Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Keluarga baru


__ADS_3

Selepas Maghrib sebelum Isya' akad nikah akan segera dilangsungkan. Tidak ada yang spesial, bahkan kedua mempelai hanya memakai pakaian seadanya. Ayah Hafiz dengan setelan kemeja putih dan celana bahan warna hitam serta peci hitam yang bertengger di atas kepala. Sedangkan Ina hanya memakai gamis berwarna putih dan hijab syar'i yang di pinjamkan oleh Khadija.


Tidak ada tamu undangan, cukup orang yang ada di dalam keluarga itu, termasuk para ART yang turut menjadi saksi pernikahan Ayah Hafiz dengan Ina. Karena Ayah Ina sudah almarhum maka untuk wali di wakilkan oleh wali hakim. Tidak lupa Ina juga memohon Doa restu kepada sang Ibu melalui sambungan telepon, Dan Ibunya pun merestuinya.


"SAH," Satu kata yang menggema setelah prosesi ijab qabul di ucapkan.


Ayah Hafiz tersenyum menyambut uluran tangan dari Ina. Kini tergambar jelas rona bahagia dari raut wajah keduanya.


Berbeda dengan Ibu Hafiz yang tampak berkaca-kaca menyaksikan kebahagian suaminya.


Namun, secara tiba-tiba Ibu Hafiz pergi meninggalkan ruang keluarga, tempat dimana berlangsunya prosesi akad nikah.


"Biar Dija saja Mas, Pa?" cegah Khadija kepada sang suami dan Ayah Mertua ketika hendak mengejar Perempuan yang sudah pergi ke arah taman belakang rumah.


Khadija menghampiri sang Ibu mertua yang tengah duduk di bangku kayu yang ada di taman belakang tepi kolam. Tanpa permisi Khadija memeluk Perempuan yang sudah tidak mampu lagi membendung air matanya.


"Mama harus ikhlas, karena ini keputusan yang Mama ambil," ucap Khadija sambil terus membelai punggung sang Ibu mertua.


"Mama sudah ikhlas, tapi kenapa hati ini masih terasa sakit," sahut Ibu mertua di iringi isak tangis yang terdengar jelas ditelinga Khadija.


Khadija melonggarkan pelukanya, dan menghapus lembut air mata yang menggenang di pipi sang ibu mertua, "Itu wajar Ma, bahkan Dija pun ndak bisa membayangkan jika Dija berada di posisi Mama," Khadija beralih menggenggam kedua tangan perempuan di hadapanya.


"Kita berdoa bersama-sama semoga ini jalan yang terbaik yang dipilihkan oleh Alloh untuk keluarga kita kedepanya, meski jalan ini terasa menyakitkan untuk Mama," sambung Khadija berusaha menguatkan hati Perempuan yang telah dimadu oleh suaminya.


"Mama juga berharap, semoga Carel tidak seperti Papanya dan kamu tidak merasakan sakit seperti apa yang Mama rasakan sekarang ini," Tangisan sang Ibu pun sudah mulai mereda, air mata pun sudah tidak lagi menetes dari sudut mata.


"Aaamiiin, Insyaalloh Ma," Khadija tersenyum melihat sang Ibu sudah sedikit lebih tenang, "Mari Ma kita masuk lagi, atau Mama masih mau disini?" tawar Khadija.


"Mama mau disini dulu," jawab sang Ibu sudah mulai menampakkan senyumnya kembali, "Kamu masuk saja, kasihan Carel nungguin, dia kan gak bisa jauh-jauh dari istrinya yang cantik ini," lanjut sang Ibu mertua menggoda menantunya.


Pipi Khadija seketika menampakan semburat merah di iringi senyum simpul dari bibir ranumnya.


Melihat kondisi sang Ibu mertua yang sudah membaik, bahkan sempat menggodanya, Khadija pun pamit dan kembali ke ruang keluarga tempat semua orang berkumpul.


"Mama mana Sayang?" tanya Hafiz panik melihat istrinya kembali tanpa sang Ibu.


Khadija tersenyum, "Mama masih dibelakang Mas, tapi kamu jangan khawatir kondisi Mama baik-baik aja kok. Cuma Mama butuh waktu untuk sendiri," jelas Khadija.


Hafiz pun merasa lega dengan penjelasan Istrinya, karena ia tahu jika perempuan yang ada di sampingnya itu mampu menenangkan Ibunya.


"Bagaimana Mama kamu Ja?" ganti Ayah Mertua bertanya.


"Untuk sementara Mama jangan di ganggu dulu Pa, tapi Mama baik-baik saja," jawab Khadija.


Setelah acara selesai, semua kembali ke kamar masing-masing. Begitu juga dengan Ina sudah masuk ke kamar yang disediakan sebelumnya.


Belum lama Ina masuk ke kamar, ada suara ketukan dari seseorang yang berada di luar kamarnya.

__ADS_1


"Eh, Nyonya?" Ina menganggukan kepala melihat Istri tua suaminya.


"Jangan panggil saya Nyonya, panggil saja Mbak atau Kakak," ucap Ibu Hafiz datar, "Mana Dipta?" lanjut perempuan itu bertanya.


Ina pun memanggil Dipta yang sudah merebahkan tubuh kecilnya di atas ranjang, namun mata bocah kecil itu belum terpejam.


"Ayo Dipta tidur sama Mama ya? Nanti Mama bacain dongeng," bujuk Ibu Hafiz ketika bocah kecil itu berada di hadapanya. Bahkan Ibu Hafiz pun sudah mulai membiasakan Dipta untuk memanggilnya dengan sebutan Mama.


Tanpa berfikir lama Dipta pun mengangguk menyetujuinya. Tidak masalah baginya tidak tidur dengan sang ibu, karena bocah Laki-laki itu sudah terbiasa jauh dari Ina, Ibunya.


"Tapi Nyo-... Eh, Mbak-..."


"Kamu siap-siap, setelah ini Mas Bram kemari," potong Ibu Hafiz berlalu sambil menuntun putra sambungnya meninggalkan Ina yang masih tercengang di depan pintu.


Dikamar Hafiz dan Khadija,


"Mas kamu kenapa toh? Kok gelisah gitu?" tanya Khadija melihat suaminya sedang mondar-mandir dari pantulan kaca solek di depanya.


Khadija pun berbalik dan berjalan menghampiri sang suami kemudian menggiringnya duduk disofa.


"Aku gak bisa bayangin gimana perasaan Mama, di malam pertama Papa sama Ina," ucap Hafiz datar tanpa memandang perempuan yang ada disampingnya.


"Aku juga ndak tau Mas, tapi semoga Mama baik-baik saja," sahut Khadija.


"Awas saja kamu Ina, kamu sudah menyakiti hati Mamaku," gumam Hafiz mengeratkan giginya.


"Aku akan bikin perhitungan sama Ina," jawab Hafiz dingin.


"Mas, tahan emosi kamu," Khadija mengusap lengan suaminya, "Ini semua bukan sepenuhnya salah Mbak Ina. Kamu kan sudah dengar sendiri ini itu keputusan Mama, pernikahan ini ndak akan terjadi tanpa restu dari Mama. Bahkan Mbak Ina sendiri sempat memutuskan untuk pergi kan?" imbuh Khadija menjelaskan agar sang suami meredam emosinya.


"Iya aku tahu, tapi-..."


"Sudah yuk Sayang, kita Sholat Isya' dulu, biar hati dan pikiran kamu tenang," pungkas Khadija lalu menuntun suaminya menuju kamar mandi.


***


Pagi hari,


Ini hari pertama untuk Hafiz dan Kahdija melakukan sarapan bersama keluarga besar setelah kembali lagi ke rumah orang tuanya.


Tampak wajah berseri-seri dari sepasang pengantin baru yang terpaut usia cukup jauh.


Ayah Hafiz keluar dari kamar bersama istri mudanya. Mereka berdua berjalan beriringan menuruni anak tangga menuju meja makan dimana anggota keluarga yang lain sudah menunggu.


Berbeda dengan Ibu Hafiz yang tampak menyibukan diri melayani Dua bocah kecil yang duduk disamping kanan dan kirinya. Bukan tanpa alasan perempuan itu berlaku demikian, semua itu ia lakukan semata untuk mengalihkan perhatianya dari pemandangan yang akan membuat hatinya perih.


Ina seketika menundukan kepala, ketika mendapat tatapan sinis dari Hafiz sang mantan majikan ketika berada dalam Satu meja makan .

__ADS_1


Pring...


Ketika acara sarapan bersama akan dimulai, tiba-tiba Hafiz membanting sendok dan garpu di atas piring. Membuat semua orang tersentak termasuk kedua bocah kecil yang tengah asik bercanda.


"Mas," beo Khadija lalu mengejar sang suami yang sudah pergi meninggalkan ruang makan menuju garasi.


"Tolong dong Mas, jaga sikap kamu," Khadija menarik tangan suaminya ketika hendak masuk ke dalam mobil.


"Aku itu gak tahan Bund, lihat Mama pura-pura tegar seperti itu!" Hafiz meluapkan kekesalanya dengan menendang-nendang ban mobil yang tidak tahu apa-apa.


Khadija menarik tubuh sang suami kedalam pelukanya, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk meredam kemarahan pria itu. Sudah percuma untuk Khadija mengeluarkan kata-kata, karena bisa saja akan memancing kemarahan Hafiz semakin memuncak.


Kurang dari Tiga puluh detik, ternyata berhasil. Pelukan hangat Khadija mampu membuat emosi Hafiz mereda.


"Kita itu harusnya selalu Support Mama Mas, bukan malah uring-uringan ndak jelas gini," cicit Khadija menasehati Pria yang masih setia dipelukanya, "Satu lagi, jangan di biasakan marah di depan anak-anak, karena gak baik untuk kesehatan mental meraka." Hafiz mengangguk kemudian melepas pelukanya.


"Ya sudah aku berangkat dulu, "pamit Hafiz, dan disambut uluran tangan dari istrinya lalu perempuan itu pun menciumnya, "Tolong hibur Mama ya Bund?" pinta Hafiz kepada sang Istri ketika sudah duduk dibelakang kemudi.


"Mas," panggil Khadija sebelum Hafiz menutup kembali kaca mobilnya.


Khadija menggerakkan jari telunjuk menunjuk ke arahnya, agar kepala Hafiz sedikit muncul dari balik kaca jendela mobil yang masih terbuka.


"Ap-..."


Cup


Satu kecupan di bibir Hafiz, "Sebagai ganti sarapan," lirih Khadija mengerlingkan satu mata. Setelah itu Khadija berlalu dari hadapan suaminya.


"Dasar istri nakal, beraninya disini. Awas aja nanti malam." gumam Hafiz, dengan lengkungan di kedua sudut bibirnya. Seketika amarahnya tergantikan oleh hati yang berbunga karena ulah sang istri tercinta.


.


.


.


.


.


.


.


*Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen dan Votenya ya...🙏😊*

__ADS_1


__ADS_2