Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Masak bareng


__ADS_3

"Kak, bangun!" Zahra menggoyang-goyangkan lengan Dion, yang sedang tertidur pulas.


Perlahan Dion membuka mata, lalu menegakkan tubuhnya yang bersandar pada pintu mobil.


"Dimana gue?" tanya Dion bingung, melihat di sekeliling banyak mobil-mobil yang terparkir di luar sana.


"Bastman apertemen," jawab Zahra sambil melepas seatbelt-nya.


Setelah mengerjap beberapa kali, kening Dion berlipat, bukan di sini seharusnya ia turun, "Kenapa lo gak bangunin gue, tadi?"


"Ya, soalnya tadi Kak Dion tidurnya pules banget, jadi aku nggak tega banguninya."


Sekilas Dion melirik jam tangan yang melingkar di lengan sebelah kiri miliknya, "Ya udah kalo gitu. Boleh, gue numpang shalat?" tanyanya kemudian. Setelah memastikan masih ada waktu untuknya pulang lalu bersiap-siap dengan kegiatan rutin selanjutnya.


.


Setelah selesai shalat Dion menyapu pandangan, tidak ada siapa pun di ruang tangah maupun di ruang tamu. Sejak ia dan Zahra datang, Amanda masih belum menampakkan batang hidungnya.


Mungkin masih tidur. Maklum lagi hamil muda.


Terdengar sayup suara dari arah dapur. Entah suara apa itu. Tidak jelas. Segera Dion bergerak ke arah sumber suara, feelling-nya mengatakan gadis itu berada di sana.


"Ra, gue pamit, ya?" ucap Dion menghampiri kekasihnya yang sedang berada di dapur–lengkap memakai celmek yang sudah menempel di badan. Bukanya sibuk dengan panci dan penggorengan, malainkan Zahra sedang sibuk memperhatikan ponsel yang berada di tangan.


Melihat tutorial memasak dari kanal Youtube.


Zahra mendongak mendengar seruan dari pemuda yang berdiri di depan pintu dapur, "Jangan pulang dulu dong, Zahra kan mau masakin buat Kakak," sahutnya dengan wajah memohon, berjalan mendekat ke arah Dion.


"Habis magrib, gue harus berangkat kerja, Ra," tolak Dion halus. Tidak ingin telat masuk kerja, setelah kemarin lusa ia sudah membolos.


"Please!" Zahra mengatupkan kedua telapak tangan di depan dada.


"Ya udah, gue tunggu. Tapi, gak pake lama, ya?" Dion tersenyum sembari mengacak puncak kepala Zahra. Walau bagaimanapun ia tidak ingin membuat kekasihnya itu kecewa.


Lima belas menit berlalu. Dion yang sedari tadi menunggu, berdiri bersandar pada kusen pintu dengan melipat kedua tangan di depan dada, terus memperhatikan pergerakan Zahra.


Tampak Dion mengulum senyum, melihat Zahra yang keteteran saat memasak.


"Iiih, sana-sana ... grogi tau, dilihatin kayak gitu," usir Zahra sambil mengibaskan sebelah tangan ke udara. Merasa gugup, karena terus di perhatikan. Untuk kesekian kalinya Zahra menyuruh Dion untuk menunggu di ruang TV atau di mana saja asal tidak di dapur–tempatnya kini berada.


Namun, pemuda itu kekeh tak bergeming.


"Sebenernya lo mau masak apaan sih?" tanya Dion penasaran sambil berjalan mendekat. Sudah hampir setengah jam berlalu, tetapi belum ada tanda-tanda Satu masakan terselesaikan. Dengan cepat–tetap berhati-hati, ia lalu mengambil alih pisau dari tangan Zahra yang sedang memotong wortel.


"Eh, jang ...."


"Udah, kelamaan. Bisa telat gue ntar berangkat kerja." Dion menjauhkan pisau saat Zahra akan merebutnya kembali.


"Emang, Kak Dion bisa masak?" tanya Zahra memastikan.


"Kita lihat nanti," jawab Dion santai sambil terus memotong beberapa sayuran.


Hening. Hanya terdengar suara pisau yang beradu di atas telenan.

__ADS_1


Zahra berdiri di samping Dion. Kini gantian ia yang memperhatikan kekasihnya itu memasak. Bertambah Satu kekagumanya terhadap pemuda itu. Selain tampan dan rajin beribadah, ternyata Dion juga jago memasak,


Calon suamiable, pokoknya. Batin Zahra.


Layaknya Chef profesional, pergerakan Dion begitu cekatan, dari memotong sayuran hingga merajang beberapa bumbu masakan.


"Suka Capcay?" tanya Dion memecah keheningan. Melihat bebarapa bahan makanan yang tersedia, muncul ide Satu masakan yang sering sekali ia masak saat di rumahnya dulu.


"Suka."


"Pake udang?"


"Suka."


"Pake sosis?"


"Suka."


"Kol?"


"Suka."


"Yang nggak suka apa, Ra?" Dion menahan tawa dengan tangan masih sibuk mengiris bahan-bahan yang ia sebutkan tadi.


Sekilas Dion melihat wajah Zahra yang sedang tersipu malu.


"Kalo Kakak yang buat, aku suka semuanya."


Kini Zahra tampak menahan tawa sambil menutup wajah dengan sayuran yang ia pegang. Saat sayuran itu di buka, gadis itu langsung teriak.


"Kak Dion! Yang diiris sosinya bukan serbetnya!"


Akhirnya tawa mereka berdua pun pecah bersama-sama.


.


"Eh, ada Dion rupanya?" Amanda yang baru keluar dari kamar bertanya.


Dion dan Zahra yang sedang menata makanan di atas meja makan, menoleh seketika–bersamaan.


Setelah mengiyakan pertanyaan Amanda yang sebenarnya tidak membutuhkan jawaban–Zahra melambaikan tangan, mengajak wanita itu untuk bersantap bersama. Sementara Dion hanya menunjukkan wajah datarnya seperti biasa.


"Ini siapa yang masak?" Dengan mata berbinar melihat masakan yang tersaji–tampak lezat dan menggugah selera–Amanda lagi-lagi bertanya.


"Pasti Zahra yang masak," tebak Amanda menjawab pertayaanya sendiri. Mengingat makanan yang disajikan Zahra tadi pagi–terasa enak.


Zahra nyengir.


"Mana bisa Zahra masak, dia tuh bisanya cuma gombalin orang," sela Dion saat gadis di sebelahnya hendak membuka suara.


Zahra melirik sekilas, malu.


"Terus, yang tadi pagi?"

__ADS_1


"Go-food." Zahra kembali nyengir.


Setelah cukup berbasi-basi, mereka bertiga melanjutkan makan kembali.


"Lo itu selain ngegombal, bisanya apaan sih?" Dion menarik tissue yang berada di tengah meja.


Zahra menoleh mengangkat Satu alisnya. Sebenarnya, tidak terlalu sulit baginya menjawab pertanyaan yang baru saja terlontar.


Namun, mendengar dari nada bicara Dion, Zahra merasa itu bukanlah hanya sekedar pertanyaan, melainkan sebuah sindiran.


"Makan gitu aja belepotan." sambung Dion sambil mengusapkan tissue yang baru di ambilnya ke arah bibir Zahra–ada sisa saus sambal yang menempel.


Zahra tersipu malu mendapat perlakuan romantis dari kekasihnya itu. Meski kata-kata yang tercetus dari mulut pemuda itu terdengar sama seperti saus sambal yang baru ia telan–sedikit pedas.


Amanda menatap nanar ke arah sepasang kekasih di hadapanya. Raut wajah yang semula menampakkan rona bahagia, seketika memudar. Senyum yang mengembangpun kini telah hilang.


"Manda, kamu kenapa?" tanya Zahra melihat ada yang lain dari tatapan wanita yang duduk di seberangnya.


Amanda tersenyum kecut, "Nggak pa-pa, Ra," jawabnya sambil menggeleng, lalu beralih kembali pada makanan yang kini hanya ia acak-acak menggunakan sendok.


Ada rasa iri di dalam hati Amanda melihat perhatian Dion terhadap Zahra. Kapan dirinya bisa seperti itu? Amanda membayangkan. Tetapi, ingatanya kembali berputar pada sang suami yang tak pernah menganggapnya sama sekali.


Dion dan Zahra sejenak saling melempar tatapan. Gerakan mata keduanya mengisyaratkan pertanyaan, 'Ada apa dengan Amanda?


Dion mengendikkan bahunya, acuh.


"Aku permisi dulu, mau balik ke kamar." pamit Amanda. Tampak dengan cepat wanita itu mengangkat punggung tanganya ke arah wajah–buru-buru menyeka air mata yang baru saja lolos keluar dari sudut mata–tidak ingin terlihat Dion dan Zahra.


Dengan langkah cepat, Amanda kembali menuju kekamarnya.


***


"Maaf, Bos. Kita kehilangan jejak. Tampaknya istri anda sudah tidak ada lagi di kosan itu." ucap salah seorang dari Dua laki-laki berpenampilan seperti preman.


"Dasar Gobl*k! Kerjaan kalian itu, ngapain aja?! Ngawasin Satu perempuan aja nggak becus!! hardik Alvaro pada kedua orang suruhan yang ia tugaskan untuk memata-matai Amanda.


"Saya nggak mau tahu, gimanapun caranya, kalian harus mencari tahu keberadaan perempuan itu dimana! imbuhnya berucap dengan rahang mengetat penuh penekanan.


.


.


.


.


.


Bersambung ...


Saya ucapkan terima kasih kepada para kalian yang memberikan sambung doa untuk ibu saya. Maaf, tidak bisa membalas Satu-persatu.


Jangan lupa like, komen dan votenya ya?

__ADS_1


__ADS_2