohongan dari sorot mata Hafiz.


Namun dengan cepat Khadija menepis semua itu.


Aku ndak boleh terbawa suasana, Mas Hafiz sedang mabuk, kalimat ini sama dengan yang ia ucapkan Lima tahun yang lalu!


Di dudukanya Hafiz di atas closet kamar mandi, dengan cepat Khadija mengguyur tubuh Hafiz yang masih lengkap dengan kemeja dan celananya.


" Cepat mandi Mas, keburu Zahra kembali!" Titah Khadija sebelum ia keluar dari kamar mandi.


Sambil menunggu Hafiz selesai mandi dan menunggu Aslan dan Zahra kembali, Khadija segera membersihkan ruang tamu Apartemen Hafiz yang sudah seperti kapal pecah.


Tiga puluh menit berlalu, Khadija sudah selesai membereskan semuanya, namun Hafiz masih belum keluar dari kamarnya.


Khadija bergegas pergi ke dapur, membuka kulkas dan mencari bahan yang bisa di manfaatkan.


Beruntung Khadija menemukan buah Apel, yang di percaya bisa menetralisir kadar Alkohol yang masuk ke dalam tubuh.


Khadija merasa kesulitan untuk menemukan blander yang akan ia gunakan untuk membuatkan jus Apel untuk Hafiz. Satu persatu Khadija membuka lemari kitchen set yang ada didapur minimalis itu.


Setelah menemukan benda yang ia cari, dengan cekatan Khadija meracik jus Apel yang akan dibuatnya.


Di lihatnya Hafiz keluar dari kamar, lengkap menggunakan setelan baju santainya. Kondisi Hafiz jauh tampak lebih segar, meski jalanya masih agak sedikit sempoyongan.


Khadija pun bergerak menghampiri Hafiz dengan membawa segelas jus Apel buatanya.


Khadija kembali membantu Hafiz berjalan menuju ruang tamu.


Khadija dan Hafiz duduk di sofa saling bersebrangan. Di ulurkanya segelas jus Apel ke arah Hafiz.


" Ni Mas di minum dulu?"


Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Hafiz menerima uluran gelas dari Khadija, lalu meminumnya hingga tak tersisa, diletakanya gelas kosong itu di atas meja.


"Mas, kamu kenapa sampai seperti ini?" Tanya Khadija polos.

__ADS_1


Hafiz hanya menampakan senyum miring ke arah Khadija, membuat Khadija semakin tidak mengerti apa maksud dari senyuman Hafiz?


Kamu memang tidak akan pernah tau, apa yang aku rasakan Khadija!


Merasa tidak mendapat jawaban dari Hafiz, Khadija pun memilih diam dari pada ia salah bicara nantinya.


Hafiz dan Khadija pun hanya saling diam, larut akan pikiranya masing_masing.


Hingga lengkingan khas anak kecil menyadarkan Hafiz dan Khadija dari lamunanya.


" PAPAAAA..." Teriak Zahra yang baru masuk ke dalam Apartemen Hafiz. Kaki kecilnya berlari menuju pangkuan Ayahnya, dengan merentangkan kedua tanganya.


Hafiz menangkap tubuh mungil Putrinya, dan dilayangkanya ciuman bertubi_tubi di wajah gemas Zahra.


Disusul dengan Aslan berjalan dibelakang Zahra, membawa Dua kantung kresek yang berisi Empat kotak makanan dan beberapa snack milik Zahra.


Aslan meletakan barang bawaanya diatas meja.


" Papa plinces kangen cama Papa, Papa kemana aja?" Ucap Zahra dengan mengerucutkan bibirnya.


" Maafin Papa sayang? Papa juga kangen sama Princes." Hafiz mencium bibir mungil Zahra yang memgerucut. " Princes Papa senyum dong?"


" Tapi, Papa janji gak akan tinggalin Plinces sama Bunda lagi?" Zahra mengacungkan jari kelingkingnya ke depan wajah sang Ayah.


Hafiz pun menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking kecil Zahra " Janji " Ucap Hafiz sambil menatap ke arah Khadija.


Khadija yang mendapat tatapan dari Hafiz, segera membuang pandanganya ke segala arah.


Khadija dan Aslan hanya memperhatikan interaksi antara Ayah dan anak yang seperti Satu abad tidak pernah bertemu.


" Sudah, ayo kita makan dulu, entar dilanjut lagi kangen_kangenanya." Ucap Aslan sambil membuka kotak makanan dan mengarahkan satu persatu ke arah Khadija dan Hafiz.


Mereka pun menikmati makanan yang dibawa oleh Aslan. Zahra pun ikut makan dengan di suapi sang Ayah.


" Oh ya Ja, gimana hubungan kamu dengan Haikal?" Aslan penasaran akan hubungan yang terjalin antara Khadija dan Haikal yang sangat mengejutkan. Aslan menanyakan kepada Istrinya pun ternyata Aisyah tidak mengetahui perihal kehidupan pribadi Khadija saat ini.


" Alhamdulillah Mas, kemarin Mas Haikal sudah datang ke kampung untuk mengkhitbah aku secara resmi di depan Bapak sama Ibu, dan Kami akan menikah sebulan lagi setelah prosedur adminitrasi selesai."


" Uhuk..Uhuk..." Hafiz tersedak mendengar penjelasan panjang lebar dari Khadija yang membuat sudut hati Hafiz kembali terasa nyeri.


Khadija segera pergi ke dapur untuk mengambil air minum untuk hafiz dan Aslan serta untuk dirinya sendiri.


" Minum dulu Mas?" Khadija menyodorkan segelas air putih kepada Hafiz.


Tampaknya Aslan bertanya di waktu yang tidak tepat. Aslan yang mengerti akan keterkejutan Hafiz pun, akhirnya memilih tidak membahas lebih jauh lagi hubungan Khadija dan Haikal, mungkin nanti Aslan akan menanyakanya kembali setelah pulang dari kediaman Hafiz.


Tidak ada yang bersuara lagi, kecuali celotehan Zahra yang terdengar, setidaknya bisa mengalihkan perhatian Hafiz untuk sejenak.


Setelah acara makan siang selesai, Khadija memutuskan pamit pulang begitu juga dengan Aslan yang harus mengantar Khadija, kecuali Zahra yang memilih tinggal bersama sang Ayah.


" Zahla ndak mau pulang Bunda, Zahla mau dicini ama Papa?" Rengek Zahra yang bersembunyi dibalik kaki sang Ayah.


" Biar Zahra disini sama aku dulu, nanti malam aku antar!" Ucap Hafiz dengan wajah datar.


" Tapi Mas~..."


" Benar apa kata Carel, Ja? Mungkin Zahra masih kangen sama Papanya." Aslan memotong Ucapan Khadija.


Menurut Aslan, memang ada baiknya Zahra sementara bersama Hafiz, paling tidak bisa mencegah Hafiz untuk tidak berbuat lebih nekat lagi setelah tadi mendengar pernyataan Khadija yang begitu menyakitkan bagi Hafiz.


Bukan Khadija tidak percaya dengan Hafiz akan keberadaan Zahra di samping Ayahnya, namun bagi Khadija, sedetik tanpa Zahra akan membuatnya seperti orang stres, lebih baik ia mendengar tangis sang buah hati, dari pada harus jauh dengan Zahra. Karena memang selama ini Khadija belum pernah berpisah dengan Zahra.


Tampaknya kali ini Khadija harus mengalah dengan Alasan, Hafiz juga berhak akan Zahra, buah hati mereka.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...

__ADS_1


Sorry telat Up nya, soalnya harus ngetik ulang, karena ketikan pertama sempat kehapus tanpa sebab.


Jangan lupa Like dan komenya*...


__ADS_2