
Hanya Satu malam Hafiz menginap di rumah sang Mertua, Pagi ini Hafiz akan kembali memboyong Istrinya pulang ke Ibukota.
"Jaga Dija dan cucu-cucu Ibu baik-baik nak Hafiz." Tidak seperti sebelum-sebelumnya, ada rasa sedih yang mendalam terlihat dari wajah sang Ibu ketika melepas Putri sulungnya.
"Ibu tenang saja, itu sudah menjadi kewajiban Hafiz." ucap Hafiz seraya tersenyum dan merangkul bahu sang Istri.
"Jaga diri kamu dan calon bayi kamu nduk." imbuh sang Ayah menatap sendu wajah cantik yang ada dihadapanya. "Jangan biarkan Istrimu kelelahan nak Hafiz." sambung Ayah mertua pada menantunya.
Banyak pesan yang disampaikan oleh Sepasang suami istri yang berusia setengah abad lebih tersebut.
Setelah semua berpamitan dan saling berpelukan tanda perpisahan, mobil Hafiz kembali melaju melakukan perjalanan jauh nan melelahkan.
Masih sama seperti masa kehamilanya yang pertama, pada kehamilanya yang sekarang tak ada kendala berarti bagi Khadija. Morning sick? Itu hal yang biasa.
Namun kali ini Hafiz tidak akan menyia-nyiakan moment yang paling di tunggu-tunggu selama ia menyandang status sebagai seorang Suami.
Ngidam, kata itulah yang selalu membuatnya penasaran. Meski Hafiz sudah tidak asing dengan perilaku-perilaku aneh para Ibu hamil, namun ia tidak pernah merasakanya sendiri.
"Bund, kamu gak mau apa-apa gitu?" tawar Hafiz saat masih dalam perjalanan pulang.
Khadija menoleh, "Ndak Mas." jawabnya sambil tersenyum.
Sesekali Hafiz mengelus perut Istrinya yang masih rata sambil menyetir menggunakan satu tangan. Khadija menggelengkan kepala sembari tersenyum simpul melihat tingkah Pria di sampingnya.
Berangkat pagi, dan tiba menjelang sore hari sudah menjadi jadwal pasti ketika melakukan perjalanan dari kampung ke Ibukota, begitupun sebaliknya.
Setelah masuk ke dalam Apartemen Hafiz segera menuju ruang keluarga untuk menselonjorkan kaki, setelah hampir sehari tegang menginjak pedal gas dan rem mobilnya.
Lalu di susul Zahra yang tiba-tiba naik ke atas pangkuan Hafiz lalu memeluk Pria itu, dan Khadija ikut duduk di sampingnya.
"Anak Papa capek ya?" Hafiz membelai rambut belakang Putrinya dan hanya dibalas anggukan kepala oleh Zahra. Karena rasa lelah membuat Zahra enggan bersuara.
Sedang Ina masuk ke dalam kamar Zahra untuk membawa barang bawaan yang ia bawa sebelumnya.
"Mama mana Mas?" tanya Khadija mengedarkan pandangan mencari sosok yang tak terlihat oleh matanya.
"Mama sudah balik lagi kerumah Bund, katanya kasihan sama Papa."
"Alhamdulillah Mas, jika Mama dan Papa sudah baikan lagi."
"Princes waktunya untuk mandi," suara Ina saat datang dari kamar Zahra. Membuat semua orang menoleh kearahnya.
"Sayang, Zahra mandi dulu sama Mbak Ina ya?" perintah Hafiz pada sang buah hati yang ada dipangkuanya
"Iya Papa." jawab Zahra lalu mencium Pipi Papanya dan di balas Hafiz dengan kecupan di seluruh wajah Putrinya. Hingga Zahra merasa terkikik geli di buatnya.
"Sudah, sudah ayo Princes dan Papa cepetan mandi." lerai Khadija melihat Dua orang terkasihnya malah asik bercanda.
"IYA BUNDAAA," seru Hafiz dan Zahra bersama setelah menghentikan aksinya.
Ternyata serangan ciuman bertubi-tubi dari Hafiz dan Zahra beralih di wajah sang Bunda.
Ina yang menyaksikan keharmonisan keluarga kecil yang ada dihadapanya ikut tersenyum. Namun, didalam hatinya ada rasa iri, Ina sangat ingin merasakan kehangatan seperti keluarga majikanya. Tak terasa Ina menitikan air mata, tatapanya nanar melihat pemandangan indah di depan matanya.
"Mbak Ina kenapa?" Khadija melihat Ina yang masih berdiri mematung dengan rembesan air mata di pipinya.
Ina tersadar, tanganya reflek mengusap pipinya, "Eh, gak papa Mbak, hanya kangen dengan Dipta." elaknya. Dipta adalah anak Ina yang masih berusia Tiga tahun.
Khadija berdiri, "Kalau Mbak Ina kangen sama Dipta, saya kasih izin kok Mbak Ina pulang." ujar Khadija merangkul bahu Ina, mencoba menenangkan.
Kalau urusan kangen, hampir setiap hari Ina merindukan buah hatinya, tetapi karena tuntutan ekonomi untuk menopang kehidupan Anak dan Ibunya, ia rela memendam perasaanya.
"Tapi Mbak Dija kan lagi hamil, bagaimana nanti dengan Zahra?" Ina merasa tidak enak hati dengan segala kebaikan yang di berikan Hafiz dan Khadija.
"Kamu tenang saja, ada saya nanti yang membantu mengurus Zahra." Timpal Hafiz menyetujui saran Istrinya.
__ADS_1
"Terima Kasih Tuan, Mbak Dija." ucap Ina melebarkan senyumnya.
Kemudian Zahra pun di bawa Ina kembali ke kamar. Begitupun dengan Hafiz dan Khadija yang juga ikut masuk ke kamar utama.
Setelah selesai mandi dan menunaikan shalat Ashar berjamaah, Khadija bersiap hendak ke tempat favorit yang sebulan ini sempat ia tinggalkan.
"Mau kemana Bund?" tanya Hafiz saat Istrinya hendak berlalu.
"Mau ke dapur Mas, udah waktunya aku masak."
Hafiz berjalan mendekat ke arah Istrinya yang masih berdiri di depan pintu, dengan tangan kanan bertengger pada handle kotak persegi yang bisa di buka tutup.
"Kamu lupa pesen Bapak sama Ibu?" Hafiz meraih pinggang sang Istri "Kamu itu gak boleh capek sayang." lanjut Hafiz menoel hidung Perempuan yang ada di pelukanya.
"Kalau aku ndak boleh masak, terus kalian mau makan apa?"
"Hahaha...Tenang aja, serahin semuanya pada dr. Hafiz." kelakar Hafiz menepuk dada.
"Memang Pak Dokter bisa masak?" seloroh Khadija.
"Enggak!" Hafiz menggeleng, "Kan kita bisa Go-Food?" lanjut Hafiz menaik turunkan alisnya.
"Itu namanya pemborosan Mas?" Jiwa irit Khadija berkobar.
"Sekali-sekali gak papa sayang? Besok aku akan meminta Mama, supaya Sari di pindahkan kesini. Jadi kamu fokus aja sama aku, Zahra dan calon bayi kita." Hafiz kembali mengusap perut Istrinya lalu membungkukan badan mencium perut rata sang Istri tercinta.
Untuk kali ini Khadija tidak akan membantah keputusan Suaminya, karena apa yang di katakan Pria itu seluruhnya benar. Terlebih dengan janin yang masih sangat rentan yang ada dalam kandunganya.
Hafiz pun memesan makanan lewat aplikasi yang ada diponselnya. Ia pun menawarkan terlabih dahulu menu apa saja yang akan ia pesan pada Istri dan Anaknya serta Ina pengasuh Puterinya.
Akhirnya mereka sepakat malam ini, memilih menu makan malam dengan Ayam bakar saus madu. Sebenarnya itu adalah usulan Khadija yang tengah ngidam.
Satu jam menunggu dan pesanan pun datang tepat di jam makan malam, selepas mereka menunaikan Shalat Maghrib.
"Kok gak dimakan Bund? Katanya tadi mau makan Ayam bakar?" tanya Hafiz melihat Perempuan yang ada di sampingnya itu tidak menyentuh makananya.
"Belum di makan kok udah kenyang Bund?" timpal Zahra, tidak mengerti jika sang Bunda sedang ngidam.
"Bunda masih belum laper kok," Khadija mencoba memberikan alasan.
Tanpa banyak tanya lagi, Zahra melanjutkan menikmati makananya.
"Nanti kalau kamu mau apa-apa bilang ya Bund?" Hafiz mengerti fase ngidam yang dialami sang Istri, namun tetap saja ia tidak tega melihat Istrinya tidak mau makan.
***
Karena perutnya yang masih belum terisi saat makan malam, Khadija kini merasa perutnya keroncongan. Waktu sudah menunjukan tengah malam.
Berulangkali Khadija membolak balik tubuhnya, ingin rasanya membangunkan sang Suami, namun ia tidak tega melihat wajah lelah Pria yang tidur disampingnya.
"Kenapa sayang? Kok kamu belum tidur?" Hafiz terbangun, terusik oleh pergerakan sang istri yang tampak gelisah.
Khadija yang tidur terlentang sambil memegang perutnya menoleh ketika mendengar suara parau Suaminya, "Aku laper Mas?" ucap Khadija sambil nyengir.
Hafiz merubah posisinya miring menghadap sang Istri dengan menopang kepala dengan satu tangan, "Bunda mau makan apa?" tanyanya.
"Mau makan Rujak," jawab Khadija ikut memiringkan tubuhnya.
"Hah~" Hafiz melongo mendengar keinginan Istrinya. "Nasi goreng aja ya Bund? Lagian kamu kan belum makan nasi." tawarnya, mengalihkan keinginan sang Istri yang sangat mustahil. Pikirnya sulit bahkan tidak akan mungkin menemukan tukang rujak di tengah malam seperti ini.
"Pokoknya aku mau makan rujak!" rajuk Khadija mengerucutkan bibirnya.
"Ya sudah, aku akan coba cari tukang rujaknya." Hafiz bangkit dari tidurnya.
"Aku ikut!" seru Khadija sembari turun dari ranjang.
__ADS_1
Hafiz pun mengangguk pasrah, ia tidak akan menolak lagi keinginan Ibu hamil yang sedang ngidam, karena itu sama saja menabuh genderang perang di tengah malam.
Hafiz melajukan mobilnya membelah keramaian jalan raya yang sudah mulai surut. Bola matanya terus mengedar mencari apa yang diinginkan Ibu hamil yang ada disampingnya.
Hampir Satu jam Hafiz berkeliling, namun nihil ia tidak menemukan tukang rujak yang dicarinya.
Berulang kali Hafiz menawarkan menu makanan lainya, apa daya selalu di tolak mentah-mentah oleh Khadija.
"Gimana dong sayang?" tanya Hafiz meminta pendapat istrinya, berharap Perempuan itu berubah pikiran.
Khadija tampak berfikir sejenak, "Ya udah kita cari tukang buah yang masih buka,"
Terbit senyum penuh kelegaan dari bibir Hafiz.
"Tapi nanti bikinin bumbu rujak sendiri di rumah." imbuh Khadija.
Ternyata berubahnya keinginan Perempuan itu, tidak lantas membuat Hafiz bernafas lega.
Hafiz kembali memacu kuda besinya mencari lapak tukang buah yang masih buka.
Jambu air dan Kedondong buah yang di pilih Khadija. Mungkin karena rizki Ibu hamil ia bisa menemukan buah khas rujakan tersebut, padahal sedang tidak pada musimnya.
Meskipun masih ada satu tugas menantinya, setidaknya petualanganya malam ini berakhir.
"Gimana ini Bund, cara bikin rujaknya?" tanya Hafiz sudah berada di dapur bersama Istrinya.
"Kupas dulu buahnya," titah Khadija, mengambilkan pisau dan menyodorkan ke arah Pria yang ada di sebelahnya.
Khadija berlalu dan meninggalkan suaminya yang sedang kebingungan membuat bumbu rujak. Ibu hamil itu berjalan menuju ruang makan dan duduk sembari menunggu rujak untuknya selesai di buatkan.
Hafiz sejenak terbengong melihat sang Istri pergi meninggalkanya sendiri di dapur.
"Terus ini bumbunya gimana?" gumam Hafiz menggaruk pelipisnya sembari berfikir.
Hafiz mengambil inisiatif untuk mencari tahu sendiri lewat media internet cara membuat sesuatu yang baru pertama kali ia lakukan seumur hidupnya.
Setengah jam berlalu, Hafiz masih berkutat di dapur. Hafiz menuangkan bumbu rujak hasil karyanya ke mangkok kecil dan membawanya bersama irisan buah yang sudah ia sajikan ke dalam piring lalu berjalan menghampiri sang Istri yang sedang menunggunya.
"Sayang ayo bangun ini rujaknya sudah jadi." Hafiz membangunkan Istrinya yang sudah tertidur.
Khadija yang tidur dengan posisi menopang kepala dengan kedua lenganya di atas meja pun terbangun, "Sudah jadi Mas?" tanyanya sambil mengangkat wajahnya.
Hafiz tersenyum tidak sabar melihat sang Istri mencicipi rujak buatanya.
"Aku ngantuk Mas, mau tidur aja." Khadija beranjak dari kursinya dan berlalu dari hadapan Pria yang tengah memasang tampang cengo ke arahnya.
"Terus rujaknya gimana Bund?" tanya Hafiz sedikit berteriak ke arah Perempuan yang sudah berjalan menjauh darinya.
"Buat Mas aja!" jawab Khadija menengok sekilas ke arah Pria yang masih setia duduk dikursinya.
"Sabar, sabar." Hafiz mengurut dada, kemudian mengusap wajahnya kasar.
Ada rasa kesal dan kecewa terhadap tingkah sang Istri yang tidak menghargai hasil kerja kerasnya malam ini, namun segera Hafiz menepisnya, "Bukankah ini yang aku mau?" gumamnya, mengingat keinginanya menghadapi tingkah absurd Ibu hamil yang memiliki jargon "Bumil selalu menang."
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
*Bersambung...
Jangan lupa Vote, Like dan Komen ya? 🙏😊😘*