Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Bertemu Amanda


__ADS_3

"Lo kenapa sih, dari tadi diem aja," tanya Dion, heran. Sedikit memeringkan wajahnya menatap gadis yang sedang membingkai pipi dengan kedua tangan yang bertumpu di atas meja.


Zahra menoleh sekilas, tatapan matanya meredup. Terpancar kekesalan dari bola mata bulat tersebut, "Pake nanya lagi," ucapnya dengan bibir mengerucut


Dahi Dion berkerut, tidak mengerti. Bola matanya memutar, mengingat barangkali sudah melakukan kesalahan.


Sepertinya tidak ada. Tadi malam sampai tadi pagi pun saat berbalas chart masih baik-baik saja. Dan sekarang, jangankan bicara, ketemu pun baru dalam sehari ini.


Dua jam yang lalu selesai dengan urusanya, Dion datang ke kampus, kemudian masuk ke kelas, tanpa bertemu Zahra. Dan baru beberapa menit yang lalu Dion menghampiri kekasihnya itu di kantin, saat jam mata kuliah berakhir. Setelah sebelumnya Zahra mengirim pesan, memberitahu keberadaanya.


Bahkan, kedatangannya di sambut wajah masam oleh gadis itu.


"Apaan sih, gak jelas," sahut Dion malas.


Sikap seperti inilah yang paling di benci Dion dari seorang wanita. Hoby sekali mengajak tebak-tebakan masalah hati yang selalu ingin di mengerti. Sementara Dion juga menyadari dirinya bukanlah orang yang peka.


Apa susahnya harus bicara terus terang, seperti dirinya, tho the point tidak suka main kode-kodean.


Dasar cewek! Si Ratu drama, cicit Dion dalam hati.


Zahra mendengus sebal. Kekesalanya di anggap tidak jelas. Bahkan, hampir seharian ini bayangan foto pelukan yang di tunjukkan sang mantan masih lekat di ingatan. Sudah berusaha memaklumi karena terlihat kekasihnya itu tidak menanggapi. Tapi, tetap saja ada rasa tidak rela di dalam hati.


"Jelas kok! Ada yang pelukan tadi malem," sindir Zahra melirik sinis pemuda di sampingnya.


Dion yang sedang memalingkan wajah karena malas melihat wajah cemberut Zahra, seketika berputar kembali melihat ke arah gadis itu.


Dion terkejut. Dari mana Zahra tau? Alvaro! terka Dion menyakini Satu nama. Meski ia tak membalas pelukan itu, tapi sesuai dugaan, pasti akan menimbulkan salah paham.


"Jadi, karena itu? Dari tadi lo diemin gue?" tanya Dion memastikan. Memasang ekspresi tenang, tidak ingin terlihat gugup. Biasanya, seseorang terlihat gugup, itu menandakan kalau orang tersebut bersalah.


Zahra bergeming. Tidak ingin menjawab. Kenapa harus di tanya lagi, harusnya kekasihnya itu berusaha bagaimana caranya membuatnya tidak marah lagi, dengan merayu misalnya, batin Zahra.


Terulas senyum penuh arti dari bibir Dion, "Lo cemburu?" godanya.


"Nggak! Bang Maman noh yang cemburu,"


Jawaban Zahra, seketika membuat Dion tergelak. Tanganya terulur kesamping, perlahan tapi pasti menarik kepala berbalut hijab tersebut, "Ya udah, sini gue peluk,"


Sebelum benar-benar kepalanya menempel di dada bidang Dion, Zahra buru-buru mendorong tubuh Dion agar sedikit menjauh.


"Gak boleh peluk-peluk! Belum halal," tegas Zahra.


"Mau banget lo ya, di halalin?" Dion semakin gencar menggoda. Mata Zahra membesar, tumben sekali pacarnya itu menggombal.


"Ya udah, gue minta maaf," lanjut Dion berucap tulus sambil mengusap lembut kepala belakang gadis itu.

__ADS_1


Dion merasakan, sesuatu hangat menjalar di dalam dada, saat Zahra menunjukkan rasa cemburunya. Ada sensasi yang berbeda, entah itu apa dan baru pertama Dion merasakanya.


"Maaf belum di terima, kalo aku belum ketemu Amanda,"


***


Tidak ingin menambah terjadinya salah paham, Dion pun menyanggupi Zahra yang ingin bertemu dengan Amanda. Dan mengajak kekasihnya itu datang ke kosanya.


Ada baiknya juga, siapa tahu Zahra bisa mengusir secara halus wanita itu dari kosanya, pikir Dion. Sepertinya Zahra juga tidak menyukai kehadiran Amanda.


Secara logika, wanita mana yang suka dengan kehadiran wanita lain berada di antara Dua insan yang saling mencinta. Walau tidak ada maksud merebut atau merusak hubungan tersebut. Tetap saja, bukankah cinta tumbuh karena terbiasa? Dan tentunya ada setan di sekitar kita yang setiap saat mencoba menggoda--berpaling.


"Kak Dion, tinggal di sini?" tanya Zahra setelah turun dari motor melihat kamar kos yang berjajar. Terlihat kecil dari luar.


"Iya," Dion mengangguk.


Zahra mengalihkan pandanganya, menatap iba ke arah pemuda yang masih nangkring di atas motor.


"Kenapa?"


"Gak pa-pa." Zahra menggeleng seraya tersenyum. Ada rasa entah di dalam hatinya. Tidak tega mungkin.


Melihat tempat tinggal Dion membuat Zahra berpikir, pantas saja kekasihnya itu bekerja sampai tidak mengenal waktu. Ternyata semenyedihkan ini kondisi hidup kekasihnya itu di bandingkan dirinya yang tak pernah merasakan susahnya mencari uang dan tentunya semua apa yang ia mau bisa di penuhi oleh orang tuanya. Zahra jadi menyesal pernah menyuruh Dion untuk berhenti berkerja.


"Napa lo, pake baju gue?" sembur Dion melihat kaus berwarna putih, terlihat gombrong tertempel di tubuh ramping Amanda.


Raut wajah Zahra tampak semakin kesal, melihat kelancangan Amanda.


"Sorry," Amanda nyengir tanpa dosa, "Tadi gue mau izin, eh, katanya lo udah berangkat," lanjutnya memberi penjelasan.


Dion pun memperingatkan wanita itu agar tidak mengulangi kelancanganya.


Tanpa permisi, Dion menerobos masuk sambil menggandeng Zahra, melewati tubuh Amanda yang berdiri di ambang pintu.


"Sumpah, gue gak ada rencana apapun. Apalagi bersekongkol dengan Varo," papar Amanda menjawab sangkaan Zahra tentang adanya konspirasi antara ia dan suaminya untuk menjebak Dion.


"Terus, apa alasan kamu meminta pertolongan sama Kak Dion?"


"Gak ada yang gue kenal selain Dion di Kota ini." jawab Amanda, tampak sorot kesedihan dari netra hitam pekat wanita itu.


Ya, Amanda memang sudah lama tinggal di Luar Negeri. Ia pulang ke Tanah air karena harus memenuhi perjodohanya dengan Alvaro.


"Gue gak punya sodara di sini, bahkan, Mami dan Daddy tinggal di Luar Negeri," tambah Amanda menatap sendu ke arah Dion dan Zahra. Menyiratkan ketidakberdayaan, "Dan gue cuma mau pertahanin janin yang ada di perut gue ini. Varo nyuruh gue gugurin bayi ini, dia tidak mau proses perceraian yang dia ajukan jadi terhambat, makanya gue lari,"


Dari awal Amanda juga mengetahui hubungan yang terjalin antara Alvaro dan Zahra. Ia berpikir setelah menikah, suaminya itu bisa melupakan sang mantan. Tapi, yang terjadi justru sebaliknya. Alvaro semakin gencar ingin mendapatkan Zahra kembali.

__ADS_1


Sempat Amanda menyalahkan Zahra. Namun, malam saat setelah perkelahian Dion dan Alvaro waktu itu, Dion memberi penegasan jika Alvaro lah yang mengejar-ngejar Zahra.


Penuturan Amanda membuat Dion dan Zahra tertegun dengan sikap keterlaluan Alvaro.


"Kalopun Kedua orang tua gue ada di sini, gue tetap gak akan pulang. Itu sama saja gue membunuh Mami. Beliau punya riwayat penyakit jantung, maka dari itu gue gak mau Mami kaget lalu terkena serangan jantung," lanjut Amanda panjang lebar.


"Lo bilang nggak ingin membuat penyakit jantung orang tua lo kambuh, tapi, lo pernah berpikir nggak dampaknya buat seperti apa?" Dion bingung harus mengambil sikap seperti apa. Situasinya saat ini bagai makan buah Simalakama, baginya.


Dion mengacak rambutnya kasar. Pikiranya kali ini benar-benar buntu setelah mendengar penjelasan Amanda. Baru saja kegundahan akan masalah keluarganya sedikit teralihkan dengan kehadiran Zahra yang akhir-akhir ini bisa membuatnya tersenyum kembali, kini masalah itu bertambah lagi dengan kehadiran orang asing, dengan membawa masalahnya sendiri.


Zahra mengusap punggung pemuda yang tengah duduk bersila di sebelahnya sambil menenggelamkan wajahnya pada kedua telapak tangan, frustrasi.


"Ya sudah, nanti aku akan bantu kamu, Manda," ucap Zahra memberikan solusi. Meski ia sendiri tidak tahu bantuan apa, yang akan ia berikan. Setelah ia pulang dari tempat ini ia akan memikirkanya lagi. Atau mungkin meminta bantuan pada Kedua orang tuanya.


Mau tidak mau Zahra harus mengambil tindakan. Selain rasa ibanya terhadap kondisi yang di alami Amanda, ia juga tidak ingin menambah beban Dion akan kehadiran wanita itu. Terlebih resiko yang akan di tanggung Dion nantinya. Entah resiko seperti apa, Zahra pun tak bisa menduganya.


Zahra sadar, walau bagaimanapun masalah ini erat hubunganya dengan dirinya.


Yang jelas, jika bersangkutan dengan Alvaro masalah ini tidak bisa di anggap enteng. Bisa saja pria itu berbuat lebih nekat setelah usaha sebelumnya gagal.


Zahra pun pusing memikirkan. Kenapa masalahnya menjadi serumit ini?


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Jangan lupa like, komen dan votenya ya ...🙏😊😘


Biar tambah semangat, kasih visual Bang Dion lagi senyum, ya?



Zahra yang semakin manis.


__ADS_1


__ADS_2