Ketulusan Cinta Khadija

Ketulusan Cinta Khadija
KCK - S2 Mulai tumbuh rasa ...


__ADS_3

Author Pov


🍁🍁🍁


Ketika baru keluar dari Musholla, seusai menunaikan shalat Dhuha, dari jarak Dua ratus meter, Dion melihat Zahra dengan langkah tergesa-gesa menuju arah taman belakang kampus. Tidak ada niatan memanggil ataupun mengejar gadis itu. Tidak ada kepentingan juga.


Satu menit kemudian saat Dion selesai mengikat tali sepatunya, lalu ia berdiri. Dari arah yang sama Dion melihat Alvaro juga berjalan menuju tempat yang di tuju oleh Zahra.


Merasa curiga, akhirnya Dion membuntuti keduanya.


Saat berbelok dari ujung koridor, Dion di kejutkan oleh pemandangan yang cukup membuat hatinya berdenyut. Melihat Zahra yang tampak memberontak, tanpa berfikir panjang pemuda itu mempercepat langkah, lalu menarik tubuh Alvaro yang sedang memeluk Zahra dari belakang.


Dengan emosi yang tidak bisa lagi teredam, aksi pemukulan pun tak terelak-kan.


Beruntung ada Zahra yang sekuat tenaga melerai tindakan brutal yang di lakukan Dion. Jika tidak, entah bagaimana bentuk Alvaro. Tidak bisa membayangkan.


Tidak banyak yang menyasikan perkelahian tersebut, hanya tampak beberapa mahasiswi yang melihat dari jauh, tetapi tidak ada satupun dari mereka yang berniat mendekat untuk membantu Zahra. Mungkin adu jotos yang di lakukan Dion dan Alvaro lebih menarik untuk di tonton dari pada di lerai.


Tidak ingin terjadi sesuatu yang nantinya akan membuat suasana semakin kacau, Zahra menarik paksa tubuh Dion menjauh dari tempat itu.


Bukan kantin ataupun kembali ke kelas, Zahra membawa Dion duduk di teras Musholla. Tempat itu cukup sepi untuk menenangkan kondisi Dion. Pemuda itu tidak mengalami luka sedikitpun, karena Dion sempat menghindar saat Alvaro membalas seranganya. Setelah itu tanpa permisi Zahra pergi ke kantin.


Zahra kembali dengan membawa sebotol air mineral. Gadis itu membuka tutup botol minuman yang ia bawa lalu menyodorkan ke arah pemuda yang masih tampak menahan emosi, terlihat dari gerakan bahunya yang naik turun lebih cepat.


Dion tak bergeming.Merasa tidak mendapat respon dari pemuda di hadapanya, Zahra menghela napas panjang menutup kembali botol minuman yang masih ada di genggaman. Tak ingin banyak tanya ataupun memaksa.


Kemudian gadis itu mengambil posisi duduk di sebelah kekasihnya, sembari menunggu suasana hati pemuda itu kembali mereda.


Hening.


Kini kekesalan Dion bukan hanya pada Alvaro, tetapi juga terhadap Zahra yang tak mengindahkan peringatanya tempo lalu.


"Gue kan udah bilang sama lo, jangan deket-deket Alvaro!" tegas Dion dengan emosi yang masih tersisa, mengulang seruan yang pernah ia lontarkan.


Zahra bergeming, menundukan kepala, kedua tangannya meremas ujung kemeja tunik yang ia kenakan. Sepuluh detik kemudian gadis itu menjawab.


"Aku nggak tau, kalau ternyata yang chart aku selama ini Varo," lirih Zahra mengangkat wajah, menatap sendu pemuda yang masih enggan melihat ke arahnya.

__ADS_1


Dion tersenyum miring, tatapanya menerawang lurus ke arah parkiran. Mustahil kalau Zahra tidak mengenal nomor Alvaro. Bukankah gadis itu sudah memiliki nomor Alvaro sebelumnya? Atau jangan-jangan Zahra masih ...


"Lo masih cinta sama dia?" Akhirnya Dion melihat ke samping. Menatap Zahra dengan tatapan menelisik mencari jawaban dari sorot mata gadis tersebut.


"Nggak kak!" Zahra menggeleng cepat, mengangkat kedua jarinya membentuk huruf 'V'. Meskipun tidak mengucap kata sumpah, tapi itulah jawaban jujur dari lubuk hati terdalam. Sudah tidak ada lagi cinta yang tersisa untuk laki-laki yang kini sudah beristri.


Buat apa? Toh, yang bujang ada di depan mata. Dan cinta Zahra sudah beralih pada pemuda yang kini tengah mengintrogasinya.


"Aku kira selama ini yang chart aku, Kak Dion," lanjut Zahra sesuai dugaan sebelumnya. Dia juga menjelaskan perihal nomor baru yang masuk dan menceritakan dari awal hingga prasangka mengarah pada kekasihnya itu.


Untuk membuktikan apa yang ia katakan adalah benar, Zahra mengambil ponsel yang ada di dalam tas, lalu membuka si aplikasi hijau yang terdapat beberapa pesan chart yang di maksud, dan menyerahkan pada Dion.


Dion menerima ponsel dari tangan Zahra.


Dion menautkan kedua alisnya. Bukan karena isi pesan yang membuat expresi wajahnya berubah. Namun, wallpaper dan nama kontak yang tercantum, berada paling atas.


'DION KESAYANGAN'


Terpampang di sana foto dirinya yang sedang memetik gitar di jadikan sebagai wallpaper. Ternyata gadis di sebelahnya itu sudah mencuri gambarnya secara diam-diam. Kapan dan dimana Dion juga tidak tahu.


Biarlah, tidak penting juga. Pikir Dion.


Entah, bagaimana perasaanya terhadap Zahra saat ini? Dion masih belum mengerti.


Hubungan yang terjalin antara Dion dan Zahra memanglah berawal dari ketidaksengajaan yang berujung saling memanfaatkan keadaan.


Bisa di katakan Dion menjalani status palsunya ini karena terpaksa, kalau bukan tuduhan Gay kedua sahabatnya. Apalagi dimata Dion, Zahra adalah anak orang kaya yang manja dan itu bukanlah type-nya. Menurut Dion waktu itu.


Berbeda dengan Zahra yang sedari awal memiliki ketertarikan pada Dion, bukan cinta tetapi lebih pada rasa penasaran. Dan pada akhirnya benar-benar di buat jatuh hati oleh pesona pemuda dingin nan lempeng tersebut.


Lantas bagaimana dengan Dion sekarang?


Tak bisa di pungkiri, ada rasa nyeri saat melihat adegan yang di lakukan Alvaro tadi dan ada rasa senang saat melihat foto dirinya terpasang pada ponsel gadis di sebelahnya ini.


Sifatnya yang pendiam dan kaku membuat Dion sulit bagaimana harus bersikap untuk sekedar membalas usaha Zahra. Mulai dari perhatian dan gombalan-gombalan yang di lancarkan gadis bar-bar itu.


Bukan tidak mau berusaha, tapi ...

__ADS_1


... Lantas bagaimana caranya? Jangankan dengan tindakan, untuk membuka pembicaraan saja ia sudah lebih dulu kehabisan kata-kata. Dion memang bukan type laki-laki yang suka berbasa-basi. Terkadang Dion merasa benci pada dirinya sendiri yang tidak banyak memiliki kosa kata seperti Dua sahabatnya. Sekalinya membuka suara, selalu kata-kata pedas yang keluar. Apalagi kalau sudah berhadapan dengan Zahra yang selalu berusaha menggoda, bukanya senang, justru mulut cabe auto On.


Sampai Dion pernah berfikir, ngidam apa dulu ibunya sewaktu hamil ... Atau jangan-jangan ibunya dulu ngidam makan es batu, triplek yang di kolaborasi dengan pohon cabe sampai ke akar-akarnya? Jadilah dirinya yang dingin, datar, irit bicara, dan sekalinya bersuara bon cabe level Tiga puluh.


"Nih masukin nomor lo," Dion menyerahkan ponselnya ke arah Zahra. Menurutnya gadis itu tidak sepenuhnya salah, hanya ceroboh.


Zahra menerimanya sambil tersenyum.


"Harusnya lo itu tanya ke gue, bener itu nomor gue atau bukan!" ucap Dion sambil memainkan ponsel Zahra yang ia putar-putar di sela jari-jarinya.


"Kak Dion juga sih, gak pernah ngasih nomor ke Zahra," balas Zahra sambil mengetik.


"Emang lo pernah nanya?"


"Masa harus di tanyain dulu, baru dikasih?" Dengan wajah cemberut karena kesal selalu di salahkan, Zahra mengembalikan ponsel Dion, setelah memasukkan nomornya.


Dion pun menyerahkan kembali ponsel Zahra.


"Nomor yang tadi udah kak Dion ganti kan?" tanya Zahra menerima ponselnya kembali.


Dion hanya mengendikan bahu, lalu berdiri, "Nggak!" jawabnya singkat, lalu melangkah pergi.


"iiihhh, nyebelin!" Zahra menghentakkan kedua kakinya kesal, merasa di kerjai oleh pemuda yang baru saja pergi meninggalkanya.


.


.


.


.


.


.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya ya ...🙏😊😘


__ADS_2