
Satu bulan sudah Alina berada di tengah-tengah keluarga Edsel. Selama itu pula Perempuan itu tidak pernah menyerah mencari kesempatan untuk menarik perhatian mantan suaminya.
Namun, apa yang terjadi? Sama sekali Hafiz tidak pernah menggubrisnya. Semakin gencar usaha Alina mendekati Hafiz maka semakin jauh pula Hafiz menghindari Alina.
Khadija yang sedari awal sudah mendapat ultimatum dari suaminya, membuat ibu satu anak itu selalu waspada, bergerak cepat serta tanggap akan gerak-gerik Alina yang selalu berusaha mendahuluinya. Namun, Khadija memiliki cara tersendiri untuk menghadapi ancaman pelakor yang tengah mengintai ketentraman keluarga kecilnya.
Untuk awal-awal Khadija sering kali di buat geram akan sikap Alina yang sok manja terhadap Hafiz. Tetapi Lama-lama Khadija mulai terbiasa bahkan ia tidak terlalu risau lagi karena Hafiz selalu menceritakan setiap apa yang di lakukan Alina terhadapnya.
Mulai dari memberikan perhatian-perhatian kecil yang dilakukan Khadija, semua di tiru oleh Alina. Sering datang ke Rumah Sakit membawakan makan siang, membuatkan kopi saat Hafiz tengah bersantai dan bahkan dengan tidak tahu malu jika ada kesempatan, perempuan itu mendekat dan menawarkan pijatan kepada mantan suaminya tersebut. Dan itu Alina lakukan ketika Hafiz sedang sendiri. Tetapi lagi-lagi semua hanya berujung dengan penolakan.
Namun, Perempuan berhijab itu tidak mau begitu saja terpancing akan ulah Alina yang sering kali membuatnya kesal. Khadija tetap ingin bermain cantik nan Elegant tanpa ada pertikaian.
Seperti tadi malam ketika Hafiz pulang bekerja, ada Satu pesan masuk ke nomor ayah satu anak itu. Untuk ponsel, Hafiz tidak pernah mengunci apalagi sampai menggunakan password. Karena Hafiz tidak ingin ada sesuatu yang ditutupi dari istrinya.
[Rel, perut aku sakit. Bisa kamu ke kamarku sebentar,] pinta Alina melalui satu pesan singkat yang dikirim ke nomor Hafiz.
"Perasaan tadi dia ndak papa?" gumam Khadija setelah membaca pesan dari Alina di ponsel sang suami yang tergeletak di atas meja.
Tidak sengaja Khadija yang sedang meletakkan secangkir kopi di atas meja untuk sang suami yang baru pulang kerja, Melihat gawai suaminya itu berkedip dan menampilkan satu pesan dengan nama kontak "Mak Lampir". Entah sejak kapan Hafiz mengganti nama sahabat sekaligus mantan istrinya itu dengan sebutan yang cukup Horor, hingga membuat Khadija penasaran.
"Mas, ini ada pesan WA di Handphone kamu," Khadija menyodorkan Handphone ke arah sang suami, ketika Hafiz baru keluar dari kamar mandi.
Sambil menggosok rambutnya yang masih basah dengan menggunakan handuk kecil, Hafiz menerima ponsel dari tangan istrinya. "Siapa?" tanya Hafiz mengangkat satu alis.
"Mak Lampir," jawab Khadija, menerima handuk kecil yang disodorkan suaminya.
Sekilas pria itu membacanya lalu melihat kembali ke arah sang istri yang sedang memasang senyuman penuh arti.
____
Dikamar Alina. Perempuan itu tengah menunggu balasan dari mantan suaminya. Bukan saja balasan pesan yang Alina harapkan, tetapi lebih dari itu. Alina berharap Hafiz datang menemuinya.
Alina tahu titik kelemahan pria yang pernah menjadi sahabatnya itu. Hafiz tidak akan tega melihat Alina berada dalam kesulitan terlebih dalam keadaan sakit. Itu dulu! Dan sekarang Alina menggunakan cara klasik itu kembali berharap usahanya kali ini berhasil.
Ddrrttt ... Ddrrttt ... Ddrrttt ...
Alina tersenyum ketika melihat ponsel yang ada di genggamanya bergetar dan menampilkan nama seseorang dengan sebutan "Mantan Tersayang".
Dengan bibir yang mengembang Alina mengusap layar ponselnya.
[Hal ...]
[Aaahhh ... Pelan-pelan dong Mas,] suara Khadija dengan nada sensual memotong ucapan Alina yang sempat terdengar.
__ADS_1
[Oke, kita mainya S**low Mossion,] suara Hafiz medesah berbisik.
"Apa-apaan sih mereka ini?" gerutu Alina lirih mendengar suara yang berada di ujung telepon sana. Namun, Alina masih menunggu respon selanjutnya.
[Kenapa masih sempit begini sih Sayang ... Eeuummphh ... Aahhh ...]
[Sssttt ... Enak banget Mas]
Tut ...Tut ...
"Maksudnya apa coba, pamer begituan!" dengus Alina sambil meremas-remas benda persegi yang ada digenggamanya setelah menekan panel merah di layar gawainya tersebut. Ia sudah tidak tahan mendengar suara yang begitu ia rindukan saat bersama mantan suaminya itu. Namun, sekarang terdengar begitu menyebalkan di telinganya.
____
Tut ... Tut ...
"Bwahahahaha ... " Hafiz terbahak setelah sambungan teleponya terputus secara sepihak, "Aku gak nyangka ya Bund, ternyata kamu punya ide segila ini," ujar Hafiz masih dengan tawanya
Hafiz dan Khadija tidak sedang melakukan kegiatan apapun. Mereka berdua hanya duduk santai di sofa yang ada di balkon kamar.
"Aku ndak bisa bayangin gimana ekspresi Mbak Alina denger suara kita tadi," Khadija pun terkikik geli, mengingat ucapanya sendiri.
"Horni, horni deh tu orang," sahut Hafiz sambil menyeruput kopi yang dibawakan istrinya tadi, "Tapi bener Bund, sekali-kali butuh dikerjain juga si Alina," lanjut Hafiz setelah meletakkan kembali kopinya di atas meja.
"Tapi kasihan juga sih,"
"Kalau dia kepengen, gimana?"
"Bukan dia yang kepengen ..." Hafiz menjeda ucapanya, lalu tersenyum nakal ke arah perempuan disampingnya, "Tapi aku yang pengen," sambung Hafiz berbisik manja di telinga Khadija.
Khadija menarik mundur kepalanya, "Menerobos lampu merah dosa lho Mas!" ujar Perempuan itu mengingatkan sambil menggoyangkan jari telunjuknya kekanan dan kekiri.
"Jadi kamu lagi ..." tanya Hafiz mengangkat satu alisnya tanpa melanjutkan kalimatnya.
Khadija mengangguk, memasang senyum sumringah.
"Yah, sia-sia dong tadi kita ..." Hafiz mendesah kecewa lalu beranjak dari posisi duduknya.
"Orang kita tadi ndak ngapa-ngapain," Khadija mengerutkan keningnya. Ia merasa tidak melakukan apa-apa yang membuat suaminya tampak kecewa. "Mau kemana Mas?" tanya Khadija lagi saat melihat suaminya masuk ke dalam kamar.
"Kamar mandi," jawab Hafiz cuek tanpa menengok kebelakang. Dimana istrinya masih duduk di sofa.
"Ngapain?"
__ADS_1
"Konser," jawab Hafiz asal sambil terus berjalan ketempat tujuan.
Blam ...
***
"Hai, Zahra ... " sapa Alina ketika melihat Zahra bermain sendiri di teras depan rumah.
Zahra menengadahkan kepala melihat seseorang yang berdiri di belakangnya, "Hai, Tante Alin ...?" sahut Zahra.
"Kok main sendiri, Dipta mana?" Alina merubah posisi, berjongkok di depan Zahra.
"Itu lagi main sepak bola sama Papa," tunjuk Zahra pada Dua pria berbeda usia yang tengah menggulir bola di tengah halaman.
"Mau gak jalan-jalan sama Tante?" tawar Alina. Kali ini Alina memanfaatkan Zahra untuk mengambil hati Ayah gadis kecil itu.
Setelah semua cara yang di lakukan berujung sia-sia dan kini hanya tinggal satu cara yaitu mendekati Zahra sebagai harapan satu-satunya untuk Alina kembali pada Hafiz, mantan suaminya.
"Mau Tante," Zahra mengangguk senang, "Tapi Zahra, izin dulu sama Bunda ya Tante?"
Alina mengangguk dan Zahra pun masuk kedalam rumah mencari sang Bunda.
"Memangnya mau ngajak Zahra kemana toh Mbak?" tanya Khadija saat menemui Alina yang masih duduk dikursi teras sambil memandang Hafiz bermain sepak bola.
Alina menoleh ke arah Khadija, "Cuma main-main ke Mall aja kok. Aku bosen di rumah terus, sekalian aja ngajak Zahra biar ada temen, mumpung akhir pekan juga. Gimana kamu bolehin gak?"
Khadija tidak langsung menjawab, pandanganya beralih pada sang buah hati yang berada di bawahnya, "Boleh ya Bunda?" rengek Zahra dengan Puppy eyes-nya.
"Iya boleh," Khadija mengangguk setuju meski hatinya ragu. Dengan cepat Khadija menepis perasaan itu. Tidak mungkin Alina akan menyakiti atau membahayakan anaknya.
"Aku nitip Zahra Mbak," pinta Khadija beralih menatap Alina.
"Kamu tenang aja, Zahra sudah aku anggap seperti anakku sendiri." jawab Alina menyakinkan.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung ...
Jangan lupa dan Like dan komenya ya ...😊🙏*