
**Hai para Readers, sebelum melangkah ke Season 2, nih author kasih Extra Chapter untuk S1 yang kemarin baru tamat.
Happy Reading ... 😊😉
🍁🍁🍁🍁🍁**
Pov Zahra
"Assalamualaikum, selamat pagi Papa, Bunda," sapaku pada kedua orang yang ku sayangi, sembari mencium pipi kanan dan kiri, Sebagai ritual rutin di pagi hari.
Lalu ku ambil posisi duduk di tempat favorit, duduk bersebrangan dengan bunda, dan bersebelahan dengan papa yang duduk di ujung meja.
"WAALAIKUMSALAM," koor Papa dan Bunda bersamaan.
Seperti biasa senyum hangat menyambutku di pagi hari dari orang yang paling tampan dan paling cantik di muka bumi ini. Itu sih menurutku, anaknya.
"Mau sarapan apa kamu Sayang?" tanya Bunda sembari mengambilkan nasi beserta sop ayam kesukaan papa.
"Sama kayak Papa aja Bund," Ya, seleraku sama Papa itu hampir sama, jadi apa yang di masak Bunda sudah pasti itu makanan kesukaanku dan Papa.
Bukanya aku manja nih ya, tapi sudah menjadi kebiasaan Bunda, mengambilkan sarapan untuk aku dan Papa. Dan itu tidak boleh di tolak. Karena area dapur dan sekitarnya itu adalah wilayah kekuasaan Bunda.
"Makasih Bundaku yang cantik," ucapku memuji sembari menerima piring yang sudah lengkap dengan isinya dari tangan Bunda.
"Sayang, Papa sama Bunda punya kejutan buat kamu," kata Papa menatapku sambil senyum-senyum.
Tapi, kali ini ada yang berbeda dari senyum papa.
"Uang jajan nambah ya Pa?" tebakku asal, tapi aku ngarepnya sih gitu.
Semoga!
"Bukan," sahut Bunda singkat sambil tersenyum menatap Papa, "Kamu pasti seneng," lanjut Bunda setelah mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
Seperti biasa, adegan romantis pun terjadi, Papa dan Bunda saling tatap dan melempar senyuman.
Jadi curiga?
"Ini," Bunda nyodorin amplop putih ke arahku.
Aku pun menerima, dengan hati bertanya-tanya.
Penasaran. Ku bolak-balik amplop itu, berusaha mencari petunjuk, tapi tidak ku temukan.
"Ayo di buka," titah Papa.
Sekilas ku melirik ke arah Papa dan Bunda bergantian sebelum membuka amplop itu. Keduanya tampak tidak sabar. Hatiku pun berdebar.
"What!!" Mataku memelotot sempurna setelah membaca lembar kertas yang aku keluarkan dari dalam amplop tadi.
Positif.
Gila! Aku geleng-geleng kepala. Mungkin ini maksud ekspresi yang di tunjukan kedua orang tuaku--mereka tidak sabar ingin tahu reaksiku tentang kabar yang mereka bawa.
"Kenapa Sayang?" tanya Papa, melihatku terkejut.
"Zahra seneng kan Nak?" Bunda pun ikut bertanya, penasaran dengan reaksiku berikutnya.
Aku kaget setengah mati, ketika membaca isi surat itu. Sungguh-sungguh di luar dugaan, aku masih merasa tidak percaya kalau Bunda hamil.
Okelah Bunda hamil, karena memang anaknya baru satu, yaitu cuma aku. Tapi yang menjadi masalah, masa iya aku yang sekarang sudah duduk di bangku SMA kelas XI, mau punya adek?
Tak bisa membayangkan. Aku tidak tau apa yang harus ku katakan untuk menjawab pertanyaan Papa dan Bunda. Sepertinya saat ini aku mengalami shok berat.
Seketika Mood_ku pagi ini hancur.
__ADS_1
Ku lipat lagi kertas itu dan ku letakkan di atas meja--aku berdiri dan beranjak menyalami kedua orang tuaku bergantian. Ku telantarkan sarapanku yang baru ku makan dua suapan.
"Assalamualaikum," ucapku datar, meninggalkan Papa dan Bunda yang masih terbengong menunggu jawaban dariku. Namun, ku segera pergi berlalu.
Ku ambil sepeda dari dalam garasi, perlahan ku kayuh sepeda gunung kesayangan menuju sekolah yang hanya berjarak Satu kilo meter dari rumah.
Pikiranku berkecamuk, entah aku harus senang atau sedih. Mungkin jika umurku masih di bawah Dua belas tahun aku akan merasa senang saat tau akan segera memiliki adik, tapi sekarang?
Malu!
Mungkin kata itu yang mewakili apa yang aku rasakan. Namun, tidak bisa ku katakan di depan kedua orang tuaku.
Melihat dari senyum dan sorot mata Papa dan Bunda, jelas mereka sangat bahagia dan aku tidak mau merusak suasana hati mereka.
Umurku sekarang baru menginjak Tujuh belas tahun, itu artinya nanti pas aku kelas XII adikku akan lahir.
Tin ... Tin ...
"Hai cewek, sendirian aja, mau nggak di godain?" sapa seorang cowok yang baru saja datang dengan motor gedenya--dengan sembarangan pula dia menepi menghalangi laju sepedaku.
"Minggir-minggir, mau di tabok sepatu?!" balasku ketus--menurunkan kaki ke tanah sebagai pijakan agar sepeda yang ku tumpangi tidak oleng.
Arsenio, biasa di panggil Nio. Ya dia cowok yang nangkring di atas motor sport--di depanku saat ini.
"Pagi-pagi udah sensi aja, lagi dapet ya?" celetuknya sambil terkekeh, "Kusut amat itu muka, setrikaan di rumah rusak?" lanjutnya meledek.
"Apaan sih kak," jawabku malas. Kalau saja tidak Badmood begini, sudah ku ladeni dia. "Kak Melisha mana?" tanyaku melihat itu cowok tampan tanpa gandengan. Tumben.
Melisha kekasih dari Arsenio Danendra. Mereka sama-sama kuliah di jurusan kedokteran.
Melisha, dia orangnya cantik, ramah, pintar pokoknya di mataku dia sosok wanita yang nyaris mendekati sempurna.
Nio dan Melisha adalah pasangan yang sangat serasi, yang satu ganteng, yang satu cantik. Klop banget.
Dulu waktu kecil aku memang ngebucinin ini cowok, tetapi sekarang sudah tidak lagi. Ya bisa dikatakan dulu itu kita cinta monyet. Bagiku Kak Nio sudah ku anggap seperti kakak ku sendiri, dia pelindungku saat aku di luar rumah.
"Ya sana buruan pergi, kelamaan nunggu, entar ngambek lho kak Mel?" sindirku pada pacar Kak Nio yang mudah sekali merajuk--begitulah manusia tidak ada yang sempurna.
"Kan ada kamu ntar yang bantuin ngerayu," Sudah menjadi kebiasaan kak Nio, kalau sedang marahan dengan pacarnya. Selalu saja aku yang di sodorin--maju untuk merayu pacarnya itu. Aku dan kak Melisha sudah sangat akrab.
"Eh, kak bagi duwit dong?" Baru ingat, saat berangkat tadi aku belum minta uang jajan sama Bunda, gara-gara baca surat tadi aku sampai melupakan hal paling penting untuk kelangsungan hidupku di sekolah.
Ku lihat Kak Nio mencebik sambil ngeluarin dompet dari saku belakang celananya, "Jadi nyesel, kenapa tadi gue berhenti," Kak Nio mencibir.
"Ikhlas gak nih?" tanyaku saat menerima lembaran warna biru dari Kak Nio, lalu ku masukkan kedalam kantong bajuku.
Aku tahu kalau sudah masuk kesitu, mana mungkin dia berani mengambil.
Kak Nio hanya melengos, "Ya udah hati-hati di jalan," dia pun pamit, melesat bersama motor sport warna hijau kesayangan.
Sebenarnya tanpa aku bertanya memastikan, sudah pasti kak Nio ikhlas.
___
"Kamu kenapa Dek, baru datang kok kusut gitu mukanya?"
Memang begitu kentaranya ya? Sepertinya mereka pada heran melihat mukaku pagi ini.
Oh ya, tadi itu yang bertanya kak Dipta, adik tiri Papa yang harusnya aku panggil Om. Tapi ya sudahlah lagian dia terlalu muda bagiku jika harus ku panggil dengan sebutan itu. Meski usianya selisih Dua tahun lebih muda dariku, tapi kenyataanya sekarang kita duduk sebangku di kelas yang sama.
Sama seperti Papa, atau mungkin sudah genetika dari opa, Kak Dipta memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Dia mengikuti kelas akselerasi, sehingga loncat kelas yang harusnya dia itu satu tingkat di bawahku
Aku menarik nafas berat, lalu menggelengkan kepalaku pelan. Mungkin nanti aku akan menceritakanya pada kak Dipta.
Setelah Kak Nio, Kak Dipta juga orang yang selalu menjagaku, terutama menjaga dalam hal nilai, agar nilaiku tetep bagus, terhindar dari omelan bunda. Maklum kemampuan otak ku yang pas-pasan, padahal kedua orang tua tergolong cerdas, meski bunda hanya tamatan SMA. Entah aku mendapat genetika dari mana? Entahlah.
__ADS_1
Mungkin dulu pas pembagian kecerdasan aku datangnya telat, jadi cuma kebagian sedikit.
"Nanti kalau ada waktu, pulang sekolah mampir kerumah. Orang rumah katanya kangen sama kamu," kata Kak Dipta. Yang di maksud orang rumah sama dia itu opa dan oma.
Sudah hampir Tiga tahun, Aku dan keluargaku pindah ke tempat tinggal yang baru. Bunda membeli rumah yang cukup besar dari hasil usahanya. Katanya sih untuk investasi. Apa lagi usaha Bunda sekarang cukup maju, bahkan sudah memiliki Dua cabang.
Biasanya aku dua hari sekali datang berkunjung ke rumah Opa, tapi sudah hampir seminggu ini aku tidak kesana, karena sering ikut bunda pergi ke toko.
"Insyaalloh Kak," jawabku singkat.
___
"Zahra kita pulang yuk Nak?" panggil Bunda sambil ngetok-ngetok pintu kamar yang dulu aku tempati sewaktu masih tinggal di rumah opa.
Ya, sepulang sekolah tadi aku tidak pulang kerumah. Aku langsung ikut kak Dipta pulang kerumah opa.
Selain menenuhi permintaan opa dan oma, anggap juga ini sebagai bentuk protes ku atas kehamilan Bunda.
Aku ngambek. Sementara aku nggak mau pulang. Tanpa aku memberi tahu Papa dan Bunda, opa dan oma pasti sudah memberi tahu pada mereka jika aku berniat menginap disini.
Dan aku juga menceritakan alasanku menginap kali ini. Sempat opa dan oma menasehati,
"Harusnya kamu itu senang, setelah ini kamu punya adik, gak enak lho kalau kita gak punya saudara," ujar opa, membelai sayang rambutku yang panjang
"Oma yakin, adik kamu pasti nanti lucu dan kamu pasti suka," Aku lihat sepertinya oma juga bahagia mendengar kabar kehamilan bunda.
Apa cuma aku aja yang nggak terima kalau bunda hamil?
"Jangan ngambek ya Sayang, kasihan Bunda kamu lho?" Kali ini Oma Ina ikut menimpali.
Tanpa merespon ucapan mereka semua, aku berdiri lalu pergi ke kamar tanpa permisi.
Ngerasa percuma semua isinya hanya ngebelain Bunda. Nggak ada yang mengerti apa yang aku rasa.
"Sayang, princesnya Papa, jangan ngambek gitu dong?" sekarang gantian Papa ngebujuk.
Aku masih diam di dalam kamar.
"Ra, Papa janji akan kabulin semua permintaan Zahra, tapi buka dulu pintunya,"
Nggak mempan!
Suara Papa sudah mulai terdengar khawatir setelah berulang-ulang membujuk. Namun, tetap tidak mendapat jawaban.
"Sampai hitungan ketiga, masih belum di buka pintunya, Papa akan dobrak!"
Gawat! Nada bicara papa sudah terdengar mengancam. Apa boleh buat, kalau sudah begini, pasti imanku goyah, rencana mogok pun bubrah.
Dengan terpaksa, akhirnya ku buka kunci pintu dan ...
"Sayang, kamu ndak papa kan?" Bunda langsung memelukku dan membelai wajahku, terlihat jelas jika Bunda sedang Khawatir dengan keadaanku.
Aku hanya mengangguk lemah, menjawab.
"Kita pulang yuk Sayang?" ajak Papa dengan suara lembutnya. Semarah apapun Papa padaku, jika sudah berhadapan seketika Papa melunak.
Itulah alasan kenapa aku tidak berani membantah kedua orang tuaku secara terang-terangan, paling mentok jika aku sedang marah atau ngambek, hanya diam yang bisa aku lakukan.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa Like, Komen, dan Votenya ya ...🙏😚☺