Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
EXCHAP 3


__ADS_3

Tiga tahun kemudian,


"Akaaak ..."


Blam ...


Hampir saja wajah gadis kecil itu terbentur pintu yang sengaja di banting keras.


"Adek ndak papa nak?" Sang Bunda berlari menghampiri putri bungsunya, berjongkok mensejajarkan diri dengan tubuh mungil itu, "Shasa main sama Bunda aja ya?" bujuknya sambil mengusap wajah lugu itu dengan sayang.


Dengan bibir mengerucut dan wajah tertunduk yang menyiratkan kekecewaan gadis kecil itu mengangguk, "Kenapa Kak Zahla benci cama adek, Bunda?" tanyanya, sedih. Shakila mengangkat wajah.


"Siapa bilang kak Zahra benci sama adek? Kakak itu sayang sekali sama adek. Mungkin kakak lagi kecapean pengen istirahat. Ya udah yuk kita main di bawah, habis ini Papa dateng," kilah sang bunda, tersenyum hangat.


Untuk kesekian kalinya Khadija harus pintar-pintar memutar otak, mencari alasan kala putri bungsunya yang kini sudah berusia Tiga tahun mulai peka akan sikap yang di tunjukan orang-orang sekitar.


Delapan belas tahun sudah pernikahan kedua Hafiz dan Khadija berjalan. Di saat satu-persatu kebahagian sudah di rengkuh, meski semua mereka lalui dengan penuh perjuangan, tetapi kini keluarga itu kembali di uji.


Diantara semua cobaan yang pernah mereka lewati silih berganti, kali ini ujian terberat untuk Hafiz dan Khadija.


Mangembalikan kembali keceriaan Zahra.


Kehadiran Shakila, awal mula ketidak harmonisan dalam keluarga terjadi. Bukan antara Hafiz dan Khadija melainkan hubungan kedua putrinya yang terpaut usia sangat jauh.


Berawal malu hingga cemburu.


Fatimah Az Zahra Edsel, putri pertama Hafiz dan Khadija yang kini berusia Dua puluh tahun, dan kini gadis remaja yang mulai menginjak dewasa itu sudah duduk di perguruan tinggi semester Empat.


Fatimah Shakila Edsel putri kedua sekaligus putri bungsu Hafiz dan Khadija. Karena pasangan ini tidak ingin menambah keturunan lagi. Meski Hafiz masih menginginkan satu lagi kehadiran sosok anak laki-laki.


Namun, sepertinya keinginan itu sudah di urungkannya jauh-jauh hari, sebelum perang Baratayudha terjadi di era masa kini.


Huh! Sepertinya Dua anak cukup.


Selain itu, alasan utama Hafiz dan Khadija, mereka tidak ingin kembali memicu masalah yang akan berlanjut lebih panjang lagi.


Perubahan sikap periang Zahra menjadi gadis yang berhati dingin saat berada di rumah, terkhusus kepada adiknya, sudah cukup menjadikan pasangan suami istri ini pusing.


Sejak Shakila lahir, Khadija sudah mulai mengurangi aktifitasnya di luar rumah. Toko ia pasrahkan kepada Leni dan Sari sebagai orang kepercayaan, hanya sesekali ia akan datang untuk mengecek data keuangan.


Jasa seorang pembantu dan Babysitter pun ia kerahkan untuk membantu pekerjaan rumah tangga dan mengasuh Shakila. Karena Khadija ingin fokus memberikan perhatian kepada kedua putrinya. Terlebih pada si sulung yang selalu merasa cemburu terhadap si bungsu.


Namun, perhatian lebih sang bunda tidak lantas membuat hati Zahra luluh.


"Bunda, adek kenapa?" tanya Hafiz saat baru datang melihat istrinya menggendong Shakila dengan keadaan mata sembab dan hidung memerah.


Shakila hanya bisa menangis, manakala sang kakak tidak menghiraunkanya. Jangankan mengajaknya bermain, bahkan menyapa pun tidak pernah di lakukan Zahra pada Shakila.


Hafiz dan Khadija hanya bisa geleng-geleng kepala sembari mengelus dada dengan perubahan sikap putrinya. Sudah sering Hafiz dan Khadija menasehati, tetapi tetap saja. Nihil.


Khadija menyalimi tangan suaminya dan di ikuti Shakila yang ada di gendonganya, "Biasalah Pa, si kakak,"


"Sabar ya Sayang," Hafiz mengecup kening anak dan istrinya itu bergantian.


____


"Bunda sering merasa kasihan sama si adek Pa," keluh Khadija akan sikap putri sulungnya, sembari melepas satu persatu kancing kemeja suaminya.


"Iya Papa tahu, tapi pelan-pelan kita beri pengertian si kakak," Hafiz sangat mengerti karakter anaknya tersebut.

__ADS_1


Sebagai pewaris sifat keras kepala dari sang bunda, seorang Zahra tidak bisa perlakukan dengan keras, butuh ketelatenan dan extra kesabaran.


"Tapi sampai kapan Pa?" Terdengar nada putus asa dari Ibu dua orang anak itu dengan mata berkaca-kaca.


Hafiz memeluk Khadija yang sudah mulai berlinangan air mata, "Kita serahkan semua kepada sang Maha Kuasa. Yang penting kita tetap berusaha dan berdoa, Papa yakin suatu saat Zahra pasti akan berubah," Hafiz pun pasrah setelah segala upaya dilakukan untuk meluluhkan hati putrinya.


____


Tok ... Tok ... Tok ...


"Mbak Zahra ... Mbak!" panggil sang asisten rumah tangga sambil tergopoh-gopoh.


"Ada apa Bik?" tanya Zahra sedikit kesal, waktu istirahatnya di sore hari terganggu.


"Itu Mbak, itu ..." kata sang ART dengan wajah panik menunjuk ke atas.


"Itu, itu apa Bik? Ngomong yang jelas," Zahra semakin kesal.


Tanpa menjawab, sang ART langsung menarik tangan anak majikanya itu menuju tempat yang di tunjuk.


Dengan sedikit berlari Zahra mengikuti langkah orang yang menarik lenganya, "Mau kemana sih Bik?" Zahra heran saat langkah kakinya di ajak menaiki anak tangga menuju loteng atap rumah.


Sang ART tak bergeming sambil terus mempercepat langkahnya.


"Huwaaaa ... Papa ..." tangis Shakila meronta.


Dengan napas terengah-engah, sontak Zahra menutup mulut deng kedua tanganya, terkejut dengan apa yang di lihat di depan sana.


"Bunda, Papa mohon jangan lakukan itu Bund," pinta Hafiz memohon pada istrinya, saat perempuan itu tengah berdiri di atas pembatas tepi loteng sambil menggendong Shakila putri kedua mereka.


"Jangan mendekat Pa, atau Bunda ..."


"... Bunda jangan lakukan itu, Zahra mohon," tangis Zahra pun pecah.


"Iya tante, kami mohon jangan lakukan itu," Terdengar juga teriakan Nio.


Entah kedua pemuda itu datang dari mana.


Sekilas Khadija menengok ke bawah, kemudian melihat kembali ke arah Hafiz, Zahra, dan para ART yang memohon untuk menghentikan aksinya.


"Percuma Bunda hidup, kalau anak Bunda sendiri tidak menyayangi saudaranya. Mending Bunda ..."


"Bunda ... " pekik Zahra menghentikan ucapan sang Bunda.


"Papa ... Kak Zahla ..." tangis Shakila semakin menjadi.


"Papa sayang sama Bunda juga Shasa. Jangan tinggalin Papa Bund," tangis Hafiz pun berderai.


"Zahra juga sayang sama Bunda ..."


"Papa dengar sendiri kan, Kakak hanya sayang sama Bunda, tidak dengan adeknya," ucap Khadija dengan rasa pilu dihati, mendengar ungkapan sayang Zahra hanya untuknya.


"Kami mohon turun kak dari situ," kata Dipta yang tiba-tiba sudah berada di belakang Zahra.


"Iya Bu, kami mohon," imbuh sang ART dan pengasuh Shakila.


"Tante, kita bicarakan ini dengan baik-baik," bujuk Nio.


"Sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi, semua sudah jelas. Selama Tiga tahun Zahra tidak pernah menyayangi Shasa, jadi buat apa kami ..."

__ADS_1


"Zahra sayang Bunda juga Shasa. Maafin Zahra Bund ..." Zahra duduk bersimpuh memohon saat kaki sang Bunda hendak berjalan mundur.


"Bunda sudah lelah dengan semua ini," kekeuh Khadija.


"Bunda ... Jangan," cegah Hafiz saat kaki kanan istrinya sudah menggantung ke udara.


"Papa ... Tolongin Bunda dan Chaca ..." pekik Shakila, ketakutan.


"Zahra janji, apa yang Bunda minta Zahra akan menurutinya,"


"Janji apa pun itu, termasuk menyayangi Shasa?" tanya Khadija memastikan dan kembali menapakkan kakinya di atas pembatas.


"Ayo Sayang katakan," desak Hafiz pada Zahra.


"Zahra Janji akan menyayangi Shasa," cetus Zahra, akhirnya.


Khadija pun tersenyum.


Hafiz, Dipta dan Nio pun berjalan menghampiri Khadija dan Shakila untuk membantu mereka turun.


Hafiz memeluk istri dan anak bungsunya itu dengan erat.


Zahra pun bangkit dan mendekat kearah orang tua dan adiknya. "Maafin Zahra Papa, Bunda, Shasa," ucapnya.


____


"Beeuuhh ... Sumpah ackting tante Bravo," Nio mengangkat kedua ibu jarinya sebagai wujud penghargaan.


"Iya nggak nyangka lho Bund, ternyata kamu ada bakat jadi artis," imbuh Hafiz, terkekeh.


"Kalian itu, masih deg-degan ini," sewot Khadija sambil memegang dada menormalkan detak jantung yang semerawut.


"Yang penting kan misi kita berhasil," Nio senang ternyata idenya berhasil.


Beberapa Jam yang lalu, Hafiz meminta bantuan kepada Nio dan Dipta mencari cara untuk membantu membujuk Zahra, karena Hafiz dan Khadija sudah menyerah tidak tahu lagi bagaimana cara menasehati bahkan membujuk anak gadisnya itu agar membuka hati menerima kehadiran adiknya.


Tanpa di duga tercetuslah ide konyol yang menguji adrenalin Khadija. Menurut Nio perlu tindakan extrem jika semua cara halus sudah dilakukan.


Awalnya Hafiz dan Khadija menolak, karena terlalu berbahaya, tapi Nio sudah memikirkan kemungkinan terburuk dari rencana yang akan di jalankan. Maka dari itu Nio sudah menyiapkan pengaman yang diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat oleh Zahra.


Pada saat berada di bawah Nio dan Dipta menyiapkan trampolin yang ia sewa dan meletakkan tepat di bawah dimana posisi Khadija berdiri. Lalu kedua pemuda itu menyusul ke atas sembari berjaga-jaga agar Zahra tidak curiga dan melihat properti pengaman yang ada di bawah.


Untuk lebih menyakinkan, Hafiz pun meminta bantuan para ART untuk membantu rencananya, agar suasana semakin mencekam saat semua orang di landa kepanikan.


"Ssttt ... Jangan kenceng-kenceng nanti Zahra dengar," Khadija mengingatkan saat tawa mereka bertiga berderai dari dalam kamar.


"Tenang, tadi sudah di antar Dipta balik ke kamar," ucap Nio santai.


.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya ya... 🙏😊😘


__ADS_2