Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
Ikut pulang kampung 2


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih Enam jam membuat Khadija dan Zahra kelelahan, Khadija duduk di kursi penumpang bagian depan mobil Hafiz dan Zahra yang berada dikursi bagian belakang sedang tertidur pulas.


Hembusan nafas Khadija yang menyeruak di kulit wajah Hafiz, di tatapnya wajah ayu natural dengan sangat intens membuat darahnya berdesir, dan jantungnya berdegup tak beraturan.


" Mas, kamu mau ngapain?" Tanya Khadija yang terbangun dari tidurnya, dan spontan Khadija memundurkan badanya yang ruang geraknya terbatas, ketika mendapati Hafiz sudah berada di depan wajahnya hanya berjarak Satu jengkal.


Hafiz terhenyak dari lamunan pesona Khadija." Sorry...Sorry...Ja, aku hanya mau mencopot, seatbelt kamu, kita udah sampai." Jawab Hafiz jujur, setelah selesai dengan tujuanya Hafiz pun kembali ke posisi semula.


Khadija kemudian mengedarkan pandanganya pada suasana di luar kaca, ternyata yang di katakan Hafiz benar, mereka kini sudah berada tepat di halaman rumah sederhana milik orang tua Khadija yang sudah hampir Lima tahun ia tinggalkan.


" Kamu turun saja dulu, aku mau ambil Zahra, nanti kita nyusul." Titah Hafiz pada Khadija.


Khadija mengangguk lalu tersenyum.


Senyum yang sudah biasa Hafiz lihat, namun entah mengapa senyuman itu kini berhasil membuat jantung Hafiz berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Ada apa dengan gw?


Hafiz meraba dadanya sendiri, ia takut Jantungnya melompat dari tempatnya.


Apa gw udah~...


Tok...tok...tok...


" Mas, ayo turun." Khadija mengetuk kaca pintu mobil Hafiz.


Tanpa menjawab Hafiz kemudian turun dari mobilnya. Kemudian beralih membuka pintu mobil bagian belakang untuk mengambil Putri kecilnya yang masih terlelap dalam tidurnya.


Khadija dan Hafiz berjalan beriringan dengan Zahra yang berada di gendongan Hafiz menghampiri Aslan dan Aisyah yang sudah menunggunya untuk masuk.


Akhirnya mereka berada di depan pintu rumah yang tampak sepi.


Aisyah mengetuk pintu rumahnya diiringi dengan ucapan salam.


Di ketukan yang ke Empat, perlahan pintu rumah terbuka, yang menampakan seorang Wanita paruh baya yang penuh kerutan di wajahnya karena faktor usia dan beratnya bekerja.


"Khadija, Aisyah." Pekiknya, terkejut akan dua sosok Wanita muda yang lama ia rindukan.


Khadija dan Aisyah langsung memeluk sang Ibu penuh kerinduan. Tangis haru mereka pun pecah sambil terus memeluk sang Ibu dengan Erat.


Sampai ada suara yang melerai rangkulan mereka bertiga.


" Siapa yang datang Buk?" Ucap seseorang yang baru keluar dari dalam rumah.


" Khadija, Aisyah." Ucap seseorang itu, tidak kalah terkejutnya.


" Bapak!" Gumam Khadija, Khadija melihat perubahan tampilan dari orang yang selama ini di bencinya.


Sang Ibu mengangguk dan mengisyaratkan kedua Putrinya untuk menghampiri sang Ayah yang diam terpaku, berdiri di ruang tamu.


Hafiz dan Aslan pun masih setia berdiri ditempatnya menyaksikan acara Tali Kasih yang pernah tayang di salah satu Stasiun TV swasta secara Live tanpa ada kamera yang menyorot dan Host yang memandu.

__ADS_1


Khadija dan Aisyah pun berjalan menghampiri sang Ayah yang tertunduk malu akan perbuatanya di masalalu.


Sama halnya yang dilakukan pada sang Ibu, Khadija dan Aisyah pun kembali memeluk sang Ayah. Rasa bencinya tak mampu menutupi rasa rindunya terhadap sang Ayah.


" Maafin Bapak nak?" Ucap sang Ayah sambil merangkul kedua Putrinya, dengan kompak Khadija dan Aisyah mengangguk. Dan sang Ibu turut menyaksikan pertemuan yang mengharu biru saat ini.


Khadija melepas rengkuhanya dari sang Ayah, ia teringat akan Dua sosok Pria yang masih berada di luar tengah menunggu untuk dipersilahkan masuk, mungkin saat ini kaki Hafiz dan Aslan sudah kesemutan saking lamanya mereka berdiri.


Khadija pun berbalik menuju pintu utama.


" Mas ayo masuk." Ucap Khadija yang sekaligus menyadarkan sang Ibu akan keberadaan menantunya, Aslan.


" Ya ampun nak, Ibu sampai lupa kalau ada menantu ibu juga." Ucap sang Ibu keluar menyambut kedatangan sang menantu.


Aisyah dan sang Ayah pun ikut keluar.


Aslan kemudian menyalami kedua mertuanya dan di susul oleh Hafiz setelahnya.


" Ini siapa Ja?" Tanya sang Ibu menunjuk Hafiz. dan Zahra yang masih berada digendongan Hafiz.


" Ayo masuk dulu Bu, nanti Dija jelaskan di dalam."


Setelah mereka masuk dan mengambil posisi duduknya masing_masing dikursi kayu yang telah usang namun masih cukup kuat untuk menopang ukuran tubuh orang dewasa.


Dan Zahra sudah di letakan di kamar Khadija yang dulu.


Sedangkan Aisyah pergi ke dapur untuk membuatkan kopi dan teh untuk semua orang yang ada diruang tamu rumahnya.


Pada waktu itu, setelahnya Khadija berbelanja oleh_oleh yang akan dibawsnya pulang kampung, tiba_tiba Khadija merasakan pusing dikepalanya, penglihatanya gelap dan khadija tidak tahu lagi yang terjadi setelah itu.


Setelah Khadija membuka matanya dia sudah ada dikamarnya ( Di rumah Ummi Aminah).


Dilihatnya ada Ummi Aminah dan Leni yang duduk di tepi ranjangnya. Dan satu lagi ada seorang Dokter perempuan yang di undang datang oleh Ummi Aminah.


" Saya kenapa Ummi?" Tanya Khadija sambil berusaha bangun dari posisi tidurnya, namun di cegah oleh Leni.


" Selamat, Mbaknya hamil, untuk lebih jelasnya Mbak bisa datang langsung check ke Dokter kandungan. " Jawab sang Dokter sembari tersenyum. kemudian sang Dokter pun undur diri, dengan meninggalkan beberapa resep obat. Ummi pun menyuruh Leni untuk menebus obat Khadija di Apotek.


Sesaat khadija terlihat Shock.


" Bagaimana ini Ummi, pasti keluarga saya sudah menunggu." Ucap Khadija memeluk Ummi Aminah.


" Pulanglah dan jelaskan semua pada orang tuamu."


" Tapi, Dija takut Ummi, Dija tidak tahu bagaimana Dija harus menjelaskan pada mereka, dengan status Dija saat ini apa mereka mau menerima?"


Banyak spekulasi yang terlintas dibenak Khadija saat itu, hingga akhirnya Dija memutuskan untuk bertahan dan mengurunkan niatnya untuk pulang kampung.


" Itulah alasa Dija waktu itu tidak jadi pulang." Jelas Khadija pada semua orang.


" Dan saya minta maaf, semua itu terjadi karena perbuatan saya." Imbuh Hafiz pada Ibu dan Ayah Khadija.

__ADS_1


" Sudahlah Nak, harusnya Bapak yang meminta maaf, ini semua berawal dari kesalahan Bapak, Khadija tidak akan mengalami semuanya jika Bapak tidak serakah pada waktu itu." Ucap sang Ayah dengan segala penyesalanya.


" Yang penting juga, Dija tidak hamil di luar nikah, ya meskipun sekarang kalian sudah bercerai." Timpal sang Ibu.


Sang Ayah pun kini sudah sadar dan berubah total, beliau menyesali semua perbuatanya, itu semua karena ia selalu di hantui rasa bersalah karena sempat menghilangnya Khadija yang tanpa ada kabar setelah Khadija berhasil membayar hutangnya di Bank hingga rumahnya tidak jadi di sita.


Setelah cukup lama mengobrol sambil menikmati secangkir kopi dan teh yang di suguhkan oleh Aisyah sang Ibu mempersilahkan Hafiz dan Aslan untuk beristirahat begitu juga dengan Khadija dan Aisyah.


" Mas kamu tidur dengan Mas Hafiz di kamar aku, aku tidur sama Mbak Dija dengan Zahra di kamar Mbak Dija."Jelas Aisyah pada suaminya.


" Kok gitu sih?" Tanya Aslan.


" Disini itu kamarnya cuma ada Tiga Mas, kalo kita tidur berdua, terus Mas Hafiz suruh tidur di mana coba?" Ucap Aisyah memberikan alasan.


" Bener tu, apa kata Istri lo!" Sela Hafiz.


" Lagian juga kenapa sih, lo ikut segala? Jadi mati kedinginan deh gw malam ini gak ada Aisyah di samping gw!" Cibir Aslan.


" Ada apa sih kok ribut_ribut?" Tanya Khadija yang baru keluar dari kamarnya. " Yaudah gini aja, kamu tidur di kamar aku aja Mas sama Zahra, biyar Aisyah sama Mas Aslan." Ucap Khadija melerai perdebatan Aslan dan Hafiz.


" Terus Mbak Dija tidur di mana?" Tanya Aisyah.


" Biar Dija sekamar sama aku dan Zahra." Jawab Hafiz asal, membuat Khadija memelototkan matanya.


" Ngaco' aja lo!" Aslan menonyor kepala Hafiz.


" Khadija biar tidur sama Ibu saja." Sahut sang Ibu dari arah dapur yang di ikuti sang Ayah karena mendengar perdebatan pembagian kamar yang tak kunjung usai.


" Terus Bapak?" Tanya Khadija.


" Kalau Bapak itu gampang, gak usah dipikirin." Jawab sang Ayah.


" Sudah sana kalian istirahat dulu, ngobrol terus kapan istirahatnya, kalian pasti sudah capek." Pungkas sang Ibu.


Akhirnya mereka masuk ke kamar masing_masing, Aslan dan Aisyah, Hafiz dan Zahra dikamar Khadija sedang Khadija di kamar Ibunya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Jangan lupa tingalkan terus Like dan Komenya...🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2