
"Mama?"
Sosok wanita paruh baya tengah berdiri didepan pintu.
"Siapa Mas, yang datang?" Dua pasang mata menatap ke arah seseorang yang baru muncul dari arah dapur.
"Khadija?"
"Ibu?"
Semua tampak terkejut dengan situasi yang terjadi secara tiba-tiba.
Khadija berjalan mendekat ke arah seseorang yang di panggilnya "Ibu". Kemudian dengan sopan Khadija meraih tangan orang tersebut lalu menciumnya.
"Ada apa ini?"
"Mari Ma kita masuk dulu, nanti Carel jelaskan."
Sang ibu pun masuk terlebih dahulu, diikuti Hafiz dan Khadija di belakangnya menuju ruang tamu.
"Sabelumnya Carel minta Maaf sama Mama, karena Carel menyembunyikan pernikahan Carel selama ini." Ujar Hafiz ketika sudah duduk di sofa bersisihan dengan istrinya.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" Tanya sang ibu, ada gurat kekecewaan tergambar di wajahnya yang mulai berkeriput.
"Baru Dua bulan Mah." Jawab Hafiz sambil menggenggam tangan Khadija.
"Kamu bilang cuma Dua bulan?" Sang ibu menggelengkan kepalanya. "Mama kecewa dengan kalian, bisa-bisanya kalian menutupi semua ini dari Mama dan Papa!" Lanjutnya.
"Bukan begitu Ma, semua ada alasanya mengapa Carel menutupi semua ini untuk sementara waktu."
Hafiz beralih mendekat dan duduk di samping sang ibu.
Perlahan Hafiz menjelaskan, di mulai saat ia berperan sebagai pengantin pengganti yang terjadi secara mendadak, hingga setelah menikah ia harus mempersiapkan diri menghadapi cercaan sang Ayah yang tidak menyukai istrinya dan itu butuh kesiapan mental baginya dan Khadija.
Sang ibu pun mengerti akan apa yang dirasakan anak dan menantunya, hanya beliau orang yang tidak pernah mempermasalahkan pernikahan Hafiz dan Khadija terdahulu.
"Apa Mama merestui kami?" Tanya Hafiz di akhir penjelasanya.
"Sini sayang, mendekatlah sama Mama." Pinta sang ibu melambaikan tangan ke arah menantunya yang duduk bersebrangan denganya.
Khadija pun mendekat, matanya berkaca-kaca. Ia merasa terharu dengan situasi yang di awali dengan sedikit ketegangan. Sang ibu memeluk anak dan menantunya di iringi isak tangis yang mengharu biru. terkecuali Hafiz, hanya dia yang tidak menangis."Mama merestui kalian." Ucap sang ibu kemudian.
Hafiz melepas pelukan sang Ibu, teringat satu hal yang patut ibunya ketahui, "Ada satu kejutan lagi untuk Mama." Ucap Hafiz beranjak dari duduknya.
__ADS_1
Sang ibu menatap Putranya dengan rasa penasaran, namun tidak mendapat jawaban. Hafiz segera berlalu dari hadapan ibu dan istrinya.
Mata sang ibu beralih pada Khadija yang berada di sebelahnya, hanya senyum simpul yang diberikan Khadija. Ia ingin sang ibu mertua mengetahui sendiri kejutan yang di maksud suaminya setelah berada di hadapanya.
Tidak lama Hafiz datang membawa kejutan yang tidak pernah di sangka oleh sang Ibu. Ibunya pun berdiri dengan mulut yang menganga tanpa bisa berkata-kata melihat wajah malaikat kecil yang sangat mirip dengan Putranya.
"Ini siapa Rel?" Sang ibu membuka suara karena penasaran. Percaya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Tidak mungkin dengan pernikahan yang baru berusia Dua bulan, Hafiz sudah menpunyai anak sebesar ini.
"Ini kejutan untuk Mama. Namanya Zahra, Putri kami berdua Ma." Air mata sang Ibu yang beberapa saat yang lalu sudah mengering kini tumpah kembali tanpa di sadari.
"Sayang, ini Oma kamu?" Suara Khadija sudah berdiri diantara suami dan mertuanya.
"Siapa Oma, Bunda?"
"Oma adalah ibunya Papa?" Sahut Hafiz menjelaskan.
Reflek tanganya terulur menggapai sang cucu yang berada di gendongan Putranya. Hafiz menyerahkan Putrinya ke gendongan sang ibu dan Zahra pun tak menolaknya.
"Oma kenapa nangis?" Tanya Zahra pada sang nenek.
"Oma bahagia sayang?" Ucap sang nenek sambil menciumi wajah cantik cucunya.
Mereka semua kembali duduk, namun Zahra masih berada di pangkuan sang nanek.
"Jelaskan, bagaimana ini terjadi?" Ucap sang Ibu meminta penjelasan akan kehadiran sosok malaikat kecil yang di damba-dambakanya.
Sebelum angkat bicira, Hafiz menatap sang istri yang kembali duduk disampingnya, meminta persetujuan untuk menjelaskan semuanya yang terjadi di masalalu.
Khadija mengangguk dan tersenyum tanda mengizinkan.
Dengan suara yang bergetar, kembali Hafiz harus memflashback masa lalunya yang begitu menyakitkan untuk sang Istri.
"Apapun yang terjadi pada kalian di masalalu, jadikanlah semua itu pembelajaran. Doa Mama semoga kalian selalu dilimpahi kebahagiaan." Nasehat sang ibu yang terselip doa di dalamnya.
"AMIINN." Ucap serentak Hafiz dan Khadija.
Setelah puas mengobrol sambil sang nenek bermain dengan cucunya, akhirnya mereka semua melakukan sarapan pagi bersama tak terkecuali dengen babby sitter Zahra.
Hafiz dan Khadija selalu mengajak pengasuh Putri kecilnya untuk melakukan makan bersama dalam satu meja. Hafiz dan Khadija tidak pernah memandang seseorang dari status sosialnya. Baginya manusia adalah mahluk sosial yang saling membutuhkan, jadi tidak ada perbedaan diantara mereka.
Terlebih Khadija pernah mengalami diskriminasi seperti itu, waktu ia masih berada di rumah suaminya, jadi Khadija tidak mau hal semacam itu terulang pada orang lain yang berada dilingkungan keluarganya.
__ADS_1
Selesai sarapan, Hafiz dan Khadija kembali ke rencana awal yang berniat bertandang kerumah orang tua Hafiz untuk meminta restu terkhusus kepada sang Ayah. Karena sang Ibu sudah memberikan restunya terlebih dahulu atas kedatanganya yang tak terduga ke Apartemen Hafiz, putra tunggalnya.
***
"Kenapa kamu bawa Perempuan kampung itu ke sini!" Sarkas sang Ayah saat baru datang dari kamarnya.
Khadija mengusap lengan suaminya untuk menenangkan. Hafiz tampak menahan emosi mendengar istrinya kembali di hina. Berbeda dengan Khadija yang sedikit lebih tenang, karena kalimat yang terlontar dari mulut sang Ayah mertua sudah terdengar biasa di telinganya.
"Duduk dulu Pa?" Sang istri menggiringnya untuk duduk di sofa yang bersebrangan dengan Hafiz dan Khadija berada.
"Kami kesini hanya ingin meminta restu dari Papa, karena kami sudah menikah kembali Dua bulan yang lalu." Ucap Hafiz datar mengutarakan maksud kedatanganya.
"Cih! Berani-beraninya kamu menikah tanpa seizin dari Papa, Huh!" Suara sang Ayah yang sudah mulai meninggi, merasa dirinya dikesampingkan oleh sang Putra. "Jangan harap kamu mendapat restu dari Papa, kecuali kamu tinggalkan dia!" Ucapnya kemudian, sambil membuang muka tidak sudi menatap wajah menantunya.
Hafiz berdiri dari duduknya, wajahnya tampak geram mendengar ucapan sang Ayah yang begitu menyakitkan. Dengan cepat Khadija menarik suaminya untuk duduk kembali. "Sabar Mas, jangan terpancing emosi." Ucap Khadija lirih.
"Maaf Pa, kali ini Carel tidak bisa menuruti kemauan Papa, karena Carel sudah mempunyai anak dari Khadija."
Sang Ayah tergelak mendengar pernyataan yang terdengar konyol di telinganya. "Kamu yakin itu anak kamu? Jangan bodoh kamu Rel! Setelah sekian lama dia pergi, dan sekarang dia kembali, mengaku membawa anak dari kamu?" Kalimat sindiran yang terlontar untuk Khadija. "Ck! Papa tidak menyangka, ternyata kamu terlalu naif untuk percaya semuanya!" Lanjut Ayah Hafiz berdecak meremehkan.
Suasana berubah mencekam, kini Khadija yang berdiri, ia merasa terhina dengan apa yang dikatakan oleh Ayah mertuanya. " Cukup Tuan! Anda boleh menghina saya sesuka hati, tapi jangan pernah menghina anak saya yang mana dia adalah darah daging dari Putra anda sendiri! Saya Permisi, Assalamualaikum..." Khadija segera berlalu dari hadapan semua orang, tanpa melupakan norma kesopanan yang selalu ia terapkan dalam hidupnya. Hati Khadija kini benar-benar terasa sesak berada di dalam rumah yang cukup luas, namun sempit akan pemikiran yang di miliki oleh sang tuan rumah.
"Sayang?" Hafiz berusaha mencegah Khadija saat berlalu meninggalkanya, namun geraknya kalah cepat dengan langkah seribu milik istrinya.
"Khadija?" Seru ibu mertua sambil berdiri, namun tak terdengar oleh Khadija. Telinga Khadija seakan tersumpal dengan kalimat pedas sang Ayah mertua.
"Selangkah lagi kamu keluar dari Rumah ini, maka Papa akan mencoret kamu sebagai Ahli waris dari semua kekayaan Papa." Ancam sang Ayah saat melihat Hafiz akan mengejar istrinya.
Jedddddeeeerrrr....
Langkah kaki Hafiz seketika terhenti, mendengar kalimat seruan dari sang Ayah. Sang Ayah pun tersenyum penuh kemenangan, karena ancamanya berhasil mengghentikan Putranya.
.
.
.
.
.
*Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komenya, dikasih Vote juga, Alhamdulillah...🙏😘😘*