Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Perasaan yang terpendam


__ADS_3

Aslan kembali melajukan mobilnya keluar dari area parkir Apartemen Hafiz. Tersimpan banyak pertanyaan yang bergelayut di otak Aslan saat ini.


Tatapan mata Khadija fokus ke arah jalanan didepanya, fikiranya melayang pada sang buah hati yang kini berada bersama Hafiz, mantan suaminya.


Belum lama Khadija meninggalkan Zahra, rasanya Khadija ingin kembali ke Apartemen Hafiz untuk mengambil Zahra. Tapi di sudut hatinya mengatakan bahwa ia juga tidak boleh egois, karena bagaimanapun Zahra membutuhkan sosok Ayah kandung disisinya.


" Ja...Dija?" Panggil Aslan yang kesekian kalinya, karena Khadija tampak melamun semenjak kepulanganya dari Apartemen Hafiz.


" Eh, iya...Ada apa Mas?" Khadija tersadar dari lamunanya, menoleh ke arah Aslan.


" Kamu kenapa?" Basa_basi Aslan, sebenarnya Aslan sudah tau apa yang sedang di fikirkan Khadija.


" Ndak papa Mas?"Elak Khadija dengan senyum yang dipaksakan.


" Oh ya, sejak kapan kamu pacaran sama Haikal?" Aslan mencoba mengalihkan perhatian Khadija akan Zahra, sekaligus menjawab rasa penasaranya akan hubungan Khadija dan Haikal yang secara mengejutkan.


Khadija tertawa kecil." Kami itu gak pernah pacaran, aku dan Mas Haikal setahun ini bertaaruf dan kemarin itu pertama kali kita bertemu." Jelas Khadija, Aslan mengangguk paham.


" Dulu kalian satu angkatan ya Mas? Setahu kamu Mas Haikal itu orangnya seperti apa?" Tanya Khadija penasaran akan sosok calon suaminya.


" Haikal orangnya baik, alim, gak neko_neko juga, dan yang spesial dari dia itu hampir sama seperti Carel, anti sama yang namanya pacaran, tapi itu dulu waktu masih SMA, gak tahu kalau sekarang?" Aslan mengendikan bahunya sambil trus memutar kemudinya.


Khadija tersenyum bangga mendengar penuturan Aslan tentang Haikal, dan Khadija pun yakin Haikal yang sekarang masih sama dengan Haikal waktu masih SMA.


Kegelisahan Khadija pun sudah sedikit teralihkan.


Tidak lama berselang, Aslan menepikan mobilnya dan mereka sudah berada di depan toko Ummi Aminah.


" Kamu ndak mampir dulu Mas?" Tawar Khadija sebelum turun dari mobil Aslan.


" Gak usah deh Ja, soalnya mau jemput Mama sama Istri tercinta, udah kangen ni?" Jawab Aslan, menaik turunkan alisnya.


Khadija mencebikan bibirnya." Iya deh, Dija tahu yang lagi kangen? Ya sudah hati_hati, salam sama Mama kamu dan Aisyah." Lalu Khadija turun dari mobil Aslan yang sebelumnya mendapat acungan jempol dari Aslan.


Khadija pun segera masuk ke dalam rumah Ummi Aminah. Keadaan rumah sudah sepi, mungkin Haikal sudah pulang dan Ummi Aminah berada di tokonya bersama Leni.


Khadija beranjak masuk ke dalam kamarnya, namun ternyata ada Haikal di sana sedang tertidur dengan posisi tengkurap di atas kasur Khadija.


Khadija kembali memundurkan langkahnya sebelum mengetuk pintu.


Beberapa kali pintu di ketuk, namun Haikal masih tidak bergeming. Khadija mencoba mengetuk pintu sekali lagi, jika masih tidak mendapat respon dari Haikal maka dengan terpaksa Khadija sendiri yang akan membangunkanya.


Tepat di ketukan terakhir, Haikal menunjukan pergerakanya, ia menggeliat sebelum membalikan badanya lalu duduk di tepi ranjang Khadija.


Haikal mengkucek matanya memastikan siapa orang yang telah membangunkanya.


" Eh, kamu sudah pulang Dek?" Tanya Haikal melihat Khadija yang masih berdiri di ambang pintu. lalu Haikal berdiri, berjalan ke arah Khadija.


" Iya Mas." Jawab Khadija singkat.


" Mana Zahra?" Haikal clingak_clinguk mencari keberadaan Zahra.


" Zahra tadi ndak mau di ajak pulang, tapi nanti malam di antar sama Papanya." Jelas Khadija.


" Mas belum pulang?" Pertanyaan yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban, dilontarkan Khadija, karena ia merasa gugup berada di dalam kamar berdua dengan Haikal.


Haikal tersenyum, mengerti akan sikap Khadija yang merasa tidak nyaman akan kebradaanya." Belum, Mas nungguin kamu, tapi berhubung kamu sudah datang sekarang Mas mau pulang dulu." Haikal mengusap puncak kepala khadija yang tertutup hijab syar'inya, saat posisi mereka berdiri sejajar di depan pintu kamar." Assalamualaikum." Ucap Haikal saat akan keluar.


"Waalaikumsalam...Hati_hati Mas?" Jawab Khadija dengan senyum termanisnya. Haikal mengangguk lalu pergi dari hadapan Khadija.


Khadija senang mendapat perlakuan manis dari Haikal meski itu hanya berupa usapan kepala.


Haikal tidak akan melakukan kontak fisik secara langsung, sebelum hubungan mereka halal. Itulah cara Haikal menjaga kehormatan Wanitanya.


Haikal pun sudah menghilang dari balik pintu utama, kemudian Khadija masuk kedalam kamarnya setelah itu khadija masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya, baru kemudian menunaikan kewajibanya sebelum waktunya habis.


Selesai menunaikan Sholat Dzuhur, Khadija Pergi ke toko untuk melakukan pekerjaanya seperti biasa.

__ADS_1


Didalam toko, Khadija yang baru saja masuk langsung ditanya oleh Ummi Aminah akan keberadaan Zahra yang tidak ada di samping Khadija saat ini. Lalu Khadija menjelaskan kepada Ummi Aminah dan Leni akan keberadaan Zahra.


Setelah terlibat obrolan ringan antara Khadija, Ummi Aminah dan Leni, mereka semua kembali ke tugas masing_masing.


Karena sudah ada Leni yang menggantikanya di meja kasir, maka Khadija mengambil alih pekerjaan Ummi Aminah untuk mengecek barang_barang yang sudah kosong dan kemudian mencatatnya untuk melakukan pengorderan barang selanjutnya melalui agen distributor yang sudah berkerja sama.


Dan Ummi Aminah beralih tugas mengecek keluar masuknya keuangan toko miliknya.


Khadija menilik sekilas jam yang tertempel di dinding toko, ternyata jam sudah menunjukan tiba waktunya untuk Khadija berganti tugas.


Jam menunjukan pukul tepat Setengah empat sore, itu artinya Khadija harus segera memasak makanan untuk makan malam mereka bertiga.


Khadija segera kembali ke rumah, setelah berpamitan pada Ummi Aminah dan Leni.


***


Ba'da sholat Maghrib...


Khadija gelisah menunggu Zahra yang tak kunjung di antar oleh Hafiz.


Leni merasa jengah, melihat Khadija yang terus mondar_mandir sambil meremas_remas ponsel yang ada ditanganya.


Beberapa panggilan dilakukan Khadija via telepon, namun tak mendapat jawaban dari sang penerima panggilan.


" Ja, mending sekarang kamu duduk dulu yang tenang, siapa tahu mereka masih ada di perjalanan." Ucap Leni yang duduk di kursi teras.


Khadija pun menurut apa yang dikatakan Leni.


" Tapi udah malam gini, Zahra belum diantar sama Mas Hafiz."Ucap Khadija dengan raut paniknya.


" Ya ampun Ja, baru habis magrib ini? Malam dari mananya, masih sore kali?" Beo Leni.


Tin...Tin...


Khadija dan Leni menyipitkan kedua matanya, ketika sorot lampu mobil yang berhenti di halaman rumah Ummi Aminah.


Jika Hafiz memiliki mobil sport berwarna hitam, lantas siapa pemilik mobil berwarna putih kali ini? Siapa lagi kalau bukan Haikal, calon suami Khadija.


Tampilan casual dari sosok Haikal kali ini, membuatnya sedikit lebih fresh dari biasanya, yang selalu memakai kemeja berlengan panjang.


" Gila, tambah cakep aja calon suami kamu Ja? Celetuk Leni, memiringkan tubuhnya berbisik ke arah Khadija.


Khadija tak menghiraukan celetukan Leni, yang ada difikiranya saat ini hanya Zahra. bahkan kehadiran Haikal pun tidak mampu mengusir kegelisahan Khadija.


" Assalamualaikum.." Ucap Haikal sambil menaiki anak tangga yang berjumlah Empat tingkat.


" WAALAIKUMSALAM..." Jawab Khadija dan Leni bersamaan.


" Kamu, kenapa Dek, seperti orang bingung?" Tanya Haikal sambil menyerahkan bungkusan kresek ke arah Leni.


Leni pun menerimanya dengan semangat, karena itu makanan favorit Khadija dan Leni yang kebetulan memiliki selera yang sama.


Tanpa basa_basi Leni membawa oleh_oleh yang di bawa Haikal masuk kedalam rumah.


" Sampai jam segini, Zahra belum diantar sama Mas Hafiz." Ucap Khadija kembali berdiri dihadapan Haikal.


" Hafiz sudah kamu telepon?" Tanya Haikal.


" Sudah, tp ndak di angkat_angkat!"


" Ya sudah, kita tunggu Setengah jam lagi, jika masih belum datang nanti kita susul ke Apartemenya." Hafiz memberikan opsi kepada Khadija dan Khadija pun mengangguk setuju.


Lalu Khadija duduk kembali dikursi semula, begitu juga dengan Haikal yang ikut duduk di tempat Leni sebelumnya.


" Uwak kemana?" Haikal menanyakan Ummi Aminah. Ibu Haikal adalah adik dari Ummi Aminah.


" Ummi tadi pergi ke Majlis taklim di komplek perumahan sebelah." Terang Khadija.

__ADS_1


" Oh." Jawab Haikal.


Kurang dari Setengah jam, akhirnya yang ditunggu_tunggu menampakan batang hidungnya.


Khadija kembali berdiri, bermaksud menyambut kedatangan Putri kecilnya.


Hafiz keluar dari mobilnya, lalu ia berjalan memutar menuju pintu sebelahnya.


Hafiz membungkukan tubuh tingginnya, meraih sesuatu yang masih berada di dalam mobilnya.


Di bopong tubuh mungil Zahra ala Brydal style.


Setelah mengucapkan salam, Hafiz segera berlalu masuk kedalam rumah Ummi Aminah menuju kamar Khadija.


" Mas, aku masuk dulu." Pamit Khadija pada Haikal, bermaksud membantu Hafiz menidurkan Zahra.


Haikal mengulurkan tanganya, tanda mempersilahkan Khadija untuk masuk.


Setelah mendapat persetujuan Haikal, Khadija pun masuk mengikuti Hafiz yang sudah masuk terlebih dahulu.


" Dari mana saja sih Mas? Jam segini baru di antar!" Gerutu Khadija.


" Tadi kita jalan_jalan dulu." Ucap Hafiz acuh. Semenjak pertemuanya dengan Khadija dan Haikal tempo lalu, sikap Hafiz berubah mejadi dingin terhadap Khadija. Hafiz tidak akan membuka suara jika Khadija tidak bertanya terlebih dahulu. Berbeda dari sebelumnya, Hafiz yang lebih sering menggoda Khadija.


"Mas kamu ini kenapa?" Tanya Khadija bingung akan perubahan sikap Hafiz.


Hafiz menghentikan langkahnya saat akan keluar dari kamar Khadija." Menurut kamu?" Tanya Hafiz berbalik badan, menatap lekat ke arah Khadija.


" Ya aku ndak ngerti Mas? Kalau kamu ndak ngomong."


Hafiz tersenyum sinis." Apa kamu tidak cukup mengerti dengan sikap aku selama ini ke kamu? Apa aku harus bilang dulu kalau aku sayang sama kamu, baru kamu mengerti kalau aku sedang cemburu, huh?" Hafiz mengusap wajahnya kasar, ia sendiri tidak menyangka perasaan yang ia pendam selama ini begitu lancar ia ucapkan di waktu yg sudah tidak tepat.


Tenggorokan Khadija seketika tercekat mendengar pernyataan Hafiz akan perasaanya terhadap dirinya selama ini. Khadija tidak tahu harus berkata apa, untuk memilih antara Haikal dan Hafiz pun rasanya tidak mungkin, karena di hati Khadija saat ini hanya ada Haikal, seseorang yang sudah membuat Khadija berhasil move on dari Hafiz.


Semenjak Khadija mengandung Zahra, entah mengapa perasaan cinta itu tumbuh dengan sendirinya akan sosok Pria yang sudah menghancurkan hidupnya pada waktu itu.


Susah payah Khadija memendam perasaan cintanya terhadap Hafiz yang datang di waktu yang tidak diinginkan.


Akan sangat mustahil pada waktu itu, ia kembali pada Hafiz, karena Khadija tidak mau dianggap sebagai perusak rumah tangga orang.


Jauh dari keluarga, melihat dengan mata kepalanya sendiri sang mantan suami yang begitu di cintainya pada saat itu bersanding dengan wanita lain dan harus mengandung tanpa kehadiran seorang suami disisinya, begitu lengkap penderitaan Khadija pada waktu itu.


Sampai akhirnya Ummi Aminah yang merasa iba dengan kisah hidup Khadija, berniat memperkenalkanya dengan Haikal, keponakannya sendiri.


Sikap Haikal begitu ramah dan lembut. Justru dengan kelembutan yang di miliki Haikal, perlahan membuat Khadija lepas dari benteng pertahanan cintanya terhadap Hafiz.


" Kamu ndak boleh punya perasaan sama aku Mas?" Ucap Khadija dengan mata yang berkaca_kaca. Karena Khadija tidak ingin Hafiz merasakan apa yang pernah ia rasakan. mencintai dalam kesendirian itu rasanya sungguh menyakitkan.


" Kamu tidak usah kawatir Ja, karena aku tidak akan pernah memaksamu untuk mencintaiku. Cukup aku bisa melihatmu bahagia itu sudah lebih dari cukup." Ucap Hafiz dengan tatapan sendunya.


Hafiz segera keluar dari kamar meninggalkan Khadija Yang masih terpaku berdiri ditempatnya.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung...


Jangan lupa like dan komenya ya*?

__ADS_1


__ADS_2